Senin, 26 April 2021

Karya Kaligrafi Santri Dipamerkan di Lima Negara, Selalu Banyak Pemesanan di Bulan Ramadan


Jimly Ashari menunjukkan karya kaligrafi yang pernah dipamerkan di Turki


Sejumlah santri sedang duduk dibangku asrama Pondok Pesantren Darussholah di Kelurahan Tegalbesar Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Mereka duduk berbaris rapi dengan memakai masker.


Di depan mereka, terdapat meja kecil dengan peralatan kaligrafi di atasnya. Para santri tersebut siap untuk mengikuti pelajaran kaligrafi. Belajar melukis karya seni islam.


Beberapa menit kemudian, Jimly Ashari, salah satu guru di Ponpes tersebut masuk ke ruang asrama. Lelaki berkacamata itu siap mengajar para santri. Di depanya, sudah tersedia papan untuk menuliskan berbagai macam lafal huruf Arab.


Jimly Ashari merupakan santri di pesantren tersebut. Dia dikenal jago dalam membuat kaligrafi. Bahkan, karya miliknya sudah  dipamerkan di sejumlah negara, mulai dari, Irak, Dubai, Aljazair, Tuurki hingga Maroko.


“Tahun 2013 dipamerkan di Aljazair, di Turki tahun 2016, di Dubai tahun 2018, di Iran tahun 2020 dan di Maroko tahun 2021,” kata pria yang akrab disapa Jimly itu saat bertemu dengan penulis di pondoknya


Karya tersebut menjadikan dirinya semakin tersohor dan dikenal oleh masyarakat. Bahkan, dia kerap menerima permintaan untuk membuat kaligrafi. Pemesanan datang dari berbagai daerah, tak hanya Jawa Timur, namun hingga luar pulau Jawa, seperti Kalimantan hingga Sumatra.


Perjuangan Dibalik Kesuksesan Melukis Kaligrafi


Dibalik kemahiran membuat seni kaligrafi, ada perjuangan panjang yang dilakukan oleh Jimly. Dia menekuni ilmu tersebut sejak masih menjadi santri baru pada tahun 2005 silam. Saat itu, dia belajar di SMP Darussolah.

Jimly Ashari tetap semangat berkarya di bidang kaligrafi

“Butuh waktu sekitar  tahun baru bisa menulis kaligrafi,” aku Jimly. Selama dua tahun tersebut, dia harus bersabar mengukir huruf arab di atas kertas. Sebab bila tak sabar, maka tulisan tersebut akan keluar dari pakemnya.


Keuletan dan kesabaran menjadi kunci agar bisa seni kaligrafi.   Seperti harus teliti  dalam mengukir huruf agar terlihat indah.  Selain itu, juga harus memahami bentuk setiap huruf sehingga memerlukan kesabaran yang ekstra dobel.


Namun, jika sudah memahaminya, maka belajar kaligrafi akan terasa mudah.  Selain itu, juga akan terus merasa kehausan belajar ilmu tersebut. Karena mengetahui seluk beluk rahasia, bentuk dan goresan kaligrafi.


Dia mencontohkan, setiap huruf memiliki rahasia yang berbeda-beda. Rahasia itu akan diketahui jika belajar kaligrafi pada ahlinya.

Jimly menunjukkan ijazah menulis kaligrafi dari gurunya 


Tak selesai disana,  dia juga belajar pada seniman dan kaligrafer dari Malang. Darisana, dia dikenalkan dengan kaligrafer asal luar negara. Yani  ustzaz Belaid Hamidi dari Maroko dan ustaz Ehab Thabet Ibrahem dari Palestina.


Jimly mengembangkan ilmu kaligrafi pada pakar tersebut secara online. Yakni melalui media facebook. Caranya, Jimly menuliskan huruf arab tersebut, kemudian dikirimkan melalui chatting facebook.


Darisanalah, dia semakin mahir dan menguasai ilmu kaligrafi.  Bahkan, lebih dari  lima   tahun dia belajar secara daring sampai sekarang.


Karya-karya kaligrafi miliknya diikutkan dalam berbagai pameran. Ada yang lolos, ada juga yang tidak. Beberapa karyanya yang lolos sudah dipamerkan di berbagai negara. Hal itu semakin menjadi penyemangat untuk terus berkarya.  


Pemesanan Kaligrafi dari Berbagai Daerah


Bulan Ramadan selalu menjadi berkah tersendiri bagi pria kelahiran  6 Juni 1993 tersebut. sebab  pemesanan kaligrafi selalu meningkat. Hal itu menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus berkarya.

Jimly menunjukkan karya yang merupakan pesanan milik warga Surabaya

Banyak warga yang memesan lukisan kaligrafi via media sosia, mulai dari facebook hingga instagram. Bahkan, Jimly kewalahan untuk membuat  kaligrafi tersebut.


Pada bulan Ramadan,  kenaikan permintaan kaligrafi sekitar 40 persen. Dia bisa menerima puluhan lukisan kaligrafi selama Ramadan. Harga yang dijual  mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 2.000.000.


“Ini terbaru ada pesanan dari Banyuwangi,” ujar dia. Setelah selesai digarap, lukisan kaligrafi tersebut dikirimkan pada pemesannya. Bila hanya di dalam kota Jember, maka diantar atau dijemput.


Namun bila di luar kota, maka dikirim melalui jasa pengiriman, salah satunya adalah JNE. Alasannya, karena kantor JNE Jember dekat sekali dengan Ponpes Darussolah. Selain itu, juga pelayanan sangat baik dan terpercaya.


Setiap kali mengirim lukisan, barang selalu diterima oleh pemesan dalam keadaan utuh. Hal itulah yang membuatnya menjadi pelanggan JNE dalam mengirimkan kaligrafi pada berbagai daerah.

Karya Kaligrafi Jimly pesanan warga Banyuwangi 

#JNE 

#JNERamadhan2021

#Blogberkahramadhanantarkankebahagiaan

#Bahagiabersama



Read More

Selasa, 01 September 2020

Kisah Mantan TKW Menjadi Eksportir Buah ke Lima Negara, Timur Tengah hingga Eropa

Asroful Uwatun, mantan TKW yang sukses jadi eksportir buah

Menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) dimanfaatkan oleh Asroful Uswatun sebagai tempat belajar. Belajar cara berjuang untuk meraih kesuksesan. Sebab, dia tak mungkin menjadi TKW selamanya.


Perempuan yang akrab disapa Uswatun itu  bekerja sebagai penjahit di Malaysia. Gaji dari menjahit itu dia kumpulkan sebagai bekal modal ketika pulang ke tanah kelahirannya. Yakni di Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro.


Setelah modal terkumpul cukup banyak, dia pulang ke kampung halamannya mengembangkan tanaman buah. Pilihan itu dipilih karena dia memiliki lahan untuk ditanami.  


Pertemuan saya dengan Uswatun dalam kegiatan pertemuan pelaku UMKM yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Darisanalah, saya mendengar kisah perjuangannya dalam mewujudkan UMKM yang berdikari.


Kisah Awal Menjadi TKW Hingga Jadi Bos


Uswatun menjadi TKW pada tahun 2005 silam. Awalnya dia tak berniat untuk bekerja disana. Namun karena ingin menambah penghasilan, akhirnya di berangkat. Dia bekerja selama 2,5 tahun. Kembali ke Jember pada tahun 2008 lalu.


Di rumah saya ada sawah peninggalan dari orang tua,” kata dia saat berbincang santai denganku. Saat bekerja di Malaysia, dia sudah punya angan-angan untuk mengelola sawahnya tersebut. Namun selama ini terkendala dengan modal yang dimiliki.


Saat itu, dia mencoba menanam buah naga organik. Dia terinspirasi karena banyak petani yang menanam buah naga. Bedanya, buah naga di tanam secara biasa, namun Uswatun menggunakan pupuk organik.


Tanaman organik dipilih karena banyak potensi desa yang mendukung untuk mewujudkan pertanian organik. Mulai dari kotoran hewan yang diolah menjadi pupuk organik. Harga  jual buah naga organik merah yang lebih mahal.


Ternyata, perbedaan cara menanam tersebut membuat buah naga organik miliknya banyak permintaan. Akhirnya, dia mulai mengembangkan tanaman buah naga organik lainnya dengan menggandeng petani.


Kesuksesan mulai nampak dari ibu lima anak ini.  Dia semakin  optimis.  Buah naga organik miliknya terus berkembang. Usahanya pun menjadi perhatian KPwBI Jember. akhirnya  dijadikan sebagai petani binaan KPwBI Jember.




“Darisanalah saya mulai banyak belajar tentang cara mengembangkan pertanian organik,” terang dia. Mulai  dari cara budidaya hingga panen, serta cara mengatur manajemen UMKM miliknya.


Tak hanya itu, dia juga belajar tentang cara menjual buah ke berbagai daerah hingga luar negeri. Yakni melalui pelatihan yang digelar oleh BI. “Darisana saya semakin semangat untuk terus menggali ilmu,” ucap Uswatun.


Ekspor Buah ke Lima Negara, Timur Tengah Hingga Eropa  


Semakin lama, produk buah naga organik miliknya semakin dikenal pembeli. Karena dia sering ikut  pameran di tingkat lokal hingga internasional.


Uswatun berhasil memikat  hati para pembeli.  Saat mengikuti pameran, dia berkenalan dengan pembeli dan meminta untuk mengirim buah naga  ke Singapura, Oman dan Jeddah.  


Bahkan pada tahun 2015, ada permintaan  buah naga  organik ke Belanda. Lalu ke  Inggris pada tahun 2018.  Uswatun semakin mendapat kemudahan untuk mengirim barangnya. Bahkan dia menilai potensi ekspor komiditas buah-buahan cukup besar.


Namun sekarang karena pandemi Covid-19, penjualan tersebut sedikit terganggu. Pengiriman barang ke luar negeri juga mengalami kendala. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk terus bangkit.


Diakuinya, produk buah naga miliknya merupakan produk unggulan, memiliki rasa yang super manis.  Selain itu, walau harga buah naga murah. Namun, produk buah naga organik tersebut tetap mahal. Sebab buahnya  lebih  segar dan awet dibanding non organik.


Darisanalah, Uswatun mulai menjadi pengusaha eksportir buah naga organik. Seiring perjalanan, buah yang di jual mulai beragam, seperti mangga, nanas dan lainnya. “Saya belajar menciptakan buah yang betul betul berkualitas,” ucap dia.




Diakuinya, menjadi eksportir membutuhkan keberanian yang kuat. Selain itu, juga semangat belajar yang cukup tinggi. Sebab, dirinya membangun usaha eksportor buah organik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun ada proses panjang yang harus dilalui.

Seperti menyediakan barang yang memang sangat berkualitas untuk menjaga pasar di luar negeri. Selain itu, juga harus teliti sebelum mengirim barang. Tak kalah penting, semua dokumen kelengkapan pengiriman barang harus lengkap. 


Semangat Memberdayakan Petani Lokal


Sekarang, Uswatun sudah mengelola  lahan pertanian buah  sekitar 50 hektare. Dia mengajak petani lokal untuk ikut membantu mengembangkan UMKM miliknya. Bahkan, juga bermitra dengan petani lain.


Uswatun sudah bisa memberdayakan warga sekitar. Baginya,  dia tak hanya berbisnis, namun juga  membantu petani untuk budidaya buah yang baik. Salah satunya dengan cara membina kelompok tani di Jember.


“Itu tidak mudah ya, karena  harus merubah pola pikir petani,” ucap dia. Dia mengajak petani agar tidak sekedar tanam buah. Namun juga memperhatikan kualitasnya agar ketika panen memiliki kualitas yang terbaik.


Petani yang bermitra dengan Uswatun, harus mengikuti standart operasional yang sudah diterapkan. Seperti tidak menyiram menggunakan air sungai. Tujuannya agar buah yang dihasilkan berkualitas dan bisa diterima  pasar luar negeri.


Sampai sekarang, sudah ada  sekitar 50 petani yang bermitra dengannya. Sedangkan jumlah karyawan mencapai sepuluh orang. Mereka  bertugas mengemas buah naga untuk dipasarkan. 


Selain kesibukan mengelola tanamannya. Uswatun juga kerap didatangi oleh mahasiswa  yang hendak studi banding.  Dia pun menceritakan kisahnya hingga sukses menjadi pengusaha buah pada mahasiswa.  

 

Read More

Minggu, 30 Agustus 2020

Merawat Kelestarian Hutan, Menjaga Kehidupan


Air lautnya bening, minim sampah. Pasirnya putih, serpihan-serpihan tulang karang menjadikan pantai di pulau ini begitu indah. Angin sepoi-sepoi membuat saya betah di tempat ini. Sayangnya, saya tak bisa berlama-lama  karena kawasan ini termasuk cagar alam.


        Tak semua orang bisa datang  kecuali mendapat izin dari Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember. Seperti hendak melakukan penelitian, atau melepaskan liarkan satwa.


Pulau ini seperti menjadi surga bagi para satwa dilindungi hingga satwa liar. Lokasinya ada di Desa Puger Wetan Kecamatan Puger. Luas cagar alam ini mencapai 6.100 hektare. Nusabarong menjadi salah satu pulau yang terletak di Samudra Hindia. Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi tempat ini. 


Seperti apa ceritanya? ini dia..


Pagi usai salat shubuh, saya sudah mempersiapkan diri hendak menuju Pulau Nusabarong. Cukup lama aku ingin  mengunjungi tempat ini. Alasannya sederhana, ingin melihat keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya serta menikmati keindahan pulaunya.


 “Ayo  berangkat bro, mobilnya sudah datang,” kata Icang, salah satu teman  yangjuga hendak ikut ke pulai ini.


 Siap mas, lima menit sampai,” jawabku melalui pesan whatsap. 


     Saya segera berangkat menuju titik kumpul di Kantor BKSDA Wilayah III Jember. Disana, sudah ada mobil yang hendak mengantar kami ke acara pelepas liaran monyet ekor panjang ke Pulau Nusabarong. Perjalanan ke acara membutuhkan waktu sekitar satu jam.



Di pinggir pantai, monyet ekor panjang itu sudah siap untuk dibawa ke Pulau Nusabarong. Acara seremonial sudah dimulai. Begitu selesai, saya langsung naik perahu milik nelayan bersama petugas BKSDA dan aktivis Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Tentu tak lupa memakai rompi pelampung untuk menjaga keamanan. 


Dari pinggir pantai ke Pulau Nusabarong, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama perjalanan, aku benar-benar menikmati indahnya suasana laut. Dari kejauhan, pulau ini tampak begitu hijau, sangat natural. 


Siapa yang masuk kawasan ini tanpa izin, tentu ada sanksi yang tegas dari petugas BKSDA Wilayah III Jember. Sebab, dilarang tegas untuk mengunjunginya. Peraturan itu merupakan salah satua cara merawat Pulau Nusabarong  agar tetap alami dan lestari. 


Perahu nelayan terus melaju  mendekati Pulau Nusabarong. Semakin menepi ke pinggiran, air lautnya semakin jernih. Rasanya ingin melompat dan menikmati kesegaran airnya.


“Wow indah sekali, sangat natural,” itulah kata-kataku yang keluar pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Nusabarong. Pasirnya berwarna putih, bahkan pasirnya berupa karang. 

 


Saya turun  dari perahu dengan perasaan yang begitu gembira. Keinginan berkunjung ke Pulau Nusabarong tercapai. Disana, sudah ada aktivis JAAN yang menginap untuk memonitoring monyet ekor panjang yang dilepasliarkan. 


Monyet yang dimasukkan ke dalam kotak itu seperti berontak ingin segera keluar ke alam bebas. Monyet itu merupakan hasil dari rampasan dari warga yang menjadikannya sebagai topeng monyet. Akhirnya Mereka dikebiri ke Pulau Nusabarong. 


Tiba disana, monyet itu masih dibawa ke  tengah hutan. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menuju ke tengah hutan, tempat pelepasan monyet. Aku bisa melihat lebih jelas suasana hutan di kawasan Cagar Alam ini. Kondisinya sungguh sangat natural, banyak flora dan fauna yang masih lestari di dalamnya. 


Di langit, saya bisa melihat elang yang terbang. Sayangnya, saya tidak bisa melihat penyu yang berada di tempat ini. Biasanya, mereka bertelur di pinggir pantai. Namun, hanya pada waktu tertentu. 


Aku pun mengabadikan kesempatan datang ke tempat ini dengan mendokumentasikannya sebanyak mungkin. Melalui foto dan video. Sebagai pemberitahuan bahwa cagar alam Nusabarong merupakan kawasan dilindungi, memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. 

 

Ada 1.246 Ekor Penyu


Pulau Nusabarong menjadi surga bagi satwa dilindungi seperti penyu. Tak tanggung, jumlahnya mencapai  1.246 ekor.  Jumlah itu berdasarkan monitoring BKSDA Wilayah III Jember tahun 2017 lalu. 


Jumlah itu lebih banyak dibanding tahun 2015 sebanyak 465. sedangkan pada tahun 2012 mencapai  1.068 ekor.  Populasinya memang masih cukup banyak. Namun harus tetap dijaga agar lestari. 


Salah satu caranya adalah menggandeng kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) untuk mengawasi kelestarian penyu. Ada 12 pokmaswas yang mengawasi berbagai bidang konsentrasi, seperti mangrove, penyu, dan lainnya. 


Tugas mereka ikut melestarikan keberlangsungan penyu yang ada di kawasan cagar alam. Mulai dari penyu hijau dan penyu sisik.  Penyu  bertelur setahun sekali, baru menetes setelah 21 hingga 28 hari.


            Selain penyu, potensi besar lainnya di Pulau Nusabarong adalah  ekosistem hutan pantai, mulai dari Putat, Waru Laut, KepuhNyamplungKetapangPandan, dan Setigi Laut. Kemudian,  ekosistem mangrove seperti Api-api, ekosistem hutan tropis dataran rendah meliputi Laban, Pancal Kidang, dan Kalak. 


Selain penyu hijau, penyu sisik juga terdapat biawak, rusa timorlutung, babi hutan, elang laut, dan walet. Semua fauna itu ada di pulau Nusabarong. Semua satawa tersebut dilindungi.


Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan 


Keanekaragaman hayati di Pulau Nusabarong  terlalu indah untuk dibiarkan. Salah satu upaya untuk menjaga kelestariannya adalah melalui adopsi hutan. Yakni gerakan gotong royong menjaga kelestariannya.



Untuk itu, BKSDA Wilayah III membentuk kelompok pengawas masyarakat untuk turut berkontribusi menjaga kelestariannya. Tugas mereka tak hanya menjaga pulau nusabarong dari ancaman kerusakan.


Tetapi juga merawat dan mengembangkan agar kelestarian hutan itu benar-benar terjaga. Sebab, tak jarang ada warga yang nakal memasuki kawasan pulau nusabarong.


Mereka datang ke pulau tersebut membawa perahu sendiri untuk memancing, lalu memasuki pulau nusabarong dan bermalam disana. Tindakan tersebut sebenarnya mengancam kelestarian hutan.


Sebab, satwa yang terdapat di dalamnya bisa terganggu. Untuk itulah, Pokmaswas perlu terus menjaga hutan itu dari kejahilan manusia yang tidak bertanggung jawab.


Sebenarnya, jaga hutan, sama dengan menjaga kehidupan kita, kehidupan generasi selanjutnya. Bila hutan rusak, maka kehidupan akan terancam.


Untuk itulah, saya sebagai generasi bangsa mengajak masyarakat pada hari hutan indonesia umum untuk terus menjaga kelesatarian hutan. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, kerabat hingga masyarakat luas.


Caranya sederhana, misal tidak mendatangi pulau nusabarong kecuali sudah mendapatkan ijin dari BKSDA. Tidak membuang sampah di lautan karena bisa mencemari pulau tersebut.

 

Pulang Saat Ombat Besar 

 

            Hari sudah mulai siang, saya harus kembali bersama rombongan. Sebab, semakin lama, ombak akan semakin besar. Namun, sebelum balik, saya bersama rombongan masih melepas ular pyton sanca di tempat yang berbeda. 

 


    Mengitari pinggir Pulau Nusabarong, melihat indahnya pulau ini. Ular ini juga  pemberian dari warga yang ditemukan di lingkungan sekitarnya,. Meskipun tidak menggigit, namun rawan konflik dengan manusia.

            

    Ternyata, melepas ular ataupun monyet tidak semudah bayanganku. Namun ada cara khusus. Misal, ketika melepas monyet ekor liar, harus direhabilitasi dulu. Mereka diseterilkan agar tidak bisa berkembang biak. Selain itu, tempat pelepasannya juga harus disurvei kelayakannya. 

            Apakah makanannya tersedia, seperti buah-buahan hingga biji-bijian. Bahkan kesehatan mereka juga diperhatikan agar tidak membawa penyakit bagi satwa lainnya. Tak hanya itu, di Nusabarong monyet tersebut masih dimonitoring, apakah bisa bertahan hidup atau tidak. 


Begitu juga dengan melepas ular, tidak langsung dikeluarkan dari sangkar lalu ditinggal begitu saja. Namun, harus dilihat dan diperhatikan apakah sudah masuk ke dalam hutan atau tidak.  


            Usai melepas satwa itu, saya kembali ke perahu dan pulang. Perjalanan kembali terasa menyenangkan. Perahu melaju dengan gelombang yang masih kecil. Namun, ketika hendak berlabuh, ombak membesar dan menghantam perahu kami. 


“Awas, ayo cepat turun, gubrak,” seketika perahu langsung terbalik. Untung saja, tak ada yang terluka dalam insiden pulang ini. Meskipun ada kameran yang terkena air laut dan rusak. Namun, kisah ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan.


Pulau Nusabarong, tetaplah lestari…

 


Read More

Jumat, 10 Juli 2020

Komunitas Swayanaka, Kumpulan Mahasiswa Peduli Pendidikan Anak


Komunitas Swayanaka merupakan  singkatan dari Mahasiswa Penyayang Anak yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka terjun ke desa-desa yang potensi pendidikannya rendah, kemudian mengajak anak-anak untuk bermain dan belajar.


Anak-anak Desa Mrawan Kecamatan Mayang, setiap seminggu sekali memiliki kegiatan baru. Yakni bermain dan belajar bersama mahasiswa  yang tergabung dalam komunitas Swayanaka. Mereka belajar tentang banyak hal, seperti permainan tradisional yang mendidik.


            Tak kalah penting, mereka juga dimotivasi agar mampu menggapai mimpinya. Salah satunya dengan menempuh pendidikan se tinggi-tingginya sebagai bekal menjalani hidup. “Baru setelah mereka sadar tentang pentingnya pendidikan, kami pindah cari desa binaan yang lain,” kata Holidi, ketua komunitas Swayanaka Jember, kemarin.


Komunitas yang peduli dengan pendidikan masih terbilang baru di Jember ini sekitar tahun 2013 lalu berdiri. Namun, kiprahnya sudah mampu mewarnai dunia pendidikan di Jember. Sebab, sudah mendidik anak-anak di desa binaan mereka, yakni di Keluarahan Tegal Besar dan Desa Mrawan.


“Komunitas ini dibentuk karena keprihatinan terhadap anak-anak yang putus sekolah,” tambahnya ketika ditemui di perpustakaan Untukmu Si Kecil (USK) pinggir Kali Kedadung, kemarin. Sehingga, rasa kepedulian itu tak ingin disiakan begitu saja.


Komunitas itu awal kali dirintis sejak 1998 oleh sejumlah mahasiswa di Surabaya. Mereka prihatin dengan kesenjangan dunia pendidikan anak-anak, keadaan kesehatan  masyarakat Jember dan lainnya. Namun dalam perjalanan, komunitas itu sempat vakum selama bertahun-tahun.


Hingga pada tahun 2010 lalu dihidupkan kembali agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. “Akhirnya di sejumlah daerah yang terdapat kampus, dibentuk komunitas, seperti Malang, Kediri termasuk Jember,” terangnya.


Pria kelahiran 09 Agustus 1994 itu menambahkan, terbentuknya swayanaka di Jember tidak lepas dari peran salah satu dosen Universitas Jember. Mereka mengumpulkan sejumlah mahasiswa untuk terlibat dalam gerakan sosial itu. “Jadi salah satu dosen kami meminta untuk mengumpulkan sepuluh mahasiswa, termasuk saya hadir,” akunya.


Ketika sudah berkumpul, para mahasiswa itu diperlihatkan video kegiatan Komunitas Swayanaka dari daerah lain. Seperti aksi sosial ketika Gunung Merapi meletus serta kegiatan lainnya di bidang pendidikan.


            Akhirnya, kata mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Univeristas Jember tersebut, Swayanaka Jember mulai diresmikan pada Mei 2013 bertempat di desa binaan pertama, yakni Kelurahan Tegalbesar. “Kami ambil daerah sana, karena pertama dan lebih mudah,” tuturnya.


Kegiatan yang dilakukan bukan hanya seputar pendidikan, tapi mengajari anak-anak agar memiliki gaya hidup yang sehat, pola asuh terhadap anak serta mengajarkan anak permainan yang mendidik. “Waktu disana kami menggandeng PKK agar terlibat,” ujarnya.


Tak hanya itu, aktivitas lain yang dilakukan adalah mendidik anak agar memiliki mimpi dan menjadi generasi yang lebih hebat. Seperti peduli terhadap lingkungan. “Seperti JJS bersama, lalu mereka memunguti puntung rokok yang bertebaran,” akunya.


Tegalbesar menjadi desa binaan selama dua tahun. Karena anak-anaknya sudah banyak besar dan melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, yakni di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sehingga, mereka mencari desa lain untuk dibina.


            Akhirnya para anggota komunitas berdiskusi untuk menentukan desa binaan melalui survei. Mereka sepakat menjadikan Desa Mrawan sebagai Desa Binaan. Karena banyak anak-anak yang pendidikannya masih rendah. “Kadang sampai SD berhenti sekolah dan langsung bekerja,” akunya.


Sehingga anak-anak muda itu ingin mengubah kebiasaan buruk masyarakat tentang pendidikan. Sebab, putus sekolah bukan karena faktor ekonomi, tapi kemauan dan semangat yang rendah untuk menyekolahkan anak-anak.


Selain itu, kondisi desa tersebut termasuk desa yang berada di daerah agak pelosok. Sehingga, tepat untuk dijadikan desa binaan agar Sumber Daya Masyarakat (SDM) bisa meningkat. “Awalnya kami memperkenalkan diri pada masyarakat, tentang tujuan dan kegiatan komunitas,” jelasnya.


Mereka disambut baik oleh masyarakat sekitar. Seminggu sekali, bermain dan belajar di halaman sekolah bersama anak-anak. Sedangkan untuk warga sendiri, komunitas menyelenggarakan bakti sosial. “Hari raya Idul Adha kemarin kami juga kurban kambing,” tambah pria asal Bondowoso tersebut.


Baginya, belajar tidak harus formal, mereka memanfaatkan untuk belajar bersama. Seperti membuat kerajinan, memotivasi dan mendidikan tentang hidup sehat dan peduli lingkungan. Seperti memilih anak-anak menjadi duta lingkungan tingkat desa.


Meski anggota komuntas yang aktif hanya sekitar 20 orang, namun, semangat dan rasa kepeduliannya meningkatkan pendidikan masyarakat tak pudar. Sehingga mereka tetap membina anak-anak desa agar bisa mengembangkan potensi mereka. “Mulai dari seni tari, nyanyi atau yang lain,” pungkasnya.

 


Read More

Selasa, 17 Maret 2020

Isu Tenggelam Karena Covid-19, 300 Warga Jember Menderita DBD, Dua Meninggal Dunia


300 warga Jember menderita penyakit DBD. Dua diantaranya meninggal dunia karena terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. 

MASJIWO.com –  Virus corona 19 memang memenuhi pemberitaan di berbagai Negara, tak terkecuali Indonesia. Membaca berita daring dipenuhi dengan kata-kata corona 19, menonton televisi berita tentang corona, membaca pesan di whatsapp pun corona.

Lalu, bagaimana dengan penyakit lain yang mengancam nyawa manusia. Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak kemarin, saya bertanya, berapa jumlah penderita penyakit ini. Saya kirim pesan pada Kepala DInas Kesehatan Jember Dyah Kusworini, namun tak dibalas.

foto dokumentasi PMI Jember: Petugas PMI Jember saat melakukan Fogging untuk mencegah penyakit DBD 

Lalu, pada Selasa (17/3/2020), saya berhasil mewawancarainya di DPRD Jember.

Faktanya..

300 warga Jember menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, dua diantaranya sudah meninggal dunia. Jumlah penderita DBD itu  tercatat sejak Januari 2020  sampai sekarang.
“Jumlah itu masih dibawah grafik maksimal yang pernah ada, separuhnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jember Dyah Kusworini.  

Menurut dia, jumlah tersebut masih berada pada grafik tengah dari kasus yang pernah terjadi selama lima tahun. Namun, warga Jember sudah  meninggal dunia karena kasus DBD tersebut mencapai dua orang. “Yang meninggal sudah ada dua. Itu sudah terlapor pada provinsi,” tutur dia.

Penyebab meninggalnya dua orang tersebut karena mereka  terlambat dibawa pada fasilitas pelayaanan kesehatan. Sementara, kondisi mereka sudah dalam  Demam Shock Syndrome (DSS). “Saya berharap pada masyarakat, apbila  sakit segera datang ke fasilitas kesehatan,” terang Dyah.

Dia berharap agar masyarakat melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan  3 M. yakni  mengubur, menguras dan menutup benda- benda yang bisa menampung air.   Selain itu, juga menjaga kesehatan agar tidak mudah terserang penyakit.

Beberapa waktu lalu, 15 warga Desa Lampeji Kecamatan Mumbulsari menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Untuk mencegah bertambahnya korban, Palang Merah Indonesia (PMI) Jember melakukan fogging atau pengasapan pada  rumah warga Sabtu (29/2/2020).

Rumah warga yang dilakukan fogging meliputi  RW 08  dan RW 09 di Desa Lampeji. “Total ada 15 warga yang menderita DBD,  satunya balita,” kata Kepala Desa Lampeji Ari Wahyudi .

Permintaan  fogging tersebut agar nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan penyakit DBD  tersebut mati. Selain itu, korban yang menderita DBD tidak bertambah. “Kami berterima kasih  pada PMI Jember yang melakukan foging,” tutur dia.

PMI Jember siap menerima permintaan fogging masyarakat. Caranya tinggal mendatangi markas PMI Kabupaten Jember di Jalan Jawa Nomor 56 Sumbersari   
Read More