Selasa, 01 September 2020

Kisah Mantan TKW Menjadi Eksportir Buah ke Lima Negara, Timur Tengah hingga Eropa

Asroful Uwatun, mantan TKW yang sukses jadi eksportir buah

Menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) dimanfaatkan oleh Asroful Uswatun sebagai tempat belajar. Belajar cara berjuang untuk meraih kesuksesan. Sebab, dia tak mungkin menjadi TKW selamanya.


Perempuan yang akrab disapa Uswatun itu  bekerja sebagai penjahit di Malaysia. Gaji dari menjahit itu dia kumpulkan sebagai bekal modal ketika pulang ke tanah kelahirannya. Yakni di Desa Sidomulyo Kecamatan Semboro.


Setelah modal terkumpul cukup banyak, dia pulang ke kampung halamannya mengembangkan tanaman buah. Pilihan itu dipilih karena dia memiliki lahan untuk ditanami.  


Pertemuan saya dengan Uswatun dalam kegiatan pertemuan pelaku UMKM yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Darisanalah, saya mendengar kisah perjuangannya dalam mewujudkan UMKM yang berdikari.


Kisah Awal Menjadi TKW Hingga Jadi Bos


Uswatun menjadi TKW pada tahun 2005 silam. Awalnya dia tak berniat untuk bekerja disana. Namun karena ingin menambah penghasilan, akhirnya di berangkat. Dia bekerja selama 2,5 tahun. Kembali ke Jember pada tahun 2008 lalu.


Di rumah saya ada sawah peninggalan dari orang tua,” kata dia saat berbincang santai denganku. Saat bekerja di Malaysia, dia sudah punya angan-angan untuk mengelola sawahnya tersebut. Namun selama ini terkendala dengan modal yang dimiliki.


Saat itu, dia mencoba menanam buah naga organik. Dia terinspirasi karena banyak petani yang menanam buah naga. Bedanya, buah naga di tanam secara biasa, namun Uswatun menggunakan pupuk organik.


Tanaman organik dipilih karena banyak potensi desa yang mendukung untuk mewujudkan pertanian organik. Mulai dari kotoran hewan yang diolah menjadi pupuk organik. Harga  jual buah naga organik merah yang lebih mahal.


Ternyata, perbedaan cara menanam tersebut membuat buah naga organik miliknya banyak permintaan. Akhirnya, dia mulai mengembangkan tanaman buah naga organik lainnya dengan menggandeng petani.


Kesuksesan mulai nampak dari ibu lima anak ini.  Dia semakin  optimis.  Buah naga organik miliknya terus berkembang. Usahanya pun menjadi perhatian KPwBI Jember. akhirnya  dijadikan sebagai petani binaan KPwBI Jember.




“Darisanalah saya mulai banyak belajar tentang cara mengembangkan pertanian organik,” terang dia. Mulai  dari cara budidaya hingga panen, serta cara mengatur manajemen UMKM miliknya.


Tak hanya itu, dia juga belajar tentang cara menjual buah ke berbagai daerah hingga luar negeri. Yakni melalui pelatihan yang digelar oleh BI. “Darisana saya semakin semangat untuk terus menggali ilmu,” ucap Uswatun.


Ekspor Buah ke Lima Negara, Timur Tengah Hingga Eropa  


Semakin lama, produk buah naga organik miliknya semakin dikenal pembeli. Karena dia sering ikut  pameran di tingkat lokal hingga internasional.


Uswatun berhasil memikat  hati para pembeli.  Saat mengikuti pameran, dia berkenalan dengan pembeli dan meminta untuk mengirim buah naga  ke Singapura, Oman dan Jeddah.  


Bahkan pada tahun 2015, ada permintaan  buah naga  organik ke Belanda. Lalu ke  Inggris pada tahun 2018.  Uswatun semakin mendapat kemudahan untuk mengirim barangnya. Bahkan dia menilai potensi ekspor komiditas buah-buahan cukup besar.


Namun sekarang karena pandemi Covid-19, penjualan tersebut sedikit terganggu. Pengiriman barang ke luar negeri juga mengalami kendala. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk terus bangkit.


Diakuinya, produk buah naga miliknya merupakan produk unggulan, memiliki rasa yang super manis.  Selain itu, walau harga buah naga murah. Namun, produk buah naga organik tersebut tetap mahal. Sebab buahnya  lebih  segar dan awet dibanding non organik.


Darisanalah, Uswatun mulai menjadi pengusaha eksportir buah naga organik. Seiring perjalanan, buah yang di jual mulai beragam, seperti mangga, nanas dan lainnya. “Saya belajar menciptakan buah yang betul betul berkualitas,” ucap dia.




Diakuinya, menjadi eksportir membutuhkan keberanian yang kuat. Selain itu, juga semangat belajar yang cukup tinggi. Sebab, dirinya membangun usaha eksportor buah organik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun ada proses panjang yang harus dilalui.

Seperti menyediakan barang yang memang sangat berkualitas untuk menjaga pasar di luar negeri. Selain itu, juga harus teliti sebelum mengirim barang. Tak kalah penting, semua dokumen kelengkapan pengiriman barang harus lengkap. 


Semangat Memberdayakan Petani Lokal


Sekarang, Uswatun sudah mengelola  lahan pertanian buah  sekitar 50 hektare. Dia mengajak petani lokal untuk ikut membantu mengembangkan UMKM miliknya. Bahkan, juga bermitra dengan petani lain.


Uswatun sudah bisa memberdayakan warga sekitar. Baginya,  dia tak hanya berbisnis, namun juga  membantu petani untuk budidaya buah yang baik. Salah satunya dengan cara membina kelompok tani di Jember.


“Itu tidak mudah ya, karena  harus merubah pola pikir petani,” ucap dia. Dia mengajak petani agar tidak sekedar tanam buah. Namun juga memperhatikan kualitasnya agar ketika panen memiliki kualitas yang terbaik.


Petani yang bermitra dengan Uswatun, harus mengikuti standart operasional yang sudah diterapkan. Seperti tidak menyiram menggunakan air sungai. Tujuannya agar buah yang dihasilkan berkualitas dan bisa diterima  pasar luar negeri.


Sampai sekarang, sudah ada  sekitar 50 petani yang bermitra dengannya. Sedangkan jumlah karyawan mencapai sepuluh orang. Mereka  bertugas mengemas buah naga untuk dipasarkan. 


Selain kesibukan mengelola tanamannya. Uswatun juga kerap didatangi oleh mahasiswa  yang hendak studi banding.  Dia pun menceritakan kisahnya hingga sukses menjadi pengusaha buah pada mahasiswa.  

 


EmoticonEmoticon