Minggu, 30 Agustus 2020

Merawat Kelestarian Hutan, Menjaga Kehidupan


Air lautnya bening, minim sampah. Pasirnya putih, serpihan-serpihan tulang karang menjadikan pantai di pulau ini begitu indah. Angin sepoi-sepoi membuat saya betah di tempat ini. Sayangnya, saya tak bisa berlama-lama  karena kawasan ini termasuk cagar alam.


        Tak semua orang bisa datang  kecuali mendapat izin dari Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember. Seperti hendak melakukan penelitian, atau melepaskan liarkan satwa.


Pulau ini seperti menjadi surga bagi para satwa dilindungi hingga satwa liar. Lokasinya ada di Desa Puger Wetan Kecamatan Puger. Luas cagar alam ini mencapai 6.100 hektare. Nusabarong menjadi salah satu pulau yang terletak di Samudra Hindia. Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi tempat ini. 


Seperti apa ceritanya? ini dia..


Pagi usai salat shubuh, saya sudah mempersiapkan diri hendak menuju Pulau Nusabarong. Cukup lama aku ingin  mengunjungi tempat ini. Alasannya sederhana, ingin melihat keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya serta menikmati keindahan pulaunya.


 “Ayo  berangkat bro, mobilnya sudah datang,” kata Icang, salah satu teman  yangjuga hendak ikut ke pulai ini.


 Siap mas, lima menit sampai,” jawabku melalui pesan whatsap. 


     Saya segera berangkat menuju titik kumpul di Kantor BKSDA Wilayah III Jember. Disana, sudah ada mobil yang hendak mengantar kami ke acara pelepas liaran monyet ekor panjang ke Pulau Nusabarong. Perjalanan ke acara membutuhkan waktu sekitar satu jam.



Di pinggir pantai, monyet ekor panjang itu sudah siap untuk dibawa ke Pulau Nusabarong. Acara seremonial sudah dimulai. Begitu selesai, saya langsung naik perahu milik nelayan bersama petugas BKSDA dan aktivis Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Tentu tak lupa memakai rompi pelampung untuk menjaga keamanan. 


Dari pinggir pantai ke Pulau Nusabarong, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama perjalanan, aku benar-benar menikmati indahnya suasana laut. Dari kejauhan, pulau ini tampak begitu hijau, sangat natural. 


Siapa yang masuk kawasan ini tanpa izin, tentu ada sanksi yang tegas dari petugas BKSDA Wilayah III Jember. Sebab, dilarang tegas untuk mengunjunginya. Peraturan itu merupakan salah satua cara merawat Pulau Nusabarong  agar tetap alami dan lestari. 


Perahu nelayan terus melaju  mendekati Pulau Nusabarong. Semakin menepi ke pinggiran, air lautnya semakin jernih. Rasanya ingin melompat dan menikmati kesegaran airnya.


“Wow indah sekali, sangat natural,” itulah kata-kataku yang keluar pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Nusabarong. Pasirnya berwarna putih, bahkan pasirnya berupa karang. 

 


Saya turun  dari perahu dengan perasaan yang begitu gembira. Keinginan berkunjung ke Pulau Nusabarong tercapai. Disana, sudah ada aktivis JAAN yang menginap untuk memonitoring monyet ekor panjang yang dilepasliarkan. 


Monyet yang dimasukkan ke dalam kotak itu seperti berontak ingin segera keluar ke alam bebas. Monyet itu merupakan hasil dari rampasan dari warga yang menjadikannya sebagai topeng monyet. Akhirnya Mereka dikebiri ke Pulau Nusabarong. 


Tiba disana, monyet itu masih dibawa ke  tengah hutan. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menuju ke tengah hutan, tempat pelepasan monyet. Aku bisa melihat lebih jelas suasana hutan di kawasan Cagar Alam ini. Kondisinya sungguh sangat natural, banyak flora dan fauna yang masih lestari di dalamnya. 


Di langit, saya bisa melihat elang yang terbang. Sayangnya, saya tidak bisa melihat penyu yang berada di tempat ini. Biasanya, mereka bertelur di pinggir pantai. Namun, hanya pada waktu tertentu. 


Aku pun mengabadikan kesempatan datang ke tempat ini dengan mendokumentasikannya sebanyak mungkin. Melalui foto dan video. Sebagai pemberitahuan bahwa cagar alam Nusabarong merupakan kawasan dilindungi, memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. 

 

Ada 1.246 Ekor Penyu


Pulau Nusabarong menjadi surga bagi satwa dilindungi seperti penyu. Tak tanggung, jumlahnya mencapai  1.246 ekor.  Jumlah itu berdasarkan monitoring BKSDA Wilayah III Jember tahun 2017 lalu. 


Jumlah itu lebih banyak dibanding tahun 2015 sebanyak 465. sedangkan pada tahun 2012 mencapai  1.068 ekor.  Populasinya memang masih cukup banyak. Namun harus tetap dijaga agar lestari. 


Salah satu caranya adalah menggandeng kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) untuk mengawasi kelestarian penyu. Ada 12 pokmaswas yang mengawasi berbagai bidang konsentrasi, seperti mangrove, penyu, dan lainnya. 


Tugas mereka ikut melestarikan keberlangsungan penyu yang ada di kawasan cagar alam. Mulai dari penyu hijau dan penyu sisik.  Penyu  bertelur setahun sekali, baru menetes setelah 21 hingga 28 hari.


            Selain penyu, potensi besar lainnya di Pulau Nusabarong adalah  ekosistem hutan pantai, mulai dari Putat, Waru Laut, KepuhNyamplungKetapangPandan, dan Setigi Laut. Kemudian,  ekosistem mangrove seperti Api-api, ekosistem hutan tropis dataran rendah meliputi Laban, Pancal Kidang, dan Kalak. 


Selain penyu hijau, penyu sisik juga terdapat biawak, rusa timorlutung, babi hutan, elang laut, dan walet. Semua fauna itu ada di pulau Nusabarong. Semua satawa tersebut dilindungi.


Melestarikan Hutan Lewat Adopsi Hutan 


Keanekaragaman hayati di Pulau Nusabarong  terlalu indah untuk dibiarkan. Salah satu upaya untuk menjaga kelestariannya adalah melalui adopsi hutan. Yakni gerakan gotong royong menjaga kelestariannya.



Untuk itu, BKSDA Wilayah III membentuk kelompok pengawas masyarakat untuk turut berkontribusi menjaga kelestariannya. Tugas mereka tak hanya menjaga pulau nusabarong dari ancaman kerusakan.


Tetapi juga merawat dan mengembangkan agar kelestarian hutan itu benar-benar terjaga. Sebab, tak jarang ada warga yang nakal memasuki kawasan pulau nusabarong.


Mereka datang ke pulau tersebut membawa perahu sendiri untuk memancing, lalu memasuki pulau nusabarong dan bermalam disana. Tindakan tersebut sebenarnya mengancam kelestarian hutan.


Sebab, satwa yang terdapat di dalamnya bisa terganggu. Untuk itulah, Pokmaswas perlu terus menjaga hutan itu dari kejahilan manusia yang tidak bertanggung jawab.


Sebenarnya, jaga hutan, sama dengan menjaga kehidupan kita, kehidupan generasi selanjutnya. Bila hutan rusak, maka kehidupan akan terancam.


Untuk itulah, saya sebagai generasi bangsa mengajak masyarakat pada hari hutan indonesia umum untuk terus menjaga kelesatarian hutan. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, kerabat hingga masyarakat luas.


Caranya sederhana, misal tidak mendatangi pulau nusabarong kecuali sudah mendapatkan ijin dari BKSDA. Tidak membuang sampah di lautan karena bisa mencemari pulau tersebut.

 

Pulang Saat Ombat Besar 

 

            Hari sudah mulai siang, saya harus kembali bersama rombongan. Sebab, semakin lama, ombak akan semakin besar. Namun, sebelum balik, saya bersama rombongan masih melepas ular pyton sanca di tempat yang berbeda. 

 


    Mengitari pinggir Pulau Nusabarong, melihat indahnya pulau ini. Ular ini juga  pemberian dari warga yang ditemukan di lingkungan sekitarnya,. Meskipun tidak menggigit, namun rawan konflik dengan manusia.

            

    Ternyata, melepas ular ataupun monyet tidak semudah bayanganku. Namun ada cara khusus. Misal, ketika melepas monyet ekor liar, harus direhabilitasi dulu. Mereka diseterilkan agar tidak bisa berkembang biak. Selain itu, tempat pelepasannya juga harus disurvei kelayakannya. 

            Apakah makanannya tersedia, seperti buah-buahan hingga biji-bijian. Bahkan kesehatan mereka juga diperhatikan agar tidak membawa penyakit bagi satwa lainnya. Tak hanya itu, di Nusabarong monyet tersebut masih dimonitoring, apakah bisa bertahan hidup atau tidak. 


Begitu juga dengan melepas ular, tidak langsung dikeluarkan dari sangkar lalu ditinggal begitu saja. Namun, harus dilihat dan diperhatikan apakah sudah masuk ke dalam hutan atau tidak.  


            Usai melepas satwa itu, saya kembali ke perahu dan pulang. Perjalanan kembali terasa menyenangkan. Perahu melaju dengan gelombang yang masih kecil. Namun, ketika hendak berlabuh, ombak membesar dan menghantam perahu kami. 


“Awas, ayo cepat turun, gubrak,” seketika perahu langsung terbalik. Untung saja, tak ada yang terluka dalam insiden pulang ini. Meskipun ada kameran yang terkena air laut dan rusak. Namun, kisah ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan.


Pulau Nusabarong, tetaplah lestari…

 


1 Comments

Semoga makin banyak yang berdonasi lewat adopsi hutan ya agar hutan kita makin lestari dan terjaga


EmoticonEmoticon