Jumat, 10 Juli 2020

Komunitas Swayanaka, Kumpulan Mahasiswa Peduli Pendidikan Anak


Komunitas Swayanaka merupakan  singkatan dari Mahasiswa Penyayang Anak yang bergerak di bidang pendidikan. Mereka terjun ke desa-desa yang potensi pendidikannya rendah, kemudian mengajak anak-anak untuk bermain dan belajar.


Anak-anak Desa Mrawan Kecamatan Mayang, setiap seminggu sekali memiliki kegiatan baru. Yakni bermain dan belajar bersama mahasiswa  yang tergabung dalam komunitas Swayanaka. Mereka belajar tentang banyak hal, seperti permainan tradisional yang mendidik.


            Tak kalah penting, mereka juga dimotivasi agar mampu menggapai mimpinya. Salah satunya dengan menempuh pendidikan se tinggi-tingginya sebagai bekal menjalani hidup. “Baru setelah mereka sadar tentang pentingnya pendidikan, kami pindah cari desa binaan yang lain,” kata Holidi, ketua komunitas Swayanaka Jember, kemarin.


Komunitas yang peduli dengan pendidikan masih terbilang baru di Jember ini sekitar tahun 2013 lalu berdiri. Namun, kiprahnya sudah mampu mewarnai dunia pendidikan di Jember. Sebab, sudah mendidik anak-anak di desa binaan mereka, yakni di Keluarahan Tegal Besar dan Desa Mrawan.


“Komunitas ini dibentuk karena keprihatinan terhadap anak-anak yang putus sekolah,” tambahnya ketika ditemui di perpustakaan Untukmu Si Kecil (USK) pinggir Kali Kedadung, kemarin. Sehingga, rasa kepedulian itu tak ingin disiakan begitu saja.


Komunitas itu awal kali dirintis sejak 1998 oleh sejumlah mahasiswa di Surabaya. Mereka prihatin dengan kesenjangan dunia pendidikan anak-anak, keadaan kesehatan  masyarakat Jember dan lainnya. Namun dalam perjalanan, komunitas itu sempat vakum selama bertahun-tahun.


Hingga pada tahun 2010 lalu dihidupkan kembali agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. “Akhirnya di sejumlah daerah yang terdapat kampus, dibentuk komunitas, seperti Malang, Kediri termasuk Jember,” terangnya.


Pria kelahiran 09 Agustus 1994 itu menambahkan, terbentuknya swayanaka di Jember tidak lepas dari peran salah satu dosen Universitas Jember. Mereka mengumpulkan sejumlah mahasiswa untuk terlibat dalam gerakan sosial itu. “Jadi salah satu dosen kami meminta untuk mengumpulkan sepuluh mahasiswa, termasuk saya hadir,” akunya.


Ketika sudah berkumpul, para mahasiswa itu diperlihatkan video kegiatan Komunitas Swayanaka dari daerah lain. Seperti aksi sosial ketika Gunung Merapi meletus serta kegiatan lainnya di bidang pendidikan.


            Akhirnya, kata mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Univeristas Jember tersebut, Swayanaka Jember mulai diresmikan pada Mei 2013 bertempat di desa binaan pertama, yakni Kelurahan Tegalbesar. “Kami ambil daerah sana, karena pertama dan lebih mudah,” tuturnya.


Kegiatan yang dilakukan bukan hanya seputar pendidikan, tapi mengajari anak-anak agar memiliki gaya hidup yang sehat, pola asuh terhadap anak serta mengajarkan anak permainan yang mendidik. “Waktu disana kami menggandeng PKK agar terlibat,” ujarnya.


Tak hanya itu, aktivitas lain yang dilakukan adalah mendidik anak agar memiliki mimpi dan menjadi generasi yang lebih hebat. Seperti peduli terhadap lingkungan. “Seperti JJS bersama, lalu mereka memunguti puntung rokok yang bertebaran,” akunya.


Tegalbesar menjadi desa binaan selama dua tahun. Karena anak-anaknya sudah banyak besar dan melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, yakni di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sehingga, mereka mencari desa lain untuk dibina.


            Akhirnya para anggota komunitas berdiskusi untuk menentukan desa binaan melalui survei. Mereka sepakat menjadikan Desa Mrawan sebagai Desa Binaan. Karena banyak anak-anak yang pendidikannya masih rendah. “Kadang sampai SD berhenti sekolah dan langsung bekerja,” akunya.


Sehingga anak-anak muda itu ingin mengubah kebiasaan buruk masyarakat tentang pendidikan. Sebab, putus sekolah bukan karena faktor ekonomi, tapi kemauan dan semangat yang rendah untuk menyekolahkan anak-anak.


Selain itu, kondisi desa tersebut termasuk desa yang berada di daerah agak pelosok. Sehingga, tepat untuk dijadikan desa binaan agar Sumber Daya Masyarakat (SDM) bisa meningkat. “Awalnya kami memperkenalkan diri pada masyarakat, tentang tujuan dan kegiatan komunitas,” jelasnya.


Mereka disambut baik oleh masyarakat sekitar. Seminggu sekali, bermain dan belajar di halaman sekolah bersama anak-anak. Sedangkan untuk warga sendiri, komunitas menyelenggarakan bakti sosial. “Hari raya Idul Adha kemarin kami juga kurban kambing,” tambah pria asal Bondowoso tersebut.


Baginya, belajar tidak harus formal, mereka memanfaatkan untuk belajar bersama. Seperti membuat kerajinan, memotivasi dan mendidikan tentang hidup sehat dan peduli lingkungan. Seperti memilih anak-anak menjadi duta lingkungan tingkat desa.


Meski anggota komuntas yang aktif hanya sekitar 20 orang, namun, semangat dan rasa kepeduliannya meningkatkan pendidikan masyarakat tak pudar. Sehingga mereka tetap membina anak-anak desa agar bisa mengembangkan potensi mereka. “Mulai dari seni tari, nyanyi atau yang lain,” pungkasnya.

 



EmoticonEmoticon