Langsung ke konten utama

Menghijaukan Alam, Pekerjaan Hingga Akhir Hayat

foto-foto dokumentasi Laskar Hijau: A'ak Abdullah al-Kudus saat bersama komunitas Laskar hijau di Gunung Lemongan

“Jutaan yang ditanam, jutaan juga yang dirusak. Saat dibakar, kita tanami lagi, begitu seterusnya,” kata A’ak Abdullah al-Kudus. Pegiat lingkungan yang pernah menerima anugerah satu Indonesia award PT astra internasional 2010 lalu.

22 Oktober 2019 lalu,  hutan konservasi gunung Lemogan  Kabupaten Lumajang terbakar. Bahkan, 12 Maret 2018, posko dan tanaman konservasi di Gunung Lemongan dirusak oleh oknum tidak bertanggung jawab. “Posko dirusak, dan pohon ditebangi orang,” kata A’ak Abdullah alkudus seperti di kutip dari situs berita mongabay.co.id

Perjuangan merawat alam memang menjadi tugas semua manusia. Namun, tak banyak yang terpanggil untuk melakukannya. Padahal, alam merupakan tempat manusia hidup. Meminum air, mendapatkan sumber makanan.

ironisnya, banyak yang masih merusak alam tanpa peduli dengan keberlangsungan hidup generasi selanjutnya. Untung saja, ada sosok santri yang mengabdikan dirinya untuk kelestarian lingkungan. Yakni A’ak Abdullah al-Kudus. Pria kelahiran Lumajang, 12 Oktober 1974 bertekad mengabdikan sisa hidupnya untuk merawat alam.

Bagimana kisah pria yang akrab disapa Gus Aak ini aktif pada kegiatan lingkungan? Berikut hasil wawancara  penulis dengannya.

A’ak merasa perjuangannya masih sangat panjang. Bahkan, hinggga akhir hayat. Sebab merawat alam tidak membutuhkan waktu, namun selamanya. Dia mulai tergerak untuk melerstarikan alam sejak 2005 sampai sekarang.

A'ak Abdullah al-Kudus
Dia merasa terpanggil melihat hutan di tanah kelahirannya semakin rusak. “Saya tinggal dibawah Gunung Lemongan, saat  Gus Dur presiden, beliau  sempat mengeluarkan statemen hutan itu untuk rakyat,” jelasnya.

Menurut dia, pada  masa orde baru,  hutan dikuasai oleh segelintir orang. Statemen  Gus Dur itu ingin agar hutan digunakan untuk kesejahteraan masyarakat luas. Sayangnya, statemen tersebut diplintir hingga menjadi berita palsu. “Di Lumajang kata kata itu berubah menjadi hutan itu milik Negara, kalau pingin kayu, ke negara” terangnya.

Saat itulah, mulai banyak illegal logging yang terjadi di berbagai daerah sejak 1998 hingga 2002. Termasuk di Gunung Lemongan. Akibatnya, 13 ranu atau cekungan berupa danau yang ada di sekitar Gunung Lemongan mengalami penurunan kualitas.

Debit air turun hingga mencapai lima meter, bahkan dari 32 mata air di sekitar ranu klakah, hanya enam yang kondisinya tetap bagus. “Sekitar 2000 hektare hutan lindung habis, kami masih menyelamatkan sekitar 400 hektare,” ungkapnya.

Disana,  banyak warga yang bergantung pada hutan. Tanpa air, mereka tidak bisa berbuat banyak, terutama untuk menggarap sawahnya. Hutan sudah menjadi penyanggah hidup.

Karena itulah, A’ak terpanggil untuk melakukan penghijauan. Gerakan pertama yang dilakukan membuat kegiatan maulid hijau. Nama itu dipilih  karena bertepatan dengan bulan maulid. Upaya itu agar melalui event maulid nabi, warga bisa peduli dengan lingkungan.

Mendirikan Komunitas Laskar Hijau

A’ak sadar, menjaga dan merawat lingkungan tak bisa dilakukan sendiri. Namun, perlu kolaborasi dengan berbagai kalangan.  Akhirnya, 28 Desember 2008 dia membentuk organisasi Laskar Hijau untuk menyelamatkan  Gunung Lemongan  karena  merupakan induk konservasi agar sehingga  13 ranu bisa terselamatkan.

Anggota Laskar Hijau saat melakukan penghijauan di Gunung Lemongan
Banyak yang tertarik untuk bergabung, mencapai 300 orang. Namun seiring perjalanan, para relawan tersebut bergururan. Mereka tak cukup kuat untuk merawat dan melestarikan gunung. Sebab membutuhkan tenaga fisik dan non fisik yang melelahkan.

“Kita sepakat menaman setiap hari minggu. Namun dua bulan setelah deklarasi saya sempat sendirian, tidak ada yang mau terlibat,” terang alumni Ponpes Nuruljadid tersebut.  Bahkan, tantangan lain yang dihadapi adalah jutaan bibit yang ditanam, dibakar oleh oknum tidak bertanggung jawab.

“Jutaan yang ditanam, jutaan juga  yang dirusak. Saat dibakar, kita tanami lagi, begitu seterusnya,” tegasnya. Namun, A’ak tak menyerah. Terus gigih untuk melakukan penanaman pohon.

Bibit yang ditanam merupakan  pohon yang secara finansial tidak cukup menguntungkan bagi masyarakat. Yakni 50 persen pohon bambu, 50 persen  lagi tanaman buah-buahan. Tanaman bambu  dipilih karena merupakan tanaman yang paling banyak bisa menyimpan air.

Satu rumpun bambu jenis petung, bisa menyimpan air 0,8 meter kibik, memproduksi oksigen hingga  82 persen, lebih besar dibanding  pohon yang lain.  Selain itu,  juga untuk menahan longsor.

Perjalanan menghijaukan lahan tersebut juga begitu terjal. Tahun 2017 lalu, Laskar Hijau diserang warga dengna membawa celurit. “Karena  kami melarang orang membakar hutan,” ungkapnya. Namun tekad A’ak sudah bulat, dia terus melangkah menyelamatkan alam.

“Setidaknya, hidup kami sudah berguna meskipun hanya dengan menghidupkan sebatang pohon,” tuturnya. Baginya, hidup yang adalah bermanfaatabagi orang lain.

Menjadi Inpirasi Para Pemuda Milenial

Laskar hijau yang didirikan oleh A’ak mampu menginspirasi generasi muda untuk peduli pada kelestarian lingkungan. Sekarang, organisasi tersebut sudah ada di empat kabupaten. Yakni di  Kabupaten Banyuwangi dan Jember  yang fokus merawat  hutan. Di Probolinggo dan Sumenep fokus di kelestarian pantai.  

Laskar Hijau Probolinggo saat melaksanakan kegiatan tanam pohon mangrove
“Awalnya tidak ada niatan untuk membuka semacam cabang, namun permintaan ini tidak bisa ditolak,” tuturnya. Sebab  mereka concern menjaga lingkungan dan merasa nyaman dengan nama laskar hijau.  

Niat yang tulus untuk menjaga alam  semakin menemukan jalan. Meskipun anggota berguguran. Namun berdatangan para relawan yang memang terpanggil untuk turut membantu. 

Laskar hijau terus bergerak dengan relawan baru yang dikirim oleh Allah sampai sekarang. Jumlahnya tidak banyak, relawan yang istiqomah sekitar 20 orang.

Diakuinya, tantangan untuk melestarikan hutan memang berat. Terutama dalam menyadarkan  masyarakat di kawasan hutan lindung. Masih banyak oknum yang  merusak hutan dengan cara membakar dan menjarah.

Itu dilematis bagi kami, satu sisi kami bergerak menyelamatkan alam untuk keselamatan warga, tapi satu sisi ada oknum warga yang mengatasnamakan kepentingan hidup, merambah hutan,” paparnya.

Padahal, kata dia, sudah banyak upaya yang dilakukan agar  warga  peduli pada lingkungan. Seperti pengobatan gratis di desa sekitar hutan dengan membayar biji buah atau bibit pohon.

Ada juga event kenduri pohon untuk kampanye lingkungan, pemutaran film hingga pendekatan pada tokoh masyarakat. “Namun sampai sekarang masih tetap ada yang merusak, tapi kami sadar setiap perjuangan ada tantangan,” tuturnya.

Perjuangan itu terus dilakukan karena sudah menjadi tugasnya sebagai khalifah di dunia. Baginya,  amar ma’ruf nahi munkar tidak ada batasan umur. Sepanjang nyawa di badan,masih  menjadi tugas seorang Muslim. 

“Amar maruf tidak harus berdakwah di podium, minimal kami berusaha menjadi manusia yang bermanfaat,” ucapnya.

Baginya,  Laskar hijau merupakan caranya untuk  mengabdi pada hidup dan kehidupan.  Sekarang, banyak  pelajar yang datang untuk belajar memelihara alam. Warga desa juga mulai tergerak untuk peduli merawat hutan. Dia berharap, para generasi muda peduli dan ikut terlibat meneruskan perjuangannya.  “Karena saya yakin, sampai mati pun pekerjaan ini belum tuntas,” tandasnya.

 Santri Out Of The Box  yang Banyak Penghargaan

Kiprah A’ak  dalam melestarikan lingkungan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pria yang pernah belajar di Ponpes Annugqoyah Sumenep Madura dan Ponpes Nurul Jadid Probolinggo tak pernah mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi.

A'ak juga memilih aktif dalam kegiatan kemanusiaan melalui komunitas Gusdurian peduli
Namun, pengbdiannya pada kehidupan sudah terbukti. Pertama kali penghargaan yang pernah diraihnya adalah Satu Indonesia Award dari Astra International 2010. Lalu, meraih penghargaan Santri Award dari PWNU Jatim 2012. Selain itu, juga pernah meraih penghargaan tokoh peduli lingkungan dari Gubernur Jatim.

Tahun 2014, dia juga menjadi nominator Radar Jember Award. Lalu,  pada tahun 2017,  terpilih sebagai 72 Icon Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). “Bagi saya penghargaan tidak terlalu penting, karena tidak mencari itu,” tandasnya.

Sekarang, selain tetap sebagai aktivis lingkungan, A’ak juga aktif sebagai aktivis kemanusiaan. Dia menjadi Ketua Umum Gusdurian Peduli. Dia aktif melakukan aksi kemanusian untuk menolong masyarakat yang membutuhkan.  

#KitaSATUIndonesia
#IndonesiaBicaraBaik

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…

Inspirasi Pengusaha Bibit Buah yang Sukses

Bekerja sesuai hobi memang terasa menyenangkan. Apalagi sampai meraih kesuksesan. Yusron mengalami hal itu, meskipun harus berkorban meninggalkan bangku kuliah pada 2011 lalu.
Hamparan bibit buah di belakang rumah Yusron Ismail berjejer rapi. Mulai dari berbagai jenis bibit durian, sawo, bahkan juga jenis buah langka dari Amerika Latin seperti Mamesapote, yaknijenis mangga ukuran besar warna cerah. Jumlahnya mencapai puluhan ribu. Bibit itu dirawat dengan baik.
Disana, tampak para perempuan memakai caping sedang bekerja. Ada yang menyiram bibitnya. Ada yang memasang bibit ke dalam bungkus pot plastik. Lalu meletakkannya dengan rapi.
Di Jalan Sumberejo Desa Umbulsari, Yusron mempekerjakansekitar 28 orang. Mereka mencari rejeki dengan mengelola bibit tanaman yang diberi nama Getas Merah Umbulsari (GMU). “GMU itu nama dari usaha pertama, bibit jambu yang membuat sukses,” kata Yusron.
Pria kelahiran Jember16 oktober 1991itu memulai bisnis bibit tanaman sejak tahun 2010 lalu. Semua beraw…