Langsung ke konten utama

Supandi, Kolektor Ribuan Barang Antik


KOLEKTOR BENDA ANTIK: Supandi saat berada di rumahnya, dengan beberapa radio klasik yang masih bisa diputar.
 
Koleksi benda antik di rumah Supandi tak hanya menjadi barang hias. Namun, sebagai pundi ekonomi. Sebab, barang tersebut diperjual belikan dengan harga yang beragam.

Supandi sedang mendengarkan musik dari radio klasik yang ada di rumahnya. Suara radio itu terdengar kurang jernih. Lalu setelah dipindah mencari frekuensi yang pas, lagu terdengar indah dan nyaring. Padahal, radio itu merupakan radio klasik.
Ada banyak peninggalan radio di rumahnya. Mulai dari radio pada masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan. Semua masih terlihat kokoh. Kesan klasik dalam benda ini sangat kuat. Melihatnya, seperti kembali pada masa tempo dulu.
Tak hanya radio, namun benda-benda klasik lainnya memenuhi ruang tamu Supandi. Bahkan, rumah satunya juga dipenuhi dengan barang antik. Dia mendapatkannya dari berburu ke berbagai tempat di Indonesia.
Mulai dari televisi, telpon kuno, kamera jadul tahun 1930-an dan lainnya. Namun sudah tidak bisa dipakai lagi. Berbeda dengan radio yang sudah diganti mesinnya. “Kalau frekuensi lama AM, sekarang sudah tidak ada. Akhirnya saya ganti alat,” katanya.
Tak hanya itu, berbagai macam  lampu klasik  di gantung di dalam rumahnya. Bahkan memenuhi ruangan. Semua sudut rumah itu penuh dengan barang antik. Jumlahnya sudah tak terhitung, mencapai ribuan.
Barang-barang itu, seperti mesin ketik klasik, mesin jahit, alat timbang jadul disusun dengan rapi dalam sebuah rak. Sesekali, Supandi mengambilnya untuk membersihkan dari debu. Salah satu mesin jahitnya, ada yang dibuat sekitar tahun 1892. Mesin jahit itu , tampak sangat kuno. Sedangkan benda yang lain banyak yang tidak terdeteksi tahun pembuatannya.


Supandi tinggal di Jalan Argopuro Nomor 1 Arjasa. Setiap hari, dia selalu setiap merawat koleksi benda antik tersebut. Mengelap barang-barang tersebut agar makin tetap berkilau. Begitulah rutinitasnya.
Selain itu, dia juga memasarkan barang-barang itu di media online. Bila ada pembeli, dia tak segan menjualnya. Tentu mendapatkan untung. Sebab, harga benda klasik itu tidak murah. Bahkan, semakin antik semakin mahal.
“Radio ini harganya Rp 500 ribu hingga jutaan,” katanya ketika diatanyakan harga. Supandi mulai mengumpulkan barang benda antik sejak tahun 2011 lalu, setelah diringya pensiun dari PNS.
“Padahal awalnya saya benci dengan barang-barang seperti ini,” jelasnya. Sebab, dinilai kurang bermanfaat dan hanya memenuhi ruang rumah. Namun, kecintaan itu bermula saat ada peluang bisnis di dalamnya.
Akhirnya, Supandi tidak hanya sebagai kolektor, namun juga mencari penghasilan dari jual beli barang antik. Barang pertama kali yang dibeli adalah kuningan kecil. Setelah itu, merambat pada barang-barang yang lain.
Bapak  tiga anak itu pun berburu benda antik ke berbagai daerah, mulai dari  Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi hingga ke  Semarang dan Jakarta. Barang    dibelinya, dijual dengan harga yang menguntungkan. 


Pria kelahiran 10 Februari 1955 itu juga mengumpulkan barang antik dari para  pemburu dan pengepul barang antik. Untuk itu, dia tak perlu keliling lagi seperti awal-awal bergerak di kolektor benda klasik.  Ketika ada yang menjual, tingga menghubungi via ponsel.
Selain koleksi benda klasik, Supandi juga memiliki hobi mengumpulkan batu Suiseki. Bahkan sebelum beralih ke benda antik, lebih dulu sebagai kolektor batu tersebut sejak  1982.
Kecintaan Supandi pada benda antic sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Bahkan saat tertarik dengan benda antik, dia tergerak untuk membelinya. Ketertarikan itu membuatnya berangkat jam berapapun untuk membelinya. “Jam 12 malam  berangkat  membeli barang yang ditaksir,” akunya.
Ribuan barang yang didapat oleh Supandi dibeli dari berbagai kalangan. Baik dengan cara mencicil hingga nebas. Seperti kolektor yang meninggal dunia, lalu barangnya di jual semua. “Perawatan benda ini tidak mahal, tak perlu biaya,” tutur pria berkumis tersebut.
Kegiatan itu menjadi penghibur Supandi di masa tuanya. Sebab menjadi terapi kesehatan agar tidak mudah stress. Saat merasa sumpek, dia merawat benda-benda itu dengan senang. “Ini juga bentuk pelestarian benda klasik, mengingatkan pada perjuangan nenek moyang,” pungkasnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…

Inspirasi Pengusaha Bibit Buah yang Sukses

Bekerja sesuai hobi memang terasa menyenangkan. Apalagi sampai meraih kesuksesan. Yusron mengalami hal itu, meskipun harus berkorban meninggalkan bangku kuliah pada 2011 lalu.
Hamparan bibit buah di belakang rumah Yusron Ismail berjejer rapi. Mulai dari berbagai jenis bibit durian, sawo, bahkan juga jenis buah langka dari Amerika Latin seperti Mamesapote, yaknijenis mangga ukuran besar warna cerah. Jumlahnya mencapai puluhan ribu. Bibit itu dirawat dengan baik.
Disana, tampak para perempuan memakai caping sedang bekerja. Ada yang menyiram bibitnya. Ada yang memasang bibit ke dalam bungkus pot plastik. Lalu meletakkannya dengan rapi.
Di Jalan Sumberejo Desa Umbulsari, Yusron mempekerjakansekitar 28 orang. Mereka mencari rejeki dengan mengelola bibit tanaman yang diberi nama Getas Merah Umbulsari (GMU). “GMU itu nama dari usaha pertama, bibit jambu yang membuat sukses,” kata Yusron.
Pria kelahiran Jember16 oktober 1991itu memulai bisnis bibit tanaman sejak tahun 2010 lalu. Semua beraw…