Senin, 18 November 2019

Pengalaman Rachmat Kuliah di Amerika dan Australia


Rachmat menempuh pendidikan  S2 dan S3 selama 4,6 tahum di Amerika dan Australia

Melanjutkan studi di luar negeri tak semudah yang dibayangkan. Butuh perjuangan  yang kuat agar bisa lulus. Rachmat bisa melaluinya meskipun pernah melalui masa-masa yang sulit. 

Dua tahun menempuh S2 studi di Amerika. 4,6 tahun S3 di Australia. Rachmat Hidayat mampu melewatinya dengan suka duka. Banyak kisah yang dialaminya selama menjadi anak rantau di negeri orang. 

“di Australia pernah menjadi baby sister,” akunya. Saat itu, dia  masih semester awal di  Charles Darwin University, Australia. Lalu, ada pengumuman di Koran seorang perempuang single mencari baby sister. Dia bekerja sebagai kepala keamanan sehingga harus meninggalkan rumah malam hari.

Rachmat langsung menghubunginya dan mendaftarkan diri. Dia menawarkan diri bersama sang istrinya untuk menjadi baby sister. Diterima. Malam hari menjaga anak, pagi hingga sore kuliah. “Jadi malam hari itu seperti rumah sendiri, bisa sambil belajar sambil menjaga anak orang,” ucapnya. Itulah salah satu cerita yang pernah dilalui oleh pria asal Surabaya ini. 
 
Rachmat mengawali kuliahnya di Universitas Jember. 2004  lalu dia luus kemudian tahun 2005 mengikuti seleksi dosen.  Dia  berhasil menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). “Saya kuliah di Unej karena terinpirasi dari om yang menjadi aktivis,” ucapnya. Darisana, dia terinpirasi untuk ikut aktif di organisasi intra dan ekstra kampus. 

Saat mengajar, Rachmat merasa perlu mencari ilmu yang baru. Namun dia tidak ingin belajar di dalam negeri. Sebab ingin mencari sesuatu yang baru. Mulai dari keilmuan hingga pengalaman. “Saya mulai browsing beasiswa di internet,” ujar mantan aktivis PMII tersebut. 

Disamping itu, dia terus memperkuat kemampuan bahasanya. Apalagi, alumni SMA Hang Tuah I Surabaya ini  sudah terbiasa dengan bahasa Inggris. “Sejak kecil saya suka baca buku bahasa Inggris,” tambahnya. 

Hal itu karena harga novel yang paling murah adalah novel bahasa Inggris. Dia membelinya di toko buku bekas. “Untuk dapat uang itu, saya harus ngepel rumah mbah, baru dapat uang untuk beli buku,” jelasnya. 

Sejak kecil Alumni SMP Wahid Hasyim 1 Surabaya itu juga terbiasa mendengarkan lagu bahasa Ingrris. Dia menjadikan  musik dan film sebagai wadah untuk belajar bahasa Inggris. 

“Saat tes toefl pertama, ternyata nilainya 520,” tutur pria kelahiran 22 Maret 1981 tersebut. Usaha mencari beasiswa tidak sia-sia. Dia menemukan peluang beasiswa double degree. Yakni di University of Wyoming Amerika Utara dan Universitas Diponegoro. 

Disamping itu, Rachmat juga sudah mencari professor dari Amerika melalui email, yakni Prof Thomas Seitz. Dia berkenalan dengan salah satu professor dari  University of Wyoming. “Saya pro aktif, kenalan via email, meyakinkan dia dengan karya kalau akan kuliah di Amerika,” jelasnya. 

Sayangnya, ketika sudah diterima beasiswa itu, Rachmat gagal mendapatkan visa ditolak tanpa prasangka. “Saya langsung hubungi professor dari Amerika itu, suruh sabar dulu,” ucapnya. Padahal, berkas beasiswa sudah lengkap dan memenuhi prosedur. 

Enam bulan kemudianm, Prof Thomas mengirimkan pesan email pada Rachmad. Dia diminta kesana untuk kuliah melalui beasiswa dari dirinya. Biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung, kecuali biaya tiket perjalanan. 

Rachmat berangkat ke Amerika Utara sendiri untuk mencari ilmu. Pertama disana, dia merasa gagap dengan budaya Amerika . Apalagi cuaca yang tidak sama dengan Indonesia. Musim panas empat bulan, musim salju delapan bulan. “Makanan juga harus adaptasi,” ujarnya. 

Rachmat salut dengan etos kerja warga yang luar biasa. Semangat mahasiswa  kuliah untuk mendalami ilmu pengetahuan luar biasa. Selain itu, suasana sangat egaliter. Dosen dan mahasiswa seperti teman. Tak hanya itu, sarananya juga memadai. “Kalau ingin kuliah di luar negeri, perbanyak portofolio sejak kuliah,” ujarnya. 

Di Amerika, Rachmat tak hanya kuliah, namun juga harus bekerja untuk menambah uang saku. Dia membantu Prof Thomas untuk menuntaskan berbagai projectnya. Selain mendapat beasiswa, dia juga mendapat gaji yang tidak sedikit.

Beasiswa yang sempat gagal dari DIkti, Rachmat bisa mendapatkannya kembali setelah bertemu dengan Konsulat Jendral RI di Amerika. Setelah ditembusi, ternyata beasiswa dari Indonesia bisa cair. “Saya bilang ke professor kalau dapat beasiswa, beasiswa saya berhenti dan diminta mencari pengganti,” tambahnya. 

Lulus dari Amerika, Rachmat pulang ke Unej untuk kembali mengajar pada tahun 2009. lalu, di tahun 2012, dia kembali berangkat ke Australia untuk melanjutkan studi S3. 

Rachmad menyelesaikan kuliah doktornya selama 4,5 tahun. Perjalanannya cukup berat. Sebab juga bekerja, menjadi baby sister, bahkan pernah menjadi panitia pemilihan luar negeri Australia atau KPU. 

Dalam menyelesaikan disertasinya, dia dibimbing oleh 3 profesor. Perjalanannya tidak mudah, karena harus bertemu dengan satu professor yang tidak cocok. Yakni kerap mengkritisi dan menjelekkan Indonesia. “Saya sanggah pernyataan dia tentang Indonesia,” tegasnya.

Rachmat berupaya agar bisa mengganti professor itu dan menemukan pengganti yang tepat. Pertemuan dengan professor baru itulah yang mengajak Rachmat menjadi dosen bahasa Indonesia di Australia. “Saya ngajar disana selama 3,5 tahun,” kata Kaprodi Administrasi Publik Pascasarjana FISIP tersebut. 

Selesai menempuh studi, Rachmad kembali ke Unej untuk mengajar. Salah satu peninggalannya di Australia adalah Indonesian Australia Country Darwin (IACD). Dia mendirikan komunitas tersebut untuk mewadahi para WNI yang ada disana. “Sampai sekarang masih ada,” pungkasnya.



EmoticonEmoticon