Minggu, 17 November 2019

Mudahnya Transaksi Dalam Satu Aplikasi


Suatu hari, saya sedang bepergian ke daerah pelosok, yakni Desa Umbulrejo Kecamatan Umbulsari. Jaraknya cukup jauh dari kota Jember, sekitar 45 kilometer dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Di pasar kecamatan, saya berhenti untuk membeli minuman.

“Bisa bayar pakai OVO mbak?” tanyaku pada kasir Indomart

“Wah, ga bisa mas, bisanya hanya pakai link aja,” jawabnya.

“Wah ga bisa ya. Kalau pakai kartu Brizzi bisa ya?”

“Iya bisa,” jawabnya, lalu aku menyodorkan kartu tersebut pada mbak kasir.

“kenapa tidak bisa pakai OVO mbak,” tanyaku kembali.

“karena belum kerjasama  dengan OVO mas,” ucapnya.

Saat saya hendak membayar pakai OVO, ternyata tidak bisa, akhirnya pakai BRIZZI

Percakapan tersebut berakhir setelah transaksi selesai. Saya kembali melanjutkan perjalanan. Untung saja, saya membawa kartu Brizzi.  Sebab  tidak membawa uang cash di dalam dompet. Bahkan, saya tak sempat menemukan ATM dalam perjalanan, sepertinya juga cukup jauh. Untung saja, cadangan kartu Brizzi menjadi penolong saat itu.

Ternyata, tak hanya Indomart yang tidak bisa membayar menggunakan OVO. Minimarket yang selalu ada di sebelahnya, yakni Alfamart. Saya mencoba belanja dan mencoba menawarkan membayar dengan OVO. 
 
“Wah tidak bisa bayar pakai OVO mas, bisanya pakai Gopay,” jelas kasir alfamart di kawasan kampus Universitas Jember. lalu, saya kembali menyerahkan kartu Brizzi untuk transaksi pembayaran. 


Saya semakin penasaran, apa saja yang bisa membayar  menggunakan  OVO. Lalu, saya mencoba belanja pada aplikasi e-commerce yang ada di gawai. Mulai di Tokopedia, Bukalapak,  hingga Lazada. 

Ternyata sama saja,  hanya aplikasi Tokopedia yang bisa menerima pembayaran dengan OVO. Semantara platform e-commerce lainnya tidak bisa. Lazada bisa melakukan pembayaran menggunakan  Dana dan Link aja.  

Sementara Bukalapak juga hanya bisa menggunakan Link aja. Selebihnya pembayaran melalui transfer ke virtual account, transfer ke rekening bank, internet banking, bayar di sejumlah gerai, pakai kartu kredit dan cicilan melalui Kredivo dan Akulaku.

Di sejumlah e-commerce pun sama, hanya melayani pembayaran dengan uang digital tertentu
Pembayaran yang tidak simpel.  Bayangkan, bila saya harus memiliki berbagai akun pembayaran mulai dari OVO, Link AJa, Dana atau lainnya. Betapa ribet dan gawai yang penuh aplikasi. Sementara, saya hanya membutuhkan satu aplikasi untuk membayar.

Begitu juga dengan pihak merchant, bila harus melengkapi berbagai aplikasi dompet digital. Mulai dari OVO, Link Aja, Dana dan lainnya. Bukan semakin membuat simple dan praktis, justru sebaliknya.

Bisa jadi, cerita yang saya sampaikan diatas juga dialami oleh orang lain. Terutama generasi milenial yang sudah tidak asing dengan dompet digital. Apalagi, pembayaran dengan uang digital sudah  sudah menjadi gaya hidup milenial. Bahkan terus meningkat setiap tahunnya.

Untuk perkembangan uang digital ini, saya berkesempatan mewawancari ketua tim pengembangan ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember, Lukman Hakim. Hasilnya cukup mengejutkan, Jember merupakan kabupaten dengan transaksi uang digital terbesar ke dua di Jawa timur setelah Surabaya.

Di Jember sendiri, ada 258 ribu orang bertransaksi menggunakan uang digital pada triwulan pertama 2019. atau Sepuluh persen pengguna dari jumlah penduduk Jember sekitar 2,5 juta jiwa. Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding surabaya yang mencapai 292 ribu orang.

Mayoritas yang bertransaksi menggunakan uang digital itu adalah generasi milenial. Banyak dari mereka dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Meningkatnya pembayaran uang digital karena didukung sarana yang memadai.

Seperti adanya perguruan tinggi, tempat perbelanjaan, tempat usaha yang memakai uang elektronik dalam bertransaksi. Selain itu, juga semakin beragamnya penyelenggara uang elektronik.

Bank Indonesia sendiri sudah mengeluarkan izin pada beberapa penyelenggara dan pendukung jasa sistem pembayaran. Hingga 24 oktober 2019, terdapat 39 penyelenggara uang elektronik. Mulai dari sakuku, link aja, Ovo, Gopay dan lainnya. Masing-masing penyelenggara tersebut memiliki merchant yang berbeda-beda.

Bayangkan, ada 39 penyelenggara uang elektronik yang memiliki aplikasi masing-masing. Bila harus punya masing-masing aplikasi, apa jadinya? Lalu bagaimana solusinya?

Qris, Satu QR Code untuk Semua Pembayaran

Tenang saja, saya punya  informasi terbaru untuk mengatasi permasalahan yang saya alami di atas. Kecanggihan teknologi terus berkembang dan semakin memudahkan masyarakat. Transaksi keuangan digital terus meningkat. Masyarakat tak perlu lagi membayar pakai uang tunai. Namun sudah tersedia berbagai aplikasi yang memudahkan.

17 Agustus 2019 lalu, saya mendapat pesan whatsap dari Agapito, salah satu karyawan KPwBI Wilayah Jember. Saya diundang untuk menghadiri kegiatan peluncuran QRIS.

“Apa QRIS itu mas? Tanyaku via whatsap.

“Nah, maka dari itu datang langsung ya mas ke Bank Indonesia, akan diterangkan secara lengkap,” jawab Pito. Sayapun berangkat ke kantor BI Jember yang berada di Jalan Gajahmada Kecamatan kaliwates ini.



Rupanya, inilah jawaban atas permasalahan pembayaran uang digital yang saya alami. Bank Indonesia bakal menerapkan kanal pembayaran baru. Namanya Qris. Tapi bukan keris yang diakui Unesco sebagai warisan dunia ya.

Qris ini singkatan dari QR Code Indonesian Standard (QRIS).  Kanal ini bakal  menjadi salah satu alternatif pembayaran uang digital yang terintegrasi. Rencananya, akan diterapkan pada awal Januari 2020 mendatang. Jadi ga sabar menunggunya.  

Mungkin saja, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan ini karena persoalan yang saya alami diatas. Akhirnya berinovasi  mendorong efisiensi transaksi dan mempercepat inklusi keuangan.  QR code dikembangkan bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI).

Sistem  pembayaran ini bakal memudahkan masyarakat, terutama saya. Bila selama ini  memindai QR code  oleh masing-masing Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) dengan beda-beda pelaksana. Seperti Ovo, Go Pay, link aja dan lainnya.  Maka QR code distandarkan sehingga tidak perlu menggunakan banyak PJSP, namun cukup satu.

Artinya, meskipun saya hanya punya aplikasi OVO, namun bisa digunakan untuk membayar dimana saja. Tak perlu bingung, lagi karena sudah satu pintu.   Kanal  pembayaran ini lebih efisien karena dengan melakukan transaksi non tunai, masyarakat bisa melakukan pembayaran di masing-masing penyedia barang dan jasa atau merchant  hanya dengan memindai satu QR code.



Begitulah teknologi, semua masalah bisa diatasi dengan  mudah.  Standar nasional QR Code diperlukan untuk mengantisipasi inovasi teknologi, dan perkembangan kanal pembayaran yang berpotensi menimbulkan fragmentasi baru di industri sistem pembayaran. Selain itu, juga untuk memperluas akseptasi pembayaran nontunai nasional  lebih efisien.

Lalu, bagaimana sistem kerjanya? Metode penggunaan QR Code ada dua langkah, yakni statis dan dinamis.  Maksudnya, jika statis, QR code discan, dan pihak merchant menginput jumlah nominal biaya yang dikeluarkan, untuk setiap transaksi pembayaran.  Dinamis, QR code ditampilkan melalui struk yang dicetak mesin EDC atau layar monitor, di mana QR code yang dipindai berbeda untuk setiap transaksi pembayaran, dan juga mengandung nominal pembayaran yang akan dibayar.

Hebatnya, lagi, QRIS menggunakan standar internasional dari lembaga yang menyusun standart internasional QR Code untuk sistem pembayaran (EMV Co.), yang sudah diadopsi untuk mendukung interkoneksi yang lebih baik, atau bersifat open source. Untuk menjadi penyelenggara QR code Payment, merchant wajib memperoleh persetujuan dari BI.

#Transaksi lancar pakai QR Standar!
 #Usaha la car pakai QR Standar!
#QR Standar pembayaran digital ala milenial


Refrensi:


EmoticonEmoticon