Langsung ke konten utama

Menikmati Jalan Panjang ke Polandia



Saya harus mengenakan jaket tebal, penutup kepala dan sapu tangan saat berada di Eropa yang sedang musim dingin.

Lelah yang dinikmati. Begitulah kira-kira perjalanan menuju, Kataowice, Polandia, Eropa Tengah.  Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta saja membutuhkan waktu sekitar 12 jam untuk ke Bandara Istanbul Turki. Untung saja, fasilitas Turkis Airlines  nomor penerbangan TK0057 memadai. Pesawat  Boeing 777-300ER itu dilengkapi layar hiburan.
 
Bila jenuh, bisa menikmati perjalanan dengan menonton berbagai film atau mendengarkan musik. Atau juga bermain game, mendengarkan Alquran hingga menonton berbagai video destinasi wisata dunia. Saya pun menikmatinya bersama film The Revenant dan berbagai film lainnya. Kalau kedingingan, ada selimut. Bahkan juga diberi bantal, kaos kaki, sandal hingga sikat gigi.

Tiba di Bandara Istanbul Turki, jam masih menunjukkan pukul 05.30 waktu Eropa Timur, 8 Desember 2018. Sementara, perjalanan harus segera dilanjutkan ke Praha, Republik Ceko. Perjalanan untuk sampai ke negara ini membutuhkan waktu sekitar  dua jam menggunakan pesawat Turkish Airlines TK1767.

Akhirnya, saya sampai di Praha, Ibu Kota Ceko, Negara yang dipimpin oleh Miloš Zeman. Cuaca di kota ini mencapai 5 derajat celcius, cukup dingin sehingga harus menggunakan jaket tebal, penutup kepala dan sapu tangan. Sebab, sekarang sedang musim dingin.

Saya tak sendiri datang ke negara ini. Namun bersama beberapa perwakilan dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) RI. Tujuannya untuk mengikuti konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau dikenal Conference of Parties (COP)  24 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Ada 197 perwakilan negara yang hadir dalam kegiatan ini.

Kementerian PPN sendiri akan menyampaikan materi Investing in Low Carbon Develompment: Sustainable Cities and Green Energy. Yakni mengomunikasikan konsep low carbon develompment pada bidang energi terbarukan, perkotaan, kelautan dan perikanan.

Saya harus melewati beberapa kota di Ceko untuk sampai di Polandia. Sepanjang perjalanan, saya menemukan keunikan rumah warga dengan aristektur Eropa. Kemudian hamparan luas yang sepertinya untuk tanaman. Perjalanan dari Praha menuju Polandia membutuhkan waktu sekitar 7 jam. 

Tepat pukul 19.00 waktu Krakow, Polandia dengan suhu 1 derajat celcius. Saya sudah tiba di Radisson Blue Hotel di Krakow. Di hotel ini saya menginap. Ada beberapa tempat bersejarah yang dekat dengan hotel ini. Saya diberi peta lengkap.

“Posisi saya di mana dalam peta ini, apa bisa berjalan kaki untuk ke tempat ini?,” saya bertanya pada resepsionis hotel.

“Kita berada disini, kamu cukup jalan kaki sekitar lima menit,” resepsionis hotel.

Tempat bersejarah itu adalah Franciscan Church, Bishop’s Pallace, Collegium Maius dan 22 tempat bersejarah lainnya dalam jarak yang dekat. Franciscan Church merupakan Gereja St. Fransiskus Asisi dengan Biara Ordo Fransiskan. Ia adalah kompleks agama Katolik Roma di sisi barat All Saints Square di Franciszkańska 2, di seberang jalan dari Istana Uskup - kediaman Paus Yohanes Paulus II.

Kemudian, Bishop’s Pallace sendiri adalah istana uskup serta kediaman tradisional para uskup Krakow sejak akhir abad ke- 14. Tempat ini adalah istana terbesar kedua di kota setelah Wawel - bekas kursi raja Polandia. Sedangkan Collegium Maius adalah bangunan tertua di Universitas Jagiellonian yang berasal dari abad ke-14.

Perbedaan waktu antara Indonesia dengan Polandia tujuh jam. Bila di Polandia masih pukul 4.20, maka di Indonesia sudah pukul 11.20. Selain itu, waktu malam hari di Polandia  lebih lama. Pukul 04.00 sore, hari sudah mulai gelap.

Saya melihat waktu untuk salat di negeri ini, salat subuh dimulai pukul 05.27 dan matahari terbit pukul 07.30. Lalu, salat duhur dimulai pukul 11.28  dan salat Ashar pukul pukul 13. 07. Waktu antar salat duhur ke ashar hanya 39 menit. Sedangkan ashar ke magrib cukup lama, waktu salat magrib pukul 15.27. Lalu isya pukul 17.22  waktu Eropa Tengah.

Perbedaan waktu dan cuaca menjadi keasyikan sendiri berkunjung ke Polandia. Sebelum mulai mengikuti kegiatan COP 24 Senin besok, saya akan menelusuri beberapa tempat bersejarah ini. Cukup jalan kaki, bila hendak menggunakan transportasi, yang tersedia hanya uber.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…