Langsung ke konten utama

Mengenal Perintis Fakultas Kedokteran Gigi Unej


Prof Dr drg Herniyati MKes merupakan sosok perempuan tangguh, semangat, dan berkarakter.


Perempuan tangguh ini merupakan salah satu perintis Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) bersama tim tujuh lainnya. Umurnya sudah 60 tahun, namun wajah dan semangatnya masih mudah. Cita-citanya untuk menjadi profesor sudah tertanam sejak masih muda. 

drg Herni, sapaan akrabnya, memiliki cara tersendiri dalam menggapai impiannya. Mulai dari salat malam hingga puasa Senin-Kamis. Semua itu dilakukan untuk memadukan antara usaha dan doa. “Setiap pagi, saya juga olahraga jalan kaki bersama suami,” tuturnya. 

Hari ini, perempuan kelahiran Magelang, 06 September 1959, itu dikukuhkan sebagai guru besar di bidang ortodonsia. Tak mudah untuk menggapainya. Sebab, ia harus melalui masa yang cukup panjang. “S-1 sampai S-3 saya di Universitas Airlanggga,” ucapnya. Lulus S-1 dari sana, Herni kembali ke Jember dan bekerja di Fakultas Pertanian Universitas Jember. Saat itu belum ada FKG di Unej.

Saat kecil, Herni dikenal sebagai sosok yang pandai. Sebab, ketika teman-temannya kebingungan mengerjakan tugas, dia yang selalu diminta untuk menerangkan. Tak heran, cita-cita waktu kecil adalah menjadi guru. 

Selain itu, dia juga menekuni ilmu pengetahuan alam dan memiliki minat di bidang biologi. Kemampuan itulah yang mendorongnya untuk belajar tentang ilmu kedokteran. “Awalnya ingin di kedokteran umum, namun orang tua meminta di kedokteran gigi,” terangnya. 

Karirnya sebagai akademisi diawali pada tahun 1985 silam sebagai calon PNS. Lalu tahun 1988, asisten ahli madya, tahun 1990 asisten ahli. Tahun 1992 lektor muda, tahun 1995 lektor madya, 1998 lektor, hingga tahun 2001 lektor kepala, dan sekarang sebagai profesor. 

Jabatan yang pernah diembannya adalah Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (STKG) Jember tahun 1989-1992. Lalu, berganti menjadi Wakil Ketua II STKG tahun 1992-1996. “Waktu itu masih swasta, belum gabung Unej,” tuturnya. 

Baru sekitar pada tahun 1991, SK FKG turun dari Kemerinstekdikti. Kemudian, tahun 1996 hingga 1999 dia menjadi Sekretaris II Prodi Kedokteran Gigi Unej. Tahun 1999-2003 ditunjuk menjadi PD II FKG Unej. Tahun 2004-2007 sebagai sekretaris bagian ortodonsia FKG Unej. Puncaknya, tahun 2007 hingga 2015, Herni dipilih menjadi Dekan FKG Unej selama dua periode. 

Di tengah banyaknya amanah yang diembannya, Herni tetap melanjutkan studi S-2 hingga berhasil lulus S-3. “Tahun 2016 lalu, saya baru mengurus guru besar,” tutur perempuan yang suka minum kopi ini.

Untuk pengukuhan profesor ini, Herni meneliti tentang potensi kopi pada proses remodeling jaringan periodontal gigi untuk mempercepat perawatan ortodonti. Menurut dia, kopi dapat dijadikan alternatif untuk mempercepat perawatan ortodonti. “Bila perawatannya bisa dua hingga tiga tahun, namun kopi bisa membuatnya lebih cepat,” tuturnya. 

Namun, kata dia, percobaan yang dilakukannya masih pada hewan. Belum uji coba pada manusia. Untuk itu, perlu penelitian lanjutan. “Gigi yang tidak teratur dan diberi behel gigi, kopi bisa meningkatkan pergerakan gigi,” tambah perempuan yang pernah meraih penghargaan Satya Lencana Karya Satya dari Presiden RI ini.

Pengukuhannya sebagai guru besar merupakan puncak dari cita-citanya dalam meraih mimpi. Berbagai tantangan sudah dilaluinya. Semua itu bisa dilewati karena memiliki prinsip tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. “Sekarang saya tinggal meningkatkan ibadah untuk kepentingan akhirat,” pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…