Langsung ke konten utama

Lebih Dekat dengan Hadi Prayitno, Dekan Fisip Unej


Prof Dr Drs Hadi Prayitno MKes merupakan sosok yang menyukai ilmu sosial dan ilmu kesehatan.

Penampilannya sederhana, karakternya sopan, menghormati yang lebih muda. Dia lahir di Sumenep pada 8 Juni 1961 lalu. Kini, dia menjabat sebagai dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember.

Hari ini, dia resmi memiliki nama Prof Dr Drs Hadi Prayitno MKes. Dikukuhkan menjadi guru besar bidang ilmu kesehatan masyarakat. “Saya lahir di Sumenep, besar di Bangkalan,” katanya. 

Masa kecilnya tak jauh berbeda dengan anak-anak pada masa itu. Bermain ke pantai, petak umpet, dan beberapa permainan tradisional lainnya. Cita-citanya ingin menjadi dokter. Lulus dari SMAN 1 Bangkalan, dia sempat mendaftar di fakultas kedokteran, namun tidak berhasil.  

Akhirnya, dia melabuhkan harapannya ke FISIP Universitas Jember pada 1981 silam. Dia memilih Prodi Kesejahteraan Sosial (KS). “Di dalamnya ada mata kuliah Kesehatan Masyarakat dan Pekerja Sosial Medis,” tuturnya. 

Hadi Prayitno merupakan sosok yang suka dengan ilmu kesehatan. Tak heran, dia melanjutkan studi di Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Kuliah itu ditempuh untuk meningkatkan keilmuannya tentang kesehatan. 

Dia menjadi lulusan terbaik ketiga di kampus tersebut. Tak ingin berhenti hanya pada tingkat S-2, dia melanjutkan studi hingga S-3 di kampus dan jurusan yang sama. Yakni tentang kesehatan masyarakat.

Baginya, ilmu sosial dan ilmu kedokteran tidak bisa dipisahkan. Selama ini, banyak yang menilai orang sakit dari fisik saja. Padahal, banyak aspek nonfisik yang membuat mereka sakit. Mulai dari aspek sosial, hokum, ekonomi, psikologi, dan lainnya. “Stres menyumbang 70 persen orang menjadi sakit,” tuturnya. 

Dalam pengukuhan guru besar ini, Hadi meneliti tentang ODHA (orang dengan HIV/Aids). Menurut dia, tekanan terhadap para penderita HIV/Aids tak hanya karena penyakit yang diderita. Namun juga stigma dan diskriminasi yang muncul dari luar dirinya. “Bisa menyebabkan stres hingga bunuh diri,” tuturnya. 

Penyakit yang diderita tersebut lebih berat bila dialami oleh para pekerja yang bukan dari kalangan LGBT. Sebab, tingkat penolakan lebih besar. “Berbeda ketika yang menderita adalah PSK, mereka lebih menerima,” tambahnya.

Untuk itu, penanganan terhadap ODHA tak cukup dengan pengobatan fisik. Pengobatan secara mental dan pelayanan yang baik juga penting. Salah satu cara yang bisa mengatasi hal tersebut adalah melalui medical social worker atau pekerja sosial medis yang harus disediakan oleh rumah sakit. 

Hal itu sudah diatur oleh SK Kemenkes RI. Rumah sakit tipe A harus menyediakan 12  pekerja sosial medis, rumah sakit tipe B enam orang. “Mereka bisa memberikan rekomendasi pada dokter tentang penanganannya, menyambungkan dengan sistem sumber” tutur Hadi. 

Sayangnya, tak banyak yang melakukan hal itu. Perlu komitmen bersama untuk mengatasi persoalan kesehatan di masyarakat. Salah satunya berkolaborasi dengan ilmu sosial. “Ke depan, penyakit semakin kompleks,” pungkasnya.

Komentar

  1. keep respect & sehat selalu mantan dosen wali saya Pak Hadi,
    "alumni KS UNEJ 03"

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rapat Membahas Virus Corona 19 Tertutup, Ternyata Dua Warga Jember Pasien dalam Pengawasan

Dua warga Jember dengan status pasien dalam pengawasan virus corona 19.  16 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP), 242 berstatus Orang Dengan resiko (ODR)
MASJIWO.COM – Selasa (17/3/2020) sekitar pukul 11.00 WIB, saya tiba di ruang komisi C DPRD Jember. Saya kaget, ternyata rapat dengar pendapat antara Komisi C, Dinas Kesehatan dan para pengelola rumah sakit dilakukan tertutup.

Awalnya, pelaksaan rapat itu terbuka, namun karena ada permintaan off the record, ruangrapat ditutup. Ada apa?
Saya bertanya, pembahasan apa yang tidak tersampaikan tersebut. Setelah selesai rapat, saya mendatangi kepala dinas kesehatan Jember Dyah Kusworini. Saya dan teman-teman jurnalis melakukan wawancara tentang hasil rapat tersebut
Ternyata..
Jumlah warga dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona 19 di RSD dr Soebandi Jember mencapai tiga orang. Satu orang sudah dilakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel tes uji virus corona, hasilnya negatif. Sedangkan dua orang lainnya masih dilakuk…

Isu Tenggelam Karena Covid-19, 300 Warga Jember Menderita DBD, Dua Meninggal Dunia

300 warga Jember menderita penyakit DBD. Dua diantaranya meninggal dunia karena terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. 
MASJIWO.com –  Virus corona 19 memang memenuhi pemberitaan di berbagai Negara, tak terkecuali Indonesia. Membaca berita daring dipenuhi dengan kata-kata corona 19, menonton televisi berita tentang corona, membaca pesan di whatsapp pun corona.
Lalu, bagaimana dengan penyakit lain yang mengancam nyawa manusia. Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak kemarin, saya bertanya, berapa jumlah penderita penyakit ini. Saya kirim pesan pada Kepala DInas Kesehatan Jember Dyah Kusworini, namun tak dibalas.

Lalu, pada Selasa (17/3/2020), saya berhasil mewawancarainya di DPRD Jember.
Faktanya..
300 warga Jember menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, dua diantaranya sudah meninggal dunia. Jumlah penderita DBD itutercatat sejak Januari 2020sampai sekarang. “Jumlah itu masih dibawah grafik maksimal yang pernah ada, separuhnya,” kata Kepala Dinas Kesehata…

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…