Jumat, 15 November 2019

Lebih Dekat dengan Hadi Prayitno, Dekan Fisip Unej


Prof Dr Drs Hadi Prayitno MKes merupakan sosok yang menyukai ilmu sosial dan ilmu kesehatan.

Penampilannya sederhana, karakternya sopan, menghormati yang lebih muda. Dia lahir di Sumenep pada 8 Juni 1961 lalu. Kini, dia menjabat sebagai dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Jember.

Hari ini, dia resmi memiliki nama Prof Dr Drs Hadi Prayitno MKes. Dikukuhkan menjadi guru besar bidang ilmu kesehatan masyarakat. “Saya lahir di Sumenep, besar di Bangkalan,” katanya. 

Masa kecilnya tak jauh berbeda dengan anak-anak pada masa itu. Bermain ke pantai, petak umpet, dan beberapa permainan tradisional lainnya. Cita-citanya ingin menjadi dokter. Lulus dari SMAN 1 Bangkalan, dia sempat mendaftar di fakultas kedokteran, namun tidak berhasil.  

Akhirnya, dia melabuhkan harapannya ke FISIP Universitas Jember pada 1981 silam. Dia memilih Prodi Kesejahteraan Sosial (KS). “Di dalamnya ada mata kuliah Kesehatan Masyarakat dan Pekerja Sosial Medis,” tuturnya. 

Hadi Prayitno merupakan sosok yang suka dengan ilmu kesehatan. Tak heran, dia melanjutkan studi di Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Kuliah itu ditempuh untuk meningkatkan keilmuannya tentang kesehatan. 

Dia menjadi lulusan terbaik ketiga di kampus tersebut. Tak ingin berhenti hanya pada tingkat S-2, dia melanjutkan studi hingga S-3 di kampus dan jurusan yang sama. Yakni tentang kesehatan masyarakat.

Baginya, ilmu sosial dan ilmu kedokteran tidak bisa dipisahkan. Selama ini, banyak yang menilai orang sakit dari fisik saja. Padahal, banyak aspek nonfisik yang membuat mereka sakit. Mulai dari aspek sosial, hokum, ekonomi, psikologi, dan lainnya. “Stres menyumbang 70 persen orang menjadi sakit,” tuturnya. 

Dalam pengukuhan guru besar ini, Hadi meneliti tentang ODHA (orang dengan HIV/Aids). Menurut dia, tekanan terhadap para penderita HIV/Aids tak hanya karena penyakit yang diderita. Namun juga stigma dan diskriminasi yang muncul dari luar dirinya. “Bisa menyebabkan stres hingga bunuh diri,” tuturnya. 

Penyakit yang diderita tersebut lebih berat bila dialami oleh para pekerja yang bukan dari kalangan LGBT. Sebab, tingkat penolakan lebih besar. “Berbeda ketika yang menderita adalah PSK, mereka lebih menerima,” tambahnya.

Untuk itu, penanganan terhadap ODHA tak cukup dengan pengobatan fisik. Pengobatan secara mental dan pelayanan yang baik juga penting. Salah satu cara yang bisa mengatasi hal tersebut adalah melalui medical social worker atau pekerja sosial medis yang harus disediakan oleh rumah sakit. 

Hal itu sudah diatur oleh SK Kemenkes RI. Rumah sakit tipe A harus menyediakan 12  pekerja sosial medis, rumah sakit tipe B enam orang. “Mereka bisa memberikan rekomendasi pada dokter tentang penanganannya, menyambungkan dengan sistem sumber” tutur Hadi. 

Sayangnya, tak banyak yang melakukan hal itu. Perlu komitmen bersama untuk mengatasi persoalan kesehatan di masyarakat. Salah satunya berkolaborasi dengan ilmu sosial. “Ke depan, penyakit semakin kompleks,” pungkasnya.

1 Comments

keep respect & sehat selalu mantan dosen wali saya Pak Hadi,
"alumni KS UNEJ 03"


EmoticonEmoticon