Selasa, 19 November 2019

Koptu Hartono, Tentara Nyentrik Berjiwa Seniman






Seni sudah mendarah daging dalam tubuh Hartono. Setiap tampil di pentas, anggota Koramil Kaliwates ini selalu tampil total. Bahkan semua yang berbau kesenian dilakukannya, mulai dari seni tari, lukis serta mengkoleksi benda-benda antik. 

Koptu Hartono tinggal di perumahan Graha Citra Blok B 12 Kaliwates Jember. Rumahnya mengekspresikan karakter seniman nyentrik tersebut. Dinding depan rumah dihias dengan interior menarik. Bahkan, diatas rumahnya terdapat hiasan dokar. Dari depan rumahnya, seperti adat rumah Bali.
 
Masuk ke dalam rumah, berbagai benda antik dikumpulkan di ruang depan. Seperti sepeda onthel, mesin ketik, samurai, uang kuno, dan lainnya. Orang yang datang pun merasa nyaman, dengan sajian benda-benda klasik.

Koptu Hartono memang termasuk orang nyentrik. Dia adalah seorang Babinsa di Kelurahan Kepatihan, Koramil Kaliwates , Kesatuan Kodim 0824 Jember. Sepintas, tak ada yang tahu jika terdapat bakat seni dalam dirinya. Namun, saat menelusuri hidupnya, dialah tentara yang berjiwa seniman.

Dalam setiap pementasan drama, Koptu Hartono selalu berperan sebagai Jenderal Sudirman. Kecintaannya pada pahlawan tersebut tak tertandingi oleh apapun. Ada energi yang kuat saat dirinya memerangkan sosok sang jenderal. “Memakai baju seperti Jenderal Sudirman, saya sangat menjaga tingkah laku, merokokpun tidak berani,” ucapnya.

Ditemui di rumahnya, pria kelahiran 17 Agustus 1976 itu mengaku sudah menekuni dunia seni sejak masih di bangku SD. Dia sering diajak tampil dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Jawa Timur. Bahkan, tak jarang meraih prestasi dalam event tersebut.



Bakatnya membuat patung dan melukis terus diasah. Saat melanjutkan sekolah di SMP, dia aktif di sanggar teater dan berlatih disana. Kemudian, juga memilki rutinitas melukis dan menari. “Semua yang berbau kesenian saya lakukan waktu itu,” akunya.

Bakat kepemimpinannya diasah di OSIS dan Pramuka. Sejak kecil, ayah dua anak itu bercita-cita menjadi tentara. “Ketika SMA, saya buat kerajinan patung, dekorasi taman rumah, main drama, “ paparnya.

Hartono pernah meraih juara satu seni patung tingkat Jawa Timur pada tahun 1988. Saat di SMAN Mumbulsari, dia terus meraih juara dalam Porseni Jawa Timur. “Setiap waktu luang, bermain drama, belajar melukis atau menari,” tuturnya.

Lulus dari sana, Hartono ikut lomba Pesta Anak Prestasi yang diselenggarakan Dharma Pertiwi Kodam V Brawijaya. Dia satu-satunya warga Jember terpilih sebagai pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa.

Karirnya di militer di mulai sejak tahun 1997 silam. Meskipun waktu terbatas, Hartono tetap tak bisa lepas dari seni. Jiwanya adalah seni, dan cita-citanya menjadi tentara. “Seni itu bebas, tentara terikat,” ujarnya.

Selama 20 tahun menjadi tentara, Hartono sering berpindah tempat, terakhir di Kediri sebelum sekarang di Jember. Di Kediri, dia bergabung dengan berbagai komunitas kesenian. Bahkan, dia melebur dengan siapa saja. 



Seni lukis, seni ukir, relief taman, drama kolosal, musik, tari ontel benda antik semua menjadi kegiatan rutinnya selain bekerja sebagai tentara. Setiap peringatan Hari Ulang Tahun  (HUT) kemerdekaan RI atau HUT TNI. Dia tampil sebagai sutradara pementasannya.

Ketika tugas ke Aceh, Hartono menjadi sutradara drama kolosal Aceh untuk memperingati HUT TNI. Saat itu, dia menyamar sebagai warga sipil yang berprofesi sebagai pengemis jalanan. Tak ada orang yang tahu, bahkan komandannya sendiri kalau dia adalah Koptu Hartono.

Sebelum sebagai pemeran Jenderal Sudirman, Koptu Hartono sempat datang ke tempat persinggahan Jenderal di Goliman Kendiri, dia bertemu dengan juru kunci dan mendengarkan cerita tentang sosok sang Jenderal. “Di rumah peristirahatan tersebut, saya cari data tentang Jenderal yang sabar dan karismatik, saya ijin masuk ke kamarnya,” jelasnya.

Dia merasakan aroma perjuangan Jenderal Sudirman, setiap tampil sebagai Jenderal yang menjadi cikal bakalnya TNI tersebut, Hartono tampil total. Dia melakukan napak tilas waktu gerilya dari Kediri ke Jogja. Pasukan Jenderal melewati jalan terjal selama tujuh bulan.



Di rumahnya, dia memiliki tiga kardus busana drama. Termasuk baju Jenderal Sudirman yang dipajang. Dia tidak berani menyalahgunakan baju Jenderal Sudirman meskipun bukan aslinya. 

Sejak tahun 2003, Koptu Hartono mengumpulkan benda antik sampai sekarang. Bahkan, di tengah kesibukannya, dia juga melukis dan menari. Berkesenian sudah menyatu dalam diri, pensiun pun tetap nyeni,” ujarnya.

Bakat seni yang dilkaukan secara otodidak itu membuat Hartono menjadi sosok yang supel. Belajar dari siapapun, dalam melukis, dia sempat dididik oleh Pak Ketut. Sekarang juga bergabung dengan Komunitas Perupa Jember (KPJ).

Semua yang dilakukannya untuk terus melestarikan sejarah, merawat budaya dan menjaga keutuhan NKRI. Dia mengaku tamak dalam dunia seni. “Prinsip saya masuk ke semua kalangan,” pungkasnya.  



EmoticonEmoticon