Langsung ke konten utama

Kisah Pemilik Macarina, Modal Rp 3 Juta, Omset Rp 300 Juta



Helmi Zamrudiansyah di rumah produksi macarina yang dibangunnya tahun 2017 lalu.

Helmi Zamrudiansyah rela rela kelaparan hanya untuk membeli macaroni ketika merantau ke Jakarta. Namun, siapa sangka, hal itu membuat dirinya sukses muda ketika kembali ke Jember.

 Rumah Helmi di Jalan Sriwijaya XX  nomor 19 dipenuhi dengan makanan ringan macaroni. Di sebelah barat, ada yang sedang menggoreng, di sebelah timur, ada yang sedang menghitung dan memasukkan packing ke dalam kardus.

Bahkan di ruang tamunya juga penuh dengan makanan yang disukai oleh para anak muda itu. Setiap hari, selalu ada aktivitas produksi macaroni. Rupanya, bisnis makanan ringan  naik daun dan terus berkembang.

Padahal, bisnis kuliner  itu baru berumur 1,5 tahun. Yakni dimulai sejak Maret 2017 lalu. Hanya saja untuk mencapai sukses  seperti sekarang, Helmi  harus jatuh bangun selama delapan tahun dalam membangun usahanya.

Dari kegagalan itulah, pria kelahiran Jember 20 April 1989  ini mulai introspeksi diri. Apa yang membuat dirinya selalu gagal. “Saya pernah jual minuman coklat, ada 21 outlet,” akunya. Mulai dari Malang dan Jember. Saat itu dirinya merasa bangga karena sudah berhasil. 

Ternyata, kebanggaan itu  membunuh dirinya sendiri. Saat merasa sudah berhasil, justru usahanya semakin menurun. Pelanggan semakin berkurang, cuaca hujan dan tiap hari terus menurun. “Sampai saya promo besar-besaran, tapi akhirnya tetap gagal,” terangnya. 

Tak hanya itu, dia juga pernah bisnis di bidang fotografi hingga memiliki hutang Rp 30 juta. Kemudian, juga pernah mencoba usaha  Dawet Jepara 88, pernah bekerja pada orang lain. 

Kegagalan itu tak membuat suami dari Fauziah Inayani itu putus asa. Dia  merantau ke Jakarta untuk mengembangkan usaha minuman coklatnya. Yakni dengan mengikuti bisnis plan yang diselenggarakan Junior Chamber International Jakarta. “Ternyata, konsep yang bagus itu tidak  sesuai dengan yang terjadi di lapangan,” terangnya. 

Akhirnya, untuk bertahan hidup, Helmi  harus bekerja lain. Dia pun mencoba menjadi driver uber, menjadi driver ojek online dan lainnya. Bahkan kendaraan yang digunakan milik temannya sendiri. 

Hingga suatu hari, alumni SMPN 6 Jember itu mengantarkan penumpang ke salah satu toko untuk membeli macaroni. Insting bisnisnya langsung muncul. Ketika melihat penumpang membeli makanan ringan itu, dia ingin membeli namun masih belum ada uang. 

Malam harinya, dia mendapatkan uang Rp 20 ribu dari hasil kerja sehari. Uang itu seharusnya untuk membeli nasi. Namun karena penasaran dengan macaroni, dia kembali ke toko yang menjual macaroni. “Akhirnya saya rela kelaparan hanya untuk membeli macaroni,” tuturnya.

Saat berada pada titik paling rendah itulah, pertolongan datang. Helmi  terinspirasi untuk berbisnis macaroni yang memiliki banyak pelanggan. Inspirasi itulah yang membuat dirinya terpanggil untuk kembali pulang ke Jember. 

Di tanah kelahirannya, ide untuk memulai bisnis macaroni tidak mudah. Sebab, sang istri dan keluarga terdekatnya ragu dan khawatir gagal kembali. Dia sempat kebingungan harus memulai dari mana. 

Padahal, ide untuk berbisnis macaroni itu sudah menggebu-gebu. Harus segera terealisasi. Tidak boleh tertunda karena peluang yang cukup besar. “Akhirnya saya bertemu dengan empat orang yang punya visi sama,” tuturnya. 

Mereka ada yang masih berstatus mahasiswa yang  belajar namun memiliki semangat tinggi. yakni Muhayati Rofiah dan Ilham Juni serta istrinya sendiri. Bahkan sekarang sudah ada yang investasi, yakni  Ahmad Haerul Anam. 

Akhirnya mereka berkolaborasi lalu membeli bahan baku kiloan digoreng sendiri. Percobaan demi percobaan dilakukan hingga sekarang  menemukan karakter rasa tersendiri. “Nama macarina ini singkatan dari macaroninya Ina, istri saya,” ujar pria berumur 29 tahun itu. 

Helmi  pandai memberikan bumbu spesial pada  macaroni yang digorengnya. Ada berbagai level rasa pedas. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 20 ribu. “Modalnya dulu hanya Rp 3 juta empat orang, sekarang satu bulan omset bisa Rp 300 juta,” akunya. 

Bahkan, outletnya sudah ada di beberapa tempat. Di Jember sendiri ada enam outlet, Lumajang dan Surabaya dua outlet,  Bandung satu outlet dan Jakarta empat outlet. Tak hanya itu, Helmi  juga sudah memiliki 40 karyawan yang bekerja di sana. Mulai yang bekerja di gudang, outlet, franchise  dan reseller. 

Setiap bulannya, macarina dikirim ke Jakarta mencapai 1 ton. Seminggu sekali dikirim ke Surabaya dan Bandung sekitar dua kwintal. Satu hari, produksi macarina bisa mencapai tiga kwintal. “Pengiriman melalui agen dan reseller juga cukup banyak,” ujarnya. 

Selain itu, pasar digital juga menjadi perhatian bagi alumni Universitas Muhamadiyah ini. Dia sedang memasarkan produksinya melalui daring dan reseller. “Kami terus branding produk kami meskipun sudah berkembang,” imbuhnya.

Prinsipnya, kata ayah satu anak itu, berbisnis bukan hanya karena untuk mendapatkan uang. Sebab, kegagalan yang pernah dialaminya karena terlalu terobsesi untuk mendapatkan uang. “Kalau dulu, bisnis, bisnis dan bisnis lagi,” akunya. 

Namun sekarang sudah berbeda. Yang pertama, Allah, sehat dan keluarga. Selain itu, prinsip yang dilakukannya adalah mengejar berkah dan bahagia. Hal itu diterapkan pada manajemen bisnisnya. “Tipsnya membahagiakan semua unsur yang ada dalam bisnisnya itu sendiri,” tandasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rapat Membahas Virus Corona 19 Tertutup, Ternyata Dua Warga Jember Pasien dalam Pengawasan

Dua warga Jember dengan status pasien dalam pengawasan virus corona 19.  16 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP), 242 berstatus Orang Dengan resiko (ODR)
MASJIWO.COM – Selasa (17/3/2020) sekitar pukul 11.00 WIB, saya tiba di ruang komisi C DPRD Jember. Saya kaget, ternyata rapat dengar pendapat antara Komisi C, Dinas Kesehatan dan para pengelola rumah sakit dilakukan tertutup.

Awalnya, pelaksaan rapat itu terbuka, namun karena ada permintaan off the record, ruangrapat ditutup. Ada apa?
Saya bertanya, pembahasan apa yang tidak tersampaikan tersebut. Setelah selesai rapat, saya mendatangi kepala dinas kesehatan Jember Dyah Kusworini. Saya dan teman-teman jurnalis melakukan wawancara tentang hasil rapat tersebut
Ternyata..
Jumlah warga dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona 19 di RSD dr Soebandi Jember mencapai tiga orang. Satu orang sudah dilakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel tes uji virus corona, hasilnya negatif. Sedangkan dua orang lainnya masih dilakuk…

Isu Tenggelam Karena Covid-19, 300 Warga Jember Menderita DBD, Dua Meninggal Dunia

300 warga Jember menderita penyakit DBD. Dua diantaranya meninggal dunia karena terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. 
MASJIWO.com –  Virus corona 19 memang memenuhi pemberitaan di berbagai Negara, tak terkecuali Indonesia. Membaca berita daring dipenuhi dengan kata-kata corona 19, menonton televisi berita tentang corona, membaca pesan di whatsapp pun corona.
Lalu, bagaimana dengan penyakit lain yang mengancam nyawa manusia. Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak kemarin, saya bertanya, berapa jumlah penderita penyakit ini. Saya kirim pesan pada Kepala DInas Kesehatan Jember Dyah Kusworini, namun tak dibalas.

Lalu, pada Selasa (17/3/2020), saya berhasil mewawancarainya di DPRD Jember.
Faktanya..
300 warga Jember menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, dua diantaranya sudah meninggal dunia. Jumlah penderita DBD itutercatat sejak Januari 2020sampai sekarang. “Jumlah itu masih dibawah grafik maksimal yang pernah ada, separuhnya,” kata Kepala Dinas Kesehata…

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…