Senin, 18 November 2019

Kekayaan Cagar Budaya Kita, Siapa Peduli?




Koleksi ribuan cagar budaya di Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto di Jember
Tempatnya sempit, berukuraan 9 kali 9 meter, seperti ruang kelas, berada di belakang Dispendik Jember, di sebelah lapangan tenis. Sekilas, tempat ini tak layak disebut museum. Namun di dalamnya terdapat banyak cagar budaya. 

Nama tempat ini adalah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto yang ada di Jember. Ada sekitar 1800 cagarbudaya ada di dalamnya. Mulai dari  jaman neolitikum sampai masa penjajahan Jepang. 

Senin, 18 November 2019, saya   kembali mengunjunginya. Kondisinya tak berubah seperti tahun-tahun sebelumnya, masih seperti dahulu kala. Hanya saja, jumlahnya yang terus bertambah seiring penemuan cagar budaya. 

Disana, kutemui peninggalan bersejarah mulai dari arca, batu kenong  yang berjejer di depan pintu, prasasti batu gong,  batu menhir, Arca terakota, kapak serut, kapak neolit, mangkok perak bakar, arca primitive dan lainnya.  Bahkan  terdapat sekitar  125 jenis cagarbudaya  yang dikumpulkan. Mulai  dari barang temuan, hasil eskavasi, barang bukti, hibah dan lainnya.

Jember kaya dengan peninggalan sejarah, tapi minim apresiasi. Begitulah kondisinya. Berbeda dengan kabupaten lain  seperti Banyuwangi dan Lumajang yang memiliki museum sebagai penghargaan terhadap cagar budaya. Padahal,  Jember adalah kabupaten  yang  memiliki cagar budaya terlengkap di wilayah tapal kuda. 

Batu kenong yang ada di BP3 Trowulan Mojokerto di Jember

Satu persatu, saya amati keunikan cagar  budaya tersebut. Rupanya, setiap cagar budaya  memiliki makna filosofi tersendiri. Seperti batu kenong,  merupakan simbol penghargaan orang hidup kepada leluhur bagi yang sudah meninggal. 

Disana juga ku temukan  peninggalan  jaman megalitikum berupa arca biting tipe polinesia. Yakni hasil budaya manusia masa megalitikum atau biasa disebut jaman batu besar.  usia arca ini diperkirakan sekitar 2000 tahun, dibuat pada  awal masehi. 

 Ada juga batu gandik yang dikenal orang sejak jaman paleolitik, yakni manusia yang sudah mulai bercocok tanam. Batu itu berfungsi sebagai alat penumbuk, penghancur dan pembelah. 

Kaya sekali cagar budaya di tempat ini. Namun, kepedulian untuk merawat, menjaga hingga melestarikannya masih perlu ditingkatkan. Lalu, siapa yang harus peduli?

Kekayaan Bangsa, Tanggung Jawab Kita

Kepedulian masyarakat terhadap cagar budaya bukan tidak ada. Hal itu dibuktikan dengan  memberikan benda bersejarah yang mereka temukan di berbagai tempat. Seperti  keris Pattern Blambangan, keris Budha, manik klasik yang terbuat dari kaca serta tombak Blambangan.

Cagar budaya ini memerlukan tempat yang layak agar bisa menarik perhatian generasi milenial

Bahkan, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto   di Jember menerima  15 benda cagar budaya  dari masyarakat Jember  selama  tahun 2016.  seperti keris Pattern Blambangan yang  merupakan peninggalan abad ke 14 Masehi, atau masa kerajaan Majapahit. Benda tersebut ditemukan di Kecamatan Gumukmas. 

Keris  tersebut dibuat dari tujuh unsur logam. Tak hanya  dari tembaga, tetapi campuran dari berbagai jenis.  Bentuknya pun berbeda dengan keris yang biasa. Barang lain yang diberikan oleh warga adalah tombak  blambangan yang digunakan untuk perang pada masanya.

Ditempatkan seadanya, belum bisa menjadi wisata edukasi

Selain itu, banyak peninggalan bersejarah lainnya yang ada di tempat tersebut. Seharusnya, tempat ini menjadi lokasi yang begitu istimewa. Karena benda-benda berharga berada disana. Namun, keberadaannya masih seperti anak tiri. 

Jadikan Wisata Edukasi, Otomatis Terawat

Kekayaan cagar budaya ini bisa terawat secara maksimal bila dimanfaatkan sebagai wisata edukasi. Tak jarang, menjadi objek kajian  berbagai peneliti maupun Arkeologi. Mulai dari pelajar TK hingga SMA dan mahasiswa dari sejumlah daerah. 

Bahkan, pengelola BP3 Trowulan Jember ini kadang juga menggunakan pakaian adat untuk menyambut pengunjung.  Sebab  keberadaan cagar budaya itu sudah mendatangkan wisatawan dari berbagai daerah. Misal, dari museum pendidikan Jogjakarta, national geographic, asosiasi arkeologi Indonesia serta beberapa lembaga dari luar negeri. Mereka bangga dengan koleksi cagar budaya yang lengkap di Jember. 

Aku saat swafoto di lokasi BP3 Trowulan Jember

Hanya saja, sarana tempat yang kurang memadai, menjadi kesulitan sendiri untuk menjadikannya sebagai wisata edukasi.  Pengelola seperti kurang percaya diri untuk mempromosikan tempat ini karena tempat yang kurang layak. 

Pengelola sendiri sudah mengajukan pada pemerintah darah agar disediakan tempat yang layak. Namun, belum ada tanggapan yang serius . Padahal potensinya  sangat besar. Selain mencerdaskan masyarakat tentang sejarah, juga bisa menghasilkan pendapatan bagi Negara.
    
Ayo  ikuti lomba blog ini, bukan untuk meraih kemenangan, tapi turut melestarikan cagar budaya. info lengkapnya klik disini





EmoticonEmoticon