Selasa, 19 November 2019

Jimly Ashary, Pelukis Kaligrafi Jember yang Mendunia


Jimly Ashari saat bertemu dengan Dr Syeikh Belaid Hamidi,  disaksikan oleh direktur kaligrafi dunia, dr Halid Eren  dan Ustaz Abdullah Abdul Futaini, ketua jamiiyah khatat  Saudi Arabia

Kaligrafi sudah menjadi bagian yang tidak terpisah dari santri Ponpes Darussholah ini. Ketekunan dan kesabaran mengantarkannya berprestasi hingga tingkat internasional. Karyanya kerap lolos dalam berbagai pameran.

Pria berkacamata itu sudah menekuni ilmu kaligrafi sejak masih menjadi pelajar. Di pesantren, dia memilih mengembangkan kemampuan seni Islam. Butuh waktu  panjang untuk menjadi mahir di bidang kaligrafi. 

Sekarang, santri yang akrab disapa Jimly itu sudah menebarkan ilmunya pada santri yang lain. Terbaru, karya muridnya berhasil lolos dalam ajang pameran kaligrafi di Museum Sharjah Dubai. “Beberapa bulan lalu saya diminta buat hiasan mushaf di Malaysia,” katanya. 

Jimly juga sudah memiliki murid ditingkat nasional dan internasional. Cara belajarnya secara offline dan online. “Saya sempat meraih juara lima lomba IRCICA di Turki tahun 2016 lalu,” akunya.  

Juara di tingkat  lokal  seperti juara tiga MTQ nasional mahasiswa di UI Jakarta, juara satu kaligrafi dalam festival arobi di Malang. Bahkan, pada 2017 lalu, Jimly mampu meraih juara harapan dua khat naskhi di festival kaligrafi Asean di Jombang. 

Prestasi tersebut bukan hal yang baru. Sebab, sudah meraih puluhan prestasi di bidang kaligrafi. “Sampai lupa ada berapa prestasi,” tutur pria kelahiran 6 Juni 1993 tersebut. 

Dalam belajar kaligrafi, Jimly patut menjadi teladan. Ketelitiannya dalam mengukir huruf membuat karya-karyanya terlihat indah. Baginya, belajar Kaligrafi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Butuh keuletan dan kesabaran agar bisa menguasainya,” tegasnya. 



Jimly bercerita, awal proses hingga di tingkat  internasional berawal saat dirinya belajar pada seniman dan kaligrafer asal Malang, yakni ustaz Bambang. “Ilmu dari beliau saya bisa ikut pameran ke Algeria,” akunya alumni IKIP PGRI Jember tersebut.

Setelah itu, lanjut dia,  belajar ke beberapa guru lainnya dari luar negeri. Yakni Ustzaz Belaid Hamidi dari Maroko dan ustaza Ehab Thabet Ibrahem dari Palestina. “Semua ilmu dari mereka saya  dapatkan dari pembelajaran  online,” tuturnya. 

Jimly belajar pada ustas Ehab Ibrahem Thabet Palestina sudah mencapai waktu lima  5 tahun. Sampai  sekarang proses pembelajaran kaligrafi masih tetap berlangsung. Karena  belajar tidak boleh berhenti meskipun sudah bias, harus tetap diasah.

Putra dari Suprapto dan Susilatin tersebut juga belajar pada ustad Ehab Ibrahem.padahal, tak mudah untuk menjadi muridnya. Namun Jimly merasa bersyukur bisa menjadi murid ustaz asal Palestina tersebut. “Ini rezeki saya, tak banyak yang dijadikan oleh murid beliau,” ujarnya. 

Jimly menambahkan  dalam belajar kaligrafi, perlu memahami bentuk tiap huruf sehingga memerlukan kesabaran yang ekstra dobel. Namun, ketika sudah memahaminya, belajar kaligrafi tidak akan mudah untuk dilepaskan.  Karena mengetahui seluk beluk rahasia, bentuk dan goresan kaligrafi.


“setiap huruf memiliki rahasia yang berbeda-beda. Rahasia itu akan diketahui jika belajar kaligrafi pada ahlinya,” jelasnya. 


Menurut dia, menulis kaligrafi sama dengan kegiatan seni lainnya. Membutuhkan inspirasi agar bisa dituangkan dalam bentuk karya. Membutuhkan pikiran yang segar. Ketika inspirasi itu datang, maka harus segera dituangkan ke atas kertas agar ide itu tidak hilang. 

 Ide kadang muncul ketika  melihat sesuatu yang indah, unik dan lucu. Bahkan juga datang ketika mendengarkan ayat  Alquran atau hadist. “Kadang juga dari pepatah atau syair arab yang memiliki makna bagus,” ucapnya. 

Sukses dalam meraih prestasi, Jimly membagikan tips belajar kaligrafi.  Pertama,harus sabar. Karena belajar kaligrafi bukan hanya belajar tentang estetika atau keindahan saja. Tetapi juga  belajar melatih kesabaran yang sesungguhnya. “Ketika belajar Alif, harus benar-benar lurus sesuai dengan contoh yang sudah paten,” akunya. 

Kedua, harus berani mencoba meskipun berulang kali salah.  Bisa  menulis kaligrafi karena terbiasa. Ketiga harus istiqomah dan dispilin. “tantangan  hanya melawan kemalasan,” imbuhnya. Malas  sering  menghampiri saat  mood dalam berlatih mulai melemah.

Cara mengatasinya, kata dia,  dengan menyegarkan kembali ide-ide untuk berkarya, misal melihat karya-karya kaligrafi para master. “Sehingga muncul motivasi baru untuk terus berkarya,” tandasnya.


EmoticonEmoticon