Selasa, 19 November 2019

Dradjad Premadi, Penemu Polamatika Asal Jember

Dradjad Premadi menunjukkan buku polamatika yang dikarangnya sendiri dan sudah tersebar di seluruh nusantara
Sampai sekarang, pelajaran matematika masih menjadi momok sebagian pelajar. Jangankan mengerjakan soalnya. Dengar nama saja tak sedikit siswa yang langsung “alergi.” Merasa prihatin, Dradjad mencari pola baru dalam belajar matematika.


Dradjad Premadi kini banyak diminta untuk menjadi pemateri pelatihan polamatika. Bahkan, dia kerap ke luar pulau, seperti Kalimantan, Aceh,  hingga Papua. Dia diminta melatih para guru dan siswa untuk belajar matematika.

“Ini ada undangan untuk mengisi di Maumere,” katanya. Pria yang akrab disapa Dradjad itu memang ahli di bidang matematika. Dia menemukan solusi yang mudah dan menyenangkan dalam belajar matematika. Memang, sejauh ini banyak pelajar yang menyukai matematika, bahkan masih seperti momok yang menakutkan. Tak heran, seringkali nilai ujian matematika jeblok.

Salah satu penyebabnya karena pembelajaran matematika masih belum menyenangkan. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, suasana kelas seperti tegang dan kurang menyenangkan. Para pelajarpun merasa jenuh dan bosan. Materi pelajaran pun sulit ditangkap.

Dradjad merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Pada 2007 silam, dia mencoba mencari jalan keluar. Mencorat-coret kertas dengan angka-angka perkalian. Hasilnya, dia menemukan pola baru dalam belajar menghitung, yakni polamatika.

“Pembelajaran menghitung di SD terlalu lama dipahami,” ucap alumni SMAN 1 Jember tersebut. Polamatika yang ditemukannya ternyata sangat mudah dan menyenangkan. Akhirnya Polamatika itu diajarkan hanya untuk kursus privat siswa SD.

Selanjutnya, polamatika terus berkembang dan diterapkan di tempat kursus di Bogor dan Jakarta. Lalu workshop dan penataran hingga ke berbagai daerah se Indonesia. “Saya tinggal di Bogor untuk menguji penemuan ini, diajarkan disana, selama 2007 hingga 2008,” akunya.

Kemudian, polamatika terus mengalami  perubahan dan penyempurnaan penyampaian materi pada siswa. Awalnya, polamatika mengenalkan metode kolom yang mengubah cara hitung susun. “Kemudian diubah lagi dengan metode L,” ujarnya.


Sekarang, metode yang digunakan dengan 3D, yakni dikte, dengan keras, diulang. Selain itu, polamatika juga menggunakan metode belajar sinergi otak kiri kanan. Metode ini ditemukan oleh Dradjad setelah belajar langsung pada sahabatnya, dari penulis buku psikologi, parenting dan sistem otak unggul. “Metode inilah yang membedakan polamatika dengan metode cepat lainnya,” terang lulusan Universitas Brawijaya ini.


Dia menegaskan melalui metode yang diciptakannya, mampu menghilangkan ketakutan siswa dalam belajar matematika. Bahkan, mereka akan suka dengan matematika selamanya. Hal itu sudah dibuktikan kepada beberapa pelajar. Hasilnya, mereka menjadi suka dengan matematika.

Dradjat menjelaskan, belajar matematika memaksimalkam potensi otak. Manusia memiliki otak yang luar biasa. Menurut dia, otak manusia terdiri dari dua bagian. Yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. “Pikiran bawah sadar memiliki potensi lebih besar dibanding pikiran sadar,” ucapnya.

Hanya saja, banyak orang yang masih belum memanfaatkan potensi pikiran bawah sadar ini. Pikiran bawah sadar bekerja setiap saat merekam mengingat semua hal yang dilakukan. Metode ini memaksimalkan potensi tersebut dalam pembelajaran matematika.

Polamatika sendiri, lanjut dia adalah cara berhitung cepat dan mudah menggunakan pola bilangan. Pola yang digunakan pada pembelajaran awal adalah kolom polamatika. “Dengan polamatika, siswa cukup mengenal satu pola untuk mengerjakan perkalian acak berapapun,” terangnya.

Bahkan, penggunaan pola bilangan itu juga berlaku pada penghitungan pangkat dan akar. Pengunaan polamatika sudah tidak lagi menggunakan cara simpan, seperti yang selama ini digunakan pada perkalian cara bersusun. Penggunaan cara bersusun seringkali menjadikan siswa keliru dalam menempatkan nilai angka ratausan, puluhan dan satuan.


Perbedaan utama polamatika dengan teknik hitung cepat lainnya adalah jika metode lain menggunakan alat peraga, polamatika tidak menggunakannya. Hanya menyederhanakan teknik berhitung saja. “Dengan penyederhanaan ini, siswa menjadi mudah menggunakannya pada operasi hitung,” paparnya.


Dradjad sendiri mengaku bila matematika menjadi pelajaran yang paling disukai ketika masih di bangku sekolah dasar. Ditanya tentang pelajaran yang lain, dia merasa tidak tahu, apalagi bahasa Inggris. “Bisanya cuma matematika,” ujarnya lalu tertawa.

Tak heran, bila dia menemukan pola baru di bidang mata pelajaran ini. Sekarang, dia sudah menulis 17 buku tentang matematika. Dia amat produktif menulis buku matematika  karena menyukainya. “Sayangnya, saya lebih banyak mengisi pelatihan di luar  kota,” tuturnya.

Jember sendiri, lanjut dia, belum banyak yang mengetahui tentang penemuan ini. Namun, dirinya tetap berupaya mengajar polamatika pada para guru dan siswa di Jember.  


EmoticonEmoticon