Langsung ke konten utama

Cerita Koperasi Wanita Sekar Kartini Raih Omzet Rp 1 Miliar




Para pengurus koperasi foto bersama di kantor Koperasi Sekar Kartini

Koperasi Wanita Sekar Kartini muncul untuk memerangi rentenir dan memberdayakan perempuan pada  1979 lalu. Gagasan itu muncul dari sepuluh perempuan yang tergabung dalam kegiatan arisan. Tujuan itu tercapai, para anggotanya mulai mandiri dengan usaha sendiri.

Emak-emak berkerudung itu turun dari aula Koperasi Wanita Sekar Kartini. Ada yang saling berbagi cerita dan berpamitan. Ada juga yang sedang mencoba makanan ringan dan membelinya. Makanan yang dibuat oleh anggota koperasi. 

Rupanya, para ibu-ibu itu adalah anggota koperasi yang sedang mengikuti kegiatan pengajian rutin di  kantor koperasi, di Jalan Sriwijaya Gang VIII. Mereka tak hanya bertemu meningkatkan wawasan dan mempererat persaudaraan, tetapi saling berbagi cerita tentang usaha yang sudah dimiliki. 

“Mereka yang hadir ada 86 orang, perwakilan dari 69 kelompok,” kata Ariyati Karinda Woelandari, ketua II Koperasi Wanita Sekar Kartini. Mereka merupakan para perempuan yang memajukan koperasi hingga berumur 39 tahun. Banyak para anggota sudah memiliki usaha kecil menengah (UKM).

“Saya punya usaha strudel di rumah,” tambah Tutik Retnowati, anggota koperasi yang juga sebagai bendahara II. UKM itu berdiri atas pinjaman dengan modal Rp 10 juta. Sekarang, sudah mampu menghasilkan omset Rp 30 juta setiap bulan.

Tak hanya Tutik, sepertiga dari anggota koperasi ini memiliki UKM sendiri. Mulai dari usaha kuliner hingga kecantikan seperti salon. Seperti Halimatus, modal yang dipinjam dari koperasi dijadikan usaha kuliner dengan membuat berbagai makanan dari daun kelor. “Ada juga Muayadah, punya UKM produk edamame,” imbuh Titik. 


Koperasi memberikan pelatihan secara gratis bagi setiap anggotanya. Mulai dari pelatihan membuat kue, tata rias, menjahit dan lainnya. Keterampilan itu diterapkan menjadi usaha. “Usulan pelatihan itu datang dari anggota yang ingin buka usaha,” tambah Emy Yuliati, sekretaris koperasi. 

Di Jember, koperasi wanita ini bisa disebut koperasi yang sangat  maju. Sebab, sudah memiliki 1.400 anggota yang tersebar di berbagai daerah. Anggota itu dibagi dalam bentuk 69 kelompok. Satu kelompok ada yang terdiri dari 15 hingga 35 orang. 

Di tangan para perempuan, Kopwan Sekar Kartini bisa terus bertahan dan memberdayakan anggotanya. Meskipun pernah mengalami jatuh bangun, namun tetap berdiri tegak hingga sekarang. Bahkan sudah meraih berbagai penghargaan dari menteri hingga presiden tahun 2008 lalu. 

Koperasi ini berdiri 21 April 1979 lalu, sepuluh perempuan yang tergabung dalam arisan berkumpul. Mereka resah dengan ulah para rentenir yang mencekik perekonomian warga sekitar. Akhirnya, terlintas oleh para perempuan itu untuk mendirikan koperasi.

“Tujuan awal untuk berdayakan perempuan,” tambah Siti Nuryani, Ketua I Kopwan Sekar Kartini. Nama sekar kartini diambil karena Sekar sendiri cocok dengan perempuan, sedangkan Kartini karena bertepatan dengan hari lahir RA Kartini. Harapannya bisa memperjuangkan nasib para perempuan. 

Perjalanan koperasi tidak semudah sekarang, awal berdiri harus menyewa tempat. Bahkan harus pindah kantor sebanyak 11 kali karena belum memiliki gedung sendiri. Kemudian, para anggota tidak ingin pindah lagi dan memiliki tempat sendiri. 

“Anggota koperasi waktu itu sepakat membuat kotak simpati seperti kotak amal di masjid,” jelasnya. Para anggota secara sukarela menyumbang. Mereka juga sepakat untuk tidak membagi Sisa Hasil Usaha (SHU) agar punya gedung sendiri. 



Per bulan, anggota iuran gedung dari Rp 50 hingga Rp 100. Kemudian pada tahun 1999 iuran bertambah menjadi Rp  2.000. sedangkan  anggota baru iuran dana gedung Rp 25.000.  Sampai sekarang terus berlanjut untuk perawatan gedung. 

Melalui dana iuran itulah, mereka memiliki gedung dengan dua lantai  17 Oktober 1999. Tempat ini menjadi pusat kegiatan, mulai dari pertemuan, administrasi hingga toko sembako. “Usaha utama kami simpan pinjam, tapi punya unit usaha lain,” tuturnya. 

Beberapa unit usaha seperti cuci mobil, sewa kendaraan, salon, dan warnet, hingga toko sembako. Namun tak semua usaha itu berjalan mulus. Sebab, menyesuaikan dengan keadaan zaman. “Seperti warnet, zaman sudah berbeda, akhirnya dihentikan,” akunya.

Usaha cuci mobil bertahan dua tahun, salon bertahan tiga tahun dan warnet selama 7 tahun. Sekarang, usaha yang masih bertahan adalah toko sembako. Anggota bisa kebutuhan sembako dengan membayar di akhir bulan. “Unit usaha dibahas ketika berkumpul, idenya muncul dari anggota,” terangnya.

Koperasi ini maju setelah menerapkan sistem tanggung renteng, yakni  tanggungjawab bersama diantara anggota di satu kelompok atas segala kewajiban terhadap koperasi dengan dasar keterbukaan dan saling mempercayai. “Butuh 10 tahun menerapkan tanggung renteng,” tegas Ariyati. 


Tanggung Renteng itu, kata dia, membangun karakter dan pekerti  positif. Hal itu  menjadi nilai dasar dalam aktivitas berkoperasi. Sebab ada beberapa nilai penting di dalamnya. Mulai dari kebersamaan, keterbukaan, musyawarah, saling percaya, disiplin dan tanggungjawab

Tanggung Renteng merupakan alat kontrol dan kendali  dinamika anggota dan keuangan. Sehingga harus ada  Kelompok, kewajiban yang harus dipenuhi dan keterbukaan. “Setiap masalah yang terjadi di kelompok, diselesaikan secara musyawarah, dicarikan solusi bersama,” terangnya. 

Penerapan  Tanggung Renteng  itu membuat  aset koperasi lebih aman. Meningkatkan rasa kekeluargaan dan gotong-royong, memunculkan rasa keberanian untuk berpendapat dan lainnya. Bahkan juga mengurangi risiko terjadinya kredit macet.

“Omset kami per bulan sudah mencapai Rp 1 miliar,” tambah Sri Budhiyanti, bendahara I. Omset terus bertambah karena koperasi dikelola dengan baik. Apalagi, pengelola koperasi  ingin lebih maju karena manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. 


Tak hanya dari sisi peningkatan ekonomi anggota, tetapi juga ada nilai persaudaraan, pendidikan, silaturahmi dan lainnya. Bahkan juga saling membantu mencarikan solusi permasalahan. “Karena koperasi ini berasas kekeluargaan,” tandasnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…