Selasa, 19 November 2019

Koptu Hartono, Tentara Nyentrik Berjiwa Seniman






Seni sudah mendarah daging dalam tubuh Hartono. Setiap tampil di pentas, anggota Koramil Kaliwates ini selalu tampil total. Bahkan semua yang berbau kesenian dilakukannya, mulai dari seni tari, lukis serta mengkoleksi benda-benda antik. 

Koptu Hartono tinggal di perumahan Graha Citra Blok B 12 Kaliwates Jember. Rumahnya mengekspresikan karakter seniman nyentrik tersebut. Dinding depan rumah dihias dengan interior menarik. Bahkan, diatas rumahnya terdapat hiasan dokar. Dari depan rumahnya, seperti adat rumah Bali.
 
Masuk ke dalam rumah, berbagai benda antik dikumpulkan di ruang depan. Seperti sepeda onthel, mesin ketik, samurai, uang kuno, dan lainnya. Orang yang datang pun merasa nyaman, dengan sajian benda-benda klasik.

Koptu Hartono memang termasuk orang nyentrik. Dia adalah seorang Babinsa di Kelurahan Kepatihan, Koramil Kaliwates , Kesatuan Kodim 0824 Jember. Sepintas, tak ada yang tahu jika terdapat bakat seni dalam dirinya. Namun, saat menelusuri hidupnya, dialah tentara yang berjiwa seniman.

Dalam setiap pementasan drama, Koptu Hartono selalu berperan sebagai Jenderal Sudirman. Kecintaannya pada pahlawan tersebut tak tertandingi oleh apapun. Ada energi yang kuat saat dirinya memerangkan sosok sang jenderal. “Memakai baju seperti Jenderal Sudirman, saya sangat menjaga tingkah laku, merokokpun tidak berani,” ucapnya.

Ditemui di rumahnya, pria kelahiran 17 Agustus 1976 itu mengaku sudah menekuni dunia seni sejak masih di bangku SD. Dia sering diajak tampil dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Jawa Timur. Bahkan, tak jarang meraih prestasi dalam event tersebut.



Bakatnya membuat patung dan melukis terus diasah. Saat melanjutkan sekolah di SMP, dia aktif di sanggar teater dan berlatih disana. Kemudian, juga memilki rutinitas melukis dan menari. “Semua yang berbau kesenian saya lakukan waktu itu,” akunya.

Bakat kepemimpinannya diasah di OSIS dan Pramuka. Sejak kecil, ayah dua anak itu bercita-cita menjadi tentara. “Ketika SMA, saya buat kerajinan patung, dekorasi taman rumah, main drama, “ paparnya.

Hartono pernah meraih juara satu seni patung tingkat Jawa Timur pada tahun 1988. Saat di SMAN Mumbulsari, dia terus meraih juara dalam Porseni Jawa Timur. “Setiap waktu luang, bermain drama, belajar melukis atau menari,” tuturnya.

Lulus dari sana, Hartono ikut lomba Pesta Anak Prestasi yang diselenggarakan Dharma Pertiwi Kodam V Brawijaya. Dia satu-satunya warga Jember terpilih sebagai pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa.

Karirnya di militer di mulai sejak tahun 1997 silam. Meskipun waktu terbatas, Hartono tetap tak bisa lepas dari seni. Jiwanya adalah seni, dan cita-citanya menjadi tentara. “Seni itu bebas, tentara terikat,” ujarnya.

Selama 20 tahun menjadi tentara, Hartono sering berpindah tempat, terakhir di Kediri sebelum sekarang di Jember. Di Kediri, dia bergabung dengan berbagai komunitas kesenian. Bahkan, dia melebur dengan siapa saja. 



Seni lukis, seni ukir, relief taman, drama kolosal, musik, tari ontel benda antik semua menjadi kegiatan rutinnya selain bekerja sebagai tentara. Setiap peringatan Hari Ulang Tahun  (HUT) kemerdekaan RI atau HUT TNI. Dia tampil sebagai sutradara pementasannya.

Ketika tugas ke Aceh, Hartono menjadi sutradara drama kolosal Aceh untuk memperingati HUT TNI. Saat itu, dia menyamar sebagai warga sipil yang berprofesi sebagai pengemis jalanan. Tak ada orang yang tahu, bahkan komandannya sendiri kalau dia adalah Koptu Hartono.

Sebelum sebagai pemeran Jenderal Sudirman, Koptu Hartono sempat datang ke tempat persinggahan Jenderal di Goliman Kendiri, dia bertemu dengan juru kunci dan mendengarkan cerita tentang sosok sang Jenderal. “Di rumah peristirahatan tersebut, saya cari data tentang Jenderal yang sabar dan karismatik, saya ijin masuk ke kamarnya,” jelasnya.

Dia merasakan aroma perjuangan Jenderal Sudirman, setiap tampil sebagai Jenderal yang menjadi cikal bakalnya TNI tersebut, Hartono tampil total. Dia melakukan napak tilas waktu gerilya dari Kediri ke Jogja. Pasukan Jenderal melewati jalan terjal selama tujuh bulan.



Di rumahnya, dia memiliki tiga kardus busana drama. Termasuk baju Jenderal Sudirman yang dipajang. Dia tidak berani menyalahgunakan baju Jenderal Sudirman meskipun bukan aslinya. 

Sejak tahun 2003, Koptu Hartono mengumpulkan benda antik sampai sekarang. Bahkan, di tengah kesibukannya, dia juga melukis dan menari. Berkesenian sudah menyatu dalam diri, pensiun pun tetap nyeni,” ujarnya.

Bakat seni yang dilkaukan secara otodidak itu membuat Hartono menjadi sosok yang supel. Belajar dari siapapun, dalam melukis, dia sempat dididik oleh Pak Ketut. Sekarang juga bergabung dengan Komunitas Perupa Jember (KPJ).

Semua yang dilakukannya untuk terus melestarikan sejarah, merawat budaya dan menjaga keutuhan NKRI. Dia mengaku tamak dalam dunia seni. “Prinsip saya masuk ke semua kalangan,” pungkasnya.  


Read More

Kisah Pemilik Macarina, Modal Rp 3 Juta, Omset Rp 300 Juta



Helmi Zamrudiansyah di rumah produksi macarina yang dibangunnya tahun 2017 lalu.

Helmi Zamrudiansyah rela rela kelaparan hanya untuk membeli macaroni ketika merantau ke Jakarta. Namun, siapa sangka, hal itu membuat dirinya sukses muda ketika kembali ke Jember.

 Rumah Helmi di Jalan Sriwijaya XX  nomor 19 dipenuhi dengan makanan ringan macaroni. Di sebelah barat, ada yang sedang menggoreng, di sebelah timur, ada yang sedang menghitung dan memasukkan packing ke dalam kardus.

Bahkan di ruang tamunya juga penuh dengan makanan yang disukai oleh para anak muda itu. Setiap hari, selalu ada aktivitas produksi macaroni. Rupanya, bisnis makanan ringan  naik daun dan terus berkembang.

Padahal, bisnis kuliner  itu baru berumur 1,5 tahun. Yakni dimulai sejak Maret 2017 lalu. Hanya saja untuk mencapai sukses  seperti sekarang, Helmi  harus jatuh bangun selama delapan tahun dalam membangun usahanya.

Dari kegagalan itulah, pria kelahiran Jember 20 April 1989  ini mulai introspeksi diri. Apa yang membuat dirinya selalu gagal. “Saya pernah jual minuman coklat, ada 21 outlet,” akunya. Mulai dari Malang dan Jember. Saat itu dirinya merasa bangga karena sudah berhasil. 

Ternyata, kebanggaan itu  membunuh dirinya sendiri. Saat merasa sudah berhasil, justru usahanya semakin menurun. Pelanggan semakin berkurang, cuaca hujan dan tiap hari terus menurun. “Sampai saya promo besar-besaran, tapi akhirnya tetap gagal,” terangnya. 

Tak hanya itu, dia juga pernah bisnis di bidang fotografi hingga memiliki hutang Rp 30 juta. Kemudian, juga pernah mencoba usaha  Dawet Jepara 88, pernah bekerja pada orang lain. 

Kegagalan itu tak membuat suami dari Fauziah Inayani itu putus asa. Dia  merantau ke Jakarta untuk mengembangkan usaha minuman coklatnya. Yakni dengan mengikuti bisnis plan yang diselenggarakan Junior Chamber International Jakarta. “Ternyata, konsep yang bagus itu tidak  sesuai dengan yang terjadi di lapangan,” terangnya. 

Akhirnya, untuk bertahan hidup, Helmi  harus bekerja lain. Dia pun mencoba menjadi driver uber, menjadi driver ojek online dan lainnya. Bahkan kendaraan yang digunakan milik temannya sendiri. 

Hingga suatu hari, alumni SMPN 6 Jember itu mengantarkan penumpang ke salah satu toko untuk membeli macaroni. Insting bisnisnya langsung muncul. Ketika melihat penumpang membeli makanan ringan itu, dia ingin membeli namun masih belum ada uang. 

Malam harinya, dia mendapatkan uang Rp 20 ribu dari hasil kerja sehari. Uang itu seharusnya untuk membeli nasi. Namun karena penasaran dengan macaroni, dia kembali ke toko yang menjual macaroni. “Akhirnya saya rela kelaparan hanya untuk membeli macaroni,” tuturnya.

Saat berada pada titik paling rendah itulah, pertolongan datang. Helmi  terinspirasi untuk berbisnis macaroni yang memiliki banyak pelanggan. Inspirasi itulah yang membuat dirinya terpanggil untuk kembali pulang ke Jember. 

Di tanah kelahirannya, ide untuk memulai bisnis macaroni tidak mudah. Sebab, sang istri dan keluarga terdekatnya ragu dan khawatir gagal kembali. Dia sempat kebingungan harus memulai dari mana. 

Padahal, ide untuk berbisnis macaroni itu sudah menggebu-gebu. Harus segera terealisasi. Tidak boleh tertunda karena peluang yang cukup besar. “Akhirnya saya bertemu dengan empat orang yang punya visi sama,” tuturnya. 

Mereka ada yang masih berstatus mahasiswa yang  belajar namun memiliki semangat tinggi. yakni Muhayati Rofiah dan Ilham Juni serta istrinya sendiri. Bahkan sekarang sudah ada yang investasi, yakni  Ahmad Haerul Anam. 

Akhirnya mereka berkolaborasi lalu membeli bahan baku kiloan digoreng sendiri. Percobaan demi percobaan dilakukan hingga sekarang  menemukan karakter rasa tersendiri. “Nama macarina ini singkatan dari macaroninya Ina, istri saya,” ujar pria berumur 29 tahun itu. 

Helmi  pandai memberikan bumbu spesial pada  macaroni yang digorengnya. Ada berbagai level rasa pedas. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 6 ribu hingga Rp 20 ribu. “Modalnya dulu hanya Rp 3 juta empat orang, sekarang satu bulan omset bisa Rp 300 juta,” akunya. 

Bahkan, outletnya sudah ada di beberapa tempat. Di Jember sendiri ada enam outlet, Lumajang dan Surabaya dua outlet,  Bandung satu outlet dan Jakarta empat outlet. Tak hanya itu, Helmi  juga sudah memiliki 40 karyawan yang bekerja di sana. Mulai yang bekerja di gudang, outlet, franchise  dan reseller. 

Setiap bulannya, macarina dikirim ke Jakarta mencapai 1 ton. Seminggu sekali dikirim ke Surabaya dan Bandung sekitar dua kwintal. Satu hari, produksi macarina bisa mencapai tiga kwintal. “Pengiriman melalui agen dan reseller juga cukup banyak,” ujarnya. 

Selain itu, pasar digital juga menjadi perhatian bagi alumni Universitas Muhamadiyah ini. Dia sedang memasarkan produksinya melalui daring dan reseller. “Kami terus branding produk kami meskipun sudah berkembang,” imbuhnya.

Prinsipnya, kata ayah satu anak itu, berbisnis bukan hanya karena untuk mendapatkan uang. Sebab, kegagalan yang pernah dialaminya karena terlalu terobsesi untuk mendapatkan uang. “Kalau dulu, bisnis, bisnis dan bisnis lagi,” akunya. 

Namun sekarang sudah berbeda. Yang pertama, Allah, sehat dan keluarga. Selain itu, prinsip yang dilakukannya adalah mengejar berkah dan bahagia. Hal itu diterapkan pada manajemen bisnisnya. “Tipsnya membahagiakan semua unsur yang ada dalam bisnisnya itu sendiri,” tandasnya.
Read More

Kearifan Lokal sebagai Perekat Toleransi


Foto-foto dokumentasi Nicky Widya Ningrum
Anak-anak forum lintas iman  di depan  Gereja Kristen Jawi  Wetan bermain tentang keberagaman

Pada dasarnya, warga  Indonesia memiliki budaya luhur dalam menjaga perdamaian. Sikap saling gotong-royong, menghomati perbedaan dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Kearifan lokal ini perlu dikuatkan lagi.

7 Juli 2018, 35 siswa SD hingga SMP di Kecamatan Kencong berkunjung ke Gereja Kristen Jawi Wetan Dusun Sidoreno, Desa Wonorejo Kecamatan Kencong. Mereka datang bersama ibunya dalam kegiatan forum lintas iman. Mereka berasal dari kalangan beragam agama, dari Islam, Kristen, Hindu dan Katolik.

Anak-anak itu bermain di depan geraja, sedangkan ibu mereka berada di dalam sedang berdiskusi. Tema yang diangkat keluarga tanpa kekerasan pada anak. “Temanya sesuai kebutuhan, tema pertama pentingnya pendidikan toleransi bagi anak di keluarga,” kata pendeta Nicky Widya Ningrum.

Pertemuan anak lintas agama itu merupakan kegitan kali ketiga dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN) 2018. Saat orang tua sedang berdiskusi, anak-anak  berada di luar, berbaur, bermain out bond, menyanyikan lagu kebangsaan, bermain puzzle peta Indonesia, bermain ular tangga keindonesiaan, estafet air dan lainnya.

“Awalnya canggung saat pertama berjumpa, wajar. Namun tak butuh lama untuk akrab dan bergandengan tangan,” katanya. Saat mereka bermain, tak ada perbedaan mereka dari agama apa saja. Semua tampak ceria dan rukun meskipun berbeda agamanya. Pembiasaan itulah yang ingin dilakukan oleh forum lintas iman ini agar ketika sudah besar memahami perbedaan.



Apalagi, kata dia, mayoritas Dusun Sidoreno  beragama Kristen. Sedangkan  dusun tetangga lainnya merupakan  warga beragama  Islam. “Anak-anak kan sekolah negeri, separuh teman mereka Muslim, kami merasa perlu menciptakan wadah bagi mereka,” ujarnya.

Yakni memberikan pemahaman sejak dini bahwa keberagaman itu memang ada dan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu harus disadari oleh generasi bangsa. Selama ini, tak ada wadah yang membuat mereka bisa berkomunikasi dan saling menghargai. “Kami sediakan wadah  yang isinya bermain, tetapi di dalamnya belajar,” terangnya.

Harapannya, mereka tidak anti dengan orang yang berbeda. Bukan hanya  hanya beda agama, namun juga perbedaan suku, ras, pendapat dan lainnya. Mereka perlu belajar memahami perbedaan,  menyikapi perbedaan dan mendialogkannya. “Itu harus dilatih sejak dini,” ujar perempuan yang akrab disapa Nicky tersebut.

Sebab, lanjut alumni UKDW Jogjakarta ini, warga  satu iman  yang tidak siap berbeda, bisa terjadi permusuhan. Pentingnya mendidik anak agar bersikap toleran bukan hanya karena agama. Namun agar menjadikan mereka hidup rukun. “Persoalan ini bukan hanya antar beragama, namun siap menerima semua perbedaan,” tegasnya.

Selain itu, kearifan lokal yang sudah diwariskan nenek moyang. Seperti gotong royong harus terus dijaga ditengah arus globaliasi. Misal, di Desa Wonorejo terdapat kegiaatan  soya atau memperbaiki rumah dengan cara beramai-ramai. Nilai gotong royong itu merupakan kearifan lokal untuk menjaga kebersamaan. “Tanpa harus melihat apa agamanya,” tutur Nicky. 



Dalam menjaga kearifan lokal untuk menciptakan kerukunan umat beragama, Desa Sidorejo dan Sukoreno Kecamatan Umbulsari bisa menjadi contoh. Sebab, dua desa ini mampu menjaga kerukunan umat beragama.
“Setiap ada kegiatan keagamaan, anak anak muda disini kami ikutkan,” kata Sugiyono, salah satu Forum Kerukunan Umat Beragama yang berasal dari Desa Sidorejo. Desa tersebut terdiri dari 65 persen umat Kristen , 35 persen muslim

Warga desa tersebut berbaur dalam setiap kegiatan. Bahkan, ketika Kristen memiliki kegiatan. Mereka saling mendukung dengan datang menghadiri undangan, begitu juga sebaliknya. “Bahkan hadrah juga masuk  geraja,” ucapnya.

Tradisi yang diwariskan nenek moyang, seperti saling menghormati, gotong royong, bersilaturahim diterapkan oleh mereka. Tak heran, tak ada persinggungan di desa yang berbeda keyakinan. Sebab, ajaran nenek moyang untuk saling menjaga persaudaraan diterapkan.

Setiap agama memiliki budaya dan keyakinan sendiri. Semua itu harus dihormati agar bisa saling menjaga keharmonisan. Mereka saling mendukung program keagamaan dari masing-masing agama. “Misal perayaan Islam, kita silaturahim ke rumah warga,” ujarnya. 



Kearin lokal untuk merawat keberagaman itu juga diajarkan oleh komunitas Tanoker di Kecamatan Ledokombo. Anak-anak diajari agar tidak terjerumus pada paham radikalisme sehingga menciptakan suasana intoleran. “Desa dan kota sama, ajaran radikalisme banyak masuk lewat internet,” tutur Cicik Farha, pendiri komunitas tanoker yang  juga salah satu pendiri Aliansi Indonesia Damai (Aida).

Permainan tradisional egrang menjagi alat untuk mengajarkan anak-anak agar belajar memahami perbedaan. Mereka diajarkan tentang menghormati orang lain, memahami keberagaman dan kemajemukan, gotong royong. “Pencegahan radikalisme harus membangun sistem dektesi dini,” tandasnya.  
Read More

Literasi Digital Bagi Anak Buruh Migran


Anak-anak buruh migran saat bermain ular tangga internet sehat dalam kegiatan pasar lumpur di Ledokombo, kemarin.

Anak buruh migran kerap dikirimi gawai yang bagus oleh orang tuanya dari luar negeri. Sayangnya, mereka belum bisa menggunakan gawai dengan cerdas, termasuk orang di  sekelilingnya. Ada kekhawatiran disalahgunakan.
“Mak, saya dapat buku,” kata Diana memberikan buku yang didapat dari bermain ular tangga internet sehat di lapangan polo lumpur Komunitas Tanoker Minggu  25 Maret 2018 lalu. Setelah itu, anak tersebut kembali ke tempat bermain bersama temannya.
“Empat loncatan, satu, dua, tiga, empat,” ucap Silviatul Hasanah, siswi kelas V SDN Sumberlesung 1 Kecamatan ledokombo sambil melompat, setelah itu membacakan kalimat yang terdapat di bawahnya. Lapor segera kepada guru atau orang tua jika tahu atau terkena cyberbullly.
“Jadi kalau adek-adek yang ada yang dibully di media sosial, harus segera melaporkan pada orang tua atau gurunya ya,” kata Zainul Hasan menjelaskan makna dari masing-masing kotak di ular tangga tersebut.  Kotak ular tangga tersebut diisi dengan kalimat cara cerdas bermedia sosial.
“Batasi penggunaan internet dan lakukan aktivitas bersama, seperti olahraga,” tambah Nurul Ayuni usai melompat. Zainul pun menjelaskan makna dari kata-kata tersebut, yakni tidak boleh berlebihan menggunakan internet, harus bersosialisasi dengan teman-temannya. 


Ketika melempar dadu berikutnya, Nuril Ayuni yang juga siswi SDN V Sumberlesung 1 mendapati kotak dengan pesan negatif. Yakni klik sembarangan banner di web, akhirnya dia turun tangga dan mendapati kalimat, banner web yang tidak jelas bisa membawa kita ke situs negatif.
Bila dadu dapat kotak yang memberikan pesan positif, maka akan naik tangga. Namun sebaliknya, bila mendapati kotak dengan pesan negatif, akan turun. Misal, mendapai kotak dengan tulisan orang tua yang bijak, dampingi anak di internet, maka akan naik tangga. Namun bila mendapati kotak bertemu dengan orang baru kenal di sosmed, akan turun ke kota bisa jadi orang yang baru dikenal adalah penjahat.
Anak-anak merasa ceria dengan permainan tersebut. Bagi mereka yang menyelesaikan mendapat hadiah buku tulis. Tak heran, mereka berlomba-lomba bermain ular tangga yang digagas oleh  Relawan TIK Jember.
Para relawan itu melatih anak-anak komunitas tanoker agar belajar internet secara sehat. Tidak mudah terpengaruh dengan konten negatif yang ada di media sosial. Mengajari anak-anak agar menjadi pengguna internet yang bijak.
Apalagi, anak-anak tersebut merupakan anak yang ditinggal orang tuanya pergi bekerja ke luar negeri. Sedangkan orang tuanya, mengirimkan gawai untuk putra-putrinya. “Padahal orang-orang disekitarnya belum jadi smart user,” tambah Ulil Albab, ketua relawan TIK Jember.

Menurut dia,  anak yang menggunakan gawai seringkali tidak diawasi oleh orang tuanya. Sebab, pengguna internet masih belum pada tahap smart user, namun gawainya yang cerdas. Padahal, ancamannya jelas, berupa pornogragi, hoax, pedofilia dan lainnya.

DI Jember, kata Ulil, mayoritas anak usia produktif sudah menggunakan  gawai. Bila tidak diajari cerdas berirnternet, khawatir terjerumus pada hal yang tidak diinginkan. “Setiap kami sosialisasi ke sekolah, 80 persen sudah punya gawai,” akunya.
Untuk itu, relawan TIK mengajak para guru agar peduli ketika siswanya menggunakan internet. Guru memiliki peran penting untuk mencegah anak dari membuka situs negatif. “Kami melakukan menyebarkan Internet cerdas kreatif dan produktif,” tambah mahasiswa semester VI Universitas Muhammadiyah Jember tersebut.
Tak hanya itu, orang tua juga dilibatkan agar juga mengawasi anaknya. Sebab, beberapa anak  di Ledokombo melihat gawai ibunya saat tidak dipakai. Bahkan, melihat pemberitahuan facebook saat berbunyi. “Saya ga punya facebook, tapi lihat facebook ibu,” aku Silviatul Hasanah.
Untuk itulah, Orang tua juga dilatih agar bisa mendampingi  anaknya. Relawan TIK Jember juga hendak membuat aplikasi untuk memfilter konten gawai yang dipegang anak-anak. Sehingga bisa dipantau dan tidak menyalahgunakan.
Suporahardjo, pendiri Komunitas Tanoker menambahkan Tanoker menyediakan ruang, bagi anak  desa, terutama anak  buruh migran berbaur. Harapannya, anak-anak yang ditinggal orang tua itu menjadi kepedulian bersama, baik tokoh masyarakat, guru dan warga sekitar.
Mereka yang  ditinggalkan orang tuanya dalam masa tumbuh kembang. Perkembangan dari sisi psikologi, budaya dan lainnya diharapkan bisa bisa terpenuhi. Tanoker hadir agar bisa menjadi wadah bagi mereka untuk berkembang.
Selama ini, pengasuhan anak buruh migran dilakukan oleh keluarga terdekat. Mulai dari kakek-nenek, paman dan lainnya. Agar pendidikan bagi mereka maksimal, tanoker membentuk sekolah bok-ebok, sekolah bapak-bapak dan sekolah kakek sebagai wadah parenting. 


Sekarang, tambah Ciciek Farha, istri dari Suporahardjo yang juga pendiri Komunitas Tanoker, kecanggihan teknologi sudah mampu memberikan solusi agar orang tua bisa mengasuh anaknya dari luar negeri. “Tanoker sedang menggodok pengasuhan anak dari luar negeri,” katanya.
Yakni mencari cara agar komunikasi antara orang tua yang berada di luar negeri dengan anaknya bisa terjalin efektif. Komunikasi yang efektif dan bisa diterima dengan baik oleh orang tua dan anak. Meksipun orang tua di luar negeri dibatasi dalam menggunakan gawai.
Komunikasi efektif itu mampu menyembuhkan luka batin akibat hubungan buruk. Syarat  komunikasi efektif meliputi  rasa empatik, yakni  mengerti dulu daripada minta dimengerti. Kemudian, tidak membantah dan tidak menyalahkan serta fokus pada masalah.

“Dulu belum terpikirkan, padahal sangat penting, yakni hubungan anak dengan orang tua,” paparnya. Padahal sangat penting karena sudah didukung dengan kemajuan teknologi informasi. Bahkan hampir semua masyarakat sudah memiliki handphone. “Tapi riset kami, banyak yang tidak efektif,” tuturnya.

Ciciek berharap agar jarak jauh antara anak buruh migran dan orang tua  tidak memperburuk kualitas pengembangan anak. Sebab, banyak yang mengirimkan uang untuk anaknya, tetapi dimanfaatkan dengan kegiatan yang tidak baik. Hal itu bisa menjadikan anak  manja.
“Anak dihubungkan dengan guru ngaji, guru sekolah dan lainnya,” tuturnya.  Sebab masalah yang terjadi pada anak tidak hanya bisa diselesaikan oleh pengasuhnya. Tetapi membutuhkan semua orang sehingga bisa melakukan kontrol. Termasuk mendatangkan relawan TIK untuk melatih anak berinternet dengan bijak.  

Read More

Jimly Ashary, Pelukis Kaligrafi Jember yang Mendunia


Jimly Ashari saat bertemu dengan Dr Syeikh Belaid Hamidi,  disaksikan oleh direktur kaligrafi dunia, dr Halid Eren  dan Ustaz Abdullah Abdul Futaini, ketua jamiiyah khatat  Saudi Arabia

Kaligrafi sudah menjadi bagian yang tidak terpisah dari santri Ponpes Darussholah ini. Ketekunan dan kesabaran mengantarkannya berprestasi hingga tingkat internasional. Karyanya kerap lolos dalam berbagai pameran.

Pria berkacamata itu sudah menekuni ilmu kaligrafi sejak masih menjadi pelajar. Di pesantren, dia memilih mengembangkan kemampuan seni Islam. Butuh waktu  panjang untuk menjadi mahir di bidang kaligrafi. 

Sekarang, santri yang akrab disapa Jimly itu sudah menebarkan ilmunya pada santri yang lain. Terbaru, karya muridnya berhasil lolos dalam ajang pameran kaligrafi di Museum Sharjah Dubai. “Beberapa bulan lalu saya diminta buat hiasan mushaf di Malaysia,” katanya. 

Jimly juga sudah memiliki murid ditingkat nasional dan internasional. Cara belajarnya secara offline dan online. “Saya sempat meraih juara lima lomba IRCICA di Turki tahun 2016 lalu,” akunya.  

Juara di tingkat  lokal  seperti juara tiga MTQ nasional mahasiswa di UI Jakarta, juara satu kaligrafi dalam festival arobi di Malang. Bahkan, pada 2017 lalu, Jimly mampu meraih juara harapan dua khat naskhi di festival kaligrafi Asean di Jombang. 

Prestasi tersebut bukan hal yang baru. Sebab, sudah meraih puluhan prestasi di bidang kaligrafi. “Sampai lupa ada berapa prestasi,” tutur pria kelahiran 6 Juni 1993 tersebut. 

Dalam belajar kaligrafi, Jimly patut menjadi teladan. Ketelitiannya dalam mengukir huruf membuat karya-karyanya terlihat indah. Baginya, belajar Kaligrafi membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Butuh keuletan dan kesabaran agar bisa menguasainya,” tegasnya. 



Jimly bercerita, awal proses hingga di tingkat  internasional berawal saat dirinya belajar pada seniman dan kaligrafer asal Malang, yakni ustaz Bambang. “Ilmu dari beliau saya bisa ikut pameran ke Algeria,” akunya alumni IKIP PGRI Jember tersebut.

Setelah itu, lanjut dia,  belajar ke beberapa guru lainnya dari luar negeri. Yakni Ustzaz Belaid Hamidi dari Maroko dan ustaza Ehab Thabet Ibrahem dari Palestina. “Semua ilmu dari mereka saya  dapatkan dari pembelajaran  online,” tuturnya. 

Jimly belajar pada ustas Ehab Ibrahem Thabet Palestina sudah mencapai waktu lima  5 tahun. Sampai  sekarang proses pembelajaran kaligrafi masih tetap berlangsung. Karena  belajar tidak boleh berhenti meskipun sudah bias, harus tetap diasah.

Putra dari Suprapto dan Susilatin tersebut juga belajar pada ustad Ehab Ibrahem.padahal, tak mudah untuk menjadi muridnya. Namun Jimly merasa bersyukur bisa menjadi murid ustaz asal Palestina tersebut. “Ini rezeki saya, tak banyak yang dijadikan oleh murid beliau,” ujarnya. 

Jimly menambahkan  dalam belajar kaligrafi, perlu memahami bentuk tiap huruf sehingga memerlukan kesabaran yang ekstra dobel. Namun, ketika sudah memahaminya, belajar kaligrafi tidak akan mudah untuk dilepaskan.  Karena mengetahui seluk beluk rahasia, bentuk dan goresan kaligrafi.


“setiap huruf memiliki rahasia yang berbeda-beda. Rahasia itu akan diketahui jika belajar kaligrafi pada ahlinya,” jelasnya. 


Menurut dia, menulis kaligrafi sama dengan kegiatan seni lainnya. Membutuhkan inspirasi agar bisa dituangkan dalam bentuk karya. Membutuhkan pikiran yang segar. Ketika inspirasi itu datang, maka harus segera dituangkan ke atas kertas agar ide itu tidak hilang. 

 Ide kadang muncul ketika  melihat sesuatu yang indah, unik dan lucu. Bahkan juga datang ketika mendengarkan ayat  Alquran atau hadist. “Kadang juga dari pepatah atau syair arab yang memiliki makna bagus,” ucapnya. 

Sukses dalam meraih prestasi, Jimly membagikan tips belajar kaligrafi.  Pertama,harus sabar. Karena belajar kaligrafi bukan hanya belajar tentang estetika atau keindahan saja. Tetapi juga  belajar melatih kesabaran yang sesungguhnya. “Ketika belajar Alif, harus benar-benar lurus sesuai dengan contoh yang sudah paten,” akunya. 

Kedua, harus berani mencoba meskipun berulang kali salah.  Bisa  menulis kaligrafi karena terbiasa. Ketiga harus istiqomah dan dispilin. “tantangan  hanya melawan kemalasan,” imbuhnya. Malas  sering  menghampiri saat  mood dalam berlatih mulai melemah.

Cara mengatasinya, kata dia,  dengan menyegarkan kembali ide-ide untuk berkarya, misal melihat karya-karya kaligrafi para master. “Sehingga muncul motivasi baru untuk terus berkarya,” tandasnya.
Read More

Dradjad Premadi, Penemu Polamatika Asal Jember

Dradjad Premadi menunjukkan buku polamatika yang dikarangnya sendiri dan sudah tersebar di seluruh nusantara
Sampai sekarang, pelajaran matematika masih menjadi momok sebagian pelajar. Jangankan mengerjakan soalnya. Dengar nama saja tak sedikit siswa yang langsung “alergi.” Merasa prihatin, Dradjad mencari pola baru dalam belajar matematika.


Dradjad Premadi kini banyak diminta untuk menjadi pemateri pelatihan polamatika. Bahkan, dia kerap ke luar pulau, seperti Kalimantan, Aceh,  hingga Papua. Dia diminta melatih para guru dan siswa untuk belajar matematika.

“Ini ada undangan untuk mengisi di Maumere,” katanya. Pria yang akrab disapa Dradjad itu memang ahli di bidang matematika. Dia menemukan solusi yang mudah dan menyenangkan dalam belajar matematika. Memang, sejauh ini banyak pelajar yang menyukai matematika, bahkan masih seperti momok yang menakutkan. Tak heran, seringkali nilai ujian matematika jeblok.

Salah satu penyebabnya karena pembelajaran matematika masih belum menyenangkan. Saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, suasana kelas seperti tegang dan kurang menyenangkan. Para pelajarpun merasa jenuh dan bosan. Materi pelajaran pun sulit ditangkap.

Dradjad merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Pada 2007 silam, dia mencoba mencari jalan keluar. Mencorat-coret kertas dengan angka-angka perkalian. Hasilnya, dia menemukan pola baru dalam belajar menghitung, yakni polamatika.

“Pembelajaran menghitung di SD terlalu lama dipahami,” ucap alumni SMAN 1 Jember tersebut. Polamatika yang ditemukannya ternyata sangat mudah dan menyenangkan. Akhirnya Polamatika itu diajarkan hanya untuk kursus privat siswa SD.

Selanjutnya, polamatika terus berkembang dan diterapkan di tempat kursus di Bogor dan Jakarta. Lalu workshop dan penataran hingga ke berbagai daerah se Indonesia. “Saya tinggal di Bogor untuk menguji penemuan ini, diajarkan disana, selama 2007 hingga 2008,” akunya.

Kemudian, polamatika terus mengalami  perubahan dan penyempurnaan penyampaian materi pada siswa. Awalnya, polamatika mengenalkan metode kolom yang mengubah cara hitung susun. “Kemudian diubah lagi dengan metode L,” ujarnya.


Sekarang, metode yang digunakan dengan 3D, yakni dikte, dengan keras, diulang. Selain itu, polamatika juga menggunakan metode belajar sinergi otak kiri kanan. Metode ini ditemukan oleh Dradjad setelah belajar langsung pada sahabatnya, dari penulis buku psikologi, parenting dan sistem otak unggul. “Metode inilah yang membedakan polamatika dengan metode cepat lainnya,” terang lulusan Universitas Brawijaya ini.


Dia menegaskan melalui metode yang diciptakannya, mampu menghilangkan ketakutan siswa dalam belajar matematika. Bahkan, mereka akan suka dengan matematika selamanya. Hal itu sudah dibuktikan kepada beberapa pelajar. Hasilnya, mereka menjadi suka dengan matematika.

Dradjat menjelaskan, belajar matematika memaksimalkam potensi otak. Manusia memiliki otak yang luar biasa. Menurut dia, otak manusia terdiri dari dua bagian. Yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. “Pikiran bawah sadar memiliki potensi lebih besar dibanding pikiran sadar,” ucapnya.

Hanya saja, banyak orang yang masih belum memanfaatkan potensi pikiran bawah sadar ini. Pikiran bawah sadar bekerja setiap saat merekam mengingat semua hal yang dilakukan. Metode ini memaksimalkan potensi tersebut dalam pembelajaran matematika.

Polamatika sendiri, lanjut dia adalah cara berhitung cepat dan mudah menggunakan pola bilangan. Pola yang digunakan pada pembelajaran awal adalah kolom polamatika. “Dengan polamatika, siswa cukup mengenal satu pola untuk mengerjakan perkalian acak berapapun,” terangnya.

Bahkan, penggunaan pola bilangan itu juga berlaku pada penghitungan pangkat dan akar. Pengunaan polamatika sudah tidak lagi menggunakan cara simpan, seperti yang selama ini digunakan pada perkalian cara bersusun. Penggunaan cara bersusun seringkali menjadikan siswa keliru dalam menempatkan nilai angka ratausan, puluhan dan satuan.


Perbedaan utama polamatika dengan teknik hitung cepat lainnya adalah jika metode lain menggunakan alat peraga, polamatika tidak menggunakannya. Hanya menyederhanakan teknik berhitung saja. “Dengan penyederhanaan ini, siswa menjadi mudah menggunakannya pada operasi hitung,” paparnya.


Dradjad sendiri mengaku bila matematika menjadi pelajaran yang paling disukai ketika masih di bangku sekolah dasar. Ditanya tentang pelajaran yang lain, dia merasa tidak tahu, apalagi bahasa Inggris. “Bisanya cuma matematika,” ujarnya lalu tertawa.

Tak heran, bila dia menemukan pola baru di bidang mata pelajaran ini. Sekarang, dia sudah menulis 17 buku tentang matematika. Dia amat produktif menulis buku matematika  karena menyukainya. “Sayangnya, saya lebih banyak mengisi pelatihan di luar  kota,” tuturnya.

Jember sendiri, lanjut dia, belum banyak yang mengetahui tentang penemuan ini. Namun, dirinya tetap berupaya mengajar polamatika pada para guru dan siswa di Jember.  
Read More

Supandi, Kolektor Ribuan Barang Antik


KOLEKTOR BENDA ANTIK: Supandi saat berada di rumahnya, dengan beberapa radio klasik yang masih bisa diputar.
 
Koleksi benda antik di rumah Supandi tak hanya menjadi barang hias. Namun, sebagai pundi ekonomi. Sebab, barang tersebut diperjual belikan dengan harga yang beragam.

Supandi sedang mendengarkan musik dari radio klasik yang ada di rumahnya. Suara radio itu terdengar kurang jernih. Lalu setelah dipindah mencari frekuensi yang pas, lagu terdengar indah dan nyaring. Padahal, radio itu merupakan radio klasik.
Ada banyak peninggalan radio di rumahnya. Mulai dari radio pada masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan. Semua masih terlihat kokoh. Kesan klasik dalam benda ini sangat kuat. Melihatnya, seperti kembali pada masa tempo dulu.
Tak hanya radio, namun benda-benda klasik lainnya memenuhi ruang tamu Supandi. Bahkan, rumah satunya juga dipenuhi dengan barang antik. Dia mendapatkannya dari berburu ke berbagai tempat di Indonesia.
Mulai dari televisi, telpon kuno, kamera jadul tahun 1930-an dan lainnya. Namun sudah tidak bisa dipakai lagi. Berbeda dengan radio yang sudah diganti mesinnya. “Kalau frekuensi lama AM, sekarang sudah tidak ada. Akhirnya saya ganti alat,” katanya.
Tak hanya itu, berbagai macam  lampu klasik  di gantung di dalam rumahnya. Bahkan memenuhi ruangan. Semua sudut rumah itu penuh dengan barang antik. Jumlahnya sudah tak terhitung, mencapai ribuan.
Barang-barang itu, seperti mesin ketik klasik, mesin jahit, alat timbang jadul disusun dengan rapi dalam sebuah rak. Sesekali, Supandi mengambilnya untuk membersihkan dari debu. Salah satu mesin jahitnya, ada yang dibuat sekitar tahun 1892. Mesin jahit itu , tampak sangat kuno. Sedangkan benda yang lain banyak yang tidak terdeteksi tahun pembuatannya.


Supandi tinggal di Jalan Argopuro Nomor 1 Arjasa. Setiap hari, dia selalu setiap merawat koleksi benda antik tersebut. Mengelap barang-barang tersebut agar makin tetap berkilau. Begitulah rutinitasnya.
Selain itu, dia juga memasarkan barang-barang itu di media online. Bila ada pembeli, dia tak segan menjualnya. Tentu mendapatkan untung. Sebab, harga benda klasik itu tidak murah. Bahkan, semakin antik semakin mahal.
“Radio ini harganya Rp 500 ribu hingga jutaan,” katanya ketika diatanyakan harga. Supandi mulai mengumpulkan barang benda antik sejak tahun 2011 lalu, setelah diringya pensiun dari PNS.
“Padahal awalnya saya benci dengan barang-barang seperti ini,” jelasnya. Sebab, dinilai kurang bermanfaat dan hanya memenuhi ruang rumah. Namun, kecintaan itu bermula saat ada peluang bisnis di dalamnya.
Akhirnya, Supandi tidak hanya sebagai kolektor, namun juga mencari penghasilan dari jual beli barang antik. Barang pertama kali yang dibeli adalah kuningan kecil. Setelah itu, merambat pada barang-barang yang lain.
Bapak  tiga anak itu pun berburu benda antik ke berbagai daerah, mulai dari  Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi hingga ke  Semarang dan Jakarta. Barang    dibelinya, dijual dengan harga yang menguntungkan. 


Pria kelahiran 10 Februari 1955 itu juga mengumpulkan barang antik dari para  pemburu dan pengepul barang antik. Untuk itu, dia tak perlu keliling lagi seperti awal-awal bergerak di kolektor benda klasik.  Ketika ada yang menjual, tingga menghubungi via ponsel.
Selain koleksi benda klasik, Supandi juga memiliki hobi mengumpulkan batu Suiseki. Bahkan sebelum beralih ke benda antik, lebih dulu sebagai kolektor batu tersebut sejak  1982.
Kecintaan Supandi pada benda antic sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Bahkan saat tertarik dengan benda antik, dia tergerak untuk membelinya. Ketertarikan itu membuatnya berangkat jam berapapun untuk membelinya. “Jam 12 malam  berangkat  membeli barang yang ditaksir,” akunya.
Ribuan barang yang didapat oleh Supandi dibeli dari berbagai kalangan. Baik dengan cara mencicil hingga nebas. Seperti kolektor yang meninggal dunia, lalu barangnya di jual semua. “Perawatan benda ini tidak mahal, tak perlu biaya,” tutur pria berkumis tersebut.
Kegiatan itu menjadi penghibur Supandi di masa tuanya. Sebab menjadi terapi kesehatan agar tidak mudah stress. Saat merasa sumpek, dia merawat benda-benda itu dengan senang. “Ini juga bentuk pelestarian benda klasik, mengingatkan pada perjuangan nenek moyang,” pungkasnya.  

Read More