Senin, 23 September 2019

Kiprah Jendela Jember Mendampingi Anak Desa Membaca





Foto-foto karya komunitas Jendela Jember: Relawan komunitas Jendela Jember bersama anak-anak desa Kamal usai kegiatan di balai desa.

Mendampingi anak-anak desa belajar menjadi tantangan tersendiri bagi relawan Komunitas Jendela Jember.  Mereka harus datang ke balai Desa Kamal, Kecamatan Arjasa mengajak anak muda bermain dan membaca bersama.

Mereka tak pernah lelah untuk membudayakan membaca bagi anak-anak. Tak mudah, sebab harus mengedukasi orang tuanya terlebih dahulu. Mereka datangi rumah anak masing-masing. Lalu menjelaskan tujuan relawan komunitas Jendela Jember datang ke desa tersebut.

Ada orang tua yang merespon dengan baik. Ada juga yang sebaliknya. Bila orang tua setuju, anaknya diperbolehkan untuk bermain dan belajar bersama di balas desa Kamal. Dua minggu sekali mereka belajar bersama didampingi para relawan.

Mayoritas anak-anak di Desa Kamal Kecamatan Arjasa merupakan anak petani dan buruh. 30 persen ibu mereka bekerja di industri cerutu bobbin. Akibatnya, waktu untuk mendampingi anak terbatas, bahkan tidak pernah.
  

Anak-anak desa Kamal mulai membudayakan kegiatan membaca bersama relawan komunitas jendela Jember

Pendampingan belajar anak memang rendah karena kesibukan orang tua. Ditambah  pengetahuan orang tua dalam mendidik yang terbatas. Terkesan, anak dibiarkan belajar tanpa terarah. Dampaknya, banyak pemuda Desa Kamal putus sekolah dan menjadi pengangguran, lalu merantau ke Bali.

“Mayoritas warga sini sebagai petani, ada yang pelihara sapi, tukang dan lainnya,” kata  Kusno, fasilitator Komunitas Jendela Jember. Anak-anak desa belajar seperlunya, dengan keterbatasan buku bacaan dan motivasi yang kurang.

Kedatangan komunitas Jendela Jember membawa angin segar agar anak-anak desa Kamal lebih baik dari sebelumnya. Yakni mendampingi mereka belajar dan memotivasi agar menjadi generasi yang membanggakan. Setiap dua minggu sekali, mereka datang mendampingi anak-anak untuk belajar di balai Desa Kamal.

“Jendela jember sudah ada sejak tahun 2013 lalu,” kata pendiri komunitas, Marisa Latifa.  Semangat untuk mendidik anak di daerah pedesaan tetap ada hingga sekarang, banyak kegiatan dilakukan untuk membudayakan membaca anak-anak desa.

Tak hanya membaca, anak-anak juga belajar tentang sains di desa mereka

Mereka datang ke Desa Kamal dan memberikan informasi pada orang tua, jika komunitas yang didirikannya akan mendampingi anak belajar. Seperti bermain, membaca dan memberikan materi menarik dan mendidik. “Awalnya ada
orang tua yang ragu pada kami, ada juga yang mengantarkan anaknya,” akunya.

Desa Kamal dipilih karena merupakan desa yang kaya dengan  peninggalan bersejarah. Disana terdapat  situs duplang yang berisi batu kenong dan batu menhir. “Mayoritas ibu dari anak-anak desa ini  petani dan buruh.  Perlu  pendampingan agar masa depan anak lebih cerah,” tambahnya..

Jendela Jember ingin menciptakan iklim dan kebiasaan anak-anak yang memiliki kemandirian membaca. Sebab, ia adalah pintu utama pengetahuan.  Membaca  bukan hal yang mudah jika tidak dibiasakan oleh anak-anak.

Komunitas ini  bergerak agar kesadaran literasi terus meningkat. “Pada hari Minggu, relawan datang kesana dan memberikan materi,  menjelaskan tentang sains, budaya dan lainnya,” tuturnya.

Setelah itu, anak-anak diajak untuk bermain, lalu membaca buku-buku yang sudah disediakan. Jika tidak didampingi, anak-anak sulit untuk menyelesaikan buku bacaan sampai tuntas. Misal buku ensikopedia, buku dongeng dan lainnya.

Belajar dan bermain menjadi satu paket yang tak terpisahkan dalam kegiatan anak anak Desa Kamal

Pendampingan anak-anak dilakukan mulai pukul 08.00 WIB pagi sampai jam 12.00 WIB siang. Setelah itu, mereka pulang kembali ke rumah masing-masing. Namun, perpustakaan tetap terbuka di rumah fasilitator.

Pendampingan anak-anak desa itu diharapkan tidak dilakukan oleh para relawan. Namun diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi orang tua masing-masing agar mendampingi anaknya belajar. Penguatan terhadap orang tua masih belum bisa dilakukan oleh komunitas, karena fokus pada anak-anak.




EmoticonEmoticon