Selasa, 24 September 2019

Dulu Ngerumpi, Kini Dampingi Anak Membaca


Foto karya Siti Waqiah: Beberapa anak yang belajar di komunitas rumah pintar di Perumahan Dharma Alam Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates.

Biasanya, para perempuan rumah tangga kalau sedang berkumpul, sukanya ngerumpi di teras rumah. Namun, tak semua ngerumpi itu negatif. Sebab ada ibu-ibu yang memberikakan inspirasi. Dari ngerumpi, mereka mendirikan komunitas teras pintar.  Wadah untuk mendampingi anak belajar, membaca dan bermain.

Namanya teras pintar. Namun bukan teras yang ada di depan rumah. Tapi gedung khusus yang ada di perumahan  Perumahan Dharma Alam, Kelurahan Sempusari, Kaliwates Kabupaten Jember. Gedung teras pintar ini menjadi pusat kegiatan para ibu rumah tangga. 

Seperti yang tampak pada Selasa pagi lalu, Siti Waqiah mendampingi dua anaknya, Aftarana Hafidz dan Azkayana Hafidz belajar di Teras Pintar. Tak hanya melihat, tapi juga mengarahkan anak-anak agar kreatif. 

Dia tak sendiri, namun bersama ibu rumah tangga lainnya di Perumahan tersebut.   Di sana, anak-anak yang masih berusia di bawah lima tahun berkumpul setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. 




Selain bermain bersama, juga belajar membaca, menulis, berdoa, dan berbagi pengalaman. “Ibunya wajib mendampingi anak agar tahu perkembangan anaknya,” kata Siti Waqiah yang merupakan pendiri Komunitas Teras Pintar.

Teras Pintar bermula dari obrolan para ibu rumah tangga saat selesai memasak. Di rumah Siti Waqiah, mereka ngerumpi tentang apa saja yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengasuh, mendidik anak, atau hal sederhana seperti menu masakan.

Dari perkumpulan itulah, ada kegelisahan bersama untuk saling berbagi pengalaman. Sebab, mereka merupakan perempuan yang menempuh pendidikan tinggi. Ada yang sarjana strata satu, magister, dan lainnya. Namun, ketika menjadi ibu rumah tangga, ilmu yang diperoleh seakan nganggur.

Memilih menjadi ibu rumah tangga bukan keputusan yang mudah. Sebab, banyak hal yang dipertaruhkan, terutama karir. Mendidik anak menjadi orang baik memang sulit, namun bisa dicapai dengan kebersamaan.

Akhirnya aktivitas ngerumpi itu diarahkan pada kegiatan yang lebih positif. Yakni mendirikan Komunitas Teras Pintar, wadah penguatan edukasi bagi ibu dan anak. 

Dari teras rumah Waqiah, mereka pindah ke gudang perumahan. “Kami ingin memaksimalkan waktu di rumah sambil mendidik anak,” ucap perempuan kelahiran 23 Oktober 1975 itu. 



Setelah berdiri, sejumlah warga perumahan yang sebelumnya banyak yang tidak saling kenal mulai berdatangan ke Teras Pintar. Awalnya tidak saling kenal, sekarang membaur setiap tiga kali seminggu. 

Sebelumnya, warga perumahan yang jaraknya cukup jauh selalu sibuk di rumah sendiri. Tak ada pembicaraan yang akrab dan hanya tegur sapa ketika berpapasan. “Hidup di perumahan terkesan individualis,” ujarnya.

Padahal, ketika mereka sudah berkumpul, banyak permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan sehari-hari. Seperti anak yang susah makan, malas belajar dan lainnya. Di Teras Pintar itu mereka saling bercerita dan memberikan solusi.
 
“Di sini meskipun ibu rumah tangga, ada yang lulusan pendidikan agama, umum, teknologi, dan lainnya,” ucapnya. setiap ibu rumah tangga memiliki kemampuan tersendiri untuk dibagikan pada yang lain.


Banyak aktivitas yang dilakukan para ibu rumah tangga beserta anaknya itu agar sang buah hati memiliki karakter, terampil, dan menjadi anak saleh. Mengajarkan anak agar gemar membaca, kreatif dan aktif. 

Setiap Selasa pukul 08.00, mereka datang dan berkumpul dengan muka ceria. Selesai membaca doa, dilanjutkan dengan belajar bersama, seperti mewarnai, menyusun angka, membaca, menulis, dan banyak media permainan lainnya. Bahkan, media yang dipakai dari daur ulang, seperti tutup botol, kertas kardus, jepit rambut dan yang lain. 

Leny Marinda, anggota  komunitas  menambahkan par aibu harus ikut saat membawa anaknya ke Teras Pintar. Tujuannya, agar ketika ibu mengajar sang anak, mereka bisa menjadi idola, bukan orang lain. “Misalnya anak bisa berdoa karena orang tua, bukan dari sekolah, itu sangat membahagiakan,” paparnya.


Menurut dia orang tua tak perlu terburu-buru agar anaknya bisa segera membaca atau menghitung. Namun, harus mempersiapkan mental dan kemampuan anak. Di Teras Pintar, hal itu dipahamkan kepada para ibu yang lain.  

Meskipun hanya berlangsung dua jam per pertemuan, komunitas itu mampu memberikan kesadaran pada ibu rumah tangga tentang penting berbagi pengalaman mendidik anak. Tak hanya itu, juga saling menguatkan dan mendorong kemajuan yang lain. “Sebelum ada komunitas, jarang ada warga perumahan yang kenal akrab,” ujar ibu dua anak tersebut.

 Para pengurus Komunitas Teras Pintar juga terus mengembangkan kegiatan yang lain. Seperti, belajar menari bagi anak-anak yang sudah berumur di atas lima tahun. Lalu, menyediakan taman baca dan menyelenggarakan even tahunan, seperti lomba mendongeng.

Tak hanya itu, mereka juga meningkatkan peran ibu rumah tangga dalam berbagai bidang. Mulai dari pemahaman tentang hukum, kesehatan dan pendidikan. Caranya, mendatangkan narasumber yang berkompeten untuk berbagi. 

Semangat Teras Pintar untuk memaksimalkan peran ibu rumah tangga dalam mendidik anak mendapat apresiasi. Semakin lama, banyak warga perumahan yang datang membawa anaknya. Mendampingi sang buah hati belajar dan membentuk karakter yang baik.



EmoticonEmoticon