Langsung ke konten utama

Bersahabat dengan Alam, Merawat Kehidupan

Foto diambil dari https://pixabay.com/id/photos/tangan-bumi-generasi-berikutnya-4086849/
“Barusan ada gempa ya, kok kasur bergerak,”  kata Hakam padaku.

“Iya, cukup kuat, namun sebentar,” jawabku.

Lalu, kabar tentang gempa bertebaran melalui media sosial, whatsapp, twitter hingga facebook. Semua terasa kaget dan bertanya-tanya. Apakah gempa betulan, atau sekedar angin lalu. Grup whatsap Wong Jember Peduli Bencana (WJPB) yang ku ikuti pun ramai membahasnya.

Aku melihat kepastian  gempa ini dengan melihat langsung akun twitter Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB). Rupanya, gempa ini hampir terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur dan Bali. Memang tidak besar, tapi cukup mengagetkan.

Gempa mulai sering terjadi dan mengagetkan banyak orang. Terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai yang berpotensi terjadi tsunami. Mereka khawatir setelah ada gempa, disusul oleh bencana tsunami.

“Bumi sudah tua, wajar  kalau sering terjadi gempa,” kataku menafisiri gempa yang terjadi.

“Bukan, manusia sudah banyak yang maksiat, akhirnya banyak bencana,” tambah Hakam.

“Manusia sudah pada lalai, tak mampu menjadi khalifah,”  balasku

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Itulah yang harus dilakukan oleh penghuni bumi hari ini.  Semakin  lama, bumi semakin rusak. Alam semakin rapuh karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.  Tak heran, bencana terus berdatangan.

Pohon ditebang, dibakar hingga menimbulkan kebakaran dan banjir. Semua bencana itu karena manusia lalai untuk menjalankan tugasnya sebagai pemimpin alam semesta. Mengelola alam sebaik mungkin.

“Saat kita menyelamatkan bumi, berarti kita menyelamatkan diri sendiri,” kata David Orr,  ahli lingkungan di Universitas Oberlin.  Perkataan tersebut merupakan gambaran agar manusia menjadikan alam sebagai sahabat, tempat berlindung dan menjaga kehidupan.

foto diambil dari https://pixabay.com/id/photos/ekologi-dunia-musim-panas-kehidupan-4287428/

Merawat alam, sejatinya merawat diri sendiri. Alam rusak, maka kehidupan akan musnah. Bencana alam yang  kerap terjadi  harus menjadi perhatian serius. Ia merupakan tanggung jawab semua manusia. Tak pandang bulu, baik generasi muda, tua, pejabat, miskin maupun kaya.

Bencana terjadi karena tiga hal. Pertama, kesengajaan atas pilihan manusia. Tragedi   kemanusiaan yang ditimbulkan oleh manusia sendiri, ketiga  murni  bencana alam karena ketidakpedulian manusia terhadap kondisi alam.

Lalu, bagaimana cara kita merawat alam? Jawabannya sederhana namun tak mudah diterapkan. Butuh kemauan yang kuat dan ketelatenan untuk melestarikan alam ini.

Pertama, kita bisa memulainya dari diri sendiri dan dari lingkungan sekitar. Misal, menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sebab, bisa menyebabkan banjir. Hal ini sudah kerap terjadi. Cukuplah bencana yang sudah terjadi menjadi peringatan.

Kedua, turut menjaga pepohonan agar tidak ditebang sembarangan. Sebab akan menimbulkan bencana longsor, banjir dan kekeringan. Ketiga, kepedulian terhadap alam ditunjukkan dengan perbuatan. Misal, menanam pohon atau melakukan penghijauan.

Keempat, bergabung dengan komunitas yang peduli terhadap lingkungan. Ikut mengkampanyekan kepedulian lingkungan pada masyarakat. Ikut mengajari warga sadar terhadap bencana yang mengintai.

Empat hal itu begitu sederhana, namun bila dilakukan secara kontinyu, akan mampu mewujudkan perubahan dalam merawat lingkungan. Untuk itu, mulailah dulu dari dirimu sendiri dan dari hal terkecil.

Waspada, Indonesia Negeri Bencana

Berdasarkan data BNPB, Indonesia merupakan negara dengan jumlah 129 gunung aktif dan 5.590 daerah aliran sungai. Hal ini berpotensi terjadi bencana tsunami, banjir, longsor, letusan gunung berapi.

Foto diambil dari https://pixabay.com/id/photos/api-asap-matahari-terbenam-merah-1265718/

Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) BNPB menyebut antara tahun 2005 hingga 2015, Indonesia mengalami lebih dari 15.400 kejadian yang terdiri dari 78 persen atau 11.648 bencana hidrometeorologis. Mulai dari banjir, gelombang ekstrim, kebakaran hutan dan lahan kekeringan dan cuaca ekstrem.

22 persennya, atau 3.810 kejadian bencana geologis seperti gempa bumi, longsor, tsunami dan letusan gunung berapi. Untuk itu, Kesadaran  dan pemahaman tentang kebencanaan perlu dibangun sejak dini. Terutama masyarakat  yang  tinggal di lingkungan yang berpotensi terjadi bencana.

Misal, ketika terjadi gempa bumi, kenali dulu tempat yang aman untuk berlindung agar terhindari dari reruntuhan. Saat terjadi gempa bumi, jangan lari atau keluar ruangan. Tetapi lindungi kepala di tempat aman, seperti dibawah meja.

Begitu juga ketika terjadi tsunami, hal yang perlu dipersiapkan seperti mengenali tanda-tandanya. Bisa diawali dengan gempa. Memastikan informasi yang benar dari siaran BMKG di televisi atau radio. Bila benar terjadi, segera evakuasi ke tempat yang aman.

Mitigasi berbagai bencana harus diketahui agar masyarakat siap menghadapi bencana yang tidak diketahui waktunya dan lokasinya. Setiap saat, manusia harus waspada karena selalu terancam dengan bencana yang mengintai. Ancaman itu akan terasa ringan bila mengetahui cara menghadapinya. Kenali bahayanya, siapkan strategi, siap untuk selamat.

Upaya menjadikan kehidupan yang harmonis antara masyarakat dan bencana harus dilakukan. Misal,  mengurangi resiko bencana  melalui  kearifan lokal. Seperti mendirikan rumah adat yang  tahan bencana. Selain itu, pemerintah perlu  membuat peraturan tentang tata letak pemukiman warga yang berada di kawasan pinggir pantai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rapat Membahas Virus Corona 19 Tertutup, Ternyata Dua Warga Jember Pasien dalam Pengawasan

Dua warga Jember dengan status pasien dalam pengawasan virus corona 19.  16 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP), 242 berstatus Orang Dengan resiko (ODR)
MASJIWO.COM – Selasa (17/3/2020) sekitar pukul 11.00 WIB, saya tiba di ruang komisi C DPRD Jember. Saya kaget, ternyata rapat dengar pendapat antara Komisi C, Dinas Kesehatan dan para pengelola rumah sakit dilakukan tertutup.

Awalnya, pelaksaan rapat itu terbuka, namun karena ada permintaan off the record, ruangrapat ditutup. Ada apa?
Saya bertanya, pembahasan apa yang tidak tersampaikan tersebut. Setelah selesai rapat, saya mendatangi kepala dinas kesehatan Jember Dyah Kusworini. Saya dan teman-teman jurnalis melakukan wawancara tentang hasil rapat tersebut
Ternyata..
Jumlah warga dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona 19 di RSD dr Soebandi Jember mencapai tiga orang. Satu orang sudah dilakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel tes uji virus corona, hasilnya negatif. Sedangkan dua orang lainnya masih dilakuk…

Isu Tenggelam Karena Covid-19, 300 Warga Jember Menderita DBD, Dua Meninggal Dunia

300 warga Jember menderita penyakit DBD. Dua diantaranya meninggal dunia karena terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. 
MASJIWO.com –  Virus corona 19 memang memenuhi pemberitaan di berbagai Negara, tak terkecuali Indonesia. Membaca berita daring dipenuhi dengan kata-kata corona 19, menonton televisi berita tentang corona, membaca pesan di whatsapp pun corona.
Lalu, bagaimana dengan penyakit lain yang mengancam nyawa manusia. Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak kemarin, saya bertanya, berapa jumlah penderita penyakit ini. Saya kirim pesan pada Kepala DInas Kesehatan Jember Dyah Kusworini, namun tak dibalas.

Lalu, pada Selasa (17/3/2020), saya berhasil mewawancarainya di DPRD Jember.
Faktanya..
300 warga Jember menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, dua diantaranya sudah meninggal dunia. Jumlah penderita DBD itutercatat sejak Januari 2020sampai sekarang. “Jumlah itu masih dibawah grafik maksimal yang pernah ada, separuhnya,” kata Kepala Dinas Kesehata…

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…