Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2019

Kenalkan Watu Ulo dan Pegon Melalui Vlog dan Blog

Pegon menjadi magnet tersendiri untuk mendatangkan para wisatawan ke Jember. Alat transportasi tradisional ini memang unik. Tak heran, para vlogger dan blogger datang untuk merekamnya.
Parsiono, warga Dusun Brego Lor, Desa Sumberejo, tampak ceria di atas pegon-nya. Dia membawa beberapa saudaranya untuk berkunjung ke pantai Watu Ulo. Biasanya, pegon tersebut digunakan untuk mengangkut material bangunan, seperti batu bata, kayu, hingga pasir.
Tak seperti biasanya, Pantai Watu Ulo dipenuhi oleh warga pada Minggu, 23 Juni 2019 lalu. Bukan hanya warga Kecamatan Ambulu, namun juga para wisatawan, blogger, vlogger, hingga fotografer datang ke pantai yang menjadi ikon Kabupaten Jember ini. Mereka menyaksikan festival Watu Ulo Pegon 2019.

Ada sekitar 58 pegon atau cikar yang ikut dalam festival tersebut. Pegon denganhiasan terbaik akan mendapatkan hadiah kambing. Tak ayal, para pemilik pegon itu pun berlomba-lomba menghias alat transportasinya. Ada yang diberi hiasan janur kuning, ada yang d…

Dulu Ngerumpi, Kini Dampingi Anak Membaca

Biasanya, para perempuan rumah tangga kalau sedang berkumpul, sukanya ngerumpi di teras rumah. Namun, tak semua ngerumpi itu negatif. Sebab ada ibu-ibu yang memberikakan inspirasi. Dari ngerumpi, mereka mendirikan komunitas teras pintar. Wadah untuk mendampingi anak belajar, membaca dan bermain.
Namanya teras pintar. Namun bukan teras yang ada di depan rumah. Tapi gedung khusus yang ada di perumahan Perumahan Dharma Alam, Kelurahan Sempusari, Kaliwates Kabupaten Jember. Gedung teras pintar ini menjadi pusat kegiatan para ibu rumah tangga. 
Seperti yang tampak pada Selasa pagi lalu, Siti Waqiah mendampingi dua anaknya, Aftarana Hafidz dan Azkayana Hafidz belajar di Teras Pintar. Tak hanya melihat, tapi juga mengarahkan anak-anak agar kreatif. 
Dia tak sendiri, namun bersama ibu rumah tangga lainnya di Perumahan tersebut. Disana, anak-anak yang masih berusia dibawah lima tahun berkumpul setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis. 

Kiprah Jendela Jember Mendampingi Anak Desa Membaca

Mendampingi anak-anak desa belajar menjadi tantangan tersendiri bagi relawan Komunitas Jendela Jember.Mereka harus datang ke balai Desa Kamal, Kecamatan Arjasa mengajak anak muda bermain dan membaca bersama.
Mereka tak pernah lelah untuk membudayakan membaca bagi anak-anak. Tak mudah, sebab harus mengedukasi orang tuanya terlebih dahulu. Mereka datangi rumah anak masing-masing. Lalu menjelaskan tujuan relawan komunitas Jendela Jember datang ke desa tersebut.
Ada orang tua yang merespon dengan baik. Ada juga yang sebaliknya. Bila orang tua setuju, anaknya diperbolehkan untuk bermain dan belajar bersama di balas desa Kamal. Dua minggu sekali mereka belajar bersama didampingi para relawan.
Mayoritas anak-anak di Desa Kamal Kecamatan Arjasa merupakan anak petani dan buruh. 30 persen ibu mereka bekerja di industri cerutu bobbin. Akibatnya, waktu untuk mendampingi anak terbatas, bahkan tidak pernah.

Pendampingan belajar anak memang rendah karena kesibukan orang tua. Ditambahpengetahuan orang …

Bersahabat dengan Alam, Merawat Kehidupan

“Barusan ada gempa ya, kok kasur bergerak,” kata Hakam padaku.

“Iya, cukup kuat, namun sebentar,” jawabku.
Lalu, kabar tentang gempa bertebaran melalui media sosial, whatsapp, twitter hingga facebook. Semua terasa kaget dan bertanya-tanya. Apakah gempa betulan, atau sekedar angin lalu. Grup whatsap Wong Jember Peduli Bencana (WJPB) yang ku ikuti pun ramai membahasnya.
Aku melihat kepastian gempa ini dengan melihat langsung akun twitter Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB). Rupanya, gempa ini hampir terjadi di beberapa daerah di Jawa Timur dan Bali. Memang tidak besar, tapi cukup mengagetkan.
Gempa mulai sering terjadi dan mengagetkan banyak orang. Terutama yang tinggal di kawasan pesisir pantai yang berpotensi terjadi tsunami. Mereka khawatir setelah ada gempa, disusul oleh bencana tsunami.
“Bumi sudah tua, wajarkalau sering terjadi gempa,” kataku menafisiri gempa yang terjadi.
“Bukan, manusia sudah banyak yang maksiat, akhirnya banyak bencana,” tambah Hakam.
“Manusia sudah pada la…