Langsung ke konten utama

Membangun Budaya Literasi Berbasis Komunitas



MELESTARIKAN TRADISI:Anak-anak pinggir kali bedadung saat menampilkan pementasan reog ponorogo mini 

      Taman baca, rumah baca, kampung baca, rumah belajar, rumah bermain, apapun namanya, terus bermunculan di Kabupaten Jember. Tak hanya di kawasan perkotaan, namun juga pedesaan. Mereka rela menyumbangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk literasi masyarakat.

    Buku-buku yang tersusun dengan rapi memberikan kesegaran pikiran. Seperti mata yang membutuhkan alam hijau untuk dilihat, otak membutuhkan tumpukan buku untuk dibaca. Bagiku, mereka yang berupaya mengumpulkan buku, sudah menciptakan wisata literasi.

     Apalagi, tumpukan buku itu tersedia di tempat yang menyatu dengan alam. Ada pepohonan, sungai mengalir hingga riuh anak-anak yang membaca dan bermain. Sepertinya lengkap, tak perlu jauh-jauh mencari hiburan. Cukup berkunjung ke wisata literasi ini.

         Pikiran begitu segar, hati terasa tenang..

Rumah Baca di Pinggir Kali Bedadung 

       Minggu pagi, aku berkunjung ke rumah belajar dan bermain Untukmu Si Kecil (USK) pinggir kali bedadung. Tempat ini dididirikan oleh Budayawan Jember, Almarhum Prof Ayu Sutarto. Lokasinya berada di tengah kota, yakni di  Jalan Sumatra V Sumbersari, tepat di pinggir Sungai Bedadung.



         Disana, ada perpustakaan dengan koleksi buku yang sangat banyak, mencapai ribuan, bukunya untuk berbagai kalangan. Tak hanya anak-anak, namun juga bagi masyarakat luas. Di sebelah barat, ada ruang khusus bagi anak-anak untuk membaca, ada musala, dan gudang tempat menyimpan alat permainan.

         Aku masuk, menyeduh kopi yang tersedia di dalam. Lalu memilih buku yang hendak ku baca. Setelah menemukannya, aku bawa kopi dan buku itu keluar, ku baca di tempat terbuka, tepat dipinggir sungai bedadung.

       Sementara anak-anak USK tetap aktif dengan berbagai pilihan permainan yang tersedia. Mulai dari holahop, dakon, ular tangga internet sehat dan lainnya. Ada juga yang memilih membaca, menggambar hingga mendongeng. 

BELAJAR MELUKIS: Salah satu aktivitas anak-anak yang bermain di USK, belajar melukis
           Hati mereka riang, saling berkomunikasi antar sesama teman. Saling bergurau, saling mengingatkan dan memberi tau yang lain. Mereka belajar banyak hal, tak hanya lilterasi dasar, namun juga literasi digital, budaya dan lainnya.
           Anak-anak yang bermain itu ada yang didampingi orang tuanya. Sebab, rumah belajar dan bermain USK tak lagi hanya untuk anak-anak pinggir kali bedadung. Namun warga dari kecamatan lain juga membawa anaknya untuk bermain. Mencari tempat agar sang anak bisa bersosialisasi. 

Almarhum Prof Ayu Sutarto mendirikan rumah belajar dan bermain USK pada tahun 1998 lalu. Awalnya ingin berbuat sesuatu yang kecil bagi komunitas pinggir kali bedadung. Yakni dengan memberikan kursus bahasa Inggris dan matematika. Kemudian, berkembang pada perpustakaan hingga permainan tradisional.
Permainan tradisional itu mengasah kepekaan sosial anak-anak. Belajar bersosialisasi, berkomunikasi, bekerjasama, saling menghargai dan lainnya. Karakter itu ingin ditanamkan melalui permainan yang menyenangkan.

           Diberi nama USK karena untuk anak kecil. Yaitu anaknya orang kecil, yang berpendidikan kecil, punya rezeki kecil, tapi memiliki mimpi yang besar. Melalui wadah itu,  anak-anak tukang becak, tukang bangunan dan pembantu rumah tangga bisa merubah nasibnya menjadi lebih baik. 


MEMBATIK: Anak-anak pinggir kali bedadung belajar membatik

Sampai sekarang, rumah belajar dan bermain ini terus eksis di tengah masyarakat.  Dilanjutkan oleh keluarga pendiri bersama relawan. Kehadirannya tak hanya untuk anak-anak. Namun juga mampu merubah pola pikir orang tua tentang pendidikan. Menciptakan budaya literasi warga sekitar.

Dulu, anak-anak pinggir kali bedadung hanya menyelesaikan sekolah tingkat SD saja. Namun, sekarang mereka belajar hingga di perguruan tinggi. Orang tua mereka semakin peduli pada proses belajar anaknya. Selain itu, USK juga diberi amanah untuk mengembangkan kampung literasi sejak 2017 lalu. 

Tugasnya, membina lingkungan sekitar agar melek literasi. Berbagai kegiatan dilakukan, seperti membuka lapak buku di alun-alun Jember pada hari Minggu agar dibaca oleh masyarakat. Kemudian, juga membentuk perpustakaan di kantor Kelurahan Sumbersari. Harapannya, orang yang sedang antri bisa ikut menghabiskan waktunya dengan membaca.  


BERMAIN BERSAMA: Anak-anak tanoker bermain egrang dan permainan musik jimbe

Kampung Bermain Bagi Anak Buruh Migran

Selanjutnya, wisata literasi yang ku datangi adalah rumah belajar dan bermain Tanoker. Tempat ini berada di Desa/Kecamatan Ledokombo. Jarak dari kota sekitar 26 kilometer dengan waktu perjalanan 49 menit. Lokasinya berada di kawasan pedesaan, tepat di kaki bukit. 





Disana, aku ditemui oleh  Ciciek Farha dan Suporahardjo, pendiri Tanoker. Anak-anak sedang bermain. Terutama permainan egrang yang menjadi ikon komuntas tanoker. Selain itu, ada juga yang menggambar egrang dan membaca buku. Tempat ini juga menyediakan berbagai bahan bacaan bagi anak-anak. 

Tanoker   berawal dari tiga egrang yang dimainkan oleh anak-anak di kaki bukit Ledokombo  2009 lalu. Tiga alat permainan tradisional itu menjadi magnet bagi anak-anak desa. Mereka berdatangan ke rumah Ciciek  ingin bermain. 
Tanoker merupakan bahasa Madura dari Kepompong. Dibalik nama itu adalah untuk menjadi kupu-kupu yang indah harus bersusah payah, berproses dulu.
      Darisanalah, Ciciek  membentuk rumah belajar dan bermain Tanoker. Wadah  untuk bermain dan belajar yang menjadi satu paket. Bermain yang mencerdaskan, belajar yang menyenangkan.   


ULAR TANGGA MENCERDASKAN: Anak-anak tanoker saat bermain ular tangga internet sehat bersama relawan teknologi informasi dan komunikasi (RTIK) Jember


 Wadah ini menfasilitasi  anak yang  ditinggal keluarganya menjadi buruh migran. Sebab, banyak persoalan  yang muncul. Mulai dari pergaulan bebas, narkoba hingga minuman keras. Maklum, mereka ditinggal ibunya menjadi TKI di luar negeri. 

Tanoker mengajak anak-anak itu bermain dan belajar bersama. Membaca, menulis dan melestarikan permainan tradisional. Pelan tapi pasti, perubahan mulai terasa pada anak-anak. Mereka bangkit untuk menjadi lebih baik.

Kebangkitan itu diikuti oleh keluarga anak-anak buruh migran. Budaya literasi merambah pada masyarakat sekitar. Keluarga mulai ikut tergerak untuk menjadi agen literasi di Ledokombo. Mereka dilatih cara mendidik anak dengan baik melalui sekolah buk-ibu, sekolah pak bapak dan sekolah eyang. 


SERU-SERUAN: Anak-anak saat bermain di lapangan Polo Lumpur Tanoker

Sekarang, anak-anak tumbuh dengan cerdas dan berkarakter. Orang tua dan lingkungan sekitar peduli dengan anak-anak. Pengasuhan anak buruh migran itu dilakukan secara bersama. 

Memasyarakatkan literasi, Meliterasikan Masyarakat


Sebagian orang menilai  literasi itu hanya membaca dan menulis saja. Namun lebih dari itu. Ada literasi baca tulis, literasi digital, literasi budaya dan kewarganegaraan, literasi numerasi, literasi finansial, hingga literasi sains. Dua rumah belajar dan bermain diatas mengenalkan semua literasi itu. Tak hanya pada anak-anak, namun juga pada keluarga dan lingkungan sekitar.

Kegiatan itu turut menurunkan angka buta aksara di Indonesia. Berdasarkan laporan kompas.com, Kemdikbud RI berkomitmen menurunkan angka buta aksara Indoenesia. Data dari BPS dan pusat dat dan statistik pendidikan dan kebudayaan Kemdikbud, ada 97,93 persen warga yang sudah berhasil diberaksarakan. Tinggal 2,07 persen atau 3.387.035 jiwa yang belum melek aksara.

Kemdikbud RI  terus mengembangkan budaya literasi untuk menuju peradaban bangsa yang tinggi. Yakni melalui enam literasi dasar yang sudah disepakati oleh forum ekonomi dunia tahun 2015 lalu. Upaya yang dilakukan melalui gerakan literasi nasional.

Berdasarkan pengertian dari Kemdikbud, Literasi baca tulis dimaknai sebagai kemampuan memahami isi teks tertulis, baik yang tersirat maupun tersurat dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri. Kemampuan menuangakan gagasan dan ide ke dalam tulisan dengan susunan yang baik untuk berpatisipasi di lingkungan sosial.

Infografis diambil dari situs http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/infografis-literasi-baca-tulis/

Literasi numerasi, kecakapan menggunakan berbagai angka dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari. Literasi sains kecakapan memahami fenomena alam dan sosial disekitar kita.

Literasi finansial adalah pengetahun dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep, risiko, keterampilan dan motivasi dalam konteks finansial.  Literasi digital kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi.

Literasi budaya dan kewargaan adalah memadukan barang, tempat atau tarian yang mengandung unsur kebudayaan. Tujuannya memperkaya pengetahuan tentang ragam jenis kekayaan budaya yang ada di Indonesia.

Infografis diambil dari situs http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/infografis-literasi-baca-tulis/

Di USK, literasi baca tulis diajarkan dengan menyediakan berbagai buku bacaan untuk anak-anak segala umur. literasi numerasi diperoleh dengan mengikuti kursus matematika. Literasi digital dengan menggandeng relawan Teknologi  informatika dan komunikasi dengan bermain ular tangga sehat. Literasi budaya dan kewarganegaraan melalui permainan tradisional.
Begitu juga dengan yang dilakukan di rumah belajar dan bermain tanoker. Tanoker tak hanya menyediakan bahan bacaan bagi anak-anak. Tetapi juga menyediakan sarana bermain yang menyenangkan dan mencerdaskan.

        Uang yang dikirim oleh orang tuanya dari luar negeri ditabung sebagai tabungan pendidikan. Anak-anak diajarkan untuk menjaga perdamaian melalui permainan egrang. Menjaga keseimbangan hidup, mencintai tanah air. 

USK maupun Tanoker merupakan salah satu potret perkembangan literasi yang muncul dari keluarga dan masyarayakat. Mereka saling berkolaborasi untuk memberikan wadah bagi anak-anak. menciptakan budaya literasi di tengah masyarakat. 

Muncul Rasa Kepemilikan dan Kepedulian

Dua wisata literasi ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap pembangunan pendidikan. Warga sekitar merasa memiliki dan peduli terhadap rumah belajar dan bermain. Mereka tak hanya menjadi penonton, namun terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. 

Di rumah belajar dan bermain USK, warga sekitar tak lagai apatis dengan dunia pendidikan. Meskipun mereka hanya lulusan SD, bahkan tidak tamat, namun mereka ingin anaknya terus melanjutkan studi hingga ke perguruan tinggi.

BELAJAR KELOMPOK: Mengasah kemampuan bekerjasama, bersosialisasi dan berkomunikasi dengan sesama

Begitu juga dengan rumah belajar dan bermain Tanoker. Masyarakat desa memiliki kepedulian besar terhadap dunia pendidikan. Mereka mau belajar dan terlibat langsung dalam mendampingi anak-anak buruh migran belajar.

Tak hanya membaca dan menulis, namun juga penggunaan gawai yang sehat, memberikan pangan sehat, melestarikan permainan tradisional, menebar perdamaian hingga mengasuk anak-anak secara besama. Bagi mereka, anak-anak buruh migran adalah anak mereka sendiri.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rapat Membahas Virus Corona 19 Tertutup, Ternyata Dua Warga Jember Pasien dalam Pengawasan

Dua warga Jember dengan status pasien dalam pengawasan virus corona 19.  16 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP), 242 berstatus Orang Dengan resiko (ODR)
MASJIWO.COM – Selasa (17/3/2020) sekitar pukul 11.00 WIB, saya tiba di ruang komisi C DPRD Jember. Saya kaget, ternyata rapat dengar pendapat antara Komisi C, Dinas Kesehatan dan para pengelola rumah sakit dilakukan tertutup.

Awalnya, pelaksaan rapat itu terbuka, namun karena ada permintaan off the record, ruangrapat ditutup. Ada apa?
Saya bertanya, pembahasan apa yang tidak tersampaikan tersebut. Setelah selesai rapat, saya mendatangi kepala dinas kesehatan Jember Dyah Kusworini. Saya dan teman-teman jurnalis melakukan wawancara tentang hasil rapat tersebut
Ternyata..
Jumlah warga dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona 19 di RSD dr Soebandi Jember mencapai tiga orang. Satu orang sudah dilakukan pemeriksaan dan pengambilan sampel tes uji virus corona, hasilnya negatif. Sedangkan dua orang lainnya masih dilakuk…

Isu Tenggelam Karena Covid-19, 300 Warga Jember Menderita DBD, Dua Meninggal Dunia

300 warga Jember menderita penyakit DBD. Dua diantaranya meninggal dunia karena terlambat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan. 
MASJIWO.com –  Virus corona 19 memang memenuhi pemberitaan di berbagai Negara, tak terkecuali Indonesia. Membaca berita daring dipenuhi dengan kata-kata corona 19, menonton televisi berita tentang corona, membaca pesan di whatsapp pun corona.
Lalu, bagaimana dengan penyakit lain yang mengancam nyawa manusia. Seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Sejak kemarin, saya bertanya, berapa jumlah penderita penyakit ini. Saya kirim pesan pada Kepala DInas Kesehatan Jember Dyah Kusworini, namun tak dibalas.

Lalu, pada Selasa (17/3/2020), saya berhasil mewawancarainya di DPRD Jember.
Faktanya..
300 warga Jember menderita penyakit demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, dua diantaranya sudah meninggal dunia. Jumlah penderita DBD itutercatat sejak Januari 2020sampai sekarang. “Jumlah itu masih dibawah grafik maksimal yang pernah ada, separuhnya,” kata Kepala Dinas Kesehata…

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…