Langsung ke konten utama

Menjelajahi Kekayaan Hayati Pulau Nusabarong




Foto-foto Bagus Supriadi: Dua perahu yang mengantar kami berlabuh di pinggir pantai Pulau Nusabarong 

         Air lautnya bening, minim sampah. Pasirnya putih, serpihan-serpihan tulang karang menjadikan pantai di pulau ini begitu indah. Angin sepoi-sepoi membuat saya betah di tempat ini. Sayangnya, saya tak bisa berlama-lama  karena kawasan ini termasuk cagar alam.

        Tak semua orang bisa datang  kecuali mendapat izin dari Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember. Seperti hendak melakukan penelitian, atau melepaskan liarkan satwa.

Pulau ini seperti menjadi surga bagi para satwa dilindungi hingga satwa liar. Lokasinya ada di Desa Puger Wetan Kecamatan Puger. Luas cagar alam ini mencapai 6.100 hektare. Nusabarong menjadi salah satu pulau yang terletak di Samudra Hindia. Alhamdulillah, saya berkesempatan mengunjungi tempat ini. 

Seperti apa ceritanya? ini dia..

Pagi usai salat shubuh, saya sudah mempersiapkan diri hendak menuju Pulau Nusabarong. Cukup lama aku ingin  mengunjungi tempat ini. Alasannya sederhana, ingin melihat keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya serta menikmati keindahan pulaunya.

Perahu yang kami naiki bersama dengan kawan jurnalis dan petugas BKSDA Wilayah III Jember


“Ayo  berangkat bro, mobilnya sudah datang,” kata Icang, salah satu teman dari jurnalis televisi yang hendak meliput.

Siap mas, lima menit sampai,” jawabku melalui pesan whatsap. 

Saya segera berangkat menuju titik kumpul di Kantor BKSDA Wilayah III Jember. Disana, sudah ada mobil yang hendak mengantar kami ke acara pelepas liaran monyet ekor panjang ke Pulau Nusabarong. Perjalanan ke acara membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Di pinggir pantai, monyet ekor panjang itu sudah siap untuk dibawa ke Pulau Nusabarong. Acara seremonial sudah dimulai. Begitu selesai, saya langsung naik perahu milik nelayan bersama petugas BKSDA dan aktivis Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Tentu tak lupa memakai rompi pelampung untuk menjaga keamanan. 



Dari pinggir pantai ke Pulau Nusabarong, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Selama perjalanan, aku benar-benar menikmati indahnya suasana laut. Dari kejauhan, pulau ini tampak begitu hijau, sangat natural. 
 

Siapa yang masuk kawasan ini tanpa izin, tentu ada sanksi yang tegas dari petugas BKSDA Wilayah III Jember. Sebab, dilarang tegas untuk mengunjunginya. Peraturan itu merupakan salah satua cara merawat Pulau Nusabarong  agar tetap alami dan lestari. 

Pantai Nusabarong tampak masih sangat alami, airnya jernih sekali


Perahu nelayan terus melaju  mendekati Pulau Nusabarong. Semakin menepi ke pinggiran, air lautnya semakin jernih. Rasanya ingin melompat dan menikmati kesegaran airnya.

“Wow indah sekali, sangat natural,” itulah kata-kataku yang keluar pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Nusabarong. Pasirnya berwarna putih, bahkan pasirnya berupa karang. 

Saya turun  dari perahu dengan perasaan yang begitu gembira. Keinginan berkunjung ke Pulau Nusabarong tercapai. Disana, sudah ada aktivis JAAN yang menginap untuk memonitoring monyet ekor panjang yang dilepasliarkan. 

Monyet yang dimasukkan ke dalam kotak itu seperti berontak ingin segera keluar ke alam bebas. Monyet itu merupakan hasil dari rampasan dari warga yang menjadikannya sebagai topeng monyet. Akhirnya Mereka dikebiri ke Pulau Nusabarong. 

Tiba disana, monyet itu masih dibawa ke  tengah hutan. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menuju ke tengah hutan, tempat pelepasan monyet. Aku bisa melihat lebih jelas suasana hutan di kawasan Cagar Alam ini. Kondisinya sungguh sangat natural, banyak flora dan fauna yang masih lestari di dalamnya. 

Tiba di pantai, para nelayan yang membawa kami memarkir perahunya


Di langit, saya bisa melihat elang yang terbang. Sayangnya, saya tidak bisa melihat penyu yang berada di tempat ini. Biasanya, mereka bertelur di pinggir pantai. Namun, hanya pada waktu tertentu. 

Aku pun mengabadikan kesempatan datang ke tempat ini dengan mendokumentasikannya sebanyak mungkin. Melalui foto dan video. Sebagai pemberitahuan bahwa cagar alam Nusabarong merupakan kawasan dilindungi, memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. 

Ada 1.246 Ekor Penyu

Pulau Nusabarong menjadi surga bagi satwa dilindungi seperti penyu. Tak tanggung, jumlahnya mencapai  1.246 ekor.  Jumlah itu berdasarkan monitoring BKSDA Wilayah III Jember tahun 2017 lalu. 

Jumlah itu lebih banyak dibanding tahun 2015 sebanyak 465. sedangkan pada tahun 2012 mencapai  1.068 ekor.  Populasinya memang masih cukup banyak. Namun harus tetap dijaga agar lestari. 

Salah satu caranya adalah menggandeng kelompok pengawas masyarakat (Pokmaswas) untuk mengawasi kelestarian penyu. Ada 12 pokmaswas yang mengawasi berbagai bidang konsentrasi, seperti mangrove, penyu, dan lainnya. 

Kotak yang berisi monyet ekor panjang dibawa ke tengah Pulau Nusabarong untuk dilepasliarkan


Tugas mereka ikut melestarikan keberlangsungan penyu yang ada di kawasan cagar alam. Mulai dari penyu hijau dan penyu sisik.  Penyu  bertelur setahun sekali, baru menetes setelah 21 hingga 28 hari.

            Selain penyu, potensi besar lainnya di Pulau Nusabarong adalah  ekosistem hutan pantai, mulai dari Putat, Waru Laut, Kepuh, Nyamplung, Ketapang, Pandan, dan Setigi Laut. Kemudian,  ekosistem mangrove seperti Api-api, ekosistem hutan tropis dataran rendah meliputi Laban, Pancal Kidang, dan Kalak. 

Selain penyu hijau,penyu sisik juga terdapat biawak, rusa timor, lutung, babi hutan, elang laut, dan walet. Semua fauna itu ada di pulau Nusabarong. Semua satawa tersebut dilindungi.

Berjalan menuju pedalaman Pulau Nusabarong yang dipenuhi dengan rawa-rawa


Pulang Saat Ombat Besar 

            Hari sudah mulai siang, saya harus kembali bersama rombongan. Sebab, semakin lama, ombak akan semakin besar. Namun, sebelum balik, saya bersama rombongan masih melepas ular pyton sanca di tempat yang berbeda. 

            Mengitari pinggir Pulau Nusabarong, melihat indahnya pulau ini. Ular ini juga  pemberian dari warga yang ditemukan di lingkungan sekitarnya,. Meskipun tidak menggigit, namun rawan konflik dengan manusia.

            Ternyata, melepas ular ataupun monyet tidak semudah bayanganku. Namun ada cara khusus. Misal, ketika melepas monyet ekor liar, harus direhabilitasi dulu. Mereka diseterilkan agar tidak bisa berkembang biak. Selain itu, tempat pelepasannya juga harus disurvei kelayakannya. 

            Apakah makanannya tersedia, seperti buah-buahan hingga biji-bijian. Bahkan kesehatan mereka juga diperhatikan agar tidak membawa penyakit bagi satwa lainnya. Tak hanya itu, di Nusabarong monyet tersebut masih dimonitoring, apakah bisa bertahan hidup atau tidak. 

Melepas ular pyton sanca di kawasan Pulau Nusabarong


            Begitu juga dengan melepas ular, tidak langsung dikeluarkan dari sangkar lalu ditinggal begitu saja. Namun, harus dilihat dan diperhatikan apakah sudah masuk ke dalam hutan atau tidak.  

            Usai melepas satwa itu, saya kembali ke perahu dan pulang. Perjalanan kembali terasa menyenangkan. Perahu melaju dengan gelombang yang masih kecil. Namun, ketika hendak berlabuh, ombak membesar dan menghantam perahu kami. 

“Awas, ayo cepat turun, gubrak,” seketika perahu langsung terbalik. Untung saja, tak ada yang terluka dalam insiden pulang ini. Meskipun ada kameran yang terkena air laut dan rusak. Namun, kisah ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan.



Pulau Nusabarong, tetaplah lestari…
#IDB2019KKH

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…