Langsung ke konten utama

Seni Jaranan Tak Identik dengan Mistis


 
Foto-foto dokumentasi Sanggar Seni Jaranan Putra Tanjung


Kesenian jaranan kerap ditampilkan dengan orang kerasukan. Bahkan sudah identik dengan hal yang berbau mistis. Tak heran, masyarakat menilai seni jaranan sebagai kesenian paling rendah. 


Para pelajar di Kecamatan Balung mulai senang dengan kesenian jaranan. Sebagian dari mereka mulai latihan setiap malam Minggu. Mereka Belajar menari untuk penampilan kesenian jaranan.

Mereka aktif dalam Sanggar Seni Jaranan Putra Tanjung yang beralamatkan di Dusun  Karanganyar, Desa Balung Lor, Kecamatan Balung. Sanggar tersebut menjadi wadah untuk mendidik anak-anak agar memiliki keterampilan seni.

“Sanggar ini sudah ada sejak tahun 2002,” kata Bambang Sugiarto, ketua sanggar. Menurut dia, perjalanan yang tidak mudah dalam mengembangkan sanggar. Sebab, seiring perkembangan zaman, selalu ada tantangan yang  dihadapi.

Tempat tinggal pria yang akrab disapa Bambangg itu merupakan kawasan kesenian. Banyak warganya yang senang dengan kesenian.  “Dulu hanya  tabuhan dengan alat musik gamelan yang sederhana,” akunya.

Sejak 1997, Bambang sudah mulai ikut kesenian jaranan. Darisana dia semakin tertarik hingga kemudian mengembangkan sanggar.  Sanggar itu dibuat sebagai wadah untuk belajar kesenian. “kami pernah tampil dalam pertunjukan dengan honor Rp 5 ribu,” akunya.

Namun, dia tak patah semangat meskipun abresiasinya minim. Sebab, dirinya terpanggil untuk terus melestarikan kesenian tradisional. Tak puas hanya dari seni jaranan, sangar tersebut juga menambah pada seni campursari.  “Misalnya di dalamnya  ada kendang kempul,” tuturnya.  



Semakin lama, sanggar ini terus brekembang. Permintaan untuk tampil oleh warga tersebut meningkat. Bahkan, sekarang semakin  menjadi tren di kalangan anak muda. Sebab, seni jaranan yang dibawa tidak lagi memperkenalkan adanya mistis.

“Kalaupun ada yang kemasukan roh, kebanyakan by setting,” akunya. Sebab, dia sudah mempelajari beberapa pertunjukan seni jaranan. Bila ada yang kemasukan roh, semua itu merupakan scenario.

Sebab tak mudah untuk mendatangakan roh hingga masuk pada tubuh manusia. Dirinya sudah mencoba bertahun-tahun, namun cukup sulit. “Butuh proses ritual dan kebersihan diri,” ujarnya. Dulu, kata dia, kesenian tersebut sebagai wadah untuk syiar agama.

Karena dicampur mistis itulah, seni jaranan menjadi kesenian dengan kasta paling rendah. Sanggar tersebut ingin menjadikan seni jaranan sebagai kesenian yang disukai  oleh para milenial sehingga bisa terus terjaga.



Selain itu, pertunjukan seni jaranan tanpa diberi bumbu mistis juga lebih menarik. Generasi milenial lebih tertarik untuk mempelajarinya. Tak heran, sudah ada sekitar 300 pelajar yang bergabung dalam sanggar ini.

Sanggar ini juga pernah meraih juara tari Jatilan tingkat Jawa Timur dalam festival Jathilan pada tahun 2016 lalu.  Prestasi itu menjadi penyemangat untuk terus melestarikan kesenian tradisional. “Setiap bulan pasti ada permintaan untuk tampil,” akunya.

Pada malam minggu mereka latihan, tak hanya tarian jaranan, namun beberapa tarian lain juga  dipelajari. Seperti tari curuk lampa, tari bedayan dan lainnya. Para pelajar itu tertarik sehingga diarahkan untuk mengembangkan bakat seninya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…