Skip to main content

Cara Lansia Jember Mencegah Penyakit Tidak Menular




FOTO BERSAMA: Para Lansia Jember tak lupa foto bersama usai senam pagi

“Ayo pul kumpul, senam Polanis Jumaat pukul 06.30 di Poliklinik Universitas Jember,” Tulis Imam Soebagio di akun instagramnya.





screenshot akun instagram Pakde Bagio
“Apa itu Polanis pak,” Tanyaku pada kolom komentar postingan tersebut.



“Program pengelolaan penyakit kronis,” jawabnya singkat.

Wah, pas bersamaan dengan senam di Silo,” tambah Anik ikut berkomentar dibawahnya.

“Kapan-kapan tak undang khusus,” Pakde Bagio membalas. 



Itulah salah satu percakapan Pakde Bagio di akun instagramnya. Meskipun sudah menjadi Lansia, namun tak kalah dengan milenial. Kegiatan yang didokumentasikannya diunggah  di instagram.

Hal itu menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh Lansia di Jember. Tak pernah lelah untuk terus menggerakan hidup sehat dengan olahraga. Seperti kegiatan Program penanggulangan penyakit kronis (Polanis) hasil kerjasama dengan BPJS Kesehatan Jember.

Pakde Bagio, begitu dia akrab disapa oleh semua  orang. Tak hanya menjadi panggilan bagi para saudaranya, tapi juga teman-teman lansia yang lain. Pria pensiunan Universitas Jember tahun 2002 itu memang gencar mengajak lansia agar hidup sehat melalu berbagai kegiatan.

Salah satunya pada Jumaat pagi, 21 Juni 2019. Puluhan lansia berdatangan ke halaman Poliklinik Universitas Jember. Wajahnya sudah menua dan keriput. Namun, mereka ceria dan penuh semangat.

MENJAGA KESEHATAN: Para Lansia Jember rutin menggelar senam agar terhindar dari penyakit tidak menular
Satu persatu lansia mulai berbaris, mempersiapkan diri untuk ikut Senam Bugar Lansia Indonesia (SLBI).  Mereka melakukan pemanasan. Beberapa menit kemudian, Siti Djaenaf, instruktur senam  mulai memandu senam.

Siti Djaenaf  merupakan istri dari Pakde Bagio. Pasangan lansia ini memang begitu serasi. Sebab memiliki semangat bersama untuk mengabdikan diri pada para Lansia  Jember.  Di usianya yang sudah renta, merek memilih jalan memberdayakan para Lansia melalui Gerakan Masyarakat (Germas).

Sebulan sekali pada minggu terakhir, Pakde Bagio bersama istrinya selalu memimpin senam. Sekitar satu jam. kegiatan itu menjadi wadah rutin bagi lansia  pensiunan Universitas Jember dan  sekitar kampus.
PERIKSA KESEHATAN: Dalam kegiatan senam, para lansia ini tak lupa untuk periksa kesehatan secara gratis

Pakde Bagio sudah berumur 74 tahun, sedangkan istrinya, Siti Djaenaf sudah berumur 66 tahun. Fisik dan  pikiran mereka tetap sehat dan bugar. Menjadi Lansia yang produktif dan menebarkan manfaat pada sesama.

Selain mengajak senam, Pakde Bagio masih aktif dalam berbagai kegiatan. Saat santai dirumahnya, dia  kliping koran, memasak, menulis hingga belajar fotografi. Selain itu, dia tetap bersosialisasi melalui kegiatan karangweda. Seperti mengikuti pelatihan hingga kegiatan sosial lainnya.


Senam Sebagai Wadah Pemersatu

Infografis buatan sendiri melalui aplikasi Canva
“Kegiatan senam ini menjadi perekat bagi para lansia,” kata pria kelahiran 12 Februari 1945 itu. Senam menjadi salah satu cara mencegah dan mengendalikan pengendalian penyakit tidak menular. Dia menilai kehidupan  lansia membutuhkan kedispilinan khusus agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Sebab, di usia yang renta,  lansia rentan terkena penyakit tidak menular.

Seperti penyakit diabetes, stroke, gagal ginjal, jantung koroner dan lainnya. Bahkan, Indonesia sendiri merupakan lima dari negara dengan jumlah lansia terbanyak di dunia. Pakde Bagio menyebut jumlah lansia di Jember sebanyak 11 persen dari jumlah penduduk. Jika penduduknya 2,4  juta, maka lansia berjumlah 2 ribu lebih.

Sayangnya, tak semua lansia aktif dan peduli dengan kegiatan senam. Memasuki pensiun, pensiun menjalani kehidupan yang berubah total, jauh dari teman dan tak ada kegiatan. Ketika tidak memiliki kegiatan, mereka bisa terkena penyakit. Banyak  lansia yang sakit-sakitan karena tidak menjaga kesehatan. “Ada yang sakit hipertensi, stroke, diabetes dan lainnya,” ucapnya.

Untuk itulah, Pakde Bagio bersama istrinya tergerak untuk aktif dalam pemberdayaan lansia. Senam menjadi wadah untuk mengumpulkan mereka. Mulai dari senam kesehatan, seperti  senam  jantung sehat, senam diabet seri dua, senam bugar lansia Indonesia, senam tera, senam poco-poco plus.

Senam tak hanya menyehatkan fisik dan mencegah penyakit, namun juga menyegarkan pikiran. “Mereka bisa bersosialisasi dengan lansia yang lain,” ujarnya. 

Program  Polanis hasil kerjasama dengan BPJS Kesehatan Jember itu tak hanya senam. Namun juga ada cek kesehatan, seperti memeriksa tekanan darah, berat badan, periksa mata dan lainnya.

Selain itu, juga mengundang dokter untuk memberikan pemahaman tentang hidup sehat. Cara mencegah penyakit tidak menular. Memberikan pemahaman agar melakukan olahraga teratur dan terukur serta menjaga pola makan.

TANYA JAWAB: Para lansia berdialog tentang kesehatan dengan dokter


Fakta Tentang Penyakit Tidak Menular pada Lansia


Indonesia merupakan salah satu dari lima negara dengan populasi Lansia paling banyak di dunia. Kemenkes RI mencatat angka Lansia yang sakit mencapai 25,05 persen pada tahun 2014. Mereka terkena berbagai penyakit, seperti kanker, stroke, hipertensi dan lainnya. 


Infografis buatan sendiri dari aplikasi canva. Data
diolah dari berbagai sumber.
Berdasarkan data dari Susenas tahun 2016, jumlah lansia di Indonesia mencapai 22,4 juta jiwa atau 8,69 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut diprediksi terus bertambah setiap tahunnya.


Lansia yang hidup di desa lebih rentang terkena penyakit daripada lansia yang tinggal di kawasan perkotaan. 2012, angka kesakitan lansia di kota mencapai 22,47 persen. Bila ada 100 lansia di kota, 24 dari meresa sakit. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan lansia yang sakit di pedesaan. 


Data dari riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, hipertensi menjadi penyakit terbanyak yang diderita oleh Lansia, yakni sebesar 57,6 persen. Setelah itu, penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi, diabetes mellitus dan lainnya. 


Dalam data tersebut, penyakit jantung koroner mencapai sekitar 883.447 menderita penyakit ini pada tahun 2013. Sedangkan jumlah penderita stroke ini pada tahun 2013 diperkirakan 1.236.825 orang atau 7,0 persen. Sedangkan berdasarkan diagnosis, sebanyak 2.137.941 orang atau 12,1 persen.


Penderita Hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen. Jumlah terbanyak pada tahun 2013 di Sulawesi Utara. Kemudian, penderita Diabetes  berjumlah 1,5 persen berdasarkan diagnosis dokter. Jumlah terbanyak pada tahun 2013 berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 


Data tersebut seperti menjadi peringatan bahwa menjaga kesehatan di hari tua harus dipersiapkan sejak sekarang. Bila tidak, tubuh yang sudah semakin lemah akan mudah terkena penyakit. Kesehatan Lansia bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan hingga masyarakat luas.Selain itu, pencegahan dan pengendalian penyakit ini membutuhkan sinergitas para pihak, seperti pemerintah, masyarakat hingga pengusaha. 

Comments

Popular posts from this blog

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Mengenal Sekolah Yang-eyang di Ledokombo

Belajar Cara Mengasuh Cucu, Mengganti Peran Ibu

Eyang memiliki kasih sayang besar dalam mendidikcucunya. Sayangnya, bila tidak memiliki pengetahuan cara mengasuh anak, bisa berdampak buruk. Sekolah yang-eyang ini menjadi wadah belajar bersama mengasuh anak.

Alat permainan tradisional egrang mudah ditemukan di komunitas tanoker. Disanalah, aktivitas belajar dan bermain anak-anak Kecamatan Ledokombo. Bahkan tempat ini juga menjadi wadah belajar para bapak, ibu hingga eyang.
Suasananya yang teduh dan damai menjadi pilihan banyak orang melakukan kegiatan. Mulai dari workshop, pelatihan hingga belajar permainan tradisional. Tak terkecuali para siswa sekolah yang-eyang yang sudah memasuki usia senja.
Sekolah yang-eyang ini hadir atas semangat bersama untuk menjadi lansia yang berkualitas dan menciptakan generasi emas. Bila sebelumnya di Ledokombo sudah ada mother School dan father school. Sekarangbertambah lagi grandmother school atau sekolah yang-eyang ‘segar’, kepanjangan dari sehat bugar.
S…

Bersahabat dengan Tanaman, Damai Bersama Alam