Kamis, 25 April 2019

Komunitas Keluarga Anakku Hebat, Perkumpulan Ibu ABK





Mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Bahkan, bila tidak ada dukungan untuk saling menguatkan, terasa sangat berat. Untuk itulah, para orang tua ini bersatu untuk saling berbagi. Bertemu saat melakukan terapi, bersatu karena saling peduli.

Minggu pagi,  para orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) berkumpul di Tegalbesar Cluster. Mereka membawa anak-anaknya yang memiliki keterbatasan fisik itu. Mulai dari anak dengan down syndrome, anak dengan gangguan otak, epilepsi, dan lainnya.

Setiap kali bertemu, wajah mereka tampak ceria. Beban berat merawat ABK seperti berkurang karena memiliki teman yang nasibnya sama. Kehadiran mereka saling memperkuat dalam mengasuh anak-anaknya. 

Mereka saling bertanya kabar dan berbagi informasi terkait perkembangan anaknya, apakah sudah membaik atau tidak. Pertemuan itu merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh komunitas. Tujuannya untuk menguatkan dan mendidik para orang tua dalam mengasuh anak ABK. 

Komunitas ini lahir dari kepedulian terhadap sesama. Para orang tua melakukan terapi untuk anaknya di rumah sakit. Lalu, mereka saling berteman. Dari sanalah, mereka sepakat untuk membentuk komunitas. 

“Awalnya kami ketemu di rumah sakit, waktu sama-sama menjalani terapi untuk anak,” kata Ajeng Perwitasari, wakil ketua komunitas. Lalu, sang terapis menganjurkan agar para orang tua itu membentuk komunitas untuk saling menguatkan.


“Anak ini bukan aib, tapi insyaallah membuat kami lebih sukses,” jelasnya. Akhirnya, orang tua yang anaknya hydrocephalus, epilepsi, tunanetra, tunarungu, dan lainnya berkumpul. Untuk itu, mereka semangat dalam mengasuh sang anak agar lebih baik. 

Perempuan yang akrab disapa Mama Nadia itu mengaku sempat kewalahan ketika harus mengasuh anak sendirian. Tanpa ada teman-teman di sekitarnya. “Saya merasa sangat down banget,” jelasnya. 

Melalui komunitas, kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam hidup Ajeng membuatnya lebih bersyukur. Sebab, Tuhan menguatkan seseorang melalui cara tersebut. Memberikan anak berkebutuhan khusus. “Di komunitas, kami saling memotivasi,” ujarnya. 

Selama ini, kata dia, banyak orang tua yang masih menyembunyikan anaknya. Merasa malu karena memiliki ABK. “Mereka belum siap, sehingga perlu kesiapan mental dari keluarga besar,” ujarnya.


Kalau satu sama lain saling menguatkan, walaupun ditanya oleh orang luar, dia akan menerima. Selama ini, pemahaman masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus masih belum merata. Banyak yang tidak tahu bagaimana menghadapi ABK. Bahkan, kerap memperlakukan sama dengan anak lainnya. 

Padahal, ABK membutuhkan perlakukan khusus karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Akhirnya, komunitas ini juga memberikan pemahaman pada masyarakat. “ABK itu anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya,” tambah Lestari Widyati, pendiri komunitas ini.

Menurut dia, yang harus dilakukan pertama pada ABK adalah penerimaan. Mereka harus diterima di lingkungan keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas. Harapannya, Jember bisa menjadi kota yang ramah difabel. 

Komunitas ini kerap mendatangkan narasumber perawat atau ahli gizi untuk edukasi orang tua ABK. Tujuannya meningkatkan cara mengasuh ibu terhadap ABK. Seperti yang dilakukan Minggu lalu, komunitas ini menghadirkan dr Vanda Mustika SpKFR sebagai pemateri tentang pengoptimalan oromotor anak dengan tekstur dan rasa makanan. 

Dr Vanda menjelaskan, makanan dengan tekstur dan rasa dapat memengaruhi perkembangan berbicara anak. Dalam memberikan makanan pada ABK, harus diberi tekstur yang cocok sesuai usia dan kematangan rongga mulut, bibir, pipi, gusi, dan lainnya. Hal itu akan memengaruhi anak dalam mengunyah makanan. 



Dalam mengunyah makanan, ABK membutuhkan waktu yang lebih lama dan  tidak mudah. Apalagi, ketika mengunyah harus dalam posisi tegak. Sedangkan tidak semua ABK mampu berdiri tegak. “Untuk itu, butuh perhatian khusus dari segi kemampuan mengunyah,” terangnya.

Selain memperhatikan posisi saat pemberian makan, juga harus mengawasi organ oromotor yang matang. Hal itu untuk menghindari makan tanpa dikunyah atau langsung ditelan. “Atau malah tidak bisa menelan, sehingga pakai selang,” ujarnya.

Makanan untuk ABK, kata dia, tidak berbeda dengan makanan anak yang lain. Hanya saja, cara mengonsumsinya yang berbeda. “Anak usia enam bulan yang harus makan bubur, karena dia ABK, tidak bisa makan, akhirnya memakai dot,” paparnya. 

Pola makan bagi ABK itu diperuntukkan bagi berbagai jenis disabilitas. Seperti down syndrome, anak dengan gangguan otak, anak epilepsi, dan lainnya. “Tidak ada makanan khusus, namun teksturnya harus disesuaikan,” tambahnya. 

Pola makan itu, kata dia, akan memperbaiki kemampuan otak anak agar cepat berkembang. Kalau keliru, bisa terjadi komplikasi, seperti gizi tidak tercukupi. “Usaha bisa melewati makanan,” tandasnya.


EmoticonEmoticon