Senin, 22 April 2019

Darurat, Ayo Kurangi Sampah Plastik


foto foto Bagus Supriadi: Sampah yang ada di Pulau Nusabarong. Meskipun kawasan cagar alam, namun tempat ini masih terdapat sampah plastik

Setiap 22 April, selalu diperingati hari bumi di seluruh dunia. Momentum ini menjadi wadah untuk terus berbuat merawat lingkungan. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sebab, persoalan sampah yang mudah ditemukan di berbagai tempat. Terutama di kawasan laut, sudah  menjadi problem  yang mengancam keberlangsungan kehidupan dan keseimbangan alam. Untuk itu, perlu kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan. 

Sampah plastik menjadi pemandangan buruk di beberapa pinggir pantai di Jember, seperti di pulau Nusabarong. Meskipun kawasan ini merupakan cagar alam yang tidak boleh didatangi oleh masyarakat, namun sampah masih ditemukan di bibir pantai.

“Ini memang fenomena yang menyedihkan,”  kata pengamat lingkungan dari Universitas Jember, Hari Sulistyowati. Menurut dia, hal itu terjadi karena kesadaran warga  membuang sampah dengan tertib masih sedikit.  Mereka tidak tertib dalam membedakan sampah organik dan non organik.

Selain itu, kata dia, belum ada  kebijakan yang tegas untuk mengatasi dan memfasilitasi persoalan sampah itu. Bahkan, industri pengolahan sampah plastik untuk mengurangi sampah plastik masih belum ada. Sampah masih belum bisa dikelola sehinga menumpuk.



Fenomena maraknya sampah itu, lanjut dia, terjadi sejak revolusi industri. Yakni dengan berkembangkan makanan dan minuman dalam kemasan plastik. Sampai sekarang, kemasan makanan banyak terbuat dari plastik.

Untuk itu, kata dia, perlu sosialisasi secara kontinyu untuk membentuk kesadaran warga. Sebab, Mereka belum sadar dengan lingkungan yang tercemar oleh sampah.

Penyebab lain, lanjut dia, ada peningkatan permintaan makanan dan minuman kemasan plastik. Kemudian, industri pengolahan dan recycle sampah  plastik masih sangat terbatas terkait kapasitas produksi.

Selain itu, kebijakan  pembatasan penggunaan plastik dan pengelolaan sampah plastik secara terpadu belum ada.  Penegakan hukum terhadap pelanggaran terkait pembuangan sampah juga tidak ada.

Perempuan yang akrab disapa Hari itu menjelaskan tentang bahaya sampah bagi kehidupan, terutama laut itu sendiri. Sampah plastik di laut tidak mudah terdegradasi. Dampaknya. menghalangi pergerakan air, organisme dan penetrasi cahaya yang mengganggu layanan ekosistemserta jarring-jaring makanan  di laut.

“Jika tertelan oleh organisme dapat  mematikan organisne perairan laut,” jelasnya. Selain  itu, keindahan laut akan berkurang seiring dengan maraknya sampah. Hal itu bisa memicu pencemaran.

Dia menyarankan agar pemerintah perlu menerapkan kebijakan untuk menekan sampah ini. Melalui pendidikan, pendidikan dan pembelajaran serta penyediaan sarana-prasarana utk sampah plastik. “Mereka juga bisa kampanye bahaya plastik,” ujarnya.



Kampanye untuk melakukan pengurangan penggunaan plastik. Cara lain adalah dengan  konversi plastik denagn bahan yang ramah lingkungan.  “Pemerintah bisa menerapkan kebijakan  pembatasan penggunaan plastik, “ paparnya.

Sementara itu, Nur Hadi, Direktur Konservasi Alam Indonesia Lestari (KAIL) Jember menambahkan persoalan sampah dilaut akan berdampak pada kesejahteraan di lingkungan. “Seperti munculnya penyakit,” tuturnya.

Untuk itu, perlu pengembangan sampah agar bisa dipilah antara organik dan non organik. Sejauh ini, kata dia, kondisi pantai di Jember memang ada yang tercemari oleh sampah. Namun tidak separah di daerah lain. “Misal pantai Bandealit yang masih cukup terjaga,” ujarnya.
 
Sebab, akses yang tidak mudah dijangkau oleh masyarakat. Kalaupun ada sampah, dibawa dari arus lain. Kendati demikian, perlu ada edukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kelestarian lingkungan. “Sebab sampah tidak akan terurai meskipun puluhan tahun,” pungkasnya.


EmoticonEmoticon