Langsung ke konten utama

Hijrah, Satu Kata Sejuta Makna


Foto dari Pixabay.com


Sudah sampai dimana hijrah kita?. Kalimat itu selalu ditanyakan oleh HOS Cokroaminoto, bahkan ditulis didinding ketika dia di penjara. Pertanyaan itu selalu terngiang di telinganya. Tentang perjuangan rakyat melawan penjajahan.

Hijrah dari ketertindasan menuju kemerdekaan, kebebasan dan keadilan. Hijrah bukan sekedar hijrah pribadi, namun kepentingan bangsa dan negara. Semangat hijrah terus menggelora dalam dada Hos Cokroaminoto, bapak pendiri bangsa.

Setiap kali bertemu para pejuang bangsa hingga keluarganya sendiri, Hos Cokroaminoto selalu bertanya sudah sampai dimana hijrahnya. Bahkan, ketika bercermin, dia selalu bertanya pada diri sendiri sudah sejauh mana hijrah yang dilakukannya. 

Pertanyaan tentang hijrah itu mendorong dirinya untuk terus merefleksikan diri. Sejauh mana perjuangan yang telah dilakukan untuk bangsa dan negaranya. Kata-kata hijrah disimpan rapi dalan hati dan pikirannya. Meskipun butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya.

Hijrah dengan makna yang sangat luas sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hos Cokroaminoto sendiri terinspirasi dari Rosulullah SAW, hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik.

Untuk itu, hijrah bukan soal berpindahnya seseorang dari hal yang tidak baik menjadi lebih baik. Dalam praktek yang lebih luas, hijrah juga bisa untuk suatu negara, pemerintah, perbankan, perguruan tinggi dan lainnya.  

Hijrah Dimulai dari Harapan

Jika setiap orang memiliki impian untuk diraih, maka dia harus berhijrah setiap harinya. Selalu berubah menjadi lebih baik. Sebab, siapa yang di hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang celaka.


Foto dari Pixabay.com

Siapa yang hari ini sama dengan  hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi.  Namun, orang yang  hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Semua itu butuh perenungan dari segala tindakan yang dilakukan.

Aku memulai hijrah kecil ini dengan merenungi  perbuatan yang dilakukan setiap hari. Di kesunyian malam, kusisakan waktu untuk menghitung semua amal perbuatan. Dari mata terbuka hingga terpejam kembali.

Aku menghitung waktu, bangun tidur, apa yang aku lakukan. Pagi hari, apa yang aku kerjakan. Siang hari, apa aku tidak lupa salat dan beristighfar. Sore hari, apa aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga lupa dengan tuhan. Malam hari, apa aku tidka bersyukur atas semua anugerah tuhan.

Bila ku temukan satu hari dalam kehidupanku yang tidak baik. Misal dengki pada teman, benci pada orang lain, marah saudara dan lainya.Aku harus hijrah. Memohon ampun agar tidak mengulangi lagi perbuatan yang tidak baik itu.

Barangkali, itulah makna hijrah sederhana yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Aku belum bisa mencapai tingkatan hijrah seperti yang dilakukan oleh para pejuang, seperti Hos Cokroaminoto. Hijrahnya bukan hanya untuk kepentingan pribadi, namun kepentingan umat dan negaranya.

Namun, hijrah kecil ini merupakan langkah sederhana untuk berhijrah pada hal yang lebih besar. Bukankan langkah pertama yang akan menentukan langkah selanjutnya. Batu menjadi hancur bukan karena berkali-kali dipukul, namun karena kemauan pukulan pertama.

Aku berhijrah karena punya harapan untuk menjadi lebih baik.

Hijrah Milenial, Harus Seperti Apa?

Kecanggihan teknologi seringkali membuat terlena para generasi milenial. Mereka menghabiskan waktu dengan hal yang kurang bermanfaat. Misal, hanya scrolling media sosial, main game online tanpa kenal waktu. Sementara tantangan zaman terus berkembang dengan pesat.


Foto dari Pixabay.com

Aku termasuk orang yang beruntung dibesarkan di pesantren. Aturan tidak memperbolehkan memegang smartphone hingga menonton televisi. Aku bersyukur bisa menghabiskan waktu dengan hal yang positif. Mengaji, membaca buku, berdiskusi hingga melatih kemampuan diri.

Hari ini, aku sering melihat generasi milenial menghabiskan waktu di warung kopi dengan mengenggam smartphone. Lalu berteriak sendiri menatap layar gawai, memainkan game PUBG.

Memang tak semua, ada beberapa dari mereka yang berdiskusi. Namun jumlahnya kalah dengan mereka yang menikmati kesenangan sesaat. Kecanggihan teknologi telah menjajah pikiran mereka, memanjakan dengan permainan tanpa kenal waktu.

Hijrah milenial adalah mengatur waktu sebaik mungkin. Mempersiapkan masa depan dengan baik. Merencanakan kegiatan-kegiatan untuk menyusun masa depan agar menjadi generasi yang memiliki daya saing.

Hijrah itu merupakan hal yang paling kecil dalam hidup mereka. Namun, tak mudah untuk dilakukan. Butuh kemauan yang kuat dan sikap istiqomah. Buatlah harapan, kerjakan dari hal terkecil untuk membuat perubahan diri. Ketika urusan mengatur diri selesai, melangkahlah pada hijrah yang lebih tinggi.

Bukankah Rosullah pernah bersabda, hijrah yang paling berat adalah melawan hawa nafsu. Lawanlah, jangan manjakan dirimu dengan kesenangan yang sesaat. Sahabat milenial, #ayohijrah berani lebih baik

Mengingatkan Hijrah, Tugas Bersama

Setiap manusia memiliki tugas untuk saling mengingatkan. Bila ada yang keliru, ingatkanlah. Mengingatkan sesuai dengan kemampuannya. Bukankah nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan. Siapa yang melihat kemungkaran, cegahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, dengan lisannya. Bila tidak mampu, dengan hatinya walau itu adalah selemah-lemahnya iman.


Foto dari Pixabay.com

Bila kau berkuasa, ingatkan dengan kekuatan kekuasaanmu melalui peraturan. Bila kau berharta, ingatkanlah dengan sedekahmu. Bila kau tak punya harta dan kekuasaan, ingatkanlah dengan ucapanmu.

Apa yang dilakukan oleh Bank Muamalat dengan mengajak untuk berhijrah merupakan upaya melakukan tugasnya saling mengajak pada kebaikan. Tak hanya sebagai fungsi pelayanan perbankan syariah. Namun juga sebagai media dakwah mengajak pada hal yang lebih baik, terutama dalam mengelola keuangan.

Apakah  mengelola keuangan juga perlu hijrah? ya. Mengelola keuangan bagian dari ibadah yang harus dipahami oleh kita semua. Misal, tidak boleh boros, karena boros merupakan saudara setan. Bila uangmu banyak, cobalah hijrah dengan menabungnya di tabungan iB Hijrah Bank Muamalat.

Bila hijrah ini dilakukan secara bersama-sama, Indonesia akan menjadi negara baldatun toyyibatun warabbun ghafur. Negara yang adil, makmur dan sejahtera. Sebab, semua rakyatnya telah berhijrah menjadi lebih baik.

sikap hijrah memang tidak datang dengan tiba-tiba. Ada yang muncul karena pengalaman buruk sehingga membuat orang sadar. Ada juga yang berhijrah karena pengetahuan yang terus bertambah. Seperti mengikuti seminar, kajian keislaman hingga seperti yang dilakukan oleh Bank Muamalat Indonesia.

Merubah kebiasaan menjadi lebih baik memang membutuhkan latihan setiap saat. Artinya, manusia dituntut untuk terus berhijrah setiap waktu. Bergaul dengan orang-orang yang mampu meningkatkan diri menjadi lebih baik. Bergabung dengan lembaga yang mengantarkan menjadi lebih baik, misal menabung di Bank Muamalat Indonesia. 

Mengapa harus Bank Muamalat pilihannya? Karena merupakan bank syariah pertama yang sudah 
berpengelaman. Berdiri sejak 1 Mei 1992. Dikelola secara profesional sesuai dengan prinsip ekonomi syariah. Misla, ada akad rahn, yakni akad yang menggadadaikan dari satu pihak ke pihak lain. ada akad ijarah  atau sewa menyewa yang sesuai dengan syariat Islam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…