Senin, 29 April 2019

Hijrah, Satu Kata Sejuta Makna


Foto dari Pixabay.com


Sudah sampai dimana hijrah kita?. Kalimat itu selalu ditanyakan oleh HOS Cokroaminoto, bahkan ditulis didinding ketika dia di penjara. Pertanyaan itu selalu terngiang di telinganya. Tentang perjuangan rakyat melawan penjajahan.

Hijrah dari ketertindasan menuju kemerdekaan, kebebasan dan keadilan. Hijrah bukan sekedar hijrah pribadi, namun kepentingan bangsa dan negara. Semangat hijrah terus menggelora dalam dada Hos Cokroaminoto, bapak pendiri bangsa.

Setiap kali bertemu para pejuang bangsa hingga keluarganya sendiri, Hos Cokroaminoto selalu bertanya sudah sampai dimana hijrahnya. Bahkan, ketika bercermin, dia selalu bertanya pada diri sendiri sudah sejauh mana hijrah yang dilakukannya. 

Pertanyaan tentang hijrah itu mendorong dirinya untuk terus merefleksikan diri. Sejauh mana perjuangan yang telah dilakukan untuk bangsa dan negaranya. Kata-kata hijrah disimpan rapi dalan hati dan pikirannya. Meskipun butuh waktu yang lama untuk mewujudkannya.

Hijrah dengan makna yang sangat luas sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hos Cokroaminoto sendiri terinspirasi dari Rosulullah SAW, hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Berpindah dari suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik.

Untuk itu, hijrah bukan soal berpindahnya seseorang dari hal yang tidak baik menjadi lebih baik. Dalam praktek yang lebih luas, hijrah juga bisa untuk suatu negara, pemerintah, perbankan, perguruan tinggi dan lainnya.  

Hijrah Dimulai dari Harapan

Jika setiap orang memiliki impian untuk diraih, maka dia harus berhijrah setiap harinya. Selalu berubah menjadi lebih baik. Sebab, siapa yang di hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang celaka.


Foto dari Pixabay.com

Siapa yang hari ini sama dengan  hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi.  Namun, orang yang  hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah orang yang beruntung. Semua itu butuh perenungan dari segala tindakan yang dilakukan.

Aku memulai hijrah kecil ini dengan merenungi  perbuatan yang dilakukan setiap hari. Di kesunyian malam, kusisakan waktu untuk menghitung semua amal perbuatan. Dari mata terbuka hingga terpejam kembali.

Aku menghitung waktu, bangun tidur, apa yang aku lakukan. Pagi hari, apa yang aku kerjakan. Siang hari, apa aku tidak lupa salat dan beristighfar. Sore hari, apa aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga lupa dengan tuhan. Malam hari, apa aku tidka bersyukur atas semua anugerah tuhan.

Bila ku temukan satu hari dalam kehidupanku yang tidak baik. Misal dengki pada teman, benci pada orang lain, marah saudara dan lainya.Aku harus hijrah. Memohon ampun agar tidak mengulangi lagi perbuatan yang tidak baik itu.

Barangkali, itulah makna hijrah sederhana yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Aku belum bisa mencapai tingkatan hijrah seperti yang dilakukan oleh para pejuang, seperti Hos Cokroaminoto. Hijrahnya bukan hanya untuk kepentingan pribadi, namun kepentingan umat dan negaranya.

Namun, hijrah kecil ini merupakan langkah sederhana untuk berhijrah pada hal yang lebih besar. Bukankan langkah pertama yang akan menentukan langkah selanjutnya. Batu menjadi hancur bukan karena berkali-kali dipukul, namun karena kemauan pukulan pertama.

Aku berhijrah karena punya harapan untuk menjadi lebih baik.

Hijrah Milenial, Harus Seperti Apa?

Kecanggihan teknologi seringkali membuat terlena para generasi milenial. Mereka menghabiskan waktu dengan hal yang kurang bermanfaat. Misal, hanya scrolling media sosial, main game online tanpa kenal waktu. Sementara tantangan zaman terus berkembang dengan pesat.


Foto dari Pixabay.com

Aku termasuk orang yang beruntung dibesarkan di pesantren. Aturan tidak memperbolehkan memegang smartphone hingga menonton televisi. Aku bersyukur bisa menghabiskan waktu dengan hal yang positif. Mengaji, membaca buku, berdiskusi hingga melatih kemampuan diri.

Hari ini, aku sering melihat generasi milenial menghabiskan waktu di warung kopi dengan mengenggam smartphone. Lalu berteriak sendiri menatap layar gawai, memainkan game PUBG.

Memang tak semua, ada beberapa dari mereka yang berdiskusi. Namun jumlahnya kalah dengan mereka yang menikmati kesenangan sesaat. Kecanggihan teknologi telah menjajah pikiran mereka, memanjakan dengan permainan tanpa kenal waktu.

Hijrah milenial adalah mengatur waktu sebaik mungkin. Mempersiapkan masa depan dengan baik. Merencanakan kegiatan-kegiatan untuk menyusun masa depan agar menjadi generasi yang memiliki daya saing.

Hijrah itu merupakan hal yang paling kecil dalam hidup mereka. Namun, tak mudah untuk dilakukan. Butuh kemauan yang kuat dan sikap istiqomah. Buatlah harapan, kerjakan dari hal terkecil untuk membuat perubahan diri. Ketika urusan mengatur diri selesai, melangkahlah pada hijrah yang lebih tinggi.

Bukankah Rosullah pernah bersabda, hijrah yang paling berat adalah melawan hawa nafsu. Lawanlah, jangan manjakan dirimu dengan kesenangan yang sesaat. Sahabat milenial, #ayohijrah berani lebih baik

Mengingatkan Hijrah, Tugas Bersama

Setiap manusia memiliki tugas untuk saling mengingatkan. Bila ada yang keliru, ingatkanlah. Mengingatkan sesuai dengan kemampuannya. Bukankah nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan. Siapa yang melihat kemungkaran, cegahlah dengan tangannya. Bila tidak mampu, dengan lisannya. Bila tidak mampu, dengan hatinya walau itu adalah selemah-lemahnya iman.


Foto dari Pixabay.com

Bila kau berkuasa, ingatkan dengan kekuatan kekuasaanmu melalui peraturan. Bila kau berharta, ingatkanlah dengan sedekahmu. Bila kau tak punya harta dan kekuasaan, ingatkanlah dengan ucapanmu.

Apa yang dilakukan oleh Bank Muamalat dengan mengajak untuk berhijrah merupakan upaya melakukan tugasnya saling mengajak pada kebaikan. Tak hanya sebagai fungsi pelayanan perbankan syariah. Namun juga sebagai media dakwah mengajak pada hal yang lebih baik, terutama dalam mengelola keuangan.

Apakah  mengelola keuangan juga perlu hijrah? ya. Mengelola keuangan bagian dari ibadah yang harus dipahami oleh kita semua. Misal, tidak boleh boros, karena boros merupakan saudara setan. Bila uangmu banyak, cobalah hijrah dengan menabungnya di tabungan iB Hijrah Bank Muamalat.

Bila hijrah ini dilakukan secara bersama-sama, Indonesia akan menjadi negara baldatun toyyibatun warabbun ghafur. Negara yang adil, makmur dan sejahtera. Sebab, semua rakyatnya telah berhijrah menjadi lebih baik.

sikap hijrah memang tidak datang dengan tiba-tiba. Ada yang muncul karena pengalaman buruk sehingga membuat orang sadar. Ada juga yang berhijrah karena pengetahuan yang terus bertambah. Seperti mengikuti seminar, kajian keislaman hingga seperti yang dilakukan oleh Bank Muamalat Indonesia.

Merubah kebiasaan menjadi lebih baik memang membutuhkan latihan setiap saat. Artinya, manusia dituntut untuk terus berhijrah setiap waktu. Bergaul dengan orang-orang yang mampu meningkatkan diri menjadi lebih baik. Bergabung dengan lembaga yang mengantarkan menjadi lebih baik, misal menabung di Bank Muamalat Indonesia. 

Mengapa harus Bank Muamalat pilihannya? Karena merupakan bank syariah pertama yang sudah 
berpengelaman. Berdiri sejak 1 Mei 1992. Dikelola secara profesional sesuai dengan prinsip ekonomi syariah. Misla, ada akad rahn, yakni akad yang menggadadaikan dari satu pihak ke pihak lain. ada akad ijarah  atau sewa menyewa yang sesuai dengan syariat Islam. 
Read More

Kamis, 25 April 2019

Komunitas Keluarga Anakku Hebat, Perkumpulan Ibu ABK





Mengasuh anak berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Bahkan, bila tidak ada dukungan untuk saling menguatkan, terasa sangat berat. Untuk itulah, para orang tua ini bersatu untuk saling berbagi. Bertemu saat melakukan terapi, bersatu karena saling peduli.

Minggu pagi,  para orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK) berkumpul di Tegalbesar Cluster. Mereka membawa anak-anaknya yang memiliki keterbatasan fisik itu. Mulai dari anak dengan down syndrome, anak dengan gangguan otak, epilepsi, dan lainnya.

Setiap kali bertemu, wajah mereka tampak ceria. Beban berat merawat ABK seperti berkurang karena memiliki teman yang nasibnya sama. Kehadiran mereka saling memperkuat dalam mengasuh anak-anaknya. 

Mereka saling bertanya kabar dan berbagi informasi terkait perkembangan anaknya, apakah sudah membaik atau tidak. Pertemuan itu merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh komunitas. Tujuannya untuk menguatkan dan mendidik para orang tua dalam mengasuh anak ABK. 

Komunitas ini lahir dari kepedulian terhadap sesama. Para orang tua melakukan terapi untuk anaknya di rumah sakit. Lalu, mereka saling berteman. Dari sanalah, mereka sepakat untuk membentuk komunitas. 

“Awalnya kami ketemu di rumah sakit, waktu sama-sama menjalani terapi untuk anak,” kata Ajeng Perwitasari, wakil ketua komunitas. Lalu, sang terapis menganjurkan agar para orang tua itu membentuk komunitas untuk saling menguatkan.


“Anak ini bukan aib, tapi insyaallah membuat kami lebih sukses,” jelasnya. Akhirnya, orang tua yang anaknya hydrocephalus, epilepsi, tunanetra, tunarungu, dan lainnya berkumpul. Untuk itu, mereka semangat dalam mengasuh sang anak agar lebih baik. 

Perempuan yang akrab disapa Mama Nadia itu mengaku sempat kewalahan ketika harus mengasuh anak sendirian. Tanpa ada teman-teman di sekitarnya. “Saya merasa sangat down banget,” jelasnya. 

Melalui komunitas, kehadiran anak berkebutuhan khusus dalam hidup Ajeng membuatnya lebih bersyukur. Sebab, Tuhan menguatkan seseorang melalui cara tersebut. Memberikan anak berkebutuhan khusus. “Di komunitas, kami saling memotivasi,” ujarnya. 

Selama ini, kata dia, banyak orang tua yang masih menyembunyikan anaknya. Merasa malu karena memiliki ABK. “Mereka belum siap, sehingga perlu kesiapan mental dari keluarga besar,” ujarnya.


Kalau satu sama lain saling menguatkan, walaupun ditanya oleh orang luar, dia akan menerima. Selama ini, pemahaman masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus masih belum merata. Banyak yang tidak tahu bagaimana menghadapi ABK. Bahkan, kerap memperlakukan sama dengan anak lainnya. 

Padahal, ABK membutuhkan perlakukan khusus karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Akhirnya, komunitas ini juga memberikan pemahaman pada masyarakat. “ABK itu anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya,” tambah Lestari Widyati, pendiri komunitas ini.

Menurut dia, yang harus dilakukan pertama pada ABK adalah penerimaan. Mereka harus diterima di lingkungan keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas. Harapannya, Jember bisa menjadi kota yang ramah difabel. 

Komunitas ini kerap mendatangkan narasumber perawat atau ahli gizi untuk edukasi orang tua ABK. Tujuannya meningkatkan cara mengasuh ibu terhadap ABK. Seperti yang dilakukan Minggu lalu, komunitas ini menghadirkan dr Vanda Mustika SpKFR sebagai pemateri tentang pengoptimalan oromotor anak dengan tekstur dan rasa makanan. 

Dr Vanda menjelaskan, makanan dengan tekstur dan rasa dapat memengaruhi perkembangan berbicara anak. Dalam memberikan makanan pada ABK, harus diberi tekstur yang cocok sesuai usia dan kematangan rongga mulut, bibir, pipi, gusi, dan lainnya. Hal itu akan memengaruhi anak dalam mengunyah makanan. 



Dalam mengunyah makanan, ABK membutuhkan waktu yang lebih lama dan  tidak mudah. Apalagi, ketika mengunyah harus dalam posisi tegak. Sedangkan tidak semua ABK mampu berdiri tegak. “Untuk itu, butuh perhatian khusus dari segi kemampuan mengunyah,” terangnya.

Selain memperhatikan posisi saat pemberian makan, juga harus mengawasi organ oromotor yang matang. Hal itu untuk menghindari makan tanpa dikunyah atau langsung ditelan. “Atau malah tidak bisa menelan, sehingga pakai selang,” ujarnya.

Makanan untuk ABK, kata dia, tidak berbeda dengan makanan anak yang lain. Hanya saja, cara mengonsumsinya yang berbeda. “Anak usia enam bulan yang harus makan bubur, karena dia ABK, tidak bisa makan, akhirnya memakai dot,” paparnya. 

Pola makan bagi ABK itu diperuntukkan bagi berbagai jenis disabilitas. Seperti down syndrome, anak dengan gangguan otak, anak epilepsi, dan lainnya. “Tidak ada makanan khusus, namun teksturnya harus disesuaikan,” tambahnya. 

Pola makan itu, kata dia, akan memperbaiki kemampuan otak anak agar cepat berkembang. Kalau keliru, bisa terjadi komplikasi, seperti gizi tidak tercukupi. “Usaha bisa melewati makanan,” tandasnya.

Read More

Senin, 22 April 2019

Darurat, Ayo Kurangi Sampah Plastik


foto foto Bagus Supriadi: Sampah yang ada di Pulau Nusabarong. Meskipun kawasan cagar alam, namun tempat ini masih terdapat sampah plastik

Setiap 22 April, selalu diperingati hari bumi di seluruh dunia. Momentum ini menjadi wadah untuk terus berbuat merawat lingkungan. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sebab, persoalan sampah yang mudah ditemukan di berbagai tempat. Terutama di kawasan laut, sudah  menjadi problem  yang mengancam keberlangsungan kehidupan dan keseimbangan alam. Untuk itu, perlu kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan. 

Sampah plastik menjadi pemandangan buruk di beberapa pinggir pantai di Jember, seperti di pulau Nusabarong. Meskipun kawasan ini merupakan cagar alam yang tidak boleh didatangi oleh masyarakat, namun sampah masih ditemukan di bibir pantai.

“Ini memang fenomena yang menyedihkan,”  kata pengamat lingkungan dari Universitas Jember, Hari Sulistyowati. Menurut dia, hal itu terjadi karena kesadaran warga  membuang sampah dengan tertib masih sedikit.  Mereka tidak tertib dalam membedakan sampah organik dan non organik.

Selain itu, kata dia, belum ada  kebijakan yang tegas untuk mengatasi dan memfasilitasi persoalan sampah itu. Bahkan, industri pengolahan sampah plastik untuk mengurangi sampah plastik masih belum ada. Sampah masih belum bisa dikelola sehinga menumpuk.



Fenomena maraknya sampah itu, lanjut dia, terjadi sejak revolusi industri. Yakni dengan berkembangkan makanan dan minuman dalam kemasan plastik. Sampai sekarang, kemasan makanan banyak terbuat dari plastik.

Untuk itu, kata dia, perlu sosialisasi secara kontinyu untuk membentuk kesadaran warga. Sebab, Mereka belum sadar dengan lingkungan yang tercemar oleh sampah.

Penyebab lain, lanjut dia, ada peningkatan permintaan makanan dan minuman kemasan plastik. Kemudian, industri pengolahan dan recycle sampah  plastik masih sangat terbatas terkait kapasitas produksi.

Selain itu, kebijakan  pembatasan penggunaan plastik dan pengelolaan sampah plastik secara terpadu belum ada.  Penegakan hukum terhadap pelanggaran terkait pembuangan sampah juga tidak ada.

Perempuan yang akrab disapa Hari itu menjelaskan tentang bahaya sampah bagi kehidupan, terutama laut itu sendiri. Sampah plastik di laut tidak mudah terdegradasi. Dampaknya. menghalangi pergerakan air, organisme dan penetrasi cahaya yang mengganggu layanan ekosistemserta jarring-jaring makanan  di laut.

“Jika tertelan oleh organisme dapat  mematikan organisne perairan laut,” jelasnya. Selain  itu, keindahan laut akan berkurang seiring dengan maraknya sampah. Hal itu bisa memicu pencemaran.

Dia menyarankan agar pemerintah perlu menerapkan kebijakan untuk menekan sampah ini. Melalui pendidikan, pendidikan dan pembelajaran serta penyediaan sarana-prasarana utk sampah plastik. “Mereka juga bisa kampanye bahaya plastik,” ujarnya.



Kampanye untuk melakukan pengurangan penggunaan plastik. Cara lain adalah dengan  konversi plastik denagn bahan yang ramah lingkungan.  “Pemerintah bisa menerapkan kebijakan  pembatasan penggunaan plastik, “ paparnya.

Sementara itu, Nur Hadi, Direktur Konservasi Alam Indonesia Lestari (KAIL) Jember menambahkan persoalan sampah dilaut akan berdampak pada kesejahteraan di lingkungan. “Seperti munculnya penyakit,” tuturnya.

Untuk itu, perlu pengembangan sampah agar bisa dipilah antara organik dan non organik. Sejauh ini, kata dia, kondisi pantai di Jember memang ada yang tercemari oleh sampah. Namun tidak separah di daerah lain. “Misal pantai Bandealit yang masih cukup terjaga,” ujarnya.
 
Sebab, akses yang tidak mudah dijangkau oleh masyarakat. Kalaupun ada sampah, dibawa dari arus lain. Kendati demikian, perlu ada edukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kelestarian lingkungan. “Sebab sampah tidak akan terurai meskipun puluhan tahun,” pungkasnya.

Read More

Demo Bupati, Gerbang Pendopo Jebol



foto-foto Bagus Supriadi: Aksi teatrikal para aktivis PC PMII Jember terhadap pabrik semen di Puger

Teriakan para aktivis PC PMII Jember untuk bertemu dengan bupati tak dihiraukan. Mereka mencoba memasuki pendopo. Sementara, polisi dan satpol PP menghadang mereka. Akhirnya terjadi aksi saling mendorong yang mengakibatkan pintu gerbang pendopo jebol.
            Tak selesai disana, para mahasiswa masih setiap menunggu Bupati Jember dr Faida MMR. Mereka ingin menyampaikan aspirasinya tentang pabrik semen yang berdiri di Puger. Pabrik itu dinilai mengancam pertanian dan kesehatan masyarakat sekitar.

Sayangnya, penantian itu tak membuahkah hasil. Mereka pulang tanpa bertemu dengan bupati. Akhirnya, mereka menuliskan kata-kata bahwa pendopo disegel. Mereka kembali, namun bertekad untuk melakukan aksi lagi

Di depan kantor Pemkab Jember, para aktivis itu juga menunjukkan aksi teatrikal perlawanan terhadap pabrik semen. Mereka menyiram salah satu pendemo dengan semen. Serta membakar ban di tengah jalan.
            Aksi itu, awalnya dimulai dari double way Univeristas Jember. Mereka mendatangi gedung DPRD Jember dan menyampaikan aspirasinya di hadapan anggota perwakilan rakyat daerah. “Kami memperjuangkan hak-hak rakyat Puger,” kata M Faisal Effendi Utomo, koordinator lapangan.
Sebab, sejak  November 2017, industri semen di Puger yang dikelola  PT Imasco mulai melakukan pembebasan lahan pertanian seluas 60 hektare. Lahan tersebut dialihfungsikan menjadi lahan industri. Lalu pada April 2018, mulai melakukan konstruksi pabrik.


“Hari ini, PT PT Imasco ingin membelokkan saluran irigasi, hal ini ditolak oleh warga,” terangnya. Sebab, saluran irigasi itu digunakan untuk mengaliri sawah para petani. Bila saluran itu dibelokkan, sawah petani akan terancam kekeringan. Ada sekitar 300 hektare di Puger Kulon dan Puger Wetan yang terdampak.
Effendi menambahkan pihak pabrik sebenarnya sudah menawarkan pada masyarakat untuk membangun sumur bor di 17 titik. Namun hal itu akan berdampak pada penurunan air sehingga masyarakat di sekitar Gunung Sadeng akan terancam kekeringan. “Yang kita bawa hari, menuntut agar upaya pembelokan digagalkan,” terangnya. 


PC PMII sendiri melakukan pendampingan pada masyarakat sekitar. Mereka menerima keluhan dari warga terkait keberadaan industri tersebut. pihaknya juga berupaya untuk bertemu dengan pihak industri, namun belum bisa. Sepeti permintaan dokumen Amdal yang seharusnya mudah diakses. Pihak PT belum pernah memberikan,” tegasnya.
Begitu juga ketika meminta pada Pusat Pengelola informasi dan dokumentasi (PPID). Namun tidak bisa memberikan dokumen amdal tersebut.
Selama melakukan pendampingan, para mahasiswa menginap di rumah warga. Menurut dia, ada warga yang yang sudah terkena penyakit karena keberadaan industri tersebut. sebab udara sudah tercemar. Warga terancam dari sisi lingkungan hingga kesehatan. 



Di dewan, para aktivis itu ditemui oleh perwakilan anggota komisi B DPRD Jember, M Holil Asyari. Pihaknya akan  memanggil  PT Imasco  dan pemerintah serta perwakilan PC PMII untuk urun rembuk. “Kami  tidak mungkin menyengsarakan rakyat, apalagi saya dari Puger,” ucapnya.
Sementara di depan Pemerintah Kabupaten Jember, mereka ditemui oleh Arismaya Parahita, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Jember. “Aspirasinya akan kami sampaikan pada pimpinan, baik di dewan maupun pemkab, kami tindaklanjuti sesuai peraturan,” terangnya.


Read More

Kamis, 18 April 2019

Ingin Cepat Punya CV dan PT, Datang Aja ke Arvahub

foto dokumentasi arvahub


Suatu hari, Hasibullah mengeluhkan proses perizinan usahanya yang mbulet. Padahal, dia ingin  cepat agar bisnisnya bisa segera berjalan. Namun, semua itu hanya tinggal harapan, sebab  proses pembuatan Comanditaire Venootschap (CV) membutuhkan waktu yang lama.

Apalagi, Hasibullah tidak memiliki waktu yang cukup banyak untuk mengurus perizinan tersebut. selain itu, rumahnya berada jauh di daerah pedesaan, yakni di Desa Glagahwero Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember.

Saat itu, dia harus mengurus izin usaha sesuai dengan bidang usaha yang akan dijalankannya. Dia mendatangi Dinas Pelayanan Satu Terpadu Satu Pintu (PTSP) di kota. Perjalanan membutuhkan wakatu sekitar 30 menit.

“Sampai sekarang, masih belum ada kabar, padahal saya jauh-jauh kesini,” katanya ketika mengeluhkan proses izin yang ruwet. Maklum, dinas tersebut masih baru berdiri. Barangkali, para pegawainya masih belum berpengalaman.

foto dokumentasi arvahub

Namun satu bulan ditunggu, Hasibullah belum juga mendapatkan jawaban atas izin usahanya. Tentu, hal itu menghambat usaha yang akan dilakukan, berimbas pada ekonominya.  Padahal, dia ingin memulai bisnis di bidang pariwisata yang mulai berkembang.

Pengalamannya dalam bidang tour guide ingin memulai bisnis sendiri. Mendirikan usaha di bidang pariwisata. Namun, semangat itu tak diiringi dengan proses yang mudah mendirikan usaha, terutama proses perizinan.

Keluhan lambatnya keluarnya izin usaha tak hanya dirasakan Hasibullah. Namun banyak warga yang juga mengalami hal yang sama. Keluhan itu diutarakan dalam dialog sebuah radio swasta.

“Kami berbulan-bulan mengurus izin usaha, lambat sekali pelayanannya,” kata salah seorang dalam radio tersebut. Pelayanan yang buruk menghambat perekonomian masyarakat yang hendak mendirikan usaha. Lalu, apa yang harus dilakukan.



Arvahub, Solusi Cepat dan Tepat

Permasalahan diatas barangkali tak hanya terjadi di Kabupaten Jember. Namun bisa jadi di beberapa daerah lain. Namun, di era digital ini, tak perlu bingung. Sebab kecanggihan teknologi sudah menemukan solusinya.

Yakni melalui Arvahub, salah satu wadah yang melayani pembuatan PT dan CV secara cepat dan tepat. Cepat karena perusahaan ini sudah memiliki pengalaman dalam berbagai bidan, mulai dari properti, perhotelat, pendidikan hingga konsultas bisnis. Tepat, karena para pengelola merupakan ahli yang sudah terlatih. Begitu juga ketika hendak membuat virtual office, virtual ofiice Jakarta siap untuk melayani.

Ingin mencoba membuat CV melalui Arvahub, syaratnya mudah. Cukup mengirimkan foto copy KTP, KK dan NPWP. Dikirim secara virtula pada Arvahub. Setelah itu, Arvahub yang akan mengurusnya sampai selesai. Tak lama, bila semua persyaratan lengkap, bisa selesai selama satu bulan.

Harganya, tentu lebih murah dibanding harus mengurus sendiri seperti yang dilakukan Hasbullah. Riwa-riwi dari rumah ke kantor Dinas PTSP Jember. Yakni hanya sebesar Rp 6 juta.

Lalu bagaimana caranya, anda cukup membuka website www.arvahub.com. Disana banyak pilihan, mulai dari pembuatan PT, CV Virtual Office dan lainnya. Tinggal klik pesan sekarang, anda akan terhubung dengan nomor whatsap admin, yakni 08119189952. Setelah itu, anda akan diarahkan untuk membuat CV melalu chat di whatsap.

foto dokumentasi arvahub


Fokus Cari Uang, Administrasi Serahkan Arvahub

Menjadi pengusaha memang membutuhkan kemauan yang kuat. Termasuk tim yang juga hebat dan mau bekerjasama. Apa yang dialami Hasibullah menjadi pembelajaran. Jangan biarkan ide dan tenaga kreatifnya terhenti hanya karena proses perizinan.

Serahkan saja hal administrasi itu pada arvahub untuk mengurusnya. Percayakan semua proses pendirikan CV maupun PT pada arvahub. Pemula bisnis cukup berpikir mengambangkan strategi agar usaha yang didirikannya benar-benar maju.

Bukankah orang besar itu disibukkan dengan gagasan dan ide-ide yang gila. Urusan teknis, sudah ada yang mengurusi, seperti administrasi. Serahkan pada ahlinya, yakni arvahub.

Apa kelebihan memilih arvahub sebagai mitra untuk membuat CV atau PT. Pertama, menghemat tenaga, harga yang terjangkau, perusahaan yang berpengalaman dan terpercaya.



Read More

Jumat, 12 April 2019

Komunitas Perupa Jember




Wadah Kreasi Para Seniman



Tak terasa, komunitas ini sudah berjalan selama empat tahun. Berawal dengan nama komunitas kunang-kunang. Hingga untuk mengakomodasi banyak anggota kemudian berubah menjadi Komunitas Perupa Jember (KPJ). Banyak hal yang telah dilakukan.

Beberapa lukisan karya anak Jember dipamerkan di gedung eks-BHS Jember. Lukisan itu tak hanya karya pelukis profesional. Namun, ternyata juga ada karya anak-anak yang masih belajar melukis. Mulai dari tingkat SMP hingga SMA.

Jember Explore Painting merupakan kegiatan pameran karya seni. Setelah sebelumnya komunitas ini mengadakan pameran seni se-Indonesia di Rumah Budaya Ajung Jember. Pameran memang menjadi salah satu wadah bagi para pelukis untuk bisa menunjukkan eksistensi dan hasil karyanya.

“Ada sekitar 160 pelukis yang gabung di dalam komunitas ini,” kata Wibisono, ketua KPJ. Menurut dia, Jember memiliki potensi pelukis yang cukup banyak, jumlahnya sekitar 800 orang. Namun, tak semuanya di Jember, tetapi merantau berada di banyak daerah seperti Bali, Malang, Surabaya, Jakarta dan lainnya.

Sebelum terbentuk Komunitas Perupa Jember (KPJ), ada Komunitas Kunang-Kunang yang juga wadah para pelukis. Namun tidak lama, hingga akhirnya menjadi KPJ. Penyebabnya para pelukis melalui kunang-kunang masih belum bisa kompak.




Perlu ada wadah baru untuk menyatukan para pekerja seni, walau tidak mudah. KPJ menjadi kesepakatan bersama untuk bisa menampung para seniman gambar, mulai dari melukis, graffity, dekorasi dan lainnya.

KPJ menjadi tempat yang pas untuk berdiskusi para seniman rupa. Mulai dari saling berbagi karya dan lainnya. Selain itu, juga kerap melukis bersama di beberapa tempat. Seperti Alun-alun Jember setiap malam minggu. “Kami mulai menularkan virus seni rupa pada pelajar dan mahasiswa,” tambahnya.

Sebab, keindahan seni harus disampaikan pada generasi muda sejak dini. Harapannya agar ketika sudah dewasa, mereka bisa berkarya. Bahkan, juga bisa memberikan kontribusi dengan membeli karya-karya seni lukis yang sudah dihasilkan seniman.

Selain itu, KPJ juga berkolaborasi dengan UKM kesenian kampus. Tak jarang mereka juga harus terjun ke sekolah untuk mengajari para pelajar bisa melukis. Baik melalui kursus hingga pendampingan anak-anak untuk mengembangkan bakat melukisnya. 



Namun, program pertamanya adalah memandirikan para pelukis dulu. Yakni agar para pelukis Jember lebih produktif dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak hanya melatih kualitas karya lukis, tetapi juga cara memasarkannya. 

Para pelukis itu tak hanya berkutat di Jember. Namun, mereka turut menyemarakkan seni lukis Indonesia. Ketika ada event di luar kota, perwakilan dari Jember ikut bergabung. Seperti pameran lukis di Probolinggo, Surabaya hingga Jogjakarta.

Perlu Wadah Karya Lukis

Bila wadah untuk para pelukis sudah tersedia melalui KPJ. Maka selanjutnya para pelukis itu perlu rumah untuk menampung karya mereka. Sebab, banyak lukisan yang belum menemukan tempat untuk dipasarkan.
“Kita perlu bank karya untuk lukisan kita, atau sekretariat,” tambah Hendro, salah satu pelukis asal Ambulu. Menurut dia, tempat itu bisa menjadi wadah tempat berkumpulnya para pelukis. Sebab selama ini belum memiliki tempat yang pasti. 

“Melukis itu tidak ada habisnya,” ujarnya. Untuk itu, para pelukis selalu berkarya setiap waktu karena sudah hobi dan pekerjaannya. KPJ sendiri diharapkan bisa terus mengembangkan diri. Tak hanya hanya dari kemampuan melukis, tetapi juga perencanaan tentang karya seni rupa Jember. 

Disamping itu, Para perupa Jember terus berupaya menemukan karakter lukis Jember yang berbeda dengan daerah lain seperti Bali atau Bandung, lukisannya sudah memiliki karakter. “Jadi ketika datang kesana, orang langsung bisa menilai, ini lukisan Bandung,” tambah Wibisiono.

KPJ terus mencari identitas lukis Jember agar bisa dikenali oleh khalayak umum. Sebab, KPJ sendiri memiliki tujuan agar para perupa terus meningkatkan kreatifitasnya di bidang seni. Mulai berbagai aliran lukis, abstrak, realis, skets, karikatur atau lainnya.

Oleh Karena itu, mereka terus membangun jaringan dengan para pelukis. Setiap ada pameran, selalu memberikan informasi agar bisa ikut memamerkan karyanya.



Perbaiki Kemasan Produk 

Memilih aktif dalam kegiatan seni rupa jadi pilihan sadar pelukis. Mereka tentu harus memperjuangkan pilihannya agar bisa berkarya. Tak heran, yang perlu dilakukan adalah terus berupaya agar karya seni lukis itu bisa diterima masyarakat.

“Perlu memperbaiki kemasan produk kalau ingin diterima masyarakat,” ucap Agus, salah satu anggota KPJ. Dia menilai para pelukis Jember juga perlu melangkah dari sisi ekonomi. Yakni memperhatikan kebutuhan pasar saat ini.

Semua itu perlu dilakukan agar karya lukis bisa diterima, baik secara psikologis maupun karya. Misal, saat bertemu dengan kolektor lukis, kemasan harus dibuat baik agar lukisan bisa diterima. “Terutama bisa diterima oleh warga Jember dulu,” tambahnya.

Wahyu, seniman ukir Jember menambahkan perlu membangun kekuatan untuk membentuk pola pikir masyarakat. Yakni menjadikan seni sebagai gaya hidup. “Kalau warga paham arti seni, pelaku seni punya harapan besar untuk berkembang,” tambahnya.




Jika semua orang peka terhadap makna lukisan, dirinya yakin tak akan ada pencuri. Sebab, mereka bisa menghayati kehidupan. “Seni untuk diri sendiri yakni menuangkan idealisme perasaan, ada seni untuk masyarakat,” tambah Wibisono.
  
Melukis gambar memang mudah, namun yang sulit adalah menuangkan kejujuran dalam bentuk karya. Sebab, seringkali pelukis harus mencari waktu dan tempat tertentu agar ekspresinya tersalurkan.  

Read More