Tak Ada Orang Pintar, yang Ada Hanya Tekun



Kisah sukses ini dialami oleh pengusaha properti ternama di Jember, yakni FX Andoyo NP, MBA. Pemilik perumahan elit, Gunung Batu dan Argopuro. Berikut kisahnya...




Andoyo telah merasakan buah dari ketekunan yang dilakukannya sejak masih muda. Dia tak memiliki alasan lain meraih sukses, kecuali tekun. “Tak ada orang pintar di dunia, yang ada hanya tekun,” kata FX Andoyo NP, MBA, pengusaha properti berbagai perumahan elite.

Dia heran dengan generasi muda sekarang, banyak yang ingin sukses secara instan. Padahal, tak ada cerita meraih kaya dalam waktu yang singkat. “Anak sekarang ingin cepat, daya juangnya sedikit,” tegasnya.

Hari ini, dia melihat para pemuda tidak ingin serba repot. Tidak tekun berhitung dan latah terhadap perkembangan. Untuk itu, orang tua harus mendidik agar mandiri dan berani berjuang.  

Pria kelahiran 4 Oktober 1948 tersebut sudah malang-melintang di dunia usaha. Minat berbisnis sudah muncul sejak masih kecil. “Saat main kelereng menang, yang masih bagus saya cuci, lalu saya jual lagi,” katanya. 

Ketika melanjutkan sekolah ke salah satu SMA di Surabaya, Andoyo nyambi bekerja di perusahaan aki. Di sana, dia tak hanya bekerja, tapi juga mengintip ilmu berjualan dari bosnya. “Saat bos bicara bisnis, saya dengarkan,” akunya.

Lulus dari SMA, Andoyo tak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan dana. Pria kelahiran Banyuwangi itu merantau ke Jember dan bekerja di berbagai bidang. Mulai di toko besi, toko palawija, bahkan lainnya. 

Hingga pada tahun 1971, pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Andoyo memilih untuk bekerja sendiri, yakni jual beli batu pada proyek. Bahkan, saat pertama menggarap proyek, dirinya tidak dibayar. 

Saat itulah dia mulai bangkit. Ada jalan keluar yang membuatnya sukses memulai usaha. Dia membangun proyek jalan bekerja sama dengan pemerintah. Pergi pagi pulang malam. Begitulah rutinitasnya setiap hari. “Saya tidur hanya empat jam setiap hari,” akunya. 

Ketekunan dan kegigihan dalam bekerja mengantarkan Andoyo pada puncak kesuksesan. Namun, pada tahun 1982, ada kebijakan penyamarataan proyek. Biasanya dia menggarap 15 proyek, berkurang menjadi enam. Hal itu berdampak pada PHK pekerjanya. 

“Saya berpikir bagaimana caranya agar tidak ada PHK,” akunya. Saat itulah, dia menemukan ide untuk membangun bisnis properti. Nama Gunung Batu diambil dari usaha pertamanya, yakni jual beli batu.

“Saya tidak ada keinginan jadi pengusaha properti, tapi angin membawa saya, ini garis tangan,” jelasnya. Namun, garis tangan itu diperoleh dengan upaya kerja keras. “Perumahan di Gunung Batu itu hanya 2,5 hektare,” akunya. 

Sedangkan beberapa teman pengusaha lainnya sudah menggarap perumahan seluas 15 hektare. Sebenarnya, banyak tawaran untuk menggarap dengan lahan yang luas, namun di luar kota. “Saya orang yang tidak suka ke luar,” ujarnya. 

 Usaha properti yang dikembangkan oleh pria berumur 70 tahun itu semakin maju. Merambat pada perumahan elite. “Kebiasaan saya, mencatat apa pun yang ingin dikerjakan,” tambahnya. 

Tak heran, Andoyo menjadi pengusaha yang sangat detail dalam menghitung sesuatu. Bahkan, jam kerjanya melebihi para karyawannya. Dari dua karyawan, kini  dia sudah mempekerjakan 100 karyawan lebih. 

“Padahal, pendidikan terakhir saya SMA, tapi bisa memimpin sarjana,” akunya. Ketika menjadi direktur, Andoyo melanjutkan studi pascasarjana. Ada program bagi direktur untuk melanjutkan studi pascasarjana walau tanpa harus menjadi sarjana. 

Karena tak mengenyam bangku S1, Andoyo belajar dengan cara mengikuti berbagai seminar. Dari sana, dia memiliki kemampuan yang luas untuk mengembangkan bisnisnya. Bahkan, kini dia kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar.


Comments