Komunitas Niaga Jujur, Wadah Perempuan Berbisnis



Para perempuan yang terhimpun dalam komunitas ini merupakan perempuan mandiri. 
Sebab, mereka memiliki berbagai usaha. Mulai dari kuliner, kerajinan hingga fashion.
 
 Para anggota komunitas niaga jujur memamerkan karyanya. Mereka selalu kompak dalam berbisnis

Emak-emak yang aktif dalam komunitas niaga jujur ini bukan perempuan biasa. Mereka bersatu untuk saling membantu. Mengembangkan setiap usaha yang dimiliki anggota. Tak heran, sekarang produk mereka sudah mulai mapan.

“Ini khusus perempuan, lelaki ga bisa gabung,” kata Sulastri, ketua komunitas niaga jujur. Semangat kemandirian menyatukan mereka untuk bergerak di bidang ekonomi. Tak lagi bergantung pada sang suami.

Ada yang berjualan batik, makanan ringan, seperti kripik, sambal, dan lainnya. Mereka tak hanya menjual pada orang luar, namun anggotanya juga sama-sama membeli bila tertarik.

Komunitas ini berawal dari usaha yang dimiliki oleh Sulastri. Dia terinspirasi dari anaknya yang mengajurkan untuk membuat grup whatsap sendiri guna mempromosikan produknya. Darisanalah, dia mulai membuat grup hingga berkembang menjadi komunitas.

“Anak saya bilang, kenapa tidak buat grup sendiri,” ingatnya. Sejak 2017 lalu, Sulastri mengumpulkan berbagai temannya. Mulai dari teman guru di sekolahnya tempat mengajar, tetangga dan lainnya. 


Saat itu, Sulastri sedang berjualan produk kuliner untuk menambah penghasilan. Sebab, gaji dari mengajar di TK sedikit. Apalagi, dia memiliki kemampuan di bidang kuliner. Akhirnya, grup WA yang dibuatnya sebagai tempat untuk promosi produk.

Namun, seiring perjalanan waktu, anggota terus bertambah dan semakin berkembang. Bahkan sekarang sudah mencapai 300 lebih.  Tak hanya pembeli, namun beberapa perempuan yang juga memiliki produk UKM. “Akhirnya kami buat komunitas niaga jujur,” ujar perempuan 42 tahun tersebut.

Nama itu diambil karena terinspirasi dari Rosulullah SAW yang melakukan perniagaan secara jujur. Darisanalah, para perempuan yang merupakan ibu rumah tangga itu memiliki kegiatan baru. Yakni sharing pengalaman tentang usaha yang dijalani.

“Bila ada yang belum punya PIRT, kami bantu fasilitasi,” tambah Merry H Parulian, pembina komunitas ini. Hampir semua produk yang dimiliki diurusi kelengkapan administrasinya, seperti perizinan. Hal itu membuat para ibu-ibu semakin semangat untuk memasarkan produknya.

Sebab, produk yang sudah memiliki izin memiliki daya tawar yang lebih pada pembeli. Mereka lebih percaya diri untuk menjual produknya. Tak hanya di kalangan lokal, namun juga tingkat nasional melalui jual beli online.


Komunitas itu mendapat respon yang luar biasa. Mereka diajak untuk bergabung menjual produknya dalam kegiatan pasar malam Taman Polije setiap malam minggu di double way kampus. “Setiap malam minggu kami buka bazar disitu,” imbuhnya.

Berjualan Tanpa Lupa Bersedekah

Meskipun para perempuan ini disibukkan dengan mengurus keluarga dan berjualan. Namun mereka tidak lupa untuk berkegitan sosial. Kegiatan bersedekah menjadi kegiatan rutin. Mulai dari bhakti sosial  memberikan bantuan pada lansia dan anak yatim.


“Kami juga ada sedekah jumaat,” tambah Sulastri. Yakni menjual nasi dengan harga yang sangat murah namun dengan menu yang sehat. Ketika ada anak yatim yang sakit, mereka siap mengulurkan tangan, urunsan sesama anggota komunitas.

Tak hanya itu, saat banjir melanda beberapa warga Jember lalu. Mereka datang ke lokasi untuk memberikan sembako. “Setiap bulan kami datang ke panti jompo untuk memberikan bantuan,” akunya.

Semua itu dilakukan karena dalam berbisnis, mereka perlu bersedakah agar usaha yang dilakukan menjadi berkah. Semua itu diterapkan oleh anggota komunitas. Menyisihkan penghasilan mereka untuk berbagi pada yang membutuhkan.

Bersatu Karena Punya Visi Sama

Kekompakan para perempuan ini karena memiliki visi yang sama untuk mandiri. Mereka ingin mengembangkan produk lokal Jember. Sebab, bila berjalan sendiri, lebih sulit untuk berkembang. “Kami bisa saling memberdayakan perempuan,” tambah Erita Hermansyah, penasihat komunitas niaga jujur.


Pengakuan itu dirasakan oleh Dewi Purnamasari. Usahanya berjualan tanaman hias, souvenir dan lainnya  mulai berkembang. Dari komunitas niaga jujur, bisa saling menambah wawasan dan pemasaran. “Saya orang baru di Jember, diuntungkan ada wadah komunitas ini,” jelasnya. 

Begitu juga dengan yang  diarasakan oleh Rusna, perempuan asal Jakarta yang memulai bisnis sambel perawan. Bersama suaminya pindah ke Jember, mengawali bisnis kuliner lokal Jember. “Cabe yang kami buat dari petani Jember, dikemas menarik, dipasarkan secara online,” akunya. 

Tak hanya dia, Ana Mardiana yang memiliki budidaya lele juga memanfaatkan komunitas ini untuk memajukan usahanya. Belajar untuk membuat produk dari ikan lele. “Saya tertarik aktif di komunitas karena ibu-ibunya solid dan kompak,” tegasnya. 

Begitu juga dengan yang dirasakan oleh Vivin yang membuat kreasi makanan dari jamur. Bahkan, dia sudah membuat omah Jamur di Kalisat. Beberapa olahan jamur dibuat dan dijual kepada masyarakat. “Saya awalnya penyiar radio dan guru SD, namun beralih berjualan,” tuturnya. 

Fitriah, karyawan swasta juga memilih berhenti dan memulai usaha sendiri. Yakni produk kacang telur, kuping gajah dan minuman. Perizinan produk tersebut difasilitasi oleh komunitas. “Semua bersama ingin memajukan produk Jember,” pungkasnya.

 

Comments