Skip to main content

Cerita Kegigihan Sulistyowati Mengajar Seni Tari


Melalui sanggar, Sulistyowati tak hanya melestarikan seni budaya. Namun mengembangkannya dengan menciptakan berbagai jenis kreasi seni  tari kontemporer. Kemudian, mengajarkan kepada anak didiknya.
foto Bagus Supriadi: Totalitas Sulistyowati di bidang seni tari tak diragukan lagi. Guru seni budaya itu banyak mencetak penari andal di Jember.
  Di ruang seni SMAN 2 Jember, Sulistyowati sedang melatih para pelajar menari. Ada sekitar 30 anak. Mereka melakukan berbagai gerakan mengikuti arahan Sulistyowati. Pembelajaran di sekolah seperti ini kami dilakukan tiap hari Selasa dan Kamis,” jelasnya, di sela-sela latihan.
Di hari libur, Sulistyowati tak berhenti bergerak di bidang seni. Dia mengajar tari di Sanggar Sotalisa, pusat seni tari miliknya, yang dia dirikan sejak 1997 lalu. Dari sanggar itu, banyak lahir penari yang sudah menjalani berbagai profesi. Membentuk karakter anak yang percaya diri, sopan dan berbudaya,” lanjutnya.
Perempuan yang akrab disapa Sulis itu memang guru seni budaya. Tak hanya mengajar seni tari, tapi semua tentang budaya nusantara dia ajarkan pada murid-muridnya.  Namun, diantara semua budaya, dia lebih menyukai seni tari. “Saya tidak bisa meninggalkan seni tari. Ini sudah bagian hidup saya,” katanya.
 Sejak usia tujuh tahun, perempuan kelahiran Pamekasan Madura pada 4 April 1971 sudah belajar menari di tanah kelahirannya. Waktu itu, dia belajar tari Bagong yang terkenal.
Ketekunannya belajar tari menjadikan Sulis sebagai Duta Wisata Kabupaten Pamekasan. Kemahirannya di dunia seni membuatnya semakin percaya diri. Ketika masih di bangku SMA, dia diminta untuk mewakili Jawa Timur ke Brunei Darussalam dan Malaysia.
“Di luar negeri, saya membawakan tari-tari Jawa Timur. Seperti tari Topeng Getak,” imbuhnya. Tak ingin berhenti belajar seni tari, dia melanjutkan belajar  seni di kampus IKIP Surabaya. 
PESERTA SANGGAR: Sulis foto bersama dengan anak didiknya yang memilih belajar seni tari


Bahkan sejak di Surabaya, Sulis sering diminta untuk mewakili Jawa Timur ketika ada kegiatan keluar negeri. Sulis mengaku, sudah tampil di 15 negara di Eropa. Mulai dari Spanyol, Italia, Jerman dan lainnya.
“Saya dulu dikenal spesial penari Gandrung,” aku perempuan berkerudung tersebut. Ketika tampil diluar negeri, dia membawakan berbagai jenis seni tari Indonesia. Bahkan pernah menjadi instruktur tari di Belanda. Memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia pada dunia.
Usai kuliah, dia menikah dengan Eko Nurcahyo dan pulang ke Jember. Di Jalan Kyai Mojo nomor 89, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, Sulis mendirikan sanggar Sotalisa sebagai tempat untuk mengajar tari pada para pelajar hingga mahasiswa. Dia tak ingin seni tari punah, tapi terus dipelajari oleh generasi. “Harus ada generasi muda yang meneruskan,” tegasnya.
Dia menyadari, umurnya akan semakin tua. Namun seni tari harus terus berkembang dan terus hidup. Apalagi belajar tari juga sebagai terapi tubuh agar sehat.
Untuk itu, Sulit tak hanya mengajar para pelajar, tetapi juga mahasiswa. Setiap mahasiswa yang hendak keluar negeri dalam berbagai kegiatan akademik, syaratnya harus bisa menari. Sebab, akan ditampilkan di luar negeri.
“Ada yang merasa menyesal ketika ikut acara di luar negeri, karena tidak belajar tari,” terangnya.
Menurut dia, seni tari itu mudah diterima oleh semua kalangan, dalam hingga luar negeri. Banyaknya seni tari menunjukkan kekayaan budaya bangsa. Hal itu perlu dikenalkan pada dunia yang lebih luas.
Tak hanya merawat seni tari tradisional. Namun, Sulis juga terus berinovasi dengan menciptakan berbagai seni kontemporer. Jumlahnya sudah ratusan. Seperti seni tari Lahako Na Ost, tari yang menceritakan tentang perempuan yang bekerja sebagai buruh tembakau.
Sulis menciptakan kareografi tari, kostum, make up serta musiknya juga. Proses kreatif itu dibuat dengan mempelajari banyak hal. Misal dalam membuat kostum, melakukan kajian dan diskusi dengan beberapa pakar. “Tidak asal menciptakan kostum, tapi konsultasi dulu,” akunya.
Dia mencontohkan kostum tari Labako yang memiliki makna tersirat. Kostum dibuat dengan motif tembakau. Berwarna hijau yang menunjukkan kabupaten Jember terkenal dengan tanahnya yang subur, banyak daerah perkebunan. Kemudian, topi dibuat dengan makna Jember diapit oleh pegunungan yang indah dan hijau.
“Orang yang  mengolah tembakau banyak wanita, rambutnya pasti ditutup biar tidak bau,” ujar ibu dari Gerald Naufal Dhiaulhaq itu. Kostum tari Labako itu mengandung berbagai simbol tentang Jember sendiri.
Kondisi hari ini, kata Sulis, generasi milenial mulai banyak yang terpengaruh dengan budaya asing. Seni tari tradisional mulai terasa asing bagi anak muda. Untuk itulah, dia memiliki tugas agar seni tari tetap disukai oleh generasi bangsa.
Caranya, memperkenalkan tari kontemporer untuk memahami tari tradisional. Seni tari yang dikolaborasikan dengan modernitas itu menjadi pintu masuk agar para pelajar mengerti dengan seni tradisional peninggalan nenek moyang. “Saya menciptakan tari kontemporer tanpa melakukan seni tradisional,” akunya.
Menurut dia, guru hari ini harus kreatif dan tidak boleh egois. Terus berinovasi, tanpa meninggalkan kearifan lokal.  Apalagi tantangan zaman terus berkembang, perlu upaya yang berbeda untuk melestarikan seni tari tradisional
          Perempuan perain juara festival tari Jawa Timur itu menerapkan hal itu pada pelajarnya. Siswa yang ingin belajar dance ala barat, harus belajar seni tari Indonesia dulu. “Lewati dulu budaya sendiri sebelum belajar  budaya atau tari dari luar,” tegasnya.
Pelajar yang memilih seni tari sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, memiliki tingkat percaya diri yang lebih tinggi. Karakter lebih sopan dan berbudaya. Sebab mereka dilatih untuk menerapkan budaya luhur bangsa dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya lebih percaya diri dan berani berekspresi,” aku  Maya Dwi Ayu Lestari, siswi kelas XI IPA yang memilih belajar tari. Dia sudah  menguasai lebih dari 10 jenis seni tari. Selain ingin melestariakan budaya nusantara, juga meningkatkan bakatnya yang sudah diasah sejak masih di bangku sekolah dasar. 
Tak hanya Maya, Meidy Naura Salsabila juga merasakan hal yang sama. Banyak karakter positif yang diperolehnya dari belajar seni tari.  Mulai dari mengetahui budaya nusantara, juga lebih mudah dalam berkomunikasi dengan orang lain. “Seperti cara berkomunikasi dengan yang lebih tua sesuai dengan budaya bangsa,” pungkasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Mengenal Sekolah Yang-eyang di Ledokombo

Belajar Cara Mengasuh Cucu, Mengganti Peran Ibu

Eyang memiliki kasih sayang besar dalam mendidikcucunya. Sayangnya, bila tidak memiliki pengetahuan cara mengasuh anak, bisa berdampak buruk. Sekolah yang-eyang ini menjadi wadah belajar bersama mengasuh anak.

Alat permainan tradisional egrang mudah ditemukan di komunitas tanoker. Disanalah, aktivitas belajar dan bermain anak-anak Kecamatan Ledokombo. Bahkan tempat ini juga menjadi wadah belajar para bapak, ibu hingga eyang.
Suasananya yang teduh dan damai menjadi pilihan banyak orang melakukan kegiatan. Mulai dari workshop, pelatihan hingga belajar permainan tradisional. Tak terkecuali para siswa sekolah yang-eyang yang sudah memasuki usia senja.
Sekolah yang-eyang ini hadir atas semangat bersama untuk menjadi lansia yang berkualitas dan menciptakan generasi emas. Bila sebelumnya di Ledokombo sudah ada mother School dan father school. Sekarangbertambah lagi grandmother school atau sekolah yang-eyang ‘segar’, kepanjangan dari sehat bugar.
S…

Bersahabat dengan Tanaman, Damai Bersama Alam