Berbagi Jangan Tunggu Kaya






“Kaya itu tidak ada tolak ukurnya, bukan hanya soal uang,” kata Maya Cendrawasih, aktivis sosial Jember. Prinsip itulah yang menggerakkannya untuk membantu orang lain. Baginya, bila menunggu kaya, kapan akan berbagi. 



Perempuan kelahiran 20 Mei 1976 itu sudah cukup lama terjun ke dunia relawan. Datang ke berbagai pelosok desa, membantu orang-orang pinggiran dengan memberikan sembako. Semua itu dimulai  sekitar tahun 2009 lalu. 

Dia tidak tega melihat orang-orang lemah.  Setiap  berkunjung ke desa, dia selalu membawa sembako. Bila bertemu dengan janda tua, dia turun dan menyapa. Lalu memberikan sembako tersebut. 

“Pernah saya lihat janda tua di jalan. Katanya mau cari ubi buat makan. Saya datangi langsung,” katanya. Sembako yang terdapat di dalam mobil dia berikan. Panggilan kemanusiaan itu membuat dirinya tak pernah lelah untuk membantu orang yang membutuhkan, terutama para lansia. 

Kebiasaan membantu orang lain tidak lepas dari pengaruh orang tuanya. Ketika melihat orang yang sedang kesusahan, ia terpanggil untuk menolong. “Prinsip bapak saya, jangan menunggu kaya untuk membantu orang,” kata Maya. 

Sebab, tidak ada patokan untuk mendefinisikan kaya. Orang kaya harta, belum tentu kaya dalam arti yang sesungguhnya. Untuk itulah, selagi bisa berbagi dengan orang lain, harus dilakukan. 

Kegiatan sosial itu dimulai saat kegiatan gereja. Maya bertugas untuk melakukan survei guna membantu lansia di Dusun Sumuran, Desa Ajung. Selama dua tahun, dia memberikan bantuan sembako pada warga sekitar. 

Seiring dengan perjalanannya, ia terus tergerak di bidang sosial. Lepas dari gereja, Maya terjun sendiri mengajak beberapa komunitas. “Waktu itu terjun di kawasan sekitar PTPN XII, memberikan sembako pada lansia dan anak yatim,” ujarnya. 

Maya terus mencari donatur untuk menyalurkan bantuan. Beberapa daerah terpencil didatangi. Melihat orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah. “Misal sekarang rutin memberikan sembako di Desa Panduman,” ucapnya. 

Setiap bulan, dia datang ke lokasi bantuan untuk melihat perkembangan. Bila tidak membawa sembako, dia berbagi cerita. “Para lansia itu juga butuh didengarkan, butuh berkeluh kesah,” akunya. 

Maya tak segan untuk memeluk lansia tersebut. Hal itu sudah menggembirakan bagi mereka. Para lansia, aku dia, ada yang tidak pernah mengenal uang nilai Rp 100 ribu. Ada di antara mereka yang hanya kenal Rp 20 ribu. 

Untuk itulah, apa pun penilaian orang tentang perbuatan yang dilakukannya, Maya tak ambil pusing. Sebab, dia terpanggil untuk membantu orang yang membutuhkan. Baginya, ada kepuasan batin yang tidak ternilai. 

Pada para pemuda, Maya berharap agar peka terhadap lingkungan sekitar. Sebab, kemiskinan tidak hanya terjadi di kawasan perdesaan, namun di perkotaan juga banyak. “Pemuda harus sering diajak ikut kegiatan sosial,” akunya. Kalau tidak bisa membantu memberikan materi, minimal bisa menghibur dan mendoakan.

Comments