Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2019

Komunitas Niaga Jujur, Wadah Perempuan Berbisnis

Para perempuan yang terhimpun dalam komunitas ini merupakan perempuan mandiri. 
Sebab, mereka memiliki berbagai usaha. Mulai dari kuliner, kerajinan hingga fashion.
Emak-emak yang aktif dalam komunitas niaga jujur ini bukan perempuan biasa. Mereka bersatu untuk saling membantu. Mengembangkan setiap usaha yang dimiliki anggota. Tak heran, sekarang produk mereka sudah mulai mapan.
“Ini khusus perempuan, lelaki ga bisa gabung,” kata Sulastri, ketua komunitas niaga jujur. Semangat kemandirian menyatukan mereka untuk bergerak di bidang ekonomi. Tak lagi bergantung pada sang suami.
Ada yang berjualan batik, makanan ringan, seperti kripik, sambal, dan lainnya. Mereka tak hanya menjual pada orang luar, namun anggotanya juga sama-sama membeli bila tertarik.
Komunitas ini berawal dari usaha yang dimiliki oleh Sulastri. Dia terinspirasi dari anaknya yang mengajurkan untuk membuat grup whatsap sendiri guna mempromosikan produknya. Darisanalah, dia mulai membuat grup hingga berkembang menjadi komuni…

Batik Sekarwaru, Batik dari Pelosok Desa

Geliat usaha batik terus merambat ke berbaagai daerah pelosok. Seperti batik sekarwaru yang ada tengah sawahDesa Tegalwaru. Batik ini tumbuh dan berkembang dari pelosok desa. 
 batik yang dibuat di Dusun Sumberpinang Desa Tegalwaru kecamatan Mayang
Mencari tempat produksi batik sekarwaru di Dusun Sumberpinang Desa Tegalwaru Kecamatan Mayang cukup sulit. Ia berada di kawasan yang cukup terpencil. Sebab, harus melewati jalan setapak di tengah hamparan sawah. 
Kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau tempat ini. Hanya bisa dilalui oleh roda dua. Namun harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Sebab jalannya tidak beraspal, hanya jalan setapak. Bahkan untuk mencari signal internet cukup sudah di tempat ini. 
Di musim hujan, tak ada batik yang dijemur di luar rumah. Bahkan, produksi menurun karena kencala cuaca. Di dalam rumah Vivin Rofiqoh,pemilik batik ini, ada sehelai kain yang sudah dibatik sedang dikeringkan melalui kipas angin.
Batik itu dikeringkan di ruang tamunya yang cukup sempit…

Mengenal Komunitas Jember Runners

Komunitas ini menjadi wadah untuk hidup sehat dengan cara olahraga lari. Setiap harinya, ada yang berlari hingga sepuluh kilometer. Lari sudah menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan.
Jangan heran, bila setiap malam Jumat ada sekelompok orang yang sedang lari. Mereka adalah para anggota Komunitas Jember Runners. Mereka memanfaatkan waktu malam hari untuk olahraga di seputar kota
Komunitas ini awalnya memang menjadi wadah untuk lari malam. Namanya Jember Runner Night. Mereka dibentuk pada tahun 2014 lalu oleh sekelompok pemuda yang sadar dengan pentingnya hidup sehat melalui olahraga. Namun, seiring perjalanan waktu, komunitas ini berubah menjadi Jember Runners.
Mereka lari tak hanya pada malam hari. Namun setiap Minggu pagi, dan berkumpul di Alun-Alun Jember. Kemudian lari bersama ke berbagai tempat, seperti rute di segitiga emas.
“Saya memang tertarik lari sejak masih pelajar SMA,” kata Bambang Margono, salah satu pegiat Jember Runners. Awalnya dia hanya lari sendiri. Namun, dia dipert…

Mengenal Rudy, Dosen yang Menggerakkan Olahraga Lari

Memilih aktif olahraga lari merupakan pilihan sadar dosen FKG ini. Tak ingin sehat sendiri, Rudi membentuk komunitas lari di kalangan mahasiswa, yakni Destritry Runner. Perkumpulan ini semakin berkembang hingga berkolaborasi dengan Jember Runners.

Pria yang akrab disapa Rudy ini baru saja datang dari Pantai Parangtritis Jogkarta. Dia mengikuti event 2019 coast to coast night trail ultra atau lari lintas alam 17 Februari 2019 lalu. Dalam even ini, Rudy menempuh jarak lari 50 kilometer selama 12 jam. Jarak tersebut ditempuh dengan penuh perjuangan sebab tidak mudah, mulai pukul 00.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
Selain melintasi alam, juga harus melewati jalan pasir dan tanjakan ekstrem yang sangat melelahkan tubuh. “Lari di atas pasir lebih sulit,” katanya. Namun, Rudy sudah terbiasa lari setiap harinya. Dua hari sekali, dia berlari sejauh 10 kilometer. Kebiasaan itu membuat dirinya memiliki tubuh yang lebih awet dibandung umurnya47 tahun.
Semangat untuk hidup sehat membuatnya tak kena…

Berbagi Jangan Tunggu Kaya

“Kaya itu tidak ada tolak ukurnya, bukan hanya soal uang,” kata Maya Cendrawasih, aktivis sosial Jember. Prinsip itulah yang menggerakkannya untuk membantu orang lain. Baginya, bila menunggu kaya, kapan akan berbagi. 


Perempuan kelahiran 20 Mei 1976 itu sudah cukup lama terjun ke dunia relawan. Datang ke berbagai pelosok desa, membantu orang-orang pinggiran dengan memberikan sembako. Semua itu dimulaisekitar tahun 2009 lalu. 
Dia tidak tega melihat orang-orang lemah. Setiap berkunjung ke desa, dia selalu membawa sembako. Bila bertemu dengan janda tua, dia turun dan menyapa. Lalu memberikan sembako tersebut. 
“Pernah saya lihat janda tua di jalan. Katanya mau cari ubi buat makan. Saya datangi langsung,” katanya. Sembako yang terdapat di dalam mobil dia berikan. Panggilan kemanusiaan itu membuat dirinya tak pernah lelah untuk membantu orang yang membutuhkan, terutama para lansia. 
Kebiasaan membantu orang lain tidak lepas dari pengaruh orang tuanya. Ketika melihat orang yang sedang kesusaha…

Tak Ada Orang Pintar, yang Ada Hanya Tekun

Kisah sukses ini dialami oleh pengusaha properti ternama di Jember, yakni FX Andoyo NP, MBA. Pemilik perumahan elit, Gunung Batu dan Argopuro. Berikut kisahnya...



Andoyo telah merasakan buah dari ketekunan yang dilakukannya sejak masih muda. Dia tak memiliki alasan lain meraih sukses, kecuali tekun. “Tak ada orang pintar di dunia, yang ada hanya tekun,” kata FX Andoyo NP, MBA, pengusaha properti berbagai perumahan elite.
Dia heran dengan generasi muda sekarang, banyak yang ingin sukses secara instan. Padahal, tak ada cerita meraih kaya dalam waktu yang singkat. “Anak sekarang ingin cepat, daya juangnya sedikit,” tegasnya.
Hari ini, dia melihat para pemuda tidak ingin serba repot. Tidak tekun berhitung dan latah terhadap perkembangan. Untuk itu, orang tua harus mendidik agar mandiri dan berani berjuang.
Pria kelahiran 4 Oktober 1948 tersebut sudah malang-melintang di dunia usaha. Minat berbisnis sudah muncul sejak masih kecil. “Saat main kelereng menang, yang masih bagus saya cuci, lalu s…

Kreasi Pemuda, Bangun Bendungan Jadi Wisata

Generasi muda Dusun Mandilis Desa Sanenrejo Kecamatan Tempurejo memiliki semangat baru dalam membangun desanya. Potensi sumber daya air yang mereka miliki dikembangkan menjadidestinasi wisata. Yakni wisata Bendungan Dam Rejo (BDR).
Bendungan yangberfungsi untuk irigasi, sekarang memiliki manfaat tambahan. Yakni sebagai tempat rekreasi masyarakat. Sebab, pemandangan alam yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TMNB) itu sangatmemukau.
Pengembangan BDR mampu merubah pola pikir masyarakat. Bila sebelumnya mereka menjarah hutan, putus sekolah dan malas belajar.Sekarang semangat muncul untuk belajar memajukan desa. 
“Hutannya sangat alami, begitu indah,” kata Totok Widarto, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sarang Tawong Tempurejo. Bedungan tersebut dibangun sekitar tahun 1970 silam. Lalu, pada tahun 1992 diperbaiki. 
“Awalnya bendungan ini lurus, lalu ketika diperbaiki dirubah berbentul letter L,” akunya.Bendungan itu dinilai menjadi bendungan yang unik, sebab berbentuk…