Selasa, 19 Maret 2019

Komunitas Niaga Jujur, Wadah Perempuan Berbisnis



Para perempuan yang terhimpun dalam komunitas ini merupakan perempuan mandiri. 
Sebab, mereka memiliki berbagai usaha. Mulai dari kuliner, kerajinan hingga fashion.
 
 Para anggota komunitas niaga jujur memamerkan karyanya. Mereka selalu kompak dalam berbisnis

Emak-emak yang aktif dalam komunitas niaga jujur ini bukan perempuan biasa. Mereka bersatu untuk saling membantu. Mengembangkan setiap usaha yang dimiliki anggota. Tak heran, sekarang produk mereka sudah mulai mapan.

“Ini khusus perempuan, lelaki ga bisa gabung,” kata Sulastri, ketua komunitas niaga jujur. Semangat kemandirian menyatukan mereka untuk bergerak di bidang ekonomi. Tak lagi bergantung pada sang suami.

Ada yang berjualan batik, makanan ringan, seperti kripik, sambal, dan lainnya. Mereka tak hanya menjual pada orang luar, namun anggotanya juga sama-sama membeli bila tertarik.

Komunitas ini berawal dari usaha yang dimiliki oleh Sulastri. Dia terinspirasi dari anaknya yang mengajurkan untuk membuat grup whatsap sendiri guna mempromosikan produknya. Darisanalah, dia mulai membuat grup hingga berkembang menjadi komunitas.

“Anak saya bilang, kenapa tidak buat grup sendiri,” ingatnya. Sejak 2017 lalu, Sulastri mengumpulkan berbagai temannya. Mulai dari teman guru di sekolahnya tempat mengajar, tetangga dan lainnya. 


Saat itu, Sulastri sedang berjualan produk kuliner untuk menambah penghasilan. Sebab, gaji dari mengajar di TK sedikit. Apalagi, dia memiliki kemampuan di bidang kuliner. Akhirnya, grup WA yang dibuatnya sebagai tempat untuk promosi produk.

Namun, seiring perjalanan waktu, anggota terus bertambah dan semakin berkembang. Bahkan sekarang sudah mencapai 300 lebih.  Tak hanya pembeli, namun beberapa perempuan yang juga memiliki produk UKM. “Akhirnya kami buat komunitas niaga jujur,” ujar perempuan 42 tahun tersebut.

Nama itu diambil karena terinspirasi dari Rosulullah SAW yang melakukan perniagaan secara jujur. Darisanalah, para perempuan yang merupakan ibu rumah tangga itu memiliki kegiatan baru. Yakni sharing pengalaman tentang usaha yang dijalani.

“Bila ada yang belum punya PIRT, kami bantu fasilitasi,” tambah Merry H Parulian, pembina komunitas ini. Hampir semua produk yang dimiliki diurusi kelengkapan administrasinya, seperti perizinan. Hal itu membuat para ibu-ibu semakin semangat untuk memasarkan produknya.

Sebab, produk yang sudah memiliki izin memiliki daya tawar yang lebih pada pembeli. Mereka lebih percaya diri untuk menjual produknya. Tak hanya di kalangan lokal, namun juga tingkat nasional melalui jual beli online.


Komunitas itu mendapat respon yang luar biasa. Mereka diajak untuk bergabung menjual produknya dalam kegiatan pasar malam Taman Polije setiap malam minggu di double way kampus. “Setiap malam minggu kami buka bazar disitu,” imbuhnya.

Berjualan Tanpa Lupa Bersedekah

Meskipun para perempuan ini disibukkan dengan mengurus keluarga dan berjualan. Namun mereka tidak lupa untuk berkegitan sosial. Kegiatan bersedekah menjadi kegiatan rutin. Mulai dari bhakti sosial  memberikan bantuan pada lansia dan anak yatim.


“Kami juga ada sedekah jumaat,” tambah Sulastri. Yakni menjual nasi dengan harga yang sangat murah namun dengan menu yang sehat. Ketika ada anak yatim yang sakit, mereka siap mengulurkan tangan, urunsan sesama anggota komunitas.

Tak hanya itu, saat banjir melanda beberapa warga Jember lalu. Mereka datang ke lokasi untuk memberikan sembako. “Setiap bulan kami datang ke panti jompo untuk memberikan bantuan,” akunya.

Semua itu dilakukan karena dalam berbisnis, mereka perlu bersedakah agar usaha yang dilakukan menjadi berkah. Semua itu diterapkan oleh anggota komunitas. Menyisihkan penghasilan mereka untuk berbagi pada yang membutuhkan.

Bersatu Karena Punya Visi Sama

Kekompakan para perempuan ini karena memiliki visi yang sama untuk mandiri. Mereka ingin mengembangkan produk lokal Jember. Sebab, bila berjalan sendiri, lebih sulit untuk berkembang. “Kami bisa saling memberdayakan perempuan,” tambah Erita Hermansyah, penasihat komunitas niaga jujur.


Pengakuan itu dirasakan oleh Dewi Purnamasari. Usahanya berjualan tanaman hias, souvenir dan lainnya  mulai berkembang. Dari komunitas niaga jujur, bisa saling menambah wawasan dan pemasaran. “Saya orang baru di Jember, diuntungkan ada wadah komunitas ini,” jelasnya. 

Begitu juga dengan yang  diarasakan oleh Rusna, perempuan asal Jakarta yang memulai bisnis sambel perawan. Bersama suaminya pindah ke Jember, mengawali bisnis kuliner lokal Jember. “Cabe yang kami buat dari petani Jember, dikemas menarik, dipasarkan secara online,” akunya. 

Tak hanya dia, Ana Mardiana yang memiliki budidaya lele juga memanfaatkan komunitas ini untuk memajukan usahanya. Belajar untuk membuat produk dari ikan lele. “Saya tertarik aktif di komunitas karena ibu-ibunya solid dan kompak,” tegasnya. 

Begitu juga dengan yang dirasakan oleh Vivin yang membuat kreasi makanan dari jamur. Bahkan, dia sudah membuat omah Jamur di Kalisat. Beberapa olahan jamur dibuat dan dijual kepada masyarakat. “Saya awalnya penyiar radio dan guru SD, namun beralih berjualan,” tuturnya. 

Fitriah, karyawan swasta juga memilih berhenti dan memulai usaha sendiri. Yakni produk kacang telur, kuping gajah dan minuman. Perizinan produk tersebut difasilitasi oleh komunitas. “Semua bersama ingin memajukan produk Jember,” pungkasnya.

 
Read More

Senin, 18 Maret 2019

Batik Sekarwaru, Batik dari Pelosok Desa



Geliat usaha batik terus merambat ke berbaagai daerah pelosok. Seperti batik sekarwaru yang ada tengah sawah  Desa Tegalwaru. Batik ini tumbuh dan berkembang dari pelosok desa. 

 batik yang dibuat di Dusun Sumberpinang Desa Tegalwaru kecamatan Mayang

Mencari tempat produksi batik sekarwaru di Dusun Sumberpinang Desa Tegalwaru Kecamatan Mayang cukup sulit. Ia berada di kawasan yang cukup terpencil. Sebab, harus melewati jalan setapak di tengah hamparan sawah. 

Kendaraan roda empat tidak bisa menjangkau tempat ini. Hanya bisa dilalui oleh roda dua. Namun harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Sebab jalannya tidak beraspal, hanya jalan setapak. Bahkan untuk mencari signal internet cukup sudah di tempat ini. 

Di musim hujan, tak ada batik yang dijemur di luar rumah. Bahkan, produksi menurun karena kencala cuaca. Di dalam rumah Vivin Rofiqoh,  pemilik batik ini, ada sehelai kain yang sudah dibatik sedang dikeringkan melalui kipas angin.

Batik itu dikeringkan di ruang tamunya yang cukup sempit. Sementara, beberapa batik dengan motif tembakau yang sudah selesai, dipajang. Ada warna hitam, merah, orange hingga lainnya. 

Keterbatasan akses dan sarana tidak menjadi penghalang bagi Vivin untuk memulai usaha.  Perempuan yang akrab disapa Vivin ini baru merintis usaha batik khas Jember. Tak banyak warga Mayang yang bergerak di sektor ini.  Hanya ada sekitar  dua pengrajin batik. “Saya baru memulai sekitar tahun 2016,” katanya. 

Semua itu berawal saat dirinya mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Tegalwaru. Sekitar 50 warga ikut kegiatan tersebut. Sayangnya, tak semua menekuni dunia batik, hanya beberapa orang saja yang melanjutkan kerajinan batik. 

Salah satunya adalah Vivin Rofiqoh yang juga sebagai guru di MI Nurur Rohman. Dia tetap memiliki semangat untuk melanjutkan kemampuan membatiknya. Apalagi, dia memang suka menggambar.  Akhirnya, dia memulai dengan cara yang sederhana.



Pertama mengawali kerajinan ini, Vivin sempat diremehkan oleh tetangga sekitar. Sebab mereka tidak yakin dengan usaha batik akan laku. Apalagi ada di daerah terpencil yang tak bisa dilewati kendaraan roda empat. 

Membuat batik, kata dia, memalui beberapa tahapan. Seperti  Pemberian malam atau  lilin  pada kain, pewarnaan hingga pelepasan lilin dari kain. Kain putih yang akan dibatik dapat diberi warna dasar sesuai selera. Setelah itu diberi lilin.  

Proses pemberian lilin menggunakan canting tangan. Setelah itu, batik dicelup dengan warna.  Proses pewarnaan ini dapat dilakukan beberapa kali sesuai keperluan dan berapa warna yang diinginkan. “Saya hanya produksi batik tulis,” ujarnya. 

Setelah proses pewarnaan dan pemberian malam selesai. Malam atau lilin dilunturkan dengan proses pemanasan.  Batik yang telah diproses diatas direbus hingga lili menjadi leleh dan terlepas dari kain dan larut dalam air.  

Proses perebusan ini dilakukan dua kali, yang terakhir dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pada batik, dan menghindari kelunturan.  Setelah perebusan selesai, batik direndam air dingin dan dijemur.



Dalam  memproduksi batik, bila pemesanan cukup banyak, vivin menggunakan jasa warga sekitar, terutama keluarganya sendiri. “Hasil batiak pertama  dulu dipakai sendiri, tidak dijual,” ucapnya. 

Sekarang, lanjut dia, batik yang dibuatnya sudah dipamerkan di berbagai daerah, mulai dari Surabaya hingga Bali. Bahkan pembelinya beragam, mulai dari pejabat hingga pengusaha. Bahkan, dia juga memasarkan kerajinan batik itu melalui toko online. 

Batik yang dibuatnya memang tidak banyak. Sebab, juga bergantung pada modal yang dimiliki. Satu bulan batik yang diproduksi masih 15 potong. “Harganya dari Rp 250 hingga Rp 400 ribu,” akunya. Motif yang dipakai mulai dari motif tembakau, kopi dan kakao. Usaha yang dirintisnya memang penuh perjuangan. Namun dirinya ulet dan sabar untuk terus mengembangkan kerajinan batik.
Read More

Mengenal Komunitas Jember Runners




Foto bersama dengan para pegiatan komunitas Jember Runners

Komunitas ini menjadi wadah untuk hidup sehat dengan cara olahraga lari. Setiap harinya, ada yang berlari hingga sepuluh kilometer. Lari sudah menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan.

Jangan heran, bila setiap malam Jumat ada sekelompok orang yang sedang lari. Mereka adalah para anggota Komunitas Jember Runners. Mereka memanfaatkan waktu malam hari untuk olahraga di seputar kota

Komunitas ini awalnya memang menjadi wadah untuk lari malam. Namanya Jember Runner Night. Mereka dibentuk pada tahun 2014 lalu oleh sekelompok pemuda yang sadar dengan pentingnya hidup sehat melalui olahraga. Namun, seiring perjalanan waktu, komunitas ini berubah menjadi Jember Runners.

Mereka lari tak hanya pada malam hari. Namun setiap Minggu pagi, dan berkumpul di Alun-Alun Jember. Kemudian lari bersama ke berbagai tempat, seperti rute di segitiga emas.

“Saya memang tertarik lari sejak masih pelajar SMA,” kata Bambang Margono, salah satu pegiat Jember Runners. Awalnya dia hanya lari sendiri. Namun, dia dipertemukan dengan komunitas Jember Runners lain, lalu bergabung.

Darisana, dia mulai lari bersama para anggota komunitas. Selain itu, juga lari sendiri setiap harinya. Tak tanggung, jarak tempuh langsung mencapai sepuluh kilometer. Baginya, bergabung dengan komunitas membuat dirinya semakin bersemangat lari.

Begitu juga dengan Jack, aktivis Pecinta Alam (PA) yang menekuni lari. Olahraga bersama itu membuatnya semakin bersemangat untuk hidup sehat. Selain bersama komunitas, dia juga lari setiap hari. “Lari bersama tidak cepat lelah,” ujarnya.

Ipung Maulana Ishaq juga merasakan hal itu. Masalah berat badan yang dialaminya membuat dirinya ikut bergabung di komunitas ini. Sebelumnya, Ipung memang tertarik dengan olahraga lari. “Lari lebih senang rame-rame,” tuturnya. 

Saya bersama koordinator Jember Runers


Pungut Sampah hingga Donasi Bersama

KOMUNITAS ini tak hanya sebatas olahraga lari. Namun ada kegiatan sosial yang kerap dilakukan. Salah satunya adalah memunguti sampah yang menumpuk di Alun-Alun Jember. Usai lari saat car free day, warga memang banyak membuang sampah sembarangan. 

Melihat Alun-Alun Jember penuh dengan sampah plastik, para anggota Komunitas Jember Runners turun tangan. Mereka mengambil sampah itu dan memasukkan dalam satu wadah. “Kegiatan kami juga di bidang sosial,” tambah Ali Naufan. 

Selain itu, mereka juga donasi melalui kegiatan lari. Ketika mencapai jarak tempuh tertentu, mereka akan mentransfer uang untuk kegiatan sosial. “Kami juga kampanye kesehatan melalui media sosial,” tambah Bambang. 

Ketika lari bersama, para komunitas itu mengajak warga untuk ikut lari bersama. Siapapun boleh bergabung dengan komunitas ini. “Kami terbuka pada siapa saja,” tuturnya. 

Olahraga lari memiliki dampak yang sangat besar bagi kesehatan. Selain murah dan meriah, juga bisa dilakukan oleh siapa saja. Kapanpun dan dimanapun. Sayangnya, olahraga ini masih kurang mendapat perhatian.


Beri Tips Olahraga Lari

BILA anda tertarik untuk ikut olahraga lari, sebaiknya pelajari dulu tips agar tidak mudah lelah atau bisa terus berkelanjutan. Salah satunya adalah persiapan, mulai dari sepatu, pakaian hingga pemanasan.

 

Persiapkan  kondisi fisik yang ideal dan peralatan pendukung sebelum berlari. Makan sebelum olahraga, satu jam sebelumnya mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat.

 

“Sebelum olahraga juga perlu pemanasan,” kata Jack. Hal itu  untuk mengurangi risiko cedera. Pemanasan dilakukan sektiar  lima menit dengan jalan kaki ringan, kemudian jalan di tempat, atau naik turun tangga.

 

“Kemudian kenakan sepatu olahraga,” tuturnya. Sepatu yang nyaman dan cocok dengan olahraga lari, serta sesuai dengan ukuran kaki. Begitu juga dengan pakaian olahraga yang nyaman. 

 

Setelah itu, mulailah dengan  dengan berjalan kaki. Apalagi sudah lama tidak berolahraga dan ingin mulai aktif kembali, berjalan kaki dapat menjadi permulaan yang tepat. Setelah itu, mulai berlari secara pelan hingga menambah kecepatan. 

 

Tips lainnya adalah memulai dari jarak dan durasi pendek.  Berlari dengan posisi yang benar, mengurangi tekanan seperti menghindari melompat untuk mengurangi tekanan pada sendi dan lutut. ”Bernafas dengan teknik yang baik, hirup melalui hidup lepas melalui mulut,” pungkasnya.


Read More

Mengenal Rudy, Dosen yang Menggerakkan Olahraga Lari



Memilih aktif olahraga lari merupakan pilihan sadar dosen FKG ini. Tak ingin sehat sendiri, Rudi membentuk komunitas lari di kalangan mahasiswa, yakni Destritry Runner. Perkumpulan ini semakin berkembang hingga berkolaborasi dengan Jember Runners.

 
Rudi, paling kiri saat olahraga lari dari Kaupaten Probolinggo hingga Kabupaten Situbondo

Pria yang akrab disapa Rudy ini baru saja datang dari Pantai Parangtritis Jogkarta. Dia mengikuti event 2019 coast to coast night trail ultra atau lari lintas alam 17 Februari 2019 lalu. Dalam even ini, Rudy menempuh jarak lari 50 kilometer selama 12 jam. Jarak tersebut ditempuh dengan penuh perjuangan sebab tidak mudah, mulai pukul 00.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Selain melintasi alam, juga harus melewati jalan pasir dan tanjakan ekstrem yang sangat melelahkan tubuh. “Lari di atas pasir lebih sulit,” katanya. Namun, Rudy sudah terbiasa lari setiap harinya. Dua hari sekali, dia berlari sejauh 10 kilometer. Kebiasaan itu membuat dirinya memiliki tubuh yang lebih awet dibandung umurnya 47 tahun.

Semangat untuk hidup sehat membuatnya tak kenal lelah melakukan kegiatan olahraga. Suami dari Yani Corvianindya tak sendiri, namun bersama 15 ribu peserta dari berbagai daerah. Sebelum mengikuti event di Jogjakarta, dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember itu juga baru mengikuti lari full marathon sejauh 42 kilometer di Singapore.

“Saya baru menyelesaikan 4 lari full maraton,” akunya. Selain di Singapore, juga dalam event lari maraton lintas alam di Gunung Ijen. Kemudian, lari maraton di Surabaya. “Kalau area datar kayak Surabaya, 42 kilometer ditempuh 6,5 jam,” jelasnya. Di Jogja, pria kelahiran 15 Juli 1972 itu juga menyelesaikan ultra maraton sejauh 50 kilometer.

Baginya, lari bukan lagi sebagai kebutuhan untuk sehat, tetapi juga hiburan yang menyenangkan. Apalagi, tak dilakukan sendiri, namun bersama pegiat lain yang tergabung dalam komunitas. Tahun 2017 lalu, Rudy mendirikan komunitas lari di lingkungan tempatnya mengajar. Yakni pada mahasiswa FKG. Komunitas ini diberi mana Destistry Runner. “Awalnya hanya dua orang, sekarang sudah 50 anggota,” ucapnya. 

ULTRA MARATON: Rudy Joelijanto saat mengikuti event lari ultra maraton di Pantai Parangtritis Jogjakarta pada 17 Februari 2019 lalu.

Setiap hari libur, dia lari bersama di seputar kampus Unej. Rudy tertarik untuk mengajak orang lain hidup sehat. Sebab dia merasakan manfaat dari kegiatan yang sedang ditekuninya. “Motivasi awal karena kesehatan, percuma kerja bertahun-tahun tapi uang habis tiga hari buat bayar saat sakit,” jelasnya.

Selain itu, dia juga menjadi Koordinator Caniners Run, komunitas teman kuliahnya yang juga memilih aktif dalam olaraga tari. Sebulan sekali, anggota komunitas ini melakukan lari bersama di berbagai kota. “Kadang di  Surabaya larinya, jadi olahraga sambil reuni,” ujarnya. Kegiatan lari itu bermula saat berat badannya mencapai 81 kilogram.

Kesibukan karena kerja membuat Rudy jarang berolahraga. Saat bangun tidur tubuhnya merasa tidak enak. Saat itulah, dia mulai sadar untuk melakukan aktivitas olahraga. Lari bukan sekedar olahraga. Namun juga menjadi wadah berkegiatan sosial. Selain mengajak orang lain agar hidup sehat. Juga mengikuti event charity run. Yakni lari untuk beramal. Seperti amal untuk membantu bencana gempa di Lombok.

Ada gerakan lari dari Bogor hingga Lombok. Di etape Probolinggo-Situbondo, Rudy lari untuk melanjutkan tantangan charity run tersebut. Dana amal yang terkumpul dari beberapa anggota komunitas itu sebesar Rp 3 juta. Kemudian, didonasikan untuk membantu warga yang terkena bencana.

Kehidupannya sudah mulai berubah drastis. Dia merubah pola pikirnya menjadi pola hidup sehat. Pertama kali lari, diawali dengan jarak yang dekat, hanya di sekitar rumahnya. Sekitar empat kilometer setiap dua hari sekali. Lari kecil itu dilakukan selama empat tahun, saat Rudy masih berumur 40 tahun. Kemudian, lari terus berlanjut dengan jarak yang lebih jauh. Kegemaran olahraga mulai menjadi bagian dari hidupnya.

Pertama kali lari maraton, dia mengikuti yang diselenggarakan Jawa Pos di Suramadu sejauh 10 kilometer. Rudy sempat khawatir tidak kuat. Namun setelah dijalani, mampu mencapai jarak 10 kilometer tersebut. Dia semakin memiliki semangat menjadikan olahraga lari sebagai hobi yang tak bisa dilepaskan dari kegiatannya. 



Setiap ada event lari, selalu berpartisipasi. Lari maraton sejauh 5 kilometer, 10, half maraton hingga 42 kilometer dilakukannya. Bahkan, sekarang sudah sebagai ultra runner. Banyak tempat yang sudah ditaklukkan oleh Edy, mulai Borobudur di Jawa Tengah, Malang, Semarang, Bandung, Batu, Lombok, Pasuruan, Bondowoso dan lainnya. Semua itu dilakukan hampir seminggu sekali di hari libur.

Bahkan, Rudy memilih lari Virgin maraton di Kuala Lumpur Malaysia dan menjadi kenangan menuntaskan jarak sejauh 42,195 kilomoter di luar negeri. “Saya mampu mencapainya selama 6 jam 30 menit, lebih cepat dari ketentuan,” akunya. Alumni  Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu tak memiliki tips khusus lari. Namun yang dilakukannya adalah makan teratur dan bergizi. Selain itu, istiqomah lari setiap waktu yang sudah dijadwalkan.

Menurut dia, banyak orang ingin olahraga, tapi selalu merasa sibuk. Padahal, kuncinya hanya ada pada niat, kemudian melakukan. “Kalau sudah niat dan melakukan, siapapun pasti bisa olahraga rutin,” pungkasnya.
Read More

Berbagi Jangan Tunggu Kaya






“Kaya itu tidak ada tolak ukurnya, bukan hanya soal uang,” kata Maya Cendrawasih, aktivis sosial Jember. Prinsip itulah yang menggerakkannya untuk membantu orang lain. Baginya, bila menunggu kaya, kapan akan berbagi. 



Perempuan kelahiran 20 Mei 1976 itu sudah cukup lama terjun ke dunia relawan. Datang ke berbagai pelosok desa, membantu orang-orang pinggiran dengan memberikan sembako. Semua itu dimulai  sekitar tahun 2009 lalu. 

Dia tidak tega melihat orang-orang lemah.  Setiap  berkunjung ke desa, dia selalu membawa sembako. Bila bertemu dengan janda tua, dia turun dan menyapa. Lalu memberikan sembako tersebut. 

“Pernah saya lihat janda tua di jalan. Katanya mau cari ubi buat makan. Saya datangi langsung,” katanya. Sembako yang terdapat di dalam mobil dia berikan. Panggilan kemanusiaan itu membuat dirinya tak pernah lelah untuk membantu orang yang membutuhkan, terutama para lansia. 

Kebiasaan membantu orang lain tidak lepas dari pengaruh orang tuanya. Ketika melihat orang yang sedang kesusahan, ia terpanggil untuk menolong. “Prinsip bapak saya, jangan menunggu kaya untuk membantu orang,” kata Maya. 

Sebab, tidak ada patokan untuk mendefinisikan kaya. Orang kaya harta, belum tentu kaya dalam arti yang sesungguhnya. Untuk itulah, selagi bisa berbagi dengan orang lain, harus dilakukan. 

Kegiatan sosial itu dimulai saat kegiatan gereja. Maya bertugas untuk melakukan survei guna membantu lansia di Dusun Sumuran, Desa Ajung. Selama dua tahun, dia memberikan bantuan sembako pada warga sekitar. 

Seiring dengan perjalanannya, ia terus tergerak di bidang sosial. Lepas dari gereja, Maya terjun sendiri mengajak beberapa komunitas. “Waktu itu terjun di kawasan sekitar PTPN XII, memberikan sembako pada lansia dan anak yatim,” ujarnya. 

Maya terus mencari donatur untuk menyalurkan bantuan. Beberapa daerah terpencil didatangi. Melihat orang-orang dengan ekonomi menengah ke bawah. “Misal sekarang rutin memberikan sembako di Desa Panduman,” ucapnya. 

Setiap bulan, dia datang ke lokasi bantuan untuk melihat perkembangan. Bila tidak membawa sembako, dia berbagi cerita. “Para lansia itu juga butuh didengarkan, butuh berkeluh kesah,” akunya. 

Maya tak segan untuk memeluk lansia tersebut. Hal itu sudah menggembirakan bagi mereka. Para lansia, aku dia, ada yang tidak pernah mengenal uang nilai Rp 100 ribu. Ada di antara mereka yang hanya kenal Rp 20 ribu. 

Untuk itulah, apa pun penilaian orang tentang perbuatan yang dilakukannya, Maya tak ambil pusing. Sebab, dia terpanggil untuk membantu orang yang membutuhkan. Baginya, ada kepuasan batin yang tidak ternilai. 

Pada para pemuda, Maya berharap agar peka terhadap lingkungan sekitar. Sebab, kemiskinan tidak hanya terjadi di kawasan perdesaan, namun di perkotaan juga banyak. “Pemuda harus sering diajak ikut kegiatan sosial,” akunya. Kalau tidak bisa membantu memberikan materi, minimal bisa menghibur dan mendoakan.
Read More

Tak Ada Orang Pintar, yang Ada Hanya Tekun



Kisah sukses ini dialami oleh pengusaha properti ternama di Jember, yakni FX Andoyo NP, MBA. Pemilik perumahan elit, Gunung Batu dan Argopuro. Berikut kisahnya...




Andoyo telah merasakan buah dari ketekunan yang dilakukannya sejak masih muda. Dia tak memiliki alasan lain meraih sukses, kecuali tekun. “Tak ada orang pintar di dunia, yang ada hanya tekun,” kata FX Andoyo NP, MBA, pengusaha properti berbagai perumahan elite.

Dia heran dengan generasi muda sekarang, banyak yang ingin sukses secara instan. Padahal, tak ada cerita meraih kaya dalam waktu yang singkat. “Anak sekarang ingin cepat, daya juangnya sedikit,” tegasnya.

Hari ini, dia melihat para pemuda tidak ingin serba repot. Tidak tekun berhitung dan latah terhadap perkembangan. Untuk itu, orang tua harus mendidik agar mandiri dan berani berjuang.  

Pria kelahiran 4 Oktober 1948 tersebut sudah malang-melintang di dunia usaha. Minat berbisnis sudah muncul sejak masih kecil. “Saat main kelereng menang, yang masih bagus saya cuci, lalu saya jual lagi,” katanya. 

Ketika melanjutkan sekolah ke salah satu SMA di Surabaya, Andoyo nyambi bekerja di perusahaan aki. Di sana, dia tak hanya bekerja, tapi juga mengintip ilmu berjualan dari bosnya. “Saat bos bicara bisnis, saya dengarkan,” akunya.

Lulus dari SMA, Andoyo tak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan dana. Pria kelahiran Banyuwangi itu merantau ke Jember dan bekerja di berbagai bidang. Mulai di toko besi, toko palawija, bahkan lainnya. 

Hingga pada tahun 1971, pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Andoyo memilih untuk bekerja sendiri, yakni jual beli batu pada proyek. Bahkan, saat pertama menggarap proyek, dirinya tidak dibayar. 

Saat itulah dia mulai bangkit. Ada jalan keluar yang membuatnya sukses memulai usaha. Dia membangun proyek jalan bekerja sama dengan pemerintah. Pergi pagi pulang malam. Begitulah rutinitasnya setiap hari. “Saya tidur hanya empat jam setiap hari,” akunya. 

Ketekunan dan kegigihan dalam bekerja mengantarkan Andoyo pada puncak kesuksesan. Namun, pada tahun 1982, ada kebijakan penyamarataan proyek. Biasanya dia menggarap 15 proyek, berkurang menjadi enam. Hal itu berdampak pada PHK pekerjanya. 

“Saya berpikir bagaimana caranya agar tidak ada PHK,” akunya. Saat itulah, dia menemukan ide untuk membangun bisnis properti. Nama Gunung Batu diambil dari usaha pertamanya, yakni jual beli batu.

“Saya tidak ada keinginan jadi pengusaha properti, tapi angin membawa saya, ini garis tangan,” jelasnya. Namun, garis tangan itu diperoleh dengan upaya kerja keras. “Perumahan di Gunung Batu itu hanya 2,5 hektare,” akunya. 

Sedangkan beberapa teman pengusaha lainnya sudah menggarap perumahan seluas 15 hektare. Sebenarnya, banyak tawaran untuk menggarap dengan lahan yang luas, namun di luar kota. “Saya orang yang tidak suka ke luar,” ujarnya. 

 Usaha properti yang dikembangkan oleh pria berumur 70 tahun itu semakin maju. Merambat pada perumahan elite. “Kebiasaan saya, mencatat apa pun yang ingin dikerjakan,” tambahnya. 

Tak heran, Andoyo menjadi pengusaha yang sangat detail dalam menghitung sesuatu. Bahkan, jam kerjanya melebihi para karyawannya. Dari dua karyawan, kini  dia sudah mempekerjakan 100 karyawan lebih. 

“Padahal, pendidikan terakhir saya SMA, tapi bisa memimpin sarjana,” akunya. Ketika menjadi direktur, Andoyo melanjutkan studi pascasarjana. Ada program bagi direktur untuk melanjutkan studi pascasarjana walau tanpa harus menjadi sarjana. 

Karena tak mengenyam bangku S1, Andoyo belajar dengan cara mengikuti berbagai seminar. Dari sana, dia memiliki kemampuan yang luas untuk mengembangkan bisnisnya. Bahkan, kini dia kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar.


Read More

Minggu, 17 Maret 2019

Kreasi Pemuda, Bangun Bendungan Jadi Wisata



Indah Sekali: Kondisi bendungan dam rejo yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata

Generasi muda Dusun Mandilis Desa Sanenrejo Kecamatan Tempurejo memiliki semangat baru dalam membangun desanya. Potensi sumber daya air yang mereka miliki dikembangkan menjadi  destinasi wisata. Yakni wisata Bendungan Dam Rejo (BDR).

Bendungan yang  berfungsi untuk irigasi, sekarang memiliki manfaat tambahan. Yakni sebagai tempat rekreasi masyarakat. Sebab, pemandangan alam yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TMNB) itu sangat  memukau.

Pengembangan BDR mampu merubah pola pikir masyarakat. Bila sebelumnya mereka menjarah hutan, putus sekolah dan malas belajar.  Sekarang semangat muncul untuk belajar memajukan desa. 

“Hutannya sangat alami, begitu indah,” kata Totok Widarto, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sarang Tawong Tempurejo. Bedungan tersebut dibangun sekitar tahun 1970 silam. Lalu, pada tahun 1992 diperbaiki. 

“Awalnya bendungan ini lurus, lalu ketika diperbaiki dirubah berbentul letter L,” akunya.  Bendungan itu dinilai menjadi bendungan yang unik, sebab berbentuk L dan memperindah pemandangan. 

Selama ini, air bendungan tersebut digunakan warga untuk mandi dan mencuci. Selain itu, untuk mengaliri sawah para petani.”Saya melihat bendungan ini memiliki potensi wisata,” tuturnya. 

Akhirnya, pria yang akrab disapa Totok tersebut mulai mengajak anak muda untuk berdiskusi. Disana sudah ada kelompok anak muda Pemuda Mandilis Bersatu (PMB). Para pemuda itupun sepakat untuk memanfaatkan potensi sumber daya air menjadi objek wisata.   




“Kami bikin jembatan, bikin taman bunga, tempat santai dan lainnya,” tuturnya. Tak kalah penting, mereka juga membersihkan lingkungan sekitar. Pengunjung ke tempat itu tak hanya dari Jember, namun juga luar kota.Tahun baru, pengunjung bisa mencapai 2000 pengunjung. Pada hari libur biasa, bisa 300 pengunjung. 

Dia menambahkan dampak pengembangan sumber daya air itu sudah dirasakan masyarakat. Terutama ekonomi. Warga mulai berjualan, bekerja sebagai ojek, membuat kerajinan dan lainnya. 

“Anak-anak semakin mengerti dan paham pentingnya menjaga lingkungan,” terang anggota Polsek Mumbulsari tersebut. Bila sebelumnya merambah hutan, putus sekolah dan malas belajar, kondisi itu sudah berubah. Mereka lebih semangat belajar karena ingin tau cara memajukan desanya.

Aktivis lingkungan Jember, Wahyu Giri menilai pemanfaatan sumber daya air menjadi wisata BDR itu mampu membentuk warga memiliki kesadaran ekologis. “Mereka berpikir kalau hutannya rusak, wisatanya juga ikut rusak,” ucapnya. 



Namun, pemanfaatan itu tidak merubah fungsi pokok bendungan. Seperti fungsi pengairan. Diakuinya, bendungan dam rejo yang yang dijadikan destinasi wisata itu lebih terawat. “Saya lebih mudah berbicara dengan warga tentang kelestarian hutan,” akunnya.

Kepedulian itu terbangun dengan tidak membuang sampah ke sungai. Mereka menjaga lingkungan karena berdampak langsung bagi kehidupannya. Apalagi, pengembangan wisata mendatangkan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu, Luh Putu Suciati Ketua Program Studi  Magister Pengelolaan Sumberdaya Air Pascasarjana Universitas Jember menambahkan sumberdaya air  memiliki nilai ekonomi dan juga nilai sosial. “Dalam lingkup barang sumberdaya, sumberdaya air dikategorikan sebagai common pool resources, jelasnya.

Yakni adanya  persaingan  untuk mendapatkan sumberdaya, namun  sisi lain  tidak bisa melarang pihak lain untuk menggunakan sumberdaya tersebut. Artinya,  dalam pengelolaan air diperlukan peran pemerintah atau negara. 

Menurut dia, pengelolaan sumberdaya air  diatur dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “bumi,air dan kekayaan alam di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. 

Pengelolaan sumberdaya air yang ideal adalah dengan melibatkan masyarakat  di wilayah yang dekat dengan sumberdaya air. Atau masyarakat yang paling dahulu memanfaatkan sumberdaya air tersebut. “Agar aspek pemanfaatan sumberdaya air  tetap berkelanjutan,  perlu melibatkan masyarakat,” jelasnya. 



Konsep integrated water resources management (IWRM) sekarang sudah mengarah pada water governance atau tata kelola sumberdaya air yang melibatkan multi aspek. Mulai daria sosial, ekonomi, lingkungan dan kelembagaan serta  multistakeholder. 

Dia menilai pemanfaatan  sumberdaya air sebagai objek wisata dikategorikan sebagai jasa lingkungan yang dapat diberikan oleh sumberdaya air.  Objek wisata yang memanfaatkan sumberdaya air harus memperhatikan aspek konservasi lahan dan air, “Kedua aspek tersebut saling terkait,” ujarnya. 

Selain itu, jasa lingkungan yang diberikan oleh sumberdaya air harus diberi  nilai atau  harga yang layak untuk menjamin keberlanjutannya. Harga yang layak dapat berupa tiket masuk ke objek wisata yang bisa digunakan untuk pengelolaan atau konservasi.

Pemanfaatan itu juga sebagai sistem insentif bagi masyarakat untuk memelihara sumberdaya air. Harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan ekonomi, bukan  sebaliknya, menyebabkan bencana jika tidak dikelola dengan baik. 

Cara yang paling efektif untuk  keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya air, kata Suciati,  adalah melalui optimalisasi kearifan lokal masyarakat. Kemudian  keterlibatan warga sesuai dengan aspek riparian right. “Kearifan lokal itu bisa  nilai, norma, kepercayaan, sanksi dan aturan-aturan khusus  yang dikembangkan warga,” pungkasnya.  
Read More