Upaya Perempuan Mengurangi Sampah


Dirikan Bank Sampah Sahabat Ibu

foto Bagus Supriadi: Suasana kampung recycle di Perumahan Taman Gading Kaliwates Jember


Sampah yang menghasilkan, sampah yang dipilah dan dijual pada pengepul. Hal itulah yang dilakukan oleh para ibu yang aktif dalam bank sampah sahabat ibu di Perum Taman Gading Kaliwates Jember

Warga RT 6 RW 40 memiliki kebiasaan yang baik untuk mengurangi sampah. Ketika ada kegiatan, mereka tak memesan air kemasan atau nasi kotak. Namun membawa wadah sendiri. Tujuannya agar tidak ada sampah.

Upaya para perempuan di perumahan ini untuk mengurangi sampah berhasil. Semua itu berawal pada tahun 2016 lalu. Saat Mira Christina Erviati pulang ke rumahnya di Pasuruan. Disana dia melihat pengelolaan sampah melalui bank sampah.

“Saya terinspirasi dari ibu saya di Pasuruan yang mengumpulkan sampah,” katanya saat ditemui di rumahnya, di Perumahan Taman Gading nomor AF 15. Bahkan,  dia mulai tergugah ketika kali kedua pulang kerumah asalnya.

Semangat awal, kata dia, adalah untuk menambah penghasilan dari menjual sampah. Sebab sampah yang dipilah dan dikumpulkan bisa ditabung menjadi uang. Darisanalah, Evi berani memulai untuk mengajak warga.

Dia mengawalinya dengan ajakan menambahkan penghasilan. Apalagi yang diajak adalah ibu-ibu perumahan. Setiap akhir bulan, seringkali membutuhkan dana untuk belanja. “Awalnya saya tanya pada DLH, browsing di internet hingga survey ke bank sampah  Pakusari,” ujarnya. 

Lingkungan perumahan yang bersih sekali


Tak hanya itu, perempuan kelahiran 19 Februari 1980 itu juga mendatangi pengepul sampah untuk bertanya harga dan sampah yang diterima.  Seperti kertas, plastik keras, kardus dan lainnya. “pertama saya tawarkan warga RT 6,” tuturnya.

Beberapa warga tertarik dengan tawaran Evi karena bisa menghasilkan. Yakni menabung dengan sampah. Sejak itulah, anggotanya terus bertambah setiap saat. “Pendekatannya lewat ekonomi, karena kesadaran tentang lingkungan masih belum terbangun,” tambahnya.

Namun dalam perjalanannya, ada yang tidak sabar memilah sampah. Ada warga yang tidak memiliki waktu untuk mengelola sampah miliknya. “Sekarang ada 48 anggota yang tergabung dalam bank sampah ini,” akunya.

Lulusan Universitas Brawijaya itu tak menyerah. Dia terus mengembangkan bank sampah sahabat ibu. Bahkan sudah membuahkan hasil. Uang hasil penjualan sampah itu dikumpulkan dalam koperasi dan diwujudukan menjadi sembako.

“Ada juga yang mengambilnya dalam bentuk uang,” tutur istri dari Nurul Hidayat tersebut. Namun  ketika para ibu-ibu itu sedang kehabisan uang belanja. Mereka bisa mengambilnya dalam bentuk sembako yang dibutuhkan, seperti beras, gula atau minyak.

Evi bersama para aktivis bank sampah sahabat ibu sedang mengembangkan daur ulang sampah. Namun tak semudah yang dibayangkan. Butuh proses yang tidak sebentar. “Kami daur ulang tapi tidak rutin,” ujarnya.

Hal itu karena keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh para ibu. Daur ulang yang pernah dihasilkan, seperti menjadikan tutup botol sebagai tempat sampah. Selain itu, juga membuat tas dari sampah plastik. “Proses daur ulang, kita masih tahap belajar,” akunya.

Mengumpulkan sampah, lalu dijual agar bisa menghasilkan uang


Tak hanya itu, mereka juga mencoba mengelola sampah organik. Namun tidak berhasil karena kurang maksimal. “Terlalu banyak nasi, sehingga tidak berhasil,” tutur perempuan berkerudung tersebut.

Kendala lain yang dihadapi adalah jadwal pengambilan sampah yang tidak rutin. Sebab harus menunggu mobil pengepul sampah untuk mengambilnya. Ketika mobil pengepul sampah libur, maka sampah tidak bisa diambil waktu itu juga.

Kendati demikian, upaya bank sampah menjaga lingkungan itu mulai terasa. Sebab volume sampah yang dihasilkan oleh warga semakin berkurang. Tolak ukurnya adalah penelitian mahasiswa yang menemukan kesimpulan, 49 persen sampah rumah tangga berkurang.

Untuk itu, Evi terus mengembangkan bank sampah tersebut tidak hanya di perumahan Taman Gading. Tetapi hingga keluar. Yakni dengan menambah bank sampah baru di beberapa perumahan lain, tak hanya di kawasan tempat tinggalnya. “Yang kirim sampah kesini ada yang dari luar, mulai dari Kebonsari hingga guru SMAK Santo Paulus,” akunya.

Dibuat indah agar terasa nyaman dan ramah bagi siapapun, terutama anak-anak


Dari bank sampah itulah, muncul kampung recycle. Kampung yang mengintegrasikan pada pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan lingkungan dengan mengelola sampah. Membangun sarana yang menunjang kebersihan lingkungan.

Selain itu, juga sarana literasi untuk mencerdaskan warga. Kemudian, wadah untuk kewirausahaan sehingga kemandirian bisa dibangun secara berkelanjutan.


Comments