Langsung ke konten utama

Galeri Yuyu Kayu, Karya Seni dari Limbah Kayu





UNIK DAN BERNILAI: Wahyu Cahyo Adi saat berada di gallery miliknya. Beberapa karya seni itu dibuat sejak tahun 2010.

Sebuah rumah dengan ukuran delapan kali tujuh terlihat begitu klasik. Mulai dari pintu  jendela hingga dinding yang terbuat dari kayu. Beberapa seni ukir dengan berbagai macam dipajang di luar. Seperti kayu dengan bentuk ikan. 

Masuk ke dalam, suasana semakin klasik. Sebab, terdapat benda-benda antik yang menghiasi setiap dindingnya. Mulai dari lukisan hingga beberapa patung sederhana. “Ini hasil buatan sendiri semua,” kata  Wahyu Cahyo Adi, pemilik gallery yang berada di Jalan Tawangmangu Tegalgede ini.

Ada karya seni rupa dengan judul senja di atas tebing. Perpaduan lukisan yang menggabungkan bentuk kayu. Ada juga lukisan tentang ubur-ubur. Disebelahnya, ada patung unik berbentuk kucing. “Ini limbah yang awalnya mirip kucing, lalu saya poles sedikit,” tuturnya. 

Jiwa seni sudah dimiliki oleh Wahyu sejak masih kecil. Darah seni itu mengalir dari keluarganya yang juga pekerja seni. “Dasar seni sudah ada sejak dari dulu,” katanya ketika ditemui di gallery Yuyu Kayu.  Yuyu  sendiri diambil dari nama panggilannya ketika masih kecil.  

Saat menempuh pendidikan di SMPN 3 Jember, Wahyu selalu mendapat nilai yang tinggi pada mata pelajaran seni rupa. Begitu juga ketika melanjutkan studi di SMAN 2 Jember. “Ketika ada kegiatan,  dekorasi selalu kami buat,” ingatnya waktu itu. 

Kegiatan seni terus berlanjut di kampus Sekolah Tinggi Ilmu ekonomi Kucecwara Malang. Disana, Wahyu mengasah kemampuannya dengan bergabung di organisasi. Seni rupa menjadi kegiatan lain selain kuliah. “Pernah juga  ikut Pecinta alam hingga pencak silat,” tuturnya. 

Namun, kegitan seni berhenti saat sudah memasuki dunia kerja. Saat itu, dia tidak terpikir lagi untuk aktif dalam seni rupa. Namun, semua itu berubah ketika bisnis yang  dijalaninya berhubungan kayu bangunan. “Saat jual beli kayu ini saya kembali ke dunia seni rupa,” akunya. 

Ada banyak limbah kayu yang tidak terpakai. Akhirnya Wahyu mulai kembali pada dunia seni dengan mengolah limbah itu menjadi barang yang memiliki nilai seni. “Saya menjadikan limbah itu sebagai media menggambar, biasanya kanvas, tapi saya pakai kayu,” paparnya.

Manfaatkan L:imbah kayu menjadia karya seni yang berharga

Selain itu, beberapa kayu yang juga memiliki bentuk unik, Wahyu menjadikan kayu sebagai barang seni. Seperti membuatnya patung ikan, kucing burung dan lainnya. Setelah jadi, lalu dipajang. “Jumlahnya masih belum nyampe 100, apalagi sudah ada yang dijual,” tambahnya. 

Karya seni itu lebih akrab dikenal dengan sebutan driftwood. Dalam membuat lukisan, Wahyu merasa beraliran impresionis-ekspresionis. Yakni berkarya secara mendadak ketika inspirasi itu datang tiba-tiba. “Ketika terlitas ide, langsung saya aplikasikan,” tuturnya. 

Karya-karya yang dibuat oleh alumni SMAN 2 Jember itu terlihat simpel dan unik. Seperti bunga mawar yang terbuat dari rajutan benang ditambah dengan pot dari kayu yang dibuat artistik.

Kesenian itu, kata dia, merupakan ekspresi jiwa. Wahyu membuat karya seni yang terbatas. Tidak mudah didapatkan di tempat lain. Karya seni itu bisa dipajang di berbagai tempat, tak hanya rumah tapi juga kafe. 


Kembali ke dunia seni sejak tahun 2010 lalu

Karya seni rupa di Jember sendiri, kata dia, masih banyak yang cenderung ke aliran naturalis.  Sementara masih banyak tahapan yang harus dilalui. Seperti dari impresionis, ekspresionis hingga abstrak. 

Selain itu, para pelukis Jember juga perlu mengedukasi masyarakat tentang karya seni. Tujuannya untuk membangun pola pikir masyarakat melalui kebudayaan. “Hal ini harus dilakukan oleh para seniman, kalau bukan pelaku seni, ga akan bisa,” pungkasnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Inspirasi Pengusaha Bibit Buah yang Sukses

Bekerja sesuai hobi memang terasa menyenangkan. Apalagi sampai meraih kesuksesan. Yusron mengalami hal itu, meskipun harus berkorban meninggalkan bangku kuliah pada 2011 lalu.
Hamparan bibit buah di belakang rumah Yusron Ismail berjejer rapi. Mulai dari berbagai jenis bibit durian, sawo, bahkan juga jenis buah langka dari Amerika Latin seperti Mamesapote, yaknijenis mangga ukuran besar warna cerah. Jumlahnya mencapai puluhan ribu. Bibit itu dirawat dengan baik.
Disana, tampak para perempuan memakai caping sedang bekerja. Ada yang menyiram bibitnya. Ada yang memasang bibit ke dalam bungkus pot plastik. Lalu meletakkannya dengan rapi.
Di Jalan Sumberejo Desa Umbulsari, Yusron mempekerjakansekitar 28 orang. Mereka mencari rejeki dengan mengelola bibit tanaman yang diberi nama Getas Merah Umbulsari (GMU). “GMU itu nama dari usaha pertama, bibit jambu yang membuat sukses,” kata Yusron.
Pria kelahiran Jember16 oktober 1991itu memulai bisnis bibit tanaman sejak tahun 2010 lalu. Semua beraw…

Secangkir Kapal Api di Pojok Surau

Anginmalam membawa suasana yang sangat nyaman untuk istirahat. Rasa lelah setelah sibuk dengan berbagai aktifitas membuat tubuh ingin dimanja. Namun, keramain para santri membuat Zaidun tak bisa memejamkan mata. Justru mengalihkan pikirannya untuk pergi ke kantin bersama teman-temannya.

 “Satu kopi hitam kang, kapal api  spesial mix,” kata Zaidun pada Umar, penjaga kantin  pondok pesantren tempatnya belajar. Disana, sudah ada beberapa santri yang gayeng ngobrol apa saja. Mulai dari hal yang tidak penting, sepertu lelucon hingga urusan genting untuk didiskusikan. Malam itu, Zaidun bersama enam santri duduk lesehan dengan  satu meja panjang. Setiap malam, meja itu selalu penuh dengan santri yang menghabiskan waktunya untuk ngopi dan berdiskusi. Menariknya, Zaidun mengajak temannya untuk mengkaji kitab Irsyadul Ikhwan, li bayani syurbil qahwah wa dukhon, yakni kitab tentang  kopi dan rokok karya Syaikh Ihsan Jampes.


Zaidun  menerangkan beberapa isi penting dari kitab yang dikarang oleh kiai…