Kenalkan Orang Tua pada Dunia Anak


Anak-anak bermain, sementara para ibunya mengikuti pelatihan

Dunia anak adalah dunia bermain. Namun, bila bermain tanpa didampingi akan mengantarkan anak pada hal yang negatif. Misal, memberikan gawai, bila tidak membatasinya, anak akan kesulitan berkomunikasi.

Hal itu disampaikan Nadia Maria, psikolog dari Garwita Institute, dalam kegiatan Psycho Edukasi di Glovic Bakery, Jl A. Yani, Jember Minggu 4 November 2018 lalu. Kegiatan itu merupakan kerjsama antara Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jember bersama beberapa lembaga layanan psikologi.

Menurut Nadia, pelatihan  terhadap orang tua dalam mendidik anaknya perlu terus digelorakan. Sebab, tak semua orang tua paham cara mengasuh dengan baik. Terutama dari sisi psikologi anak. Tantangan dunia anak hari ini, kata dia,  adalah bermain melalui teknologi. Mulai dari bermain game online hingga tak bisa lepas dari gawai. “Ada keluarga yang memberikan gawai pada anaknya untuk hiburan, namun dibatasi,” imbuhnya.

Namun, aku dia, dirinya banyak menemukan  keluarga yang tidak mampu mengontrol penggunaan gawai oleh anaknya. Bahkan gawai itu dipakai sebagai  satu-satunya alat untuk menghibur anak. Tak heran, sepanjang waktu hanya bermain  gawai.

Mereka tidak bersosialisasi dengan teman-temannya. Selain itu, komunikasi dengan keluarga juga semakin berkurang karena kehilangan fokus dan konsentrasi. “Kita sudah banyak menemukan dampak menggunakan gawai berlebiham,” tuturnya.


PSIKOLOGI ANAK: Nuraini Kusumaningtyas, , psikolog dari Unmuh Jember saat memberikan materi pada orang tua

Salah satunya dampaknya adalah  mengurangi relasi di dalam keluarga. Kemudian kemampuan anak dalam konsentrasi berkurang. Selain itu, cara berkomunikasi juga semakin buruk. “WHO juga sudah memberikan peringatan tentang ketidakmampuan mengendalikan keinginan anak bermain game,” terangnya.

Akibatnya, anak terserang penyakit dan tumbuh tidak dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun psikologi.  “Ada anaknya yang awalnya kemampuan komunikasinya baik, namun berkurang karena keasikan bermain gawai,” jelasnya.

Mereka tidak memiliki kemampuan membangun relasi dengan orang lain. Tidak bisa menjelaskan ide dan gagasan yang ada dalam pikiran mereka. Bahkan, juga tidak bisa mengungkapkan perasaan. “Anak yang terpapar gawai berlebihan, tidak bisa mengendalikan emosi,” jelasnya.

Hal itu berbeda dengan anak yang tidak menggunakan gawai, atau tidak terlalu kecanduan, mereka masih bisa mengendalikan emosinya. Cara mengatasinya, ketika anak kecanduan, perlu pemeriksaan terlebih dahulu. ““Ada anak  tertentu yang bisa diatasi dengan konseling, memberikan batasan, memberi reward dan hukuman, ada juga yang harus diberikan obat dari  psikiater, untuk penanganan lebih lanjut”,” papar Nadia.

Pelatihan ini juga menyediakan ruang konsultasi bagi para orang tua. seperti layanan yang diberikan dari biro psikologi tulip

Dalam mendidik anak, lanjut dia, orang tua harus melihat tahapan perkembangan anak. Misalnya, ada yang masih berumur 0 hingga 2 tahun, masih tahap eksplorasi. Dari 2 hingga 7 tahun, sudah belajar berbahasa dan berkomunikasi. Dari 7 hingga 11 tahun mereka sudah mulau berpikir logis. “Anak usia 11 tahun ke atas berpikirnya sudah mendekati dewasa,” tuturnya.

Mendidik anak, lanjut dia, harus memperlakukan mereka sesuai dengan tahapannya. Agar mereka bisa berkembang dengan sehat dan bahagia. Untuk itulah, para lembaga psikologi itu, mulai dari Prisma, Garwita, Gapai, Tulip hingga Brilian Psikolgi mengedukasi para orang tua. “Salah satu tujuannya agar mereka paham mengedukasi anak dari sisi psikologi,” tambahnya.

Sebab, layanan psikologi masih belum sepenuhnya dipahami oleh orang tua. Ketika mereka mengamali masalah komunikasi dengan anaknya, bingung mau ke siapa. Padahal, mereka bisa berkonsultasi pada psikolog untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Sementara itu, Nuraini Kusumaningtyas, psikolog yang juga dosen di Universitas Muhamadiyah Jember menambahkan, dalam mendidik anak  orang tua harus memahami banyak hal. Misal bagaimana menghadapi anak yang sedang marah. “Setiap perilaku anak pasti ada alasannya,” tutur perempuan berkerudung itu.

Menurut dia perilaku negatif anak muncul bukan karena disengaja. Namun karena belum memiliki kemampuan untuk mengatur dan mengekspresikannya dengan benar. “Ketika anak emosi, orang tua harus mampu mengendalikan situasi,” ujarnya.


Para orang tua saat menyimak materi tentang cara mengelola emosi anak

Kemudian, mengajarkan bahwa tidak selamnya anak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua harus membentuk kebiasaan itu dengan memberi pengertian agar adak bisa belajar. “Ajarkan juga cara meregulasi emosi dengan baik,” imbuhnya.

Nuraini menilai pemahaman orang tua yang baik terkait kondisi anak dimulai dari kesediaan orang tua untuk belajar. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang tua ketika mengalami masalah dengan anaknya. “Saat anak marah, dengarkan anak penuh perhatian dan seluruh tubuh,” ucapnya.

Bila orang tua ikut terpancing emosi, sebaiknya mengambil jaran dan memisahkan diri dulu dengan tenang.  Orang tua cakap mengelola emosi akan memiliki anak yang juga cakap dalam mengelola emosi. “Ketika anak berperilaku negatif, ada kebutuhannya yang tidak terpenuhi,” tambahnya.

Orang tua harus menemukan kebutuhan anak itu, jangan diabaikan karena akan muncul lagi. “Cara lain mengatasi emosi anak  berceritadan sering mengajak berdiskusi, mengajarkan problem solving dan bermain,” tandasnya.

Orang tua yang ingin konsultasi tentang anaknya pada psikolog, bisa menghubungi Garwita Institut di Jalan Kertabumi VI no 20 Jember. (0331) 481701

Comments