Revitalisasasi IKM Tanggulangin, Inovasi dan Pendampingan Jadi Kunci


Industri Kecil Menengah (IKM) memiliki peran penting dalam perekonomian bangsa. Terutama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Mulai dari pengentasan kemiskinan, pengurangan angka pengangguran hingga memberikan pemasukan devisa bagi negara.

desain oleh rebranding IKM Tanggulangin

Peran ini begitu nyata dirasakan oleh masyarakat dan negara. Termasuk IKM Tanggulangin yang ada di Kabupaten Sidoarjo. IKM yang bergerak di industri tas dan dompet ini sudah cukup teruji melewati berbagai rintangan sejak tahun 1960 sampai sekarang.

Tahun 2000, IKM ini mengalami goncangan seiring dengan bencana besar yang melanda, lumpur Lapindo. Selain itu, tantangan zaman terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi yang pesat. Masuk pada era digital, era disruption.

Renald Kasali, guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesa memaknai disruption bukan hanya merubah cara berbisnis. Tetapi juga merubah bisnis secara fundamental. Mulai dari  merubah budaya, struktur pembiayaan hingga ideologi industri.

Era ini menuntut IKM juga menyesuaikan dengan kebutuhan zaman, tak terkecuali IKM Tanggulangin yang akan direvitalisasi menjadi IKM yang lebih kuat, maju dan berdaya saing. Dengan melakukan kolaborasi, inovasi dan penguatan secara menyeluruh.

Apalagi, Kementerian Perindustrian bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memiliki komitmen yang sama untuk merevitalisasi IKM Tanggulangin. Menjadikannya sebagai industri yang memiliki gairah perekonomian sepanjang waktu. Yakni menjadi wisata belanja, wisata budaya dan wisata edukasi industri.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan ide IKM Tanggulangin menjadi kawasan industri kreatif. Mewujudkan lingkungan yang bisa menjadi kawasan wisata sesuai dengan UU RI No. 10 tahun 2009 tentang daya tarik wisata. yakni segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan  dan nilai yang berupa keanekaragamankekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wartawan.

Kuncinya Pada Inovasi dan Pendampingan

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember Ahmad Zaenuri menilai upaya yang bisa dilakukan untuk mengembangkan IKM tanggulangin menjadi kawasan wisata berbasis industri adalah melakukan inovasi. Kemudian pendampingan yang dilakukan secara kontinyu untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan.

Industri kreatif hari ini, tidak hanya mengandalkan keunggulan bahan baku atau harga yang lebih murah dengan cara konvesional. Namun yang menjadi kunci adalah ide dan inovasi. Hal itu bisa didapatkan melalui hasil riset yang dilakukan lembaga, seperti perguruan tinggi.

“Namun hasil riset perguruan tinggi masih banyak yang belum dipakai,” katanya. Padahal, bila melihat perkembangan industri kreatif di Korea, pengembangannya berbasis limu pengetahuan sehingga memunculukan produk baru yang multifungsi. Produk yang mampu mengabungkan nilai seni dan teknologi.

Produk IKM tanggulangin,lanjut dia, juga harus menjadi produk yang memiliki keunggulan dibanding produk lain. Menyesuaikan dengan kebutuhan pasar milenial. Untuk itu, butuh kreatifitas yang out of the box guna mewujudkan hal itu.

Dia menilai mewujudkan itu semua membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun perlu proses yang cukup panjang, seperti pendampingan yang dilakukan secara terus-menerus dan berkualitas. “Karena seringkali ada pendampingan yang penting dilakukan, setelah itu ditinggal,” tuturnya.

Menyulap IKM Tanggulangin Menjadi Wisata

Menjadikan IKM Tanggulangin sebagai kawasan wisata merupakan ide yang tepat agar industri ini bangkit. Industri wisata menjadi wadah untuk meningkatkan taraf perekonomian warga. Hanya saja, pengembangan menjadi kawasan wisata belanja, wisata budaya dan wisata edukasi industri perlu road map yang jelas.

“Ada tahapan untuk menuju kesana,” tambah Zaenuri. Mulai dari mempersiapkan infrastruktur, peningkatan Sumber Daya Manusia melalui pelatihan. Bahkan sarana fisik dan non fisik srta regulasi yang dibuat secara matang.

Hal itulah yang akan menjadi blue print dalam pengembangan wisata 3 in 1 Tanggulangin. Menyulapnya menjadi kawasan yang memilki daya tarik berbeda dengan wisata lain. Kemudian, dikuatkan dengan kebijakan yang mendorong untuk mewujudkan hal itu.

Dukungan pemerintan merupakan bentuk political will yang bisa mempercepat keinginan tersebut. kendati demikian, perlu tetap menggandeng lembaga lain, seperti perguruan tinggi, badan ekonomi kreatif dan lainya. Sehingga mampu memadukan budaya, seni dan industri kreatif menjadi satu dalam wadah wisata.

Kemudian, lanjut dia, juga merubah pola pikir para pelaku ekonomi agar mereka tidak terjebak pada rutinitas. Hanya menjalankan kegiatan rutin, tetapi mengembangkan ide kreatif agar mampu menciptakan produk yang sesuai dengan pasar hari ini dan di masa yang akan datang.

Semua itu, kata dia, perlu didorong dan dilatih untuk menciptakan visi yang sama dalam mwujudkan wisata 3 in 1 tanggulangin. Sehingga tiga syarat data tari bisa terpenuhi, yakni ada sesuatu yang bisa dilihat, (what to see), ada sesuatu yang bisa dikerjakan, (what to do) dan ada sesuai yang bisa dibeli (what to buy) dan dimana mau tinggal (where to stay).

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaetn Sidoarjo, jumlah kunjungan wisatawan ke tempat ini terus meningkat. Tahun  2014 mencapai  104.053 orang, lalu bertambah menjadi 244.974 orang pada tahun 2016.

Perkembangan itu tentu  menjadi pemantik optimisme untuk mewujudkan IKM Tanggulangin sebagai industri wisata kreatif. Apalagi, tercatat ada 298 unit usaha, sedangkan jumlah IKM mencapai 798 dengan menyerap 2500 tenaga kerja.