Dua Museum Besar di Rizal Park, Manila-Filipina (2)


Belajar Sejarah Manusia dan Alam

Dua museum berdiri kokoh berhadapan. Yakni National Museum of Anthoropology dan national museum of national history. Tempat ini berisi tentang banyak hal, mulai dari benda bersejarah hingga potensi satwa Filipina.


Usai mengunjungi beberapa spot Rizal Park, secara otomotis akan menemukan dua museum besar. Yakni National Museum of Anthoropology dan national museum of national history. Museum antropolgy berada di sebelah the orchidarium. Sedangkan museum sejarah nasional berada di sebelah children’s playground.

Dari kejauhan, dua museum ini sudah terlihat begitu kokoh. Ada enam tiang penyangga yang cukup besar. Pelancong harus menaiki tangga untuk masuk ke dalamnya. Tak perlu membayar karena gratis. Petugas sudah siap siaga mengecek barang bawaan pengunjung.

Pengunjung secara otomatis akan langsung masuk ke lantai dua. Barang bawaan seperti tas tidak boleh dibawa. Namun barang penting seperti dompet harus dibawa. Di lantai itu, pengunjung akan menelusuri ruang-ruyang unik dan eksotis dengan beberapa peningalan sejarah.


Museum ini menjadi etalase untuk melihat kisah masa lalu Filipina. Ada lima ribu lebih koleksi cagar budaya. Semua ditempatkan di tiga lantai dengan 12 galery. “Ada satu lantai lagi yang masih belum terisi,” kata Juliene, penjaga museum antroplogi.

Museum di negara dengan julukan Lumbung Padi Asia itu didesain oleh  arsitek dari Amerika bernama Daniel Burnham. Pembangunan konstruksinya dimulai pada tahun 1918. namun karena kekurangan dana, sempat tertunda.

Awalnya hanya perpustakaan, namun kemudian sempat dijadikan sebagai  gedung parlemen. Di tempat inilah terjadi peristiwa penting di Filipina yaitu pengangkatan Manuel L. Quezon sebagai Presiden pada tahun 1945.

Pada era perang dunia ke 2 bangunan ini mengalami kerusakan akibat pemboman di kota Manila dan direnovasi kembali. Pada tahun 2003 Pemerintah Filipina memutuskan untuk mengubah fungsi gedung parlemen menjadi sebuah museum.

Berbagai koleksi bersejarah yang dimiliki  museum ini dibagi menjadi empat kategori yakni seni, etnografi, arkeologi, dan sejarah. Di dalamnya, sda satu koleksi yang sangat terkenal yaitu San Diego. Koleksi  sebuah kapal yang dulu digunakan untuk transportasi di bidang perdagangan antara Filipina dengan Meksiko. “San Diego tenggelam bersama semua awak kapalnya karena diterjang badai, dan pada abad ke 17 kapal tersebut ditemukan utuh bersama artefak di dalamnya,” jelas Juliene.


Baiklah, ketika masuk pada ruang pertama museum ini,  pengunjung akan melihat gading gajah ukuran besar dalam sebuah kotak kaca. Sejarah gading gading gajah ini dibagi menjadi beberapa fase. Mulai dari zaman prasejarah, masa perdagangan sebelum kedatangan penjajah, periode penjajahan Spanyol dan abad ke 21

Bahkan, beberapa gading gajah itu salah satunya adalah pemberian dari kerajaan Jawa. Selain gading gajah, juga terdapat miniatur kapal dalam sebuah kotak kaca. Kapalnya tak tanggung, unik menarik dan kokoh dan terlihat menarik sekali.

Kemudian, setelah melewati tempat ini, pengunjung akan bertemu dengan  ruangan yang memamerkan karya  seorang pelukis  Juan Luna. Pelukis  yang mulai terkenal pada abad ke 19. dia bukan hanya  pelukis namun juga dikenal sebagai pemahat sekaligus aktifis politik. 


Salah satu karyanya  yang  terkenal  adalah Spoliarium. Sebuah lukisan yang menceritakan tentang perbudakan, pengorbanan, dan tragedi pada jaman Romawi. Karya ini sempat  meraih medali emas pada pameran karya seni di Madrid.

Setelah itu, lanjut ke tempat selanjut akan bertemu dengan berbagai guci kuno yang dipajang dengan rapi dan indah. Ada banyak koleksi guci, mulai dari yang kecil hingga paling besar. “Semua benda-benda di sini merupakan kolaborasi antara Perancis dan Filipina,” jelas Juliene.

Tak hanya itu, gallery selanjutnya memamerkan piring-piring antik, kemudian senjata-senjata yang digunakan orang-orang terdahulu. Semua benda itu dipajang di tempat menarik dengan pencahayaan yang bagus.


Selanjutnya, ada beberapa kain khas Filipina yang merupakan kerajinan masyarakatnya dari masa ke masa. Kerajinan itu tak ubahnya seperti yang dibuat oleh warga Indonesia, seperti topi yang terbuat dari anyaman bambu atau tikar dan lainnya.

Selesai berkunjung ke museum ini, perjalanan masih belum usai. Masih ada satu museum lagi yang berdekatan, sekitar berjarak 500 meter di depannya. Yakni national museum of national history. Tempat ini justru lebih ramai dikunjungi oleh warga Filipina, terutama anak-anak.

Di museum yang kedua ini, pelancong juga harus menaiki tangga. Hampir sama dengan gedung sebelumya, yakni ada enam pilar penyanggah. Ketika naik, langsung berada di lantai dua. Awalnya, bangunan sempat dijadikan sebagai gedung pertanian dan perdagangan pada tahun 1940.

Kemudian, bangunan neoklasik yang dirancang oleh arsitek Filipina Antonio Toledo pada akhir 1930an ini sempat juga dijadikan gedung dinas pariwisata. Kemudian, pada tahun 1998 dijadikan sebagai museum nasional sejarah alam.


Tahun 2013 lalu, museum ini kembali di desain oleh tim dari Dominic Galicia Architects dan desainer interior Tina Periquet. Hasilnya cukup memuaskan, arsitektur bangunan ini sangat menarik. Terdiri dari enam lantai dan ditengah bangunan berbentuk pohon kehidupan.

Museum ini juga memiliki 12 galeri yang berisi benda-benda unik. Galeri pertama berisi tentang keanekaraman hayati Filipina. Kedua geologi Filipina, ketiga penambangan mineral energi Filipina. Di galeri ke lima berisi tentang hutan pinus montane yang berlumut dan lainnya. 


Di lantai bawah, pengunjung berama-ramai melihat replika budaya yang sangat besar. Budaya itu merupakan budaya terbesar yang sempat ada di Filipina. Tulangnya diabadikan di lantai dua dengan cara digantung. “Ini buaya terbesar yang pernah ada di Filipina,” tambah Michael, penjaga museum tersebut.

Berkunjung ke dua museum ini akan mengingatkan  sejarah perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan dan mengenal budaya asli warisan nenek moyang Filipina.tak cukup rasanya bila datang tapi tidak mengajak keluarga. Sebab, banyak hal yang bisa dipelajari

Comments