Bersahabat dengan Tanaman, Damai Bersama Alam


FOTO-FOTO BAGUS SUPRIADI: Siti wachilda bersama Etik Mulyati, ketua dan wakil ketua KBA Rawasari saat mengantarkan penulis ke kampungnya
"Upaya melestarikan lingkungan harus terus dilakukan agar usia bumi semakin panjang. Kita perlu  memetik pelajaran dari setiap bencana, mulai dari  banjir hingga longsor yang disebabkan kerusakan alam.  David Orr, ahli lingkungan di universitas oberlin mengingatkan, When we heal the earth, we heal ourselves, saat kita menyelamatkan bumi, berati kita menyelamatkan diri sendiri. "

Sebuah gang menuju Kampung Berseri Astra (KBA) Rawasari begitu sempit, lebarnya sekitar satu meter. Namun, tidak kumuh. Kondisi ini berbeda dengan pemukiman padat pada umumnya,  biasanya kebersihan kurang terjaga.

Di sepanjang jalan tempat tinggal warga RW 02 nan padat ini. Tanaman hijau menghiasi setiap halaman rumah. Mulai dari tanaman buah jambu, mangga, kedondong, jahe, kunyit, lengkuas dan lainnya. Tak hanya dipinggir jalan, tapi dinding tembok rumah juga ditempeli berbagai jenis tanaman.

Kawasan yang tampak asri itu membuat anak-anak merasa nyaman bermain. Di tengah sejuknya jalan, anak-anak bermain bersama teman-temannya. Ada yang  yang saling berlari dan bersepeda onthel. Ada yang belajar bersama. Bahkan beberapa orang tua sedang duduk santai sambil menggendong balitanya. 


Anak-anak sedang bermain ditengah asrinya jalan di kawasan RW 02 Kelurahan Rawasari, daerah yang menjadi kampung hijau.

Kampung hijau ini berada di Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih Kota Jakarta Pusat. Kepedulian warga terhadap lingkungan menjadi pengingat masyarakat di seluruh daerah, untuk bersahabat dengan tanaman, berbagi waktu dengan alam.

Bagi mereka, merawat tanaman seperti merawat seorang sahabat. Saling mengerti dan memberikan manfaat. Warga menyiraminya setiap hari, tanaman memberikan kesejukan dan kesegaran. Mereka berdamai dengan alam semesta. Tak ada banjir saat hujan, juga tak kekeringan ketika kemarau.

Semangat warga untuk hidup dengan lingkungan bersih dan hijau begitu kuat. Tentu saja, mewujudkan itu tak semudah  membalikkan telapak tangan, namun butuh perjalanan panjang penuh rintangan.

Grafis Bagus Supriadi; Profil singkat menggambarkan kondisi lingkungan RW 2 Kelurahan Rawasari

Satu Tanaman Sejuta Harapan

Saya berkesempatan  melihat langsung kampung berseri ini ketika berkunjung ke Jakarta Pusat. “Selamat pagi bu Hilda, ibu ketua KBA Rawasari ya, saya Bagus dari Jember Jawa Timur, ingin berkunjung ke KBA Rawasari,” Pesan pendek whatsap ini saya kirim ke Siti Wachilda, ketua KBA Rawasari pada 27 Oktober 2018 lalu. 

Meskipun siang hari, lingkungan terasa sejuk karena penuh dengan tanaman di halaman rumah dan pinggir jalan

“Selamat datang mas dan selamat berkenalan ya, iya saya ketuanya,” balasnya. Lalu saya bertanya, dimana alamat lengkapnya. Beberapa detik kemudian, Hilda mengirimkannya. Yakni di Jalan Pramuka Jayasari, RW 02 RT 14 Kelurahan Rawasari. Setelah mendapatkan informasi lengkap, saya pun berangkat menggunakan transportasi Gojek.

Turun di Halte Pramuka raya, saya kembali menghubungi Hilda.  Dia meminta saya untuk menunggu sebentar. Sekitar 10 menit kemudian, dua perempuan turun dari bemo. Dia adalah Siti Wachilda dan Etik Mulyati, wakil KBA Rawasari.

“Mas Bagus ya, maaf sudah menunggu, Kami habis rapat mas, pulang dulu karena ada tamu dari jauh,” sapanya dengan sangat ramah. “Ini kampung kami, ayo masuk,” ajaknya.  Lalu, saya mengikuti langkahnya menuju gang sempit sambil berbicara tentang KBA Rawasari. Memasuki gang, ada tembok berwarna orange dengan tanaman tertata rapi di tembok. 

Lahan yang sempit membuat warga memanfaatkan dinding tembok dengan tanaman yang bermanfaat

“Setiap dinding tembok kami beri tanaman seperti ini,” kata Hilda sambil menunjukkan tanaman bawang. Warga menyadari pentingnya memanfatkan tempat di tengah lahan yang sempit. Kesadaran itu dimiliki oleh semua warga RW 02 yang berjumlah 500 Kepala Keluarga (KK).

Perempuan kelahiran 8 Maret 1963 mengatakan RW 02 memiliki 14 RT. Setiap tembok rumah di masing-masing RT  memiliki jenis tanaman yang berbeda. Hilda membaginya dengan berbagai jenis tanaman. Dinding rumah di RT 01 ditanami kunyit. RT 02 ditanami lengkuas. RT 03 ditanami cocor bebek.

Kemudian, RT 04 dan 05 berjejer tanaman jahe di setiap tembok bangunan warga. RT 06 dan 07 tanaman zodia. RT 08 hingga 10 ditanami lavender. RT 11 tanaman gandarusa. RT 12 tanaman jahe merah, lalu RT 13 tanaman pandan dan RT 14 ditanami mangkokan.

Tanaman itu tak hanya menjadi penghias dinding. Tapi saat warga membutuhkannya untuk keperluan dapur, mereka tak perlu membeli. Bahkan, ketika dibutuhkan untuk obat, mereka tinggal mengambilnya.

Salah satau halaman rumah warga yang ada di KBA Rawasari, tampak sangat asri dengan berbagai tanaman
Sebab tanaman itu bukan hanya pohon buah dan sayuran, namun  beberapa jenis Tanaman Obat Keluarga (Toga). “Perlu bumbu dapur ada daun jarak, begitu juga ketika perlu obat untuk pertolongan pertama,” tambah Etik, wakil ketua KBA Rawasari.

Setelah itu, Hilda mengajak menyusuri sepanjang jalan RW 2 yang luasnya sekitar 12 hektar. “Ini penampungan air hujan yang diberikan astra,” ucpanya  menunjukkan drum di pinggir jalan. Airnya digunakan untuk berbagai keperluan, seperti menyiram tanaman.

Meskipun di siang hari, kampung ini tidak terasa panas. Justru sebaliknya, terasa sejuk. Bahkan, kampung ini termasuk kampung out of the box, biasanya di daerah padat udara terasa sesak. Namun disini udara terasa segar membuat suasana rileks. 

Siti Wachilda menunjukkan tanaman yang bisa digunakan sebagai obat nyamuk

Sambil menikmati hijaunya jalan dan ramahnya warga, saya terus diajak melihat asrinya kampung ini. Bagi mereka, satu tanaman mampu memberikan oksigen untuk dua orang.  “Dulu kita memang gencar melakukan penghijauan, beberapa kali juara dalam lomba, bahkan juara lomba PKK nasional,” aku Hilda.

Keberhasilan pengembangan lingkungan hijau ini tak lepas dari peran PT Astra International Tbk. Sesuai dengan catur dharma Astra, yakni menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Serta visinya menjadi perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan.

RW 2 Kelurahan Rawasari dipilih menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) sejak tahun 2015 lalu. “Pihak Astra datang ke kelurahan, survei di 9 RW untuk menentukan KBA, namun yang dipercaya RW 2,” tutur Hilda.

Hasilnya, kawasan ini menjadi kampung berseri astra hingga sekarang. Dukungan ini menjadikan semangat warga terus meningkat. Sebab Astra memberikan beberapa sarana untuk terus menghijaukan lingkungan. Seperti berbagai jenis tanaman, bank sampah dan lainya. Bahkan juga sarana di bidang kesehatan dan pendidikan.

Penampungan air hujan yang ada di KBA Rawasari, beberapa titik ada drum yang diberi oleh Astra untuk menampung air hujan

Tahun 2017 lalu, KBA Rawasari meraih penghargaan program kampung iklim dalam event apresiasi lingkungan hidup oleh Pemprov DKI Jakarta. Penghargaan itu semakin meneguhkan bahwa KBA ini layak menjadi inspirasi dalam pengembangan kampung hijau.

Bahkan, beberapa kampung lain datang untuk melihat cara warga mewujudkan kawasan hijau. Tak hanya dari Jakarta, namun juga dari luar provinsi seperti Kalimantan. Mereka melihat langsung dan belajar cara mengelola kampung hijau.

Perjalanan saya tak selesai disitu, Hilda dan Etik seperti tak lelah mengajak saya melihat kampungnya yang hijau. Dia mengajak saya melihat rumah asri yang berada di sebelah pasar bagian ujung. Ternyata, rumah itu benar-benar asri. 

Halaman rumah milik Hj Surtinah Sumarniak yang menjadi rumah asri. Rumahnya memang benar-benar asri

Halaman rumahnya penuh dengan tanaman yang begitu menyejukkan. Ada tanaman daun kelor, kedondong, daun jarak, sirih merah dan lainnya. Disamping rumah, juga ada pengolahan pupuk kompos dan penampungan air hujan.

Rupanya, rumah yang ditetapkan sebagai rumah asri itu milik Hj Surtinah Sumarniak. “Untuk menjadi rumah asri juga disurvei, seberapa banyak tanamannya, ada apa saja disana,” tambah Hilda yang juga ketua PKK disana. Setelah disurvei, rumah itu layak menjadi rumah asri.

Tak selesai disitu, Hilda juga mengajak untuk melihat biopori untuk resapan sair dan pembuat kompos. Sisa sayuran yang sudah tidak terpakai, dimanfaatkan menjadi pupuk cair. Pupuk itu digunakan untuk tanaman sendiri. “Ini resapan air, meskipun di tengah padatknya kota, kita tak pernah kekurangan air,” tambahnya.

Etik menunjukkan buah kedondong yang ada di halaman rumah asri, selain menyejukkan, juga bisa dimanfaatkan buahnya.

“Sekarang kita ke kerajinan tas kulit milik warga sini,” ajak Hilda melanjutkan perjalanan. Kampung ini menyimpan potensi yang cukup luar biasa. Ada kerajinan tas kulit yang sudah berdiri sejak tahun 2000 lalu. Seperti biasa, halaman rumah produksi itu dihiasi dengan berbagai tanaman.

Kerajinan tas ini merupakan salah satu penghasilan warga. Sayangnya, masih belum menyesuakan dengan zaman, belum menjual secara daring. “Banyak yang kulakan kesini untuk dijual lagi,” aku Metty Widyani, pemilik kerajinan.

Kualitas tas kulit yang dibuat tidak kalah dengan tas terkenal. Tujuh karyawan yang memproduksi tas ini masih berdasarkan permintaan. Mulai dari perorangan hingga lembaga formal.

Usai melihat proses pembuatan tas dari kulit itu, Hilda dan Etik mengajak saya menuju kantor RW 02. Di depan kantor sudah ada tanaman hidroponik yang diberi oleh Astra. Di dalam kantor, terpajang beberapa piagam penghargaan, seperti prestasi Proklim dari Pemprov DKI Jakarta. Kemudian, ada kotak P3K yang juga diberikan oleh Astra. 

Siti Wachilda yang juga merupakan guru Paud saat berada di kantor RW 2 Kampung Berseri Astra Rawasari

Warisan Sepanjang Masa Bagi Generasi

Hilda dan Etik Sadar bahwa orang tua yang tinggal di kawasan itu tidak bisa mewariskan harta yang melimpah. Namun, mereka menciptakan  lingkungan yang hijau, ramah dan bersih bagi generasi masa depan.

20 tahun lagi, kondisi lingkungan akan mengalami perubahan. Tidak  ada yang tau bakal seperti apa? namun, Litbang Koran Sindo melakukan survei persoalan lingkungan yang harus diselesaikan karena menyangkut kehidupan Indonesia di masa yang akan datang.

Masalah pertama, sampah. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor 10 di dunia. Hal ini berdampak pada produksi sampah dan pengelolaannya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mencatat jumlah sampah yang diproduksi mencapai 65 juta ton pada tahun 2016, bertambah 1 ton dibanding tahun 2015.

Salah satu anak-anak saat bermain ditengah hijaunya jalan RW 2 KBA Rawasari, lingkungan yang menyehatkan

Kedua, banjir yang kerap terjadi hampir di seluruh kota. Ketiga, pencemaran sungai yang cukup serius akibat manusia membuat sampah ke sungai. Keempat, pemanasan global yang sudah dirasakan sekarang. 

Kelima, pencemaran udara. Penyebabnya karena Indonesia adalah negara dengan jumlah pengguna sepeda motor terbanyak di dunia. Berdasarkan data Korlantas Polri pada awal 2017 lalu, jumlah kendaraan mencapai 102.328.629.

Hilda bersama para orang tua di KBA Rawasari tidak tinggal diam menyikapi tantangan lingkungan di masa depan. Mereka mendidik anak-anaknya agar peduli dengan lingkungan. “Apalagi saya juga ngajar PAUD, saya ajarkan tentang lingkungan,” tutur Hilda.

Seperti membiasakan anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Mengenalkan konsep 3 R, reduce, reuse, recycle. Selain itu, juga mengajak menanam pohon dan merawatnya hingga besar.

Di RW 02 sendiri, kepedulian Astra tak hanya di bidang lingkungan. Namun, juga di bidang pendidikan dan kesehatan pada warga sekitar. “Ada 25 anak yang mendapat beasiswa dari Astra,” aku Hilda.

“Kadang ada juga pasar murah pas bulan Ramadan,” tambah Etik. Semua itu membantu warga dalam mengarungi kehidupan. Mempersiapkan masa depan anak-anak mereka agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas.

Komitmen PT Astra International Tbk untuk memberikan manfaat bagi bangsa ini benar-benar dirasakan oleh warga KBA Rawasari. Kepeduliannya di bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan bisa dilihat di kampung ini. 

Kebun sayur organik yang ada di depan kantor RW 2 KBA Rawasari, kebun ini baru saja dibuat melalui bantuan Astra

Bila semua daerah meniru cara KBA Rawasari dalam mengelola kampungnya. Maka kekhawatiran tentang ancaman perubahan iklim, pencemaran lingkungan, kerusakan alam bisa ditekan. Dukungan untuk menciptakan kampung hijau dari Astra ini menjadi jawaban persoalan bangsa.

Tentu saja, masih banyak kampung yang perlu mendapat dukungan untuk mewujudkan kawasan hijau. Bila ingin mencoba mengembangkannya, maka salah satu refrensi yang bisa dicontoh adalah datang langsung KBA Rawasari.

Melihat bagaimana keceriaan anak-anak bermain dengan  lingkungan hijau, bersih. Mengamati pola hidup warga yang sehat. Melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan produktif. Menatap masa depan Indonesia yang lebih optimis.

Teruslah berkarya, PT Astra International TBK! Teruslah berjaya KBA Rawasari!

Pulang Membawa Sejuta Inpirasi

Percakapan bernas yang saya lakukan dengan pengelola KBA Rawasari membuat saya sadar pentingnya menjaga lingkungan. Perlunya menciptakan iklim yang sejuk dan segar. Setelah mengelilingi kampung, menyapa warga dan berdiskusi dengan Hilda dan Etik, saya pamit pulang.

Dalam pikiran sudah ada sejuta inspirasi untuk mewujudkan kampung berseri di rumah sendiri. Memulai dari diri sendiri agar menjadi inspirasi bagi tetangga. Tak perlu biaya mahal, cukup membeli tanaman untuk ditempatkan di depan rumah.

Penulis foto bersama dengan ketua dan wakil ketua KBA Rawasari sebelum pulang

Apalagi, saya tinggal di perumahan daerah perkotaan, yakni di perumahan Green Tegalgede Residence. Sesuai dengan namanya, perumahan ini harus hijau. Maka aku akan memulai bersahabat dengan tanaman, belajar berdamai dengan alam.

Seperti puisi cahaya bulan karya Soe Hok Gie, berbagi waktu dengan alam/kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya/hakikat manusia.