Rabu, 31 Oktober 2018

Bersahabat dengan Tanaman, Damai Bersama Alam


FOTO-FOTO BAGUS SUPRIADI: Siti wachilda bersama Etik Mulyati, ketua dan wakil ketua KBA Rawasari saat mengantarkan penulis ke kampungnya
"Upaya melestarikan lingkungan harus terus dilakukan agar usia bumi semakin panjang. Kita perlu  memetik pelajaran dari setiap bencana, mulai dari  banjir hingga longsor yang disebabkan kerusakan alam.  David Orr, ahli lingkungan di universitas oberlin mengingatkan, When we heal the earth, we heal ourselves, saat kita menyelamatkan bumi, berati kita menyelamatkan diri sendiri. "

Sebuah gang menuju Kampung Berseri Astra (KBA) Rawasari begitu sempit, lebarnya sekitar satu meter. Namun, tidak kumuh. Kondisi ini berbeda dengan pemukiman padat pada umumnya,  biasanya kebersihan kurang terjaga.

Di sepanjang jalan tempat tinggal warga RW 02 nan padat ini. Tanaman hijau menghiasi setiap halaman rumah. Mulai dari tanaman buah jambu, mangga, kedondong, jahe, kunyit, lengkuas dan lainnya. Tak hanya dipinggir jalan, tapi dinding tembok rumah juga ditempeli berbagai jenis tanaman.

Kawasan yang tampak asri itu membuat anak-anak merasa nyaman bermain. Di tengah sejuknya jalan, anak-anak bermain bersama teman-temannya. Ada yang  yang saling berlari dan bersepeda onthel. Ada yang belajar bersama. Bahkan beberapa orang tua sedang duduk santai sambil menggendong balitanya. 


Anak-anak sedang bermain ditengah asrinya jalan di kawasan RW 02 Kelurahan Rawasari, daerah yang menjadi kampung hijau.

Kampung hijau ini berada di Kelurahan Rawasari Kecamatan Cempaka Putih Kota Jakarta Pusat. Kepedulian warga terhadap lingkungan menjadi pengingat masyarakat di seluruh daerah, untuk bersahabat dengan tanaman, berbagi waktu dengan alam.

Bagi mereka, merawat tanaman seperti merawat seorang sahabat. Saling mengerti dan memberikan manfaat. Warga menyiraminya setiap hari, tanaman memberikan kesejukan dan kesegaran. Mereka berdamai dengan alam semesta. Tak ada banjir saat hujan, juga tak kekeringan ketika kemarau.

Semangat warga untuk hidup dengan lingkungan bersih dan hijau begitu kuat. Tentu saja, mewujudkan itu tak semudah  membalikkan telapak tangan, namun butuh perjalanan panjang penuh rintangan.

Grafis Bagus Supriadi; Profil singkat menggambarkan kondisi lingkungan RW 2 Kelurahan Rawasari

Satu Tanaman Sejuta Harapan

Saya berkesempatan  melihat langsung kampung berseri ini ketika berkunjung ke Jakarta Pusat. “Selamat pagi bu Hilda, ibu ketua KBA Rawasari ya, saya Bagus dari Jember Jawa Timur, ingin berkunjung ke KBA Rawasari,” Pesan pendek whatsap ini saya kirim ke Siti Wachilda, ketua KBA Rawasari pada 27 Oktober 2018 lalu. 

Meskipun siang hari, lingkungan terasa sejuk karena penuh dengan tanaman di halaman rumah dan pinggir jalan

“Selamat datang mas dan selamat berkenalan ya, iya saya ketuanya,” balasnya. Lalu saya bertanya, dimana alamat lengkapnya. Beberapa detik kemudian, Hilda mengirimkannya. Yakni di Jalan Pramuka Jayasari, RW 02 RT 14 Kelurahan Rawasari. Setelah mendapatkan informasi lengkap, saya pun berangkat menggunakan transportasi Gojek.

Turun di Halte Pramuka raya, saya kembali menghubungi Hilda.  Dia meminta saya untuk menunggu sebentar. Sekitar 10 menit kemudian, dua perempuan turun dari bemo. Dia adalah Siti Wachilda dan Etik Mulyati, wakil KBA Rawasari.

“Mas Bagus ya, maaf sudah menunggu, Kami habis rapat mas, pulang dulu karena ada tamu dari jauh,” sapanya dengan sangat ramah. “Ini kampung kami, ayo masuk,” ajaknya.  Lalu, saya mengikuti langkahnya menuju gang sempit sambil berbicara tentang KBA Rawasari. Memasuki gang, ada tembok berwarna orange dengan tanaman tertata rapi di tembok. 

Lahan yang sempit membuat warga memanfaatkan dinding tembok dengan tanaman yang bermanfaat

“Setiap dinding tembok kami beri tanaman seperti ini,” kata Hilda sambil menunjukkan tanaman bawang. Warga menyadari pentingnya memanfatkan tempat di tengah lahan yang sempit. Kesadaran itu dimiliki oleh semua warga RW 02 yang berjumlah 500 Kepala Keluarga (KK).

Perempuan kelahiran 8 Maret 1963 mengatakan RW 02 memiliki 14 RT. Setiap tembok rumah di masing-masing RT  memiliki jenis tanaman yang berbeda. Hilda membaginya dengan berbagai jenis tanaman. Dinding rumah di RT 01 ditanami kunyit. RT 02 ditanami lengkuas. RT 03 ditanami cocor bebek.

Kemudian, RT 04 dan 05 berjejer tanaman jahe di setiap tembok bangunan warga. RT 06 dan 07 tanaman zodia. RT 08 hingga 10 ditanami lavender. RT 11 tanaman gandarusa. RT 12 tanaman jahe merah, lalu RT 13 tanaman pandan dan RT 14 ditanami mangkokan.

Tanaman itu tak hanya menjadi penghias dinding. Tapi saat warga membutuhkannya untuk keperluan dapur, mereka tak perlu membeli. Bahkan, ketika dibutuhkan untuk obat, mereka tinggal mengambilnya.

Salah satau halaman rumah warga yang ada di KBA Rawasari, tampak sangat asri dengan berbagai tanaman
Sebab tanaman itu bukan hanya pohon buah dan sayuran, namun  beberapa jenis Tanaman Obat Keluarga (Toga). “Perlu bumbu dapur ada daun jarak, begitu juga ketika perlu obat untuk pertolongan pertama,” tambah Etik, wakil ketua KBA Rawasari.

Setelah itu, Hilda mengajak menyusuri sepanjang jalan RW 2 yang luasnya sekitar 12 hektar. “Ini penampungan air hujan yang diberikan astra,” ucpanya  menunjukkan drum di pinggir jalan. Airnya digunakan untuk berbagai keperluan, seperti menyiram tanaman.

Meskipun di siang hari, kampung ini tidak terasa panas. Justru sebaliknya, terasa sejuk. Bahkan, kampung ini termasuk kampung out of the box, biasanya di daerah padat udara terasa sesak. Namun disini udara terasa segar membuat suasana rileks. 

Siti Wachilda menunjukkan tanaman yang bisa digunakan sebagai obat nyamuk

Sambil menikmati hijaunya jalan dan ramahnya warga, saya terus diajak melihat asrinya kampung ini. Bagi mereka, satu tanaman mampu memberikan oksigen untuk dua orang.  “Dulu kita memang gencar melakukan penghijauan, beberapa kali juara dalam lomba, bahkan juara lomba PKK nasional,” aku Hilda.

Keberhasilan pengembangan lingkungan hijau ini tak lepas dari peran PT Astra International Tbk. Sesuai dengan catur dharma Astra, yakni menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Serta visinya menjadi perusahaan yang memiliki tanggung jawab sosial serta ramah lingkungan.

RW 2 Kelurahan Rawasari dipilih menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) sejak tahun 2015 lalu. “Pihak Astra datang ke kelurahan, survei di 9 RW untuk menentukan KBA, namun yang dipercaya RW 2,” tutur Hilda.

Hasilnya, kawasan ini menjadi kampung berseri astra hingga sekarang. Dukungan ini menjadikan semangat warga terus meningkat. Sebab Astra memberikan beberapa sarana untuk terus menghijaukan lingkungan. Seperti berbagai jenis tanaman, bank sampah dan lainya. Bahkan juga sarana di bidang kesehatan dan pendidikan.

Penampungan air hujan yang ada di KBA Rawasari, beberapa titik ada drum yang diberi oleh Astra untuk menampung air hujan

Tahun 2017 lalu, KBA Rawasari meraih penghargaan program kampung iklim dalam event apresiasi lingkungan hidup oleh Pemprov DKI Jakarta. Penghargaan itu semakin meneguhkan bahwa KBA ini layak menjadi inspirasi dalam pengembangan kampung hijau.

Bahkan, beberapa kampung lain datang untuk melihat cara warga mewujudkan kawasan hijau. Tak hanya dari Jakarta, namun juga dari luar provinsi seperti Kalimantan. Mereka melihat langsung dan belajar cara mengelola kampung hijau.

Perjalanan saya tak selesai disitu, Hilda dan Etik seperti tak lelah mengajak saya melihat kampungnya yang hijau. Dia mengajak saya melihat rumah asri yang berada di sebelah pasar bagian ujung. Ternyata, rumah itu benar-benar asri. 

Halaman rumah milik Hj Surtinah Sumarniak yang menjadi rumah asri. Rumahnya memang benar-benar asri

Halaman rumahnya penuh dengan tanaman yang begitu menyejukkan. Ada tanaman daun kelor, kedondong, daun jarak, sirih merah dan lainnya. Disamping rumah, juga ada pengolahan pupuk kompos dan penampungan air hujan.

Rupanya, rumah yang ditetapkan sebagai rumah asri itu milik Hj Surtinah Sumarniak. “Untuk menjadi rumah asri juga disurvei, seberapa banyak tanamannya, ada apa saja disana,” tambah Hilda yang juga ketua PKK disana. Setelah disurvei, rumah itu layak menjadi rumah asri.

Tak selesai disitu, Hilda juga mengajak untuk melihat biopori untuk resapan sair dan pembuat kompos. Sisa sayuran yang sudah tidak terpakai, dimanfaatkan menjadi pupuk cair. Pupuk itu digunakan untuk tanaman sendiri. “Ini resapan air, meskipun di tengah padatknya kota, kita tak pernah kekurangan air,” tambahnya.

Etik menunjukkan buah kedondong yang ada di halaman rumah asri, selain menyejukkan, juga bisa dimanfaatkan buahnya.

“Sekarang kita ke kerajinan tas kulit milik warga sini,” ajak Hilda melanjutkan perjalanan. Kampung ini menyimpan potensi yang cukup luar biasa. Ada kerajinan tas kulit yang sudah berdiri sejak tahun 2000 lalu. Seperti biasa, halaman rumah produksi itu dihiasi dengan berbagai tanaman.

Kerajinan tas ini merupakan salah satu penghasilan warga. Sayangnya, masih belum menyesuakan dengan zaman, belum menjual secara daring. “Banyak yang kulakan kesini untuk dijual lagi,” aku Metty Widyani, pemilik kerajinan.

Kualitas tas kulit yang dibuat tidak kalah dengan tas terkenal. Tujuh karyawan yang memproduksi tas ini masih berdasarkan permintaan. Mulai dari perorangan hingga lembaga formal.

Usai melihat proses pembuatan tas dari kulit itu, Hilda dan Etik mengajak saya menuju kantor RW 02. Di depan kantor sudah ada tanaman hidroponik yang diberi oleh Astra. Di dalam kantor, terpajang beberapa piagam penghargaan, seperti prestasi Proklim dari Pemprov DKI Jakarta. Kemudian, ada kotak P3K yang juga diberikan oleh Astra. 

Siti Wachilda yang juga merupakan guru Paud saat berada di kantor RW 2 Kampung Berseri Astra Rawasari

Warisan Sepanjang Masa Bagi Generasi

Hilda dan Etik Sadar bahwa orang tua yang tinggal di kawasan itu tidak bisa mewariskan harta yang melimpah. Namun, mereka menciptakan  lingkungan yang hijau, ramah dan bersih bagi generasi masa depan.

20 tahun lagi, kondisi lingkungan akan mengalami perubahan. Tidak  ada yang tau bakal seperti apa? namun, Litbang Koran Sindo melakukan survei persoalan lingkungan yang harus diselesaikan karena menyangkut kehidupan Indonesia di masa yang akan datang.

Masalah pertama, sampah. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor 10 di dunia. Hal ini berdampak pada produksi sampah dan pengelolaannya. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI mencatat jumlah sampah yang diproduksi mencapai 65 juta ton pada tahun 2016, bertambah 1 ton dibanding tahun 2015.

Salah satu anak-anak saat bermain ditengah hijaunya jalan RW 2 KBA Rawasari, lingkungan yang menyehatkan

Kedua, banjir yang kerap terjadi hampir di seluruh kota. Ketiga, pencemaran sungai yang cukup serius akibat manusia membuat sampah ke sungai. Keempat, pemanasan global yang sudah dirasakan sekarang. 

Kelima, pencemaran udara. Penyebabnya karena Indonesia adalah negara dengan jumlah pengguna sepeda motor terbanyak di dunia. Berdasarkan data Korlantas Polri pada awal 2017 lalu, jumlah kendaraan mencapai 102.328.629.

Hilda bersama para orang tua di KBA Rawasari tidak tinggal diam menyikapi tantangan lingkungan di masa depan. Mereka mendidik anak-anaknya agar peduli dengan lingkungan. “Apalagi saya juga ngajar PAUD, saya ajarkan tentang lingkungan,” tutur Hilda.

Seperti membiasakan anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Mengenalkan konsep 3 R, reduce, reuse, recycle. Selain itu, juga mengajak menanam pohon dan merawatnya hingga besar.

Di RW 02 sendiri, kepedulian Astra tak hanya di bidang lingkungan. Namun, juga di bidang pendidikan dan kesehatan pada warga sekitar. “Ada 25 anak yang mendapat beasiswa dari Astra,” aku Hilda.

“Kadang ada juga pasar murah pas bulan Ramadan,” tambah Etik. Semua itu membantu warga dalam mengarungi kehidupan. Mempersiapkan masa depan anak-anak mereka agar menjadi generasi yang sehat dan cerdas.

Komitmen PT Astra International Tbk untuk memberikan manfaat bagi bangsa ini benar-benar dirasakan oleh warga KBA Rawasari. Kepeduliannya di bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan bisa dilihat di kampung ini. 

Kebun sayur organik yang ada di depan kantor RW 2 KBA Rawasari, kebun ini baru saja dibuat melalui bantuan Astra

Bila semua daerah meniru cara KBA Rawasari dalam mengelola kampungnya. Maka kekhawatiran tentang ancaman perubahan iklim, pencemaran lingkungan, kerusakan alam bisa ditekan. Dukungan untuk menciptakan kampung hijau dari Astra ini menjadi jawaban persoalan bangsa.

Tentu saja, masih banyak kampung yang perlu mendapat dukungan untuk mewujudkan kawasan hijau. Bila ingin mencoba mengembangkannya, maka salah satu refrensi yang bisa dicontoh adalah datang langsung KBA Rawasari.

Melihat bagaimana keceriaan anak-anak bermain dengan  lingkungan hijau, bersih. Mengamati pola hidup warga yang sehat. Melihat anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan produktif. Menatap masa depan Indonesia yang lebih optimis.

Teruslah berkarya, PT Astra International TBK! Teruslah berjaya KBA Rawasari!

Pulang Membawa Sejuta Inpirasi

Percakapan bernas yang saya lakukan dengan pengelola KBA Rawasari membuat saya sadar pentingnya menjaga lingkungan. Perlunya menciptakan iklim yang sejuk dan segar. Setelah mengelilingi kampung, menyapa warga dan berdiskusi dengan Hilda dan Etik, saya pamit pulang.

Dalam pikiran sudah ada sejuta inspirasi untuk mewujudkan kampung berseri di rumah sendiri. Memulai dari diri sendiri agar menjadi inspirasi bagi tetangga. Tak perlu biaya mahal, cukup membeli tanaman untuk ditempatkan di depan rumah.

Penulis foto bersama dengan ketua dan wakil ketua KBA Rawasari sebelum pulang

Apalagi, saya tinggal di perumahan daerah perkotaan, yakni di perumahan Green Tegalgede Residence. Sesuai dengan namanya, perumahan ini harus hijau. Maka aku akan memulai bersahabat dengan tanaman, belajar berdamai dengan alam.

Seperti puisi cahaya bulan karya Soe Hok Gie, berbagi waktu dengan alam/kau akan tau siapa dirimu yang sebenarnya/hakikat manusia.
 
Read More

Dua Museum Besar di Rizal Park, Manila-Filipina (2)


Belajar Sejarah Manusia dan Alam

Dua museum berdiri kokoh berhadapan. Yakni National Museum of Anthoropology dan national museum of national history. Tempat ini berisi tentang banyak hal, mulai dari benda bersejarah hingga potensi satwa Filipina.


Usai mengunjungi beberapa spot Rizal Park, secara otomotis akan menemukan dua museum besar. Yakni National Museum of Anthoropology dan national museum of national history. Museum antropolgy berada di sebelah the orchidarium. Sedangkan museum sejarah nasional berada di sebelah children’s playground.

Dari kejauhan, dua museum ini sudah terlihat begitu kokoh. Ada enam tiang penyangga yang cukup besar. Pelancong harus menaiki tangga untuk masuk ke dalamnya. Tak perlu membayar karena gratis. Petugas sudah siap siaga mengecek barang bawaan pengunjung.

Pengunjung secara otomatis akan langsung masuk ke lantai dua. Barang bawaan seperti tas tidak boleh dibawa. Namun barang penting seperti dompet harus dibawa. Di lantai itu, pengunjung akan menelusuri ruang-ruyang unik dan eksotis dengan beberapa peningalan sejarah.


Museum ini menjadi etalase untuk melihat kisah masa lalu Filipina. Ada lima ribu lebih koleksi cagar budaya. Semua ditempatkan di tiga lantai dengan 12 galery. “Ada satu lantai lagi yang masih belum terisi,” kata Juliene, penjaga museum antroplogi.

Museum di negara dengan julukan Lumbung Padi Asia itu didesain oleh  arsitek dari Amerika bernama Daniel Burnham. Pembangunan konstruksinya dimulai pada tahun 1918. namun karena kekurangan dana, sempat tertunda.

Awalnya hanya perpustakaan, namun kemudian sempat dijadikan sebagai  gedung parlemen. Di tempat inilah terjadi peristiwa penting di Filipina yaitu pengangkatan Manuel L. Quezon sebagai Presiden pada tahun 1945.

Pada era perang dunia ke 2 bangunan ini mengalami kerusakan akibat pemboman di kota Manila dan direnovasi kembali. Pada tahun 2003 Pemerintah Filipina memutuskan untuk mengubah fungsi gedung parlemen menjadi sebuah museum.

Berbagai koleksi bersejarah yang dimiliki  museum ini dibagi menjadi empat kategori yakni seni, etnografi, arkeologi, dan sejarah. Di dalamnya, sda satu koleksi yang sangat terkenal yaitu San Diego. Koleksi  sebuah kapal yang dulu digunakan untuk transportasi di bidang perdagangan antara Filipina dengan Meksiko. “San Diego tenggelam bersama semua awak kapalnya karena diterjang badai, dan pada abad ke 17 kapal tersebut ditemukan utuh bersama artefak di dalamnya,” jelas Juliene.


Baiklah, ketika masuk pada ruang pertama museum ini,  pengunjung akan melihat gading gajah ukuran besar dalam sebuah kotak kaca. Sejarah gading gading gajah ini dibagi menjadi beberapa fase. Mulai dari zaman prasejarah, masa perdagangan sebelum kedatangan penjajah, periode penjajahan Spanyol dan abad ke 21

Bahkan, beberapa gading gajah itu salah satunya adalah pemberian dari kerajaan Jawa. Selain gading gajah, juga terdapat miniatur kapal dalam sebuah kotak kaca. Kapalnya tak tanggung, unik menarik dan kokoh dan terlihat menarik sekali.

Kemudian, setelah melewati tempat ini, pengunjung akan bertemu dengan  ruangan yang memamerkan karya  seorang pelukis  Juan Luna. Pelukis  yang mulai terkenal pada abad ke 19. dia bukan hanya  pelukis namun juga dikenal sebagai pemahat sekaligus aktifis politik. 


Salah satu karyanya  yang  terkenal  adalah Spoliarium. Sebuah lukisan yang menceritakan tentang perbudakan, pengorbanan, dan tragedi pada jaman Romawi. Karya ini sempat  meraih medali emas pada pameran karya seni di Madrid.

Setelah itu, lanjut ke tempat selanjut akan bertemu dengan berbagai guci kuno yang dipajang dengan rapi dan indah. Ada banyak koleksi guci, mulai dari yang kecil hingga paling besar. “Semua benda-benda di sini merupakan kolaborasi antara Perancis dan Filipina,” jelas Juliene.

Tak hanya itu, gallery selanjutnya memamerkan piring-piring antik, kemudian senjata-senjata yang digunakan orang-orang terdahulu. Semua benda itu dipajang di tempat menarik dengan pencahayaan yang bagus.


Selanjutnya, ada beberapa kain khas Filipina yang merupakan kerajinan masyarakatnya dari masa ke masa. Kerajinan itu tak ubahnya seperti yang dibuat oleh warga Indonesia, seperti topi yang terbuat dari anyaman bambu atau tikar dan lainnya.

Selesai berkunjung ke museum ini, perjalanan masih belum usai. Masih ada satu museum lagi yang berdekatan, sekitar berjarak 500 meter di depannya. Yakni national museum of national history. Tempat ini justru lebih ramai dikunjungi oleh warga Filipina, terutama anak-anak.

Di museum yang kedua ini, pelancong juga harus menaiki tangga. Hampir sama dengan gedung sebelumya, yakni ada enam pilar penyanggah. Ketika naik, langsung berada di lantai dua. Awalnya, bangunan sempat dijadikan sebagai gedung pertanian dan perdagangan pada tahun 1940.

Kemudian, bangunan neoklasik yang dirancang oleh arsitek Filipina Antonio Toledo pada akhir 1930an ini sempat juga dijadikan gedung dinas pariwisata. Kemudian, pada tahun 1998 dijadikan sebagai museum nasional sejarah alam.


Tahun 2013 lalu, museum ini kembali di desain oleh tim dari Dominic Galicia Architects dan desainer interior Tina Periquet. Hasilnya cukup memuaskan, arsitektur bangunan ini sangat menarik. Terdiri dari enam lantai dan ditengah bangunan berbentuk pohon kehidupan.

Museum ini juga memiliki 12 galeri yang berisi benda-benda unik. Galeri pertama berisi tentang keanekaraman hayati Filipina. Kedua geologi Filipina, ketiga penambangan mineral energi Filipina. Di galeri ke lima berisi tentang hutan pinus montane yang berlumut dan lainnya. 


Di lantai bawah, pengunjung berama-ramai melihat replika budaya yang sangat besar. Budaya itu merupakan budaya terbesar yang sempat ada di Filipina. Tulangnya diabadikan di lantai dua dengan cara digantung. “Ini buaya terbesar yang pernah ada di Filipina,” tambah Michael, penjaga museum tersebut.

Berkunjung ke dua museum ini akan mengingatkan  sejarah perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan dan mengenal budaya asli warisan nenek moyang Filipina.tak cukup rasanya bila datang tapi tidak mengajak keluarga. Sebab, banyak hal yang bisa dipelajari
Read More

Berkunjung ke Rizal Park di Manila-Filipina (1)


Satu Lokasi  Dengan 39  Tempat Wisata Menarik 
 
Dr Jose Rizal merupakan sosok yang tak terlupakan oleh rakyat Filipina. Dia merupakan pahlawan Nasional yang memperjuangkan kemerdekaan. Tak heran, namanya diabadikan di taman ini. 



Rizal Park, sebuah taman dengan luas 54 hektare terletak di jantung Kota Manila. Taman ini menjadi tempat rekreasi warga Filipina dan para turis asing. Bahkan taman ini merupakan taman kota terbesar dan terbaik nomor delapan di Asia.


Tak sulit untuk menuju kesana. Misal dari The Herritage Hotel bisa ditempuh selama 15 menit dengan jarak perjalanan 5,6 kilometer. Pelancong bisa memanfaatkan tranportasi online grab yang sudah tersedia, hanya mengeluarkan uang 200 peso atau Rp 60 ribu. 

Setiap harinya, selalu ada wisatawan yang berkunjung ke Rizal Park. Turun dari mobil, di Jalan Roxas Boulevard kita akan bertemu dengan dua tugu yang sama-sama berada di pinggir jalan. Sisi kiri seberang jalan,  ada tugu  Centennial Memorial Clock, yakni  monumen yang dibangun untuk memperingati 100 tahun kemerdekaan Filipina.


Kemudian di sisi kiri, tepat setelah turun dari mobil, kita akan melihat Monumen Jose Rizal. Yakni Monumen  yang dibangun pada tahun 1908 untuk mengenang jasa  Dr Jose Rizal,  pahlawan nasional tertinggi Filipina yang meninggal di ujung regu tembak Kerajaan Spanyol karena menentang penjajahan Spanyol atas Filipina.
Monument yang dibangun pada 1912 ini menjadi tempat favorit para pelancong, setiap masuk kesana pasti Swafoto. Namun, berkunjung ke Rizal park tak selesai disini. Ketika masuk ke dalam, masih banyak yang harus dikunjungi. 

Di pintu pertama,  kita akan berkunjung ke tempat yang cukup menarik yakni the martyrdom of jose Rizal. Di tempat inilah kita hanya diminta untuk membayar tiket sebesar Rp 20 peso atau Rp 6000. 


Tempat ini merupakan gambaran saat Dr Jose Rizal di ekskusi mati. Di pintu masuk, terdapat beberapa ukiran tentang perjuangan Dr Jose Rizal. Kemudian, di sisi samping ada tulisan puisi karya Dr Jose Rizal. Misal, salah satu puisinya yang cukup terkenal, yakni my last farewell.
 
Di dalamnya, terdapat patung-patung besar yang memegang senjata dan sedang menembak seseorang di depannya. Patung itu merupakan tempat di ekskusinya  Dr Jose Rizal pada 30 Desember 1896. “Patung ini menjelaskan dieksuksinya pahlawan kami yang memperjuangkan kemerdekaan,” kata salah satu petugas keamanan Rizal Park. Patung-patung itu untuk mengenang jasa pahlawan Dr Jose Rizal.


Selesai berkunjung ke tempat ini, pelancong bisa ke tempat sebelahnya. Yakni the hub, yang berisi gallery lukisan. Ada banyak lukisan di tempat ini. Pengunjung hanya bisa mengambil foto, namun tidak boleh merekam. 

Disebelahnya gedung the hub, terdapat Chinese garden. Sebuah taman dengan gaya arsitektur tiongkok. Tempat ini menyajikan taman yang unik dan eksotis. Tempat ini juga kerap digunakan rileks ditengah kesibukan. “Kamu cukup tanda tangan kesini tak perlu bayar tiket,” tambah Spphia, penjaga Chinese garden

Kemudian, disebelahnya lagi terdapat rizal park open air auditorium yang kerap digunakan berbagai acara. Misal konser musik, latihan seni tari dan lainnya. Di belakang tempat ini terdapat tempat menarik, yakni planetarium.


Planetarium Nasional, juga dikenal sebagai National Museum Planetarium merupakan bangunan yang berbentuk kubah  16 meter tempat ini dibuka pada 8 Oktober 1975. Museum luar angkasa ini digagas oleh Kepala Biro Cuaca Filipina dan Pendiri Masyarakat Astronomi Filipina, yakni Maximo Sacro Jr dan Direktur Museum Nasional Godofredo Alcasid Sr pada tahun 1970. 

Di dalamnya kita bisa belajar tentang ilmu astronomi, terdapat bermacam susunan tata surya, big bang, satelit, astronot Nasa   yang di tata dengan lampu menarik.  Banyak hal yang bisa dipelajari di tempat ini, sayangnya tidak ada yang memandu. 

Lalu disebelahnya lagi terdapat Japanese garden, yakni kebun yang dibuat dengan gaya Jepang. Seperti jembatan yang berada di tengah kolam. Ketika berkujung ke destinasi ini, pelancong seperti sedang berada di Jepang. Sebab, semua bangunan di desain seperti negeri sakura. 


Kemudian, masih banyak lokasi yang bisa dikunjungi di tempat ini. Seperti flower clok, bisig marker, musical dancing fountain  dan lainnya. Waktu satu hari tak cukup untuk jalan-jalan ke tempat ini. Sebab, ada 39 spot menarik yang sangat disayangkan bisa tidak dikunjungi.

Terutama, national museum of the philipine people  dan national museum of natural history. Didalamnya, banyak benda-benda yang menarik untuk dipelajari. Misal, kekayaan sumber daya alam,  budaya dan tradisi Filipina. Benda-benda peninggalan bersejarah dari berbagai Negara.(bersambung)

Read More