Cinta Rupiah Lahir Batin

20 tahun yang lalu, bisa mendapatkan uang Rp 1000 untuk sangu pergi ke sekolah sangat berharga.  Sebab, tak mudah untuk memperoleh uang tersebut. Saat itu, uang jajan masih Rp 100 hingga Rp 500.  Uang sejumlah itu, sudah bisa membeli berbagai makanan di sekolah.
foto-foto Bagus Supriadi

Kala itu, aku kerap memiliki uang kertas yang lusuh dan kusut. Di atasnya selalu terdapat tulisan tangan usil. Mulai dari kata-kata cinta, rindu hingga perkenalan. Tulisan itu lekas membuat uang rusak. Padahal, proses pembuatannya tidak mudah dan melalu tahapan yang tidak sebentar.
Selain itu, aku kerap mendapatkan uang lusuh dibawah kasur karena terlalu lama disimpan. Bahkan, sudah dimakan rayap dan tidak bisa dipakai. Padahal, untuk mendapatkan uang lebih sulit daripada menjaganya dari kerusakan.
Semua itu hanya kisah masa lalu tentang uang kertas yang pernah aku alami pada masa kecilku. Namun, tulisan dari tinta pulpen masih kerap ada. Sangat disayangkan sekali, sebab rupiah merupakan alat tukar yang sangat berharga. Selain memiliki nilai yang estetis, proses pembuatannya juga dengan biaya yang mahal.
Bahkan, untuk mencetak satu  lembar   nilai biaya cetaknya bisa lebih mahal. Setiap tahun, Bank Indonesia (BI) menghabiskan anggaran sekitar Rp 2 triliun hanya untuk mencetak uang. Yakni hanya untuk mengganti uang yang sudah rusak.
Maklum, peredaran uang kertas di kalangan masyarakat masih cukup tinggi. Di pasar tradisionnal, toko bangunan, hingga para nelayan dan lainnya. Sehingga kerusakan uang kertas tak bisa dihindari, namun bisa ditekan agar lebih awet.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia, masyarakat yang menggunakan uang tunai masih cukup tinggi. Jumlah uang yang harus dicetak terus bertambah, bertambah 13 persen pada tahun 2014 lalu.  Bahkan, BI harus memusnahkan lebih dari Rp 9 miliar pada tahun tersebut karena sudah rusak.  Pecahan yang paling banyak rusak adalah Rp 2 ribu sebanyak Rp 1.339 miliar.
Tahun 2017, uang yang dicetak sebanyak 12,9 miliar lembar. Lalu, hingga 2018, berapakah uang rusak dari jumlah yang cukup banyak itu. Tentunya tetap ada kertas rupiah yang rusak, entah berapa banyak, semoga menurun.

Cetak Rupiah Sulit Lo…
Mari  kita pelajari seperti apa proses dan biaya mencetak rupiah. Sehingga kita bisa mencintainya secara lahir dan bathin. Cinta secara fisik karena prosesnya yang tidak mudah, cinta secara batiniah karena untuk memperolehnya membutuhkan perjuangan, harus memeras keringat.
Biaya untuk mencetak satu lembar uang rupiah sekitar Rp 500. Namun, pecahan Rp 100 ribu lebih mahal dibanding yang lain. Sehingga merawat rupiah, sama dengan menghemat uang Negara agar bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat. Mulai dari mengentaskan kemiskinan, membangun sarana pendidikan dan lainnya.
Tak hanya itu, proses pembuatannya juga cukup sulit dan waktu yang lama. Mulai dari bahan uangnya berupa bubur kertas yang ditipiskan sehingga tampak saat diterawang. Ada srat fiber, benang pengaman dan lainnya. Tak hanya itu, untuk menentukan gambar pahlawan perlu pemikiran yang tak mudah.

Seperti pecahan uang baru yang sempat ramai karena sosok pahlawan di dalamnya. Bahkan, proses awal desain hingga cetak bisa mencapai 28 bulan. Wow, lama sekali kan...

Sayang Rupiah, Cinta Kemanusiaan
Mengapa menyayangi rupiah sama dengan mencintai kemanusian. Sebab, dengan mengurangi  pembuatan cetak rupiah, dananya bisa dibuat untuk membantu kemanusiaan. Menolong korban bencana, membiayai pendidikan anak kurang mampu dan lainnya.
Bagaimana caranya? Mudah sekali. Cukup merawatnya dengan hati-hati, seperti merawat diri sendiri. Ingatlah betapa susahnya mencari uang, sehingga muncul rasa cinta agar menjaga uang tidak mudah cepat rusak.
Kedua, manfaatkan uang sebaik mungkin dalam kegiatan sehari-hari. Jangan boros, simpan uang dengan rapi, keluarkan ketika butuh. Belajar menghemat uang sama dengan melakukan perawatan terhadapnya.

Solusi ketiga yang lebih baik, aman dan efisien, simpan uang di Bank. Kalau melakukan transaksi, bisa menggunakan non tunai. Apalagi perkembangan teknologi sudah canggih. BI juga terus melakukan perluasan gerakan non tunai, misal di pesantren. 

Comments