Langsung ke konten utama

Bukit Cinta di Puncak 28

Berkunjung ke wisata alam P28 benar-benar memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Nuansa alam yang natural sangat terasa saat menuju lokasi ini. deretan pohon pinus miliki dan kebun kopi milik perhutani berbaris rapi. Tangga demi tangga kita lewati untuk mencapai puncak.

berkunjung ke tempat ini membutuhkan perjuangan, sebab harus mendaki tanjakan

Wisatawan menyebut destinasi ini sebagai  puncak 28, ada juga yang menyebutnya dengan Patirana 28. Istilah 28 dipakai seiring dengan peresmian pertama tempat wisata tersebut, yakni pada 28 Agustus 2016. Umurnya  masih baru satu tahun, tetapi pengunjungnya sudah diluar prediski.

Dipuncak bukit ini, terdapat beberapa landmark love. Maka tak heran bila ada yang menyebutnya sebagai puncak bukit cinta. Bahkan ada yang melangsungkan pernikahan setelah berkunjung ke tempat ini.

Sovi Tuharea, perempuan asal Jember yang bekerja di Jakarta mengajak teman-temannya untuk berlibur ke P28. Dia membawa empat temannya.  Foto-foto P28  di instagram  yang menarik membuatnya memilih Bondowoso sebagai tujuan berlibur.

salah satu spot selfii berbentuk love yang terbuat dari botol bekas

Tak sulit untuk mencapai tempat yang berlokasi di Dusun Patirana Desa Wonosari Kecamatan Grujugan ini. Dari arah kota Bondowoso, kita bisa berhenti di Jalan Raya Kecamatan Grujugan dan melihat penunjuk arah wisata ke P28. Setelah itu mengikuti jalan menuju desa Wonosari dan tetap melihat panduan menuju kesana.

Bila tak menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan bisa memanfaatkan jasa ojek di jalan raya untuk mengantar ke tempat lokasi.  Jaraknya tidak terlalu jauh, membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke pos pertama.

Sampai di Bondowoso, Sovi menghubungi guide yang gencar mempromosikan destinasi wisata  kota republik kopi tersebut. Akhirnya dia di jemput ke Jalan raya dan diantar hingga menuju tempat parkir.

spot selfi dengan latar belakang pegunungan

Setelah memasuki tempat parkir lalu membayar tiket Rp 5000, Sovi harus berjalan kaki mendaki bukit untuk sampai di puncak 28. Perjalanan itu penuh cerita dan tak akan terlupakan ketika sudah pulang. Sebab untuk menghilangkan lelahnya perjalanan, diisi dengan cerita santai.

Deretan pohon pinus dan kopi, gunung tinggi yang hijau menjadi pemandangan indah yang tidak bisa dilewatkan. Sesekali Sovi mengabadikan moment tersebut. Kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak P 28.

Saat sampai di puncak pertama, banyak pedagang minuman berjejer di pinggir jalan. Sehingga wisatawan tak perlu khawatir bila kehausan.  Bila lelah, kita bisa istirahat di gubuk yang sudah disediakan. Bahkan ada spot foto dengan latar belakang gunung  yang menarik.

terasering bisa dilihat dari atas, tampak begitu indah, apalagi saat ditanami padi

Kemudian, perjalanan dilanjutkan menaiki tangga cinta, diberi dengan nama itu karena pernah ada yang melangsungkan pernikahan setelah melewati tangga tersebut. Tangganya cukup tinggi dan menguras sedikit tenaga.

Di sela perjalanan, ada spot foto berbentuk love berwarna pink yang terbuat dari botol air mineral. Sovi dan empat temannya berhenti sejenak untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dan tiba dan akan berjumpa dengan halaman P28. Disana, Sovi menemukan landmark berbentuk love dan gazebo nyaman di kelilingi panorama alam yang indah. Banyak wisatawan berkumpul istirahat di tempat ini sambil menghabiskan waktu untuk berfoto ria.
Untuk mencapai puncak patirana penuh perjuangan, sebab harus berjalan kaki

Puas disana, perjalanan dilanjutkan menuju puncak 28 mendaki batu-batu besar. Melewati jalur ini harus berhati-hati karena cukup tingi. Sebelumnya, ada meja bundar berbentuk love untuk mengumpulan tenaga
.
Perjalanan yang melelahkan itu akan terbayar dengan pemandangan indah yang istimewa. Sebab, saat berada di puncak, semua panorama bisa terlihat, mulai dari terasering dan lereng pegunungan argopuro. Bahkan tempat inilah yang paling menarik untuk swafoto sendri ata bersama orang yang dicintai.

istirahat sebebentar di atas setelah cukup payah

Ketika sudah mencapai puncak, perjalanan berwisata ke tempat ini sudah selesai. Sovi pulang dengan perasaan lega karena sudah bisa menaklukkan puncak 28 bersama teman-temannya. Dia menyimpan foto-foto itu untuk diungah di akun instagramnya.

Bahkan kalau ingin segera share ke netizen, tempat ini juga sudah disediakan wifi. Sehingga bisa langsung siaran langsung  di instagram atau facebook agar teman-temannya tertarik datang.

ini puncaknya, tapi diatasnya masih ada lagi yang lebih tinggi

Namun bila pengunjung masih memiliki tenaga yang kuat, bisa datang ke air terjun P28 yang ada dibawah.  Perjalanannya sekitar satu kilo  dari  bawah puncak 28. Rasa lelah itu akan bertambah hilang jika mandi di air terjun dengan air yang bening ini.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…

Inspirasi Pengusaha Bibit Buah yang Sukses

Bekerja sesuai hobi memang terasa menyenangkan. Apalagi sampai meraih kesuksesan. Yusron mengalami hal itu, meskipun harus berkorban meninggalkan bangku kuliah pada 2011 lalu.
Hamparan bibit buah di belakang rumah Yusron Ismail berjejer rapi. Mulai dari berbagai jenis bibit durian, sawo, bahkan juga jenis buah langka dari Amerika Latin seperti Mamesapote, yaknijenis mangga ukuran besar warna cerah. Jumlahnya mencapai puluhan ribu. Bibit itu dirawat dengan baik.
Disana, tampak para perempuan memakai caping sedang bekerja. Ada yang menyiram bibitnya. Ada yang memasang bibit ke dalam bungkus pot plastik. Lalu meletakkannya dengan rapi.
Di Jalan Sumberejo Desa Umbulsari, Yusron mempekerjakansekitar 28 orang. Mereka mencari rejeki dengan mengelola bibit tanaman yang diberi nama Getas Merah Umbulsari (GMU). “GMU itu nama dari usaha pertama, bibit jambu yang membuat sukses,” kata Yusron.
Pria kelahiran Jember16 oktober 1991itu memulai bisnis bibit tanaman sejak tahun 2010 lalu. Semua beraw…

Secangkir Kapal Api di Pojok Surau

Anginmalam membawa suasana yang sangat nyaman untuk istirahat. Rasa lelah setelah sibuk dengan berbagai aktifitas membuat tubuh ingin dimanja. Namun, keramain para santri membuat Zaidun tak bisa memejamkan mata. Justru mengalihkan pikirannya untuk pergi ke kantin bersama teman-temannya.

 “Satu kopi hitam kang, kapal api  spesial mix,” kata Zaidun pada Umar, penjaga kantin  pondok pesantren tempatnya belajar. Disana, sudah ada beberapa santri yang gayeng ngobrol apa saja. Mulai dari hal yang tidak penting, sepertu lelucon hingga urusan genting untuk didiskusikan. Malam itu, Zaidun bersama enam santri duduk lesehan dengan  satu meja panjang. Setiap malam, meja itu selalu penuh dengan santri yang menghabiskan waktunya untuk ngopi dan berdiskusi. Menariknya, Zaidun mengajak temannya untuk mengkaji kitab Irsyadul Ikhwan, li bayani syurbil qahwah wa dukhon, yakni kitab tentang  kopi dan rokok karya Syaikh Ihsan Jampes.


Zaidun  menerangkan beberapa isi penting dari kitab yang dikarang oleh kiai…