Secangkir Kapal Api di Pojok Surau

Foto-foto: Bagus Supriadi
Angin  malam membawa suasana yang sangat nyaman untuk istirahat. Rasa lelah setelah sibuk dengan berbagai aktifitas membuat tubuh ingin dimanja.  Namun, keramain para santri membuat Zaidun tak bisa memejamkan mata. Justru mengalihkan pikirannya untuk pergi ke kantin bersama teman-temannya.

 “Satu kopi hitam kang, kapal api  spesial mix,” kata Zaidun pada Umar, penjaga kantin  pondok pesantren tempatnya belajar. Disana, sudah ada beberapa santri yang gayeng ngobrol apa saja. Mulai dari hal yang tidak penting, sepertu lelucon hingga urusan genting untuk didiskusikan.
Malam itu, Zaidun bersama enam santri duduk lesehan dengan  satu meja panjang. Setiap malam, meja itu selalu penuh dengan santri yang menghabiskan waktunya untuk ngopi dan berdiskusi. Menariknya, Zaidun mengajak temannya untuk mengkaji kitab Irsyadul Ikhwan, li bayani syurbil qahwah wa dukhon, yakni kitab tentang  kopi dan rokok karya Syaikh Ihsan Jampes.


Zaidun  menerangkan beberapa isi penting dari kitab yang dikarang oleh kiai asal Kediri tersebut. Syaikh ihsan Jampes menyarankan agar meminum kopi setiap waktu, sebab ada lima faidah yang bisa dinikmati oleh peminumnya.

Yakni   membakar semangat,   menghilangkan dahak, membaguskan pernafasan dan membantu tujuan atau fokus.  Kopi bisa meningkatkan daya ingat dan tajamnya hati.

“Tapi kalau berlebihan juga tidak  baik kang, bisa menimbulkan penyakit,” tambah Imron, teman diskuinya. Seharusnya, minum kopi di waktu yang tepat. Seperti saat sedang berdiskusi karena memeras otak untuk berpikir. Sehingga pemikiran bisa terus mengalir.
Tak heran, diskusi yang dilakukan para santri itu tak lengkap bila tidak diiringi dengan kopi. Selain menghilangkan rasa kantuk, pikiran lebih terbuka karena pahitnya kopi kapal api yang sangat terasa. “Kopi kapal api jelas lebih enak kang,” imbuh Ahmad.
Mayoritas mereka tak mau minum kopi yang lain, karena kapal api jelas lebih enak. Selain soal rasa yang begitu pas di lidah, aromanya juga  begitu berbeda. Bahkan sangat recommended sambil diskusi, apalagi menemani belajar kitab kuning.


Zaidun memilih kopi kapal api karena beberapa alasan, selain harga yang terjangkau untuk kalangan santri, juga sudah memiliki cita rasa sendiri yang tidak bisa tergantikan oleh kopi lainnya. Tak heran, setiap ke kantin, selalu pesan kopi kapal api spesial mix.

Semakin malam, suasana diskusi semakin seru dan tajam. Tak terasa sudah pukul 24.00 WIB. Sedangkan kantin harus segera tutup. “Kang, bungkus dua lagi ya kopi kapal apinya,” pinta Zaidun.

“Ayo kita lanjut kajiannya di pojok surau, kita selesaikan pembahasan tentang kopi,” ajaknya pada enam santri lainnya. Mereka pun berangkat menuju pojok surau untuk melanjutkan pembahasan.
“Jadi, ada sebagian ulama yang menghukumi ngopi itu mubah, bahkan haram jika akan mendapat mudharat atau hilang kesadaran,” jelas Zaidun mengutip pendapat dalam kitab yang sedang dikaji. Tetapi, kalau minum kopi bisa menyegarkan pikiran, mengurangi tidur,  tidak ngantuk saat mengaji, maka hukumnya sunnah alias dapat pahala.

Kesimpulannya, minum tak hanya baik untuk untuk pikiran. Tetapi juga bernilai ibadah jika diniati untuk belajar mengaji, mengkaji dengan berdiskusi. Tak heran, para kiai dalam mengarang kitab tak lepas dari kopi. “Tapi kopinya kiai kopi apa ya?” tanya Ahmad.

“Yang jelas kopinya hampir sama dengan yang kita minum,” jawab Zaidun. Sebab dirinya pernah sowan ke dhalem kiai dan disuguhi kopi. Rasanya sama dengan yang diminum setiap hari di kantin. “Berarti selera kopi sang kiai sama dengan kita, kopi kapal api selera para kiai,” pungkas Ahmad.

#kapalapipunyacerita

Comments