Wednesday, July 2, 2014

Yoyok Iswoyo, Pelukis Yang Peduli Dengan Kesenian

Posted By: Bagus Supriadi - July 02, 2014

Share

& Comment

Resah terhadap rendahnya apresiasi seni lukis, dirikan Komunitas
Melukis tak bisa dipisahkan lagi dengan Yoyok, salah seorang pendiri komunitas sanggar kunang-kunang. Komunitas yang bergiat pada seni lukis di Kabupaten Jember. Baginya, melukis  adalah panggilan jiwa sejak kecil hingga sekarang.

Bagus Supriadi, Jember  
Lelaki yang mengabdikan perjalanan hidupnya untuk melukis itu tampak disela-sela pohon karet di DesaKawangrejo, Kecamatan Mumbulsari. Pada teduhnya pepohonan tersebut, ditemani istri dan anaknya, dia sedang melukis petani yang sedang memanen padinya.
Dialah Yoyok Iswoyo, salah seorang pelukis Kabupaten Jember yang giat menularkan seni melukis pada anak muda. Ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember,  dia menyambut dengan senyum sembari menghentikan aktivitas melukisnya.
Foto Bagus Supriadi; Yoyok ketika sedang melukis ditengah pepohonan karet
Jiwa melukis tersebut sudah tumbuh sejak mengenyam pendidikan SD Kawangraya. Selain sebagai hobi, ada kepuasan yang tak terbahasakan ketika selesai menggambar. Meskipun tak ada darah seni dalam keluarganya,  ayah dari dua anak tersebut selalu merasa ada yang kurang bila melalui hari tanpa menggambar. “Waktu kecil masih belum melukis, tapi selalu mengambar saja,” kata dia.
Kecenderungan mengambar terus mengalir ketika dibangsu SMP hingga SMA. Secara otodidak, dia terus menekuni hobinya tersebut. Namun, orang tuanya tidak terlalu menyetujui bila putranya tersebut total dalam melukis. “Tapi saya berontak karena melukis itu jiwa saya,” ucap alumni SMPN Mumbulsari tersebut.
Akibatnya, Yoyok tak mengenyam pendidikan bangku kuliah setelah lulus dari SMA. Sebab, dirinya tak ingin kuliah bila kampus tersebut tak sesuai dengan bakat yang dimilikinya. “Saya inginnya kuliah dijurusan seni saja waktu itu,” tambahnya.
Walaupun begitu, dia tak menyerah begitu saja. Melukis tetap menjadi aktivitas yang tak bisa lepas dari kehidupannya. Dia terus mengembangkan potensinya dengan mencoba melukis menggunakan cat air. Bahkan, karena keterbatasan biaya, kain kafan dan sarung sempat menjadi bahan untuk melukis.
            Selain itu, mencari jaringan pelukis untuk mengembangkan bakatnya. Sebab, ketika bertemu dengan orang yang mempunya jiwa sama, selain bertambah semangat untuk melukis, juga bisa diskusi untuk mengembangkan seni melukis. “Setiap ada orang yang melukis, saya selalu mendatanginya,” ucap alumni SMAN 3 Jember tersebut.
Saat itulah, dia memustuskan untuk menjadikan aktivitas melukis sebagai perjalanan hidupnya. Bahkan, dia rela melepas jabatan menjadi aparatur desa karena ingin fokus di dunianya, yakni melukis.
Berkat perjuangannya tersebut, kini dia telah memiliki banyak teman pelukis. Bahkan, Yoyok yang menjadi penggagas utama Komunitas Sanggar Kunang-kunang. Komunitas itu didirikan karena keresahan terhadap apresiasi masyarakat Jember yang sangat minim pada karya seni.
Selain itu, minat para pemuda dalam bidang seni masih sedikit. Hal tersebut dikarenakan peran pemerintah dalam mengembangkan kesenian, terutama seni lukis sangat kurang. “Karena itulah, saya mengajak teman-teman pelukis yang lain untuk membentuk komunitas,” ujarnya.
Komunitas tersebut ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa seni itu adalah keindahan. Selain itu, untuk melestarikan seni melukis pada generasi muda baik. “Sebenarnya, melihat lukisan itu seperti mendapatkan kedamain hati, namun sedikit yang melakukannya,” terangnya.
Untuk itulah, komunitas tersebut menggelar pelatihan gratis bagi para siswa tingkat TK dan SD se Kabupaten Jember agar seni melukis bisa diwariskan. Selain itu, komunitas yang terdiri dari 30 aggota pelukis tersebut sering menggelar melukis bersama sebulan sekali. “Beberapa waktu yang lalu, di alun-alun. Kami adakan disana karena ingin seni di Jember hidup. Jadi kami ingin mengawali dari sini” tambahnya.
Diakuinya, perkembangan seni melukis di Kabupaten Jember masih rendah. Selain masih belum ada ikon yang bisa dikunjungi. Peran pemerintah juga rendah. Sehingga kegiatan yang dilakukan oleh komunitas tersebut merupakan swadaya dari anggota. “Bahkan, kami terkadang malu jika ada pelukis nasional yang hendak ke Jember, sebab, belum ada tempat,” akunya.
Akibatnya, lukisan yang dibuat Yoyok lebih sering dikirim ke Bali. Sebab, disana sudah ada galery yang menampung karyanya. Dalam sebulan, dia mampu mengirim sebanya 20 lukisan. “Bulan ini masih ada 60 lukisan yang belum dikirim,” ujarnya.
Menurutnya, para pelukis di Jember selain kesulitan tempat memamerkan karyanya, juga sedikit yang peduli dengan karya pelukis tersebut. Tak ayal, bila mereka mengirim lukisan ke luar kota. “Sehingga kami mengikuti pameran di Bali, Banyuwangi maupun Surabaya,” tambahnya.
Beberapa karya Yoyok  di dalam rumahnya
Bahkan, dirinya pernah mengajukan lukisannya untuk dititipkan di salah satu galery di Jember. Namun, ditolak mentah-mentah karena tidak akan laku. Tapi bukan Yoyok kalau menyerah begitu saja, lukisan tersebut akhirnya bisa dipajangkan. Selang, dua jam kemudian, dia dihubungi oleh pihak galeri jika lukisan yang ditolaknya tersebut ada yang tertarik untuk membeli. “Pemilik galery itupun meminta saya melukis hal yang sama, tapi saya tidak mau,” akunya.
Hal yang hingga saat ini tak dapat ditinggalkan oleh Yoyok adalah kebiasaannya membawa buku gambar setiap bepergian. Sebab, ketika melihat sesuatu yang mendatangkan inspirasi, dia segera menuangkannya pada selembar kertas. “Bahkan kertas tersebut sudah bertumpuk-tumpuk,” akunya.
Lelaki kelahiran 12 Janurani 1975 tersebut berharap agar kesenian di Kabupaten Jember terus diperhatikan, tidak hanya bagi pemerintah, namun semua kalangan. Sebab, salah satu kemajuan daerah bisa diukur sejauh mana perkembangan keseniannya. 

About Bagus Supriadi

Organic Theme. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © MERESAPI HARI

Designed by Templatezy