Langsung ke konten utama


Dugel Haryanto; Pertahankan Seni Kuda Lumping dengan Arisan
Anggota Bertambah saat Pindah Lokasi Arisan

Arisan yang diadakan sejak 1970 bukan semata hanya untuk mengumpulkan uang. Selain sebagai sarana silaturahim dengan warga, arisan itu bertujuan pula untuk melestarikan seni kuda lumping yang dimotori ayah dari Dugel Haryanto.

Bagus Supriadi, Jember

Tak terlalu sulit untuk mencari rumah Dugel Haryanto, ketua arisan sekaligus pemimpin kesenian tari kuda lumping yang dinamakan grup Kuda Lumping Sekarwangi. Kediamannya tepat berada di sebelah timur kantor desa Mayang. Jawa Pos Radar Jember cukup mudah menemukan rumahnya.
            Di rumahnya yang sederhana, Dugel menuturkan, arisan yang saat ini dia pimpin merupakan warisan orang tuanya. Sejak orang tuanya meninggal, pria 3 tahun itu menggantikan posisi ayahnnya sebagai ketua arisan setelah selama dua tahun arisan tersebut berhenti.
            Ia meneruskan arisan tersebut sekitar tahun 1990-an. Hal ini bermula ketika beberapa anggota arisan yang masih dipimpin ayahnya meminta untuk dihidupkan kembali. Ketika dirinya diberi kepercayaan untuk meneruskan warisan ayahnya, Dugel menyanggupi agar beberapa kegiatan positif yang ada dalam arisan itu tetap bertahan.
Pertunjukan kuda lumping saat arisan
            Sejak itulah, dia terus menjalankan arisan hingga saat ini. Anggota arisan tersebut tidak hanya berasal dari Kecamatan Mayang, namun juga dari Kecamatan Ajung dan Pakusari. “Saat ini ada 30 anggota yang ikut arisan,” kata lelaki yang juga biasa disapa dengan panggilan Pak Andrik tersebut.
            Kali pertama didirikan, arisan tersebut bertujuan sebagai sarana silaturahim warga sekitar. Setelah ayahnya pindah dari Ambulu ke Mayang, ayahnya memiliki inisiatif untuk mengadakan kegiatan kuda lumping. Saat itu Mayang belum memiliki kesenian untuk menghibur masyarakat.
            Ariusan itu lantas dikombinasikan dengan pertunjukan kuda lumping. Selain sebagai hiburan masyarakat, acara itu bertujuan agar kesenian tersebut tidak hilang dari masyarakat. “Sampai saat ini tetap dipertahankan agar tidak punah. Kalau tidak begitu, akan punah ditelan masa,” ungkap lelaki kelahiran 1971 tersebut.
            Anggota arisan tersebut memang kumpulan orang yang senang dengan kesenian. Sebab, arisan itu berdiri juga karena dorongan dari masyarakat agar diadakan pertunjukan kesenian kuda lumping. “Waktu itu saya kumpulkan mereka untuk musyawarah tentang pelestarian kesenian kuda lumping ini,” ungkapnya.
Dugel Haryanto ketika ditemui di kediamannya
            Anggota arisan berkumpul seminggu sekali. Lokasinya dipergilirkan di rumah masing-masing anggota setiap Ahad.            Ketika menjadi tuan rumah, sesuai dengan tradisi yang telah berjalan, diadakan pula pertunjukan kuda lumping yang dipimpin oleh Dugel. Waktu pertunjukan kesenian itu bisa mencapai setengah hari.
            Saat ada pertunjukan itu, masyarakat yang menonton biasnaya ada yang tertarik untuk mengikuti arisan yang dipimpin Dugel. Sehingga, ketika tampil di daerah tertentu, kadang ada warga yang ingin menjadi anggota. “Sehingga anggotanya bertambah, ada yang dari Sumberkalong, Sumberpakem, hingga daerah Ajung,” terangnya.
            Dugel mengaku, saat ini memiliki 50 seniman kuda lumping. Saat tampil, para pemain dan pemusik kuda lumping hanya mendapat makan alias tidak dibayar. “Jadi kami tidak minta bayaran setiap tampil dianggota arisan itu. Hanya mendapatkan makanan setelah selesai,” terangnya.
            Terkadang, untuk mempertahankan kesenian kuda lumping tersebut, Dugel harus merogoh sakunya sendiri untuk para anggotanya. Hal itu dilakukan agar anggota kesenian kuda lumping tetap bertahan. “Saya rela memberdayakan mereka meskipun harus menggunakan uang sendiri,” akunya.
            Dia selalu mengingatkan anggota kesenian tersebut agar tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, seperti salat. Sebab, seringkali seni kuda lumping menggunakan roh orang lain ketika tampil. “Kalau dulu biasanya makan beling atau pecahan kaca, sekarang tidak lagi, terkadang makan kelapa,” katanya.      
Arisan tersebut hingga kini masih eksis karena kekompakan para anggotanya. “Bila anggota sudah tidak bisa diatur, mau gimana lagi?cetusnya. (har)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Tanaman dengan Hati, Wujudkan Kampung Berseri

Ketekunan Dewi Purnamasari Merawat Tanaman Hias

Tanaman bunga tak hanya indah dipangan di mata. Namun juga menjadikan suasana hati lebih ceria. Untuk itulah, potensi ini dikembangkan oleh Dewi di rumahnya. 



Di belakang rumahnya, di Jalan Argopuro 1 Desa/Kecamatan Arjasa. Tanaman hias tersusun rapi menggunakan rak. Tetesan sisa air hujan masih berjatuhan dari daunnya. Membuatnya tanaman itu semakin terlihat segar.
Jumlah bunga hias dengan berbagai jenis mencapai ribuan. Layaknya sebuah kebun yang setiap hari harus dirawat dengan baik. Lorong jalan menuju kebun melewati lahan parkir miliknya. Lalu, halaman hijau akan langsung terlihat di belakang rumahnya. 
Di sisi pinggir, terpajang berbagai jenis kaktus kecil hingga besar yang sudah dikemas dalam sebuah pot. Seperti kaktus mini cereus tetragonus, Echinocactus grusoni, Haworthia attenuate, melocatus dan lainnya. Semua jenis kaktus itu dirawat dengan sabar oleh Dewi.


Tak hanya kaktus, namun berbagai jenis tanaman aglonema juga ada disana. Mulai dari jenis aglonema Moonlight, Bidadari,…

Peran Pesantren Terhadap Masyarakat

Pendahuluan
Pesantren sebagaimana di definisikan oleh Gus Dur adalah sub-kultur yang memiliki keunikan tersendiri, dengan sistem monarki yang tidak terpengaruh oleh sesuatu yang ada diluar pesantren. Beberapa hal yang menjadikan pesantren sebagai sub-kultur dan unik adalah; pola kepemimpinan didalamnya yang berada di luar kepemimpinan desa. Literatur universalnya yang terus terpelihara selama berabad-abad, dan sistem nilainya sendiri yang terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat luas. [1]             Mendiskusikan  peran pesantren terhadap masyarakat sekitarnya bisa dilihat ditinjau dari berbagai  aspek. Pertama,   dikaji dari historis pesantren itu sendiri. Sebab kajian pengaruh dan peran pesantren terhadap masyarakat merupakan diskusi yang tidak boleh lepas dari kesadaran historis, bagaimana awal mula pesantren ada dan berdiri di Indonesia. Kedua, pesantren selain sebagai tempat mencari ilmu agama, tafaqquh fi ad din  juga merupakan tempat pengkaderan bagi para muballigh dalam menye…