Tuesday, April 1, 2014

Posted By: Bagus Supriadi - April 01, 2014

Share

& Comment

Andrik Kurniawan Santoso; Perajin yang Memberdayakan Tetangga Sendiri
Kebingungan bila Uang Muka Order Minim
Andrik menunjukkan kerajinannya yang telah selesai dan siap dipasarkan (foto Bagus Supriadi)
Awalnya tak ada minat membuat kerajinan dari anyaman bambu. Namun, berkat kegigihan yang teruji, usaha yang dirintis Andik Kurniawan Santoso terus berkembang. Bahkan, produk yang dihasilkannya telah menembus beberapa kota di luar Jember.

Bagus Supriadi, Jember

HALAMAN sebuah rumah di Dusun Jambuan, Kelurahan Antirogo, Sumbersari, tampak dipenuhi bambu yang sudah diiris-iris tipis. Irisan-irisan bambu itu dihampar di halaman untuk dijemur. Sementara, di teras rumah tampak beberapa hasil anyaman bambu.
Seorang lelaki berumur 43 tahun masih tampak menganyam bambu saat Jawa Pos Radar Jember datang ke rumahnya. Senyum mengembang di bibirnya saat Jawa Pos Radar Jember memintanya berkisah tentang usaha yang dirintisnya dari nol itu.
            Pria yang bernama Andrik Kurniawan Santoso ini memulai usaha kerajinan anyaman bambu sejak 1988. Inspirasi membuat anyaman datang ketika dia bertemu dengan salah seorang istri tentara dan menunjukkan vas bunga yang terbuat dari anyaman bambu. “Lalu perempuan itu menyuruh saya untuk meniru vas bunga tersebut,” katanya, mengingat kisahnya 15 tahun silam itu.
            Waktu itu, dengan modal Rp 100 ribu, Andrik mencoba menekuni kerajinan anyaman bambu itu. Setelah berhasil membuatnya, dia kesulitan untuk menjualnya. “Waktu itu harganya masih Rp 1.500,” katanya.
            Meskipun belum mendapat jaminan pembeli yang pasti, Andrik tak menyerah begitu saja. Pada 1999 Andrik mendapat pelatihan dari salah satu bank di Jember tentang pemasaran. Sejak itu pelan-pelan anyaman bambu yang dibuat Andrik mulai dikenal oleh banyak orang.
Setelah kerajinannya mulai dikenal, beberapa orang berdatangan untuk memesan hasil kreasinya. Baik dari pengusaha maupun orang biasa yang memiliki acara. Dia mengaku, selama Januari hingga Mei 2014, Andrik sudah memiliki pesanan yang harus segera diselesaikan. “Bahkan, untuk Januari tahun 2015 sudah ada yang pesan,” kata Andrik, penuh semangat.
            Kerajinan anyaman bambu yang dibuat Andrik bermacam-macam. Mulai dari souvenir, tempat lampu, tempat tisu, tempat permen, pulpen, sendok, keranjang, tempat air mineral, piring cenderamata, dan sebagainya. Sedangkan para pelanggannya berasal dari berbagai daerah, seperti Blitar, Probolinggo, Bondowoso, dan lainnya.
            Proses pembuatannya membutuhkan keuletan dan kesabaran. Sebab, bambu yang sudah dipotong sesuai dengan ukuran harus dikeringkan terlebih dahulu. Setelah kering, dianyam menjadi lembaran. Setelah itu, dibentuk sesuai dengan yang diinginkan. “Prosesnya juga tergantung cuaca. Kalau panas terus bambu dijemur cukup dua hari, tapi kalau hujan kami kerepotan,” tambahnya.
            Apabila bambu tersebut sudah kering, dalam satu hari bisa menghasilkan 15 buah untuk satu orang. Harga dari anyaman bambu karangan Andrik beragam, tergantung pada banyaknya bambu yang digunakan dan tingkat kesulitannya. Paling murah Rp 5 ribu dan termahal Rp 60.000 per satu kerajinan. Dalam satu bulan, Andrik bisa mendapatkan omset Rp 7 juta. Setelah dipotong bahan dan upah karyawan, laba bersih yang didapat Andrik Rp 4 juta.
            Diakui Andrik, dirinya masih kesulitan modal. Terutama, saat ada order besar, tapi uang muka yang dibayarkan minim. “Misalnya ada yang pesan total Rp 7 juta. Sedangkan uang mukanya terkadang Rp 1 juta, jadi kami harus putar otak,” akunya.
            Selain itu, dia terpaksa menolak order besar dalam waktu yang sama. Jika dia tetap menerima order, dikhawatirkan penyelesaian barang terlambat dan kualitasnya menurun. “Kami berusaha keras agar pelanggan puas dengan hasil karya kami,” tandasnya.
            Saat ini, Andrik sudah memiliki sebelas karyawan. Mereka adalah warga dari Dusun Jambuan, Antirogo sendiri. Selain itu, dia masih memberikan pengetahuan tentang cara membuat kerajinan dari anyaman bambu pada masyarakat sekitar agar terberdayakan.
Diantara sebelas karyawan tersebut, Andrik mengajak pula para janda. Sebab, dia ingin membantu perekonomian mereka. Selain itu, diharapkan mereka memiliki keterampilan yang bisa menunjang nafkah keluarga. “Kalau sudah bisa membuat (kerajinan) sendiri, mau buka usaha kan lebih mudah. Itu memang niatan saya,” tandasnya.
            Saat ini usaha kerajinan bambu yang dijalankan Andrik kerap menjadi sasaran murid sekolah dasar (SD) di Jember untuk belajar membuat anyaman bambu. “Kemarin ada 16 siswa selama sembilan hari ke sini belajar membuat kerajinan. Selain itu saya menampung anak-anak putus sekolah untuk membuat kerajinan di sini ,” tambahnya.
Kini Andrik berharap pemerintah bisa memberdayakan para perajin yang ada di Jember. Dengan perhatian pemerintah, diharapkan para perajin bisa semakin berkembang dan meningkatkan taraf hidup pelaku usaha kecil. (c1/har)


About Bagus Supriadi

Organic Theme. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © MERESAPI HARI

Designed by Templatezy