Monday, March 17, 2014

Posted By: Bagus Supriadi - March 17, 2014

Share

& Comment

Sony Hidayat, salah satu pelukis jalanan yang tetap bertahan.
Beberapa kali ditayangkan di televisi saat melukis Mbah Marijan
KARYA: Melukis foto orang selain hobi, juga merupakan profesi (Foto Bagus Supriadi)


Menjadi pelukis dipinggir jalanan bukan hal yang mudah, sebab beberapa kali ia harus pindah karena terkena razia Satpol PP. Namun karena ia yakin bahwa yang dikerjakannya adalah tentang keindahan, ia tetap bertahan melukis dipinggir jalan sampai dikenang zaman.


Dia sedang melukis gambar seorang perempuan, beberapa saat kemudian, dua perempuan datang lagi melihat lukisan-lukisan yang di pajang di pagar gedung DPRD Jember tersebut, lalu kedua perempuan tersebut menanyakan berapa harga untuk satu lukisan.
Lelaki yang memakai topi hitam tersebut tampak menjelaskan dengan rinci harganya, lalu setelah jelas, mereka pulang karena belum membawa foto untuk dilukis, lelaki itupun memberikan nomor teleponnya yang ditulis di sebuah lukisan.
            Begitulah rutinitas dari Sony, 40, lelaki asal  Kota Lumajang yang telah lama menjadi pelukis di pinggiran jalan. Dia menceritakan bahwa bakat melukisnya sudah mulai ada sejak di sekolah dasar (SD). Selain itu ayahnya juga memiliki bakat dalam dunia melukis. Sehingga Sony semakin giat belajar melukis.
Meski  tak sempat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, berkat ketekunannya, ia kini menjadi sosok yang terampil dalam melukis. “waktu Itu ga ada biaya untuk kuliah Mas, mahal” ucapnya.
Pilihan untuk menjadikan bakatnya tersebut sebagai profesi dalam mencari uang, ia mulai sejak tahun 2001. awalnya, melukis gambar orang merupakan hobi, namun karena ada beberapa temannya yang pesan dan semakin hari semakin bertambah, akhirnya dia memilih profesi tersebut sebagai penghasilan.“Karena saya yakin bisa, akhirnya saya teruskan,” ucapnya sambil melukis.
Pertama kali memulai profesinya tersebut, Sony, sapaan akrabnya, membuhkan modal uang sekitar Rp 100 ribu untuk membeli kertas, kuas, tinta maupun serbuknya. Namun setelah semakin banyak pesanan, dia semakin memperbanyak contoh lukisan dengan figura.
Sebelum menempati di depan gedung DPRD Jember, Sony, sapaan akrabnya, sempat melukis di daerah pojok Matahari, namun karena dirazia oleh Satpol PP, akhirnya dia pindah. Setelah diusir tersebut, lalu dia pindah ke Banyuwangi. Selama tiga tahun, namun pindah kembali ke Jember.
Saat di Banyuwangi. Sony pernah melukis sosok Mbah Marijan ketika gunung merapi meletus, sehingga dia didatangi para wartawan untuk diliput, karena lukisan tersebut menggambarkan sosok yang terjadi hari ini, atau sesuai dengan momentum.
Selain itu, di pinggiran jalan tersebut, dia pernah melukis sosok kandidat para calon bupati Banyuwangi waktu itu, yakni Azwar Anas, Jalal dan Emilia Contessa. Alhasil lukisan tersebut dibeli oleh mereka.
Tarif harga dari lukisan Sony bervariasi, sesuai dengan ukurannya, untuk ukuran 10 R dipasang dengan harga Rp 125 ribu, 12 R Rp 200 ribu. “Harganya relatif Mas, kalau bagus ya lebih mahal,” tambah bapak dari tiga anak tersebut.
Dalam satu hari, Sony bisa menghasilkan lukisan sebanyak lima lukisan, karena satu lukisan bisa diselesaikan dalam jangka waktu tiga jam. Tapi karena lebih mementingkan kualitas, Sony memilih untuk satu hari sebanyak dua lukisan saja.
“tergantung fotonya, kalau fotonya kecil, resolusinya rendah, jadi lebih lama Mas,” tambahnya.
Selain itu, Sony juga pernah mengajar pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah selama 3 bulan, bahkan pernah memberikan privat tentang teori melukis, namun karena kesibukannya, ia akhirnya berhenti.
Ketika ditanyakan mengapa tidak membuka kursus melukis untuk menularkan bakat melukisnya, dia mengakatakan bahwa sampai saat ini masih belum sempat.
Sony tetap bertahan dengan profesinya sebagai pelukis jalanan karena menikmati apa yang dikerjakannya, sebab kalau berhenti, dia harus memulai dari nol lagi. “Saya bekerja melukis ini, ya sampai sudah gak mampu melukis lagi Mas,” kata Sony.
Sampai saat ini, dia berkeinginan untuk terus mengembangkan seninya, yakni melukis dengan cat, memiliki gallery. Namun harus bertahap, karena membutuhkan modal yang tidak sedikit.  “Kalau punya gallery, enak Mas, gak kehujanan,” ujarnya.
Setiap hari, dia melukis foto dengan lukisan hitam putih, sesuai dengan permintaan pemesan. Yakni lukisan realis atau yang kartunis. Dia tidak khawatir dengan adanya lukisan yang menggunakan tekhnologi, seperti komputer, sebab karya tersebut tidak akan kalah dengan hasil dari tekhnologi, karena hasil karya tangan sendiri..
Sebenarnya Sony juga ingin bergabung dengan komunitas para pelukis Jember, seperti yang pernah diikutinya ketika di Banyuwangi. Namun karena dia memiliki waktu yang terbatas, akhirnya dia menahan keinginan tersebut.
Dia berharap pada pemerintah agar bisa menfasilitasi usahanya tersebut dengan memberikan tempat agar dia bisa lebih leluasa dalam melukis.
Selain Sony, pelukis jalanan yang lain adalah Samuji, 39, yang memilih depan SMAN 2 Jember sebagai tempat melukisnya. Awalnya, dia juga sama dengan Sony, yakni di sekitar matahari, namun karena dirazia Satpol PP, dia pun pindah.
 Samuji, pelukis jalanan yang  tetap bertahan. (Foto Bagus Supriadi)
Aji, panggilan akrabnya, mengatakan memang memiliki bakat melukis sejak kecil, namun dia menfokuskan bakat tersebut menjadi pekerjaan pada tahun 2003 silam. Sehingga dia menjadikan bakatnya tersebut sebagai profesi dalam mencari penghasilan pada tahun 2005.
Proses penggarapannya pun tak jauh beda dengan Sony Hidayat, yakni melukis membutuhkan waktu sekirtar 3 jam dengan harga yang sama. Baginya, melukis dengan kanvas tersebut tidak bisa dibandingkan dengan menggunakan komputer, sebab lukisan yang dihasilkan dari karya tangannya tidak akan pernah mati.
Dia memang memilih berada di pinggir jalanan, tidak di gallery karena lebih mudah dijangkau oleh masyarakat. Sebab di gallery terkesan dengan harga mahal. “Kalau di sini lebih dekat dengan masyarakat,”tandasnya.
Sama halnya dengan Sony, dia akan tetap melukis sampai tak bisa berkarya lagi. Sebab melukis baginya, selain sebagai hobi, juga merupakan wadah untuk melanjutkan kehidupan. (Bagus Supriadi)


About Bagus Supriadi

Organic Theme. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © MERESAPI HARI

Designed by Templatezy