Saturday, March 29, 2014

Posted By: Bagus Supriadi - March 29, 2014

Share

& Comment

Batik Sumberjambe, Bertahan di Tengah Gempuran Zaman 
Punya Khas, Pembatik Harus Kreatif Cari Motif

BERAGAM MOTIF : Para perajin mewarnai kain sebelum menjadi batik Labako di Desa Sumberpakem Sumberjambe Jember
Sentra kerajinan batik di Desa Sumberpakem Kecamatan Sumberjambe merupakan warisan turun temurun dari leluhurnya. Selain melestarikan budaya bangsa sendiri, batik yang ada sejak zaman Belanda itu juga memberdayakan masyarakat sekitar.

BAGUS SUPRIADI

JEMARI para perajin batik di Desa Sumberpakem Kecamatan Sumberjambe itu terlihat begitu terampil.  Dengan sesekali diiringi canda tawa kecil, mereka terus melukis pada kain putih cikal bakal batik. Sebagian dari mereka ada yang sedang mencelupkan kain yang sudah dilukis, lalu direndam kembali agar pewarnaannya semakin tua. Sedangkan Mawardi, salah satu pemilik  bati sibuk melayani tamu yang hendak melihat karya batik Sumberjambe.
Aktivitas para pembatik tersebut sudah berlangsung sejak masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1937. Dan hingga kini masih berusaha tetap dipertahankan karena sudah menjadi budaya bangsa. Selain itu, dengan membatik tersebut, masyarakat bisa terberdayakan.
Salah seorang generasi membatik tersebut adalah Mawardi yang mengaku meneruskan kerajinan membatik dari nenek moyangnya. Sejak kecil dia mengaku sudah dikenalkan dengan batik sehingga kecintaannya pada membatik telah sama seperti kecintaannya pada Indonesia.
Selain sebagai salah satu bukti kecintaan pada budaya, kerajinan batik juga bisa dijadikan wadah untuk mencari penghasilan. Sampai saat ini, dia telah memiliki puluhan karyawan. “Kami ingin tetap melestarikan budaya batik ini. Karna masyarakat terkibat dalam proses pembuatannya, sehingga dia bisa merasakan hasilnya” ujar Mawardi
Untuk menularkan kecintaan para pemuda pada batik, salah satunya dengan mengajak para siswa dari beberapa sekolah untuk belajar membatik. Selain sebagai pengenalan, juga merupakan pembelajaran. “Disini sering ada kunjungan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi, selain mengenalkan batik, juga belajar cara membuatnya,” tambahnya.
 Awalnya, pembuatan batik yang berlokasi di rumahnya tersebut hanya batik tulis, namun kini telah bertambah menjadi batik semi tulis dan batik cap. Sebab, hal itu dilakukan untuk mengimbangi laju perkembangan zaman. “Jadi kami setiap hari harus kreatif mencari motif yang baru,tak hanya motif tembakau,” imbuhnya.
Proses pembuatan batik tersebut bermacam-macam. Ada yang sampai lima tahapan.  Yakni kain putih tersebut dicanting, lalu diwarnai, setelah itu dicelup beberapa kali sampai warnanya kelihatan tua, sedangkan tingkat kesulitan dari membatik ini yakni pada pewarnaan.
Batik tulis lebih banyak dipesan karena hasilnya memang lebih bagus meski pembuatannya lebih lama. Bahkan pemesanan tersebut sampai dari daerah luar Jawa, seperti Medan dan Yogyakarta sendiri. “Jadi terkadang kami saling studi banding, melihat karya dari maasing-masing pengerajin batik dari berbagai daerah,” katanya.
Kini, dia telah memiliki pelanggan tetap, baik dari sekolah maupun perguruan tinggi. Meskipun begitu, terkadang ada tukar karya batik Sumberjambe sendiri dengan batik luar daerah. Seperti batik Madura maupun batik Pekalongan. “Bahkan yang sering dari para mahasiswa yang terkadang penelitian, lalu setelah tahu pesannya disini,” tambahnya
Para pengerajin batik Labako sendiri berasal dari warga Desa Sumberpakem Kecamatan Sumberjambe. Karena dari awal kerajinan membatik tersebut untuk memberdayakan masyarakat sekitar sehingga mereka tidak perlu menjadi buruh tani.
Kontrak kerja dengan para pengerajin tersebut yakni bersifat borongan. Para pengerajin akan digaji sesuai dengan borongan yang diterimanya. Karena pemesanan dari batik labako sendiri selalu penuh sehingga warga terkadang membawa kain kerumahnya untuk lembur membatik.
            Di antara pembuat batik tersebut, salah satunya adalah Susilowati, dia mengatakan bahwa dirinya terbantu secara ekonomi. Sebab bila tidak ada kegiatan membatik tersebut, dirinya akan menjadi buruh tani.  Selain itu, dia merasa menikmati pekerjaan membatik tersebut, karena dia bisa membawa batiknya ke rumah. Baginya, pekerjaan membatik butuh keuletan dan kesabaran. Namun, setelah karyanya selesai, dia bisa menikmati hasilnya.

About Bagus Supriadi

Organic Theme. We published High quality Blogger Templates with Awesome Design for blogspot lovers.The very first Blogger Templates Company where you will find Responsive Design Templates.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © MERESAPI HARI

Designed by Templatezy